Mantan Pacar

Mantan Pacar
35. Atika dan Dewa


__ADS_3

"Jadi sudah berapa lama laki-laki sialan itu kembali lagi!" April menghela nafasnya ketika mendengar ucapan dari Dewa, sepupunya itu.


"Baru beberapa hari ini, tapi dia sudah tau tentang keberadaan aku sudah lama sekitar satu bulan lebih dan selama itu dia hanya menguntit keseharian aku dan Rion!" Jelasku kepada Dewa.


Posisi kami sekarang sedang berada di toko bunga, kepulangan Dewa selama hampir beberapa minggu ini membuat dia tidak mengetahui tentang Januari yang sudah menemui ku.


"Hari ini aku yang jemput Rion, kau disini ajah dan kamu Atika ikut saya! Kita jemput Rion!" Atika tersentak kala mendengar panggilan dari Dewa, laki-laki yang selalu membuat dia risih karena kekakuan dan aura dinginnya.


"Kok saya sih mas?" ucap Atika yang masih bingung


"Udah ikut ajah!" tambah April yang kini hnaya bisa tersenyum menyaksikan kedua sejoli itu.


"Tapi mbak, ini toko gimana?" Atika berusaha menolak dan sebenarnya juga dia sangat malas ketika berhadapan dengan manusia es ini.


"Gampang, gih sana dari pada nanti Dewa marah!" Atika membuang mukanya kala April terus menerus menyuruhnya untuk mengikuti Dewa.


Didalam perjalanan menuju sekolah Rion, suasana mobil itu sepi, bahkan Atika merasa sangat risih dan enggan juga untuk memulai pembicaraan.


"Kamu juga tau tentang Januari yang datang lagi?" Ucap Dewa yang kini membuat Atika sedikit kaget.


"Ngak mas, soalnya disetiap kejadian saya ngak ada, dan baru tahu juga tadi ketika tadi denger obrolan mas sama mbak April!" Dewa terdiam ketika mendengar jawaban dari Atika.


Sosok Dewa benar-benar sangatlah susah untuk ditebak, wajahnya yang datar dan tatapan dinginnya itu semula membuat Atika merasa takut ketika awal bertemu.


Bahkan Atika yang tipikal wanita ceria dan murah senyum itu, terkadang merasa kesal dan risih atas tindakan dan perilaku Dewa.


"Papah Dewa!!!" Teriak Rion dari kejauhan, bocah itu terlihat menggemaskan seperti biasanya, bahkan banyak orang yang terkagum akan ketampanan anak laki-laki itu.


Hap


"Papah kangen tau sama Rion!" Ucap Dewa yang kini tengah menggendong Rion


"Rion juga, kangen sama pesawatnya hehe!" Atika terkekeh mendengar ucapan Rion yang polos dan ceplas-ceplos itu.

__ADS_1


"Oh lagi-lagi papah kalah yah sama pesawat!" Ujar Dewa sedikit kesal.


"Ngak gitu pah, aku juga kangen ko sama papah, jangan bapelan gitu dong pah!" Atika menahan tawanya ketika Rion mengucapkan kata 'bapel' yang seharusnya 'baper' itu.


"Ishh papah baperan yah!" Bela Dewa


"Udah yuk mending sekarang kita pulang!" Ajak Atika yang mulai melerai kedua laki-laki yang berbeda umur itu.


"No, Tante aku mau eskrim, boleh yah pah!" Ucap Rion dengan nada manjanya itu.


"Ihh kemarin kamu makan eskrim sama tante, masa sekarang eskrim lagi!" Atika hanya memutarkan bola matanya ketika Rion dengan nada manjanya merayu Dewa.


"Udah! Kita beli eskrim sama beli mainan kamu, soalnya papah Ngak bawa pesawat sekarang!" Kini Dewa yang melerai sedikit pertikaian Atika dan Rion.


"Yeyy!! Mainan, eskrim!! Rion datang!!!" Atika dan Dewa tertawa dengan teriakan Rion.


Mereka sampai di salah satu Mall besar, bagi orang-orang yang melihat pasti menyangka mereka sebuah keluarga, apalagi dengan sifat manja Rion yang membuat banyak orang tertarik melihat mereka yang asik menyusuri setiap sudut Mall.


"Tapikan mobilan kamu udah banyak, helikopter ajah yah, nanti momy marah loh!" Atika berusaha untuk menjawab dengan pelan dan lembut.


