
“Mas kamu Ngak papa kesini, emangnya kamu Ngak kerja?” Janu menatap wanita yang kini sedang terisak dan beberapa luka lebam di tubuhnya.
“jangan pikirin itu, aku Ngak papa ko lagian kan bisa dihandle sama sekertaris aku!” wanita itu tersenyum.
“Aku ingin pergi jauh mas, aku sudah Ngak tahan hiks hiks..!” kini Janu memberikan sebuah pelukan kepada Vanya, wanita yang sedang menangis itu.
“Tenang, aku akan ngelindungin kamu sebaiknya kamu sekarang tenangin diri kamu sendiri!” Janu mengusap pelan dan lembut bahu wanita itu.
Setelah sampai kantor tadi, Vanya meneleponnya dengan suara penuh isakan bahkan tanpa berfikir panjang dia langsung pergi menuju apartemen milik wanita itu.
Vanya berkata bahwa dia dijodohkan oleh ayahnya, namun laki-laki yang jadi tunangannya itu tempramental dan suka menyiksanya. Semalam dia ditampar karena bertemu dengan Janu, terlihat banyak sekali lebam dan bekas tamparan yang dia dapatkan.
Brak
Seketika dua manusia yang sedang berpelukan itu terkaget dengan dobrakan pintu dan kini mereka melihat sosok pria yang lumayan tinggi dan berbadan sedang dengan tatapan yang marah.
“Mas, di..a Erfan!” ucap Vanya dengan nada penuh ketakutan.
“Kamu!, Beraninya kamu membawa laki-laki sialan itu!” laki-laki yang namanya Erfan tadi berteriak dan menunjuk sosok Januari.
__ADS_1
“Kenapa memangnya, Loe itu pengecut bisanya cuman sama cewek bangsat!!” Januaripun tak mau kala dia meneriaki Erfan dan memberikan suasana permusuhan.
“Anjing!!!” mereka berduapun saling baku hantam, pukulan demi pukulan yang mereka lakukan sementara Vanya hanya bisa menangis melihat pertarungan itu.
“Sudah.. cukup” ucap Vanya dengan begitu lirihnya.
Buk
Buk
Buk
“Mas ngak papa kan..?” Tanya Vanya yang kini melihat beberapa bekas pukulan diwajah tampannya itu.
“Mas Ngak papa, kamu jangan nangis yah, lebih baik nanti kamu pindah apartemen nanti biar aku yang urus!” Vanya hanya mengangguk dan memeluk Januari dengan smirk nya yang menunjukan kelicikan.
__
Malam ini aku hanya bisa menonton TV dan enggan untuk pergi ke kamar, meskipun sudah disuruh untuk tidak menunggu Mas Janu tapi aku sangat penasaran sekali dengan apa yang dilakukan suaminya itu hari ini.
__ADS_1
Setelah mendengar deru mobil kini aku menuju pintu dan membukanya, mataku terbelalak kala melihat penampilan Mas Janu yang berantakan dan beberapa lebam di wajahnya.
“Mas kamu kenapa?!” aku histeris melihat luka diwajah Mas Janu.
“Ngak papa!” diapun pergi menuju kamar dengan tatapan dinginnya.
Akupun pergi mencari kotak obat dan kompresan, setelah itu aku masuk kamar dan melihat Mas Janu yang kini sudah mengganti bajunya.
“Mas sini biar aku obatin” ucapku mendekati Mas Janu.
“Ini sudah diobati, aku capek mau tidur!” aku hanya bisa tersenyum kecil kala Mas Janu yang kini sudah terbaring dan tertidur.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, kini aku pergi ke dapur dan menyimpan obat serta kompresan, setelah itu aku dikejutkan oleh foto yang dikirim oleh pengirim misterius kemarin, foto itu memperlihatkan Mas Janu yang lagi-lagi berpelukan dengan Vanya, dan beberapa foto perkelahian antara Mas Janu dan entah dengan siapa.
'Suamimu itu bahkan tidak akan pernah melepaskan aku, hingga dia memukuli orang yang mau dekat dengan ku, ihh sossweet nya!'
Aku terpaku dan terdiam, mataku berkaca-kaca rasanya sangat sulit sekali untuk bisa berfikir positif lagi, bahkan ini sudah jelas dengan apa yang dia lihat beberapa bekas pukulan diwajah suaminya.
Aku berjongkok dan menangis terisak, ini sangat menyakitkan tapi dia juga tidak bisa pergi karena untuk saat ini dia juga belum punya bukti yang kuat akan hal itu, meskipun beberapa foto yang dia dapati entah dari siapa.