"Tapi aku mau! Papah!" Kini dengan andalan rengekannya membuat Atika malas dengan Rion, bocah yang nurut sekali dengan Momynya sementara dengannya di begitu susah sekali menurut.


"Udah ambil ajah!" Jawab Dewa dengan singkat


"Yeyy!!" Rion bersorak dan mengambil mainan itu dengan penuh semangat.


"Mas Dewa, Rion jangan terlalu dimanja nanti mbak April marah, kalau setiap kemauan Rion itu di penuhi!" Atika berujar pelan agar anak laki-laki itu tidak mendengarnya.


"Nanti aku yang biacara sama April!" Jawaban Dewa sudah final dan tidak bisa diganggu gugat, sementara Atika hanya bisa mendesah pelan.


Setelah puas dengan membeli beberapa mainan, kamipun kini berada di salah satu caffe dan memesan eskrim sesuai dengan keinginan Rion tadi. Atika begitu senang melihat Rion yang lahap sekali memakan eskrim bahkan hingga bibirnya belepotan.


"Sini tante bersihin yah!" Dengan telaten Atika mengusap dan membersihkan eskrim di bibir dan juga dagu Rion, hal itupun tidak luput Ari perhatian Dewa.

__ADS_1


Dewa tersenyum tipis melihat perlakuan Atika yang begitu sangat menyayangi Rion seperti anaknya sendiri, bahkan dia terkadang kagum dengan sosok Atika yang begitu sabar dan setia terhadap sepupunya April.


Atika sosok yang baik dan murah senyum, Dea tidak bisa membohongi itu, terkadang dia juga tegas akan hal yang memang perlu di benarkan, Atika itu cantik, wajahnya mungkin tidak seperti kebanyakan wanita lain yang cantik karena polesan makeup, namun Atika cantik dengan naturalnya, senyumnya yang manis dan terkadang membuat Dewa suka memperhatikannya.


"Mas kamu ngak papa?" Dewa tersentak dalam lamunannya ketika Atika memanggilnya.


"Saya ngak papa!" balas Dewa dengan singkatnya.


"Kalau gitu jangan melamun takut kesambet kan berabe!" Ucap Atika dengan penuh terkekeh


"Kesambet itu apa tante?" Kini Rion menanggapi ucapan absurd nya itu


"Emm apa yah kemasukan gitu, udah yah lanjutin makan es krim nanti momy nyariin Ron kalau lama perginya!" Atika langsung mengalihkan perhatian Rion, karena anak itu terlalu pintar dan kepo, sehingga membuat Atika terkadang kewalahan menghadapi pertanyaan yang tidak berbobot dari Rion itu.


"Makannya kalau bicara itu difikirin dulu!" Atika mendelik kesal kepada Dewa, ucapannya barusan membuat Atika mati kutu.


"Iya-iya sensi banget sihh!" Dewapun memberikan tatapan tajamnya sementara Atika bukannya takut tapi dia malah tertawa melihat reaksi Dewa yang terlihat begitu lucu, menurut Atika.


"Tante kenapa ketawa ada yang lucu yah?" Atika mengehentikan tawa itu dan mengusap kepala Rion dengan pelan.


"Iya tadi ada kucing matanya sipit yang coba-coba mau melotot, sekarang kucingnya udah pergi ko!" Mendengar penuturan itu tatapan Dewa menjadi sulit untuk diartikan, bahkan dirinya disamakan dengan kucing.


"Yahh, padahal aku pengen lihat!" Ujar Rion.


"Udah yah, eskrim nya kan sudah habis kita pulang yah!" Rion mengangguk mendengar ucapan dari Atika itu.


Didalam mobil keheningan kembali tercipta, kini Rion berada dipangkuan Atika dengan kondisi sudah tertidur dan memeluk Atika.


Dari kaca mobil Dewa mengintip dan tersenyum melihat Atika dan sang keponakan yang begitu akur, bahkan melihat keduanya sudah seperti ibu dan anak.


"Mas kamu kenapa senyum-senyum gitu?" Dewa menggerutu didalam hatinya karena dia selalu saja ketahuan saat tersenyum sendiri memikirkannya.


"Ngak ada apa-apa" Dewa mencoba senetral mungkin agar tidak ketahuan jika dirinya diam-diam memperhatikan dan memikirkan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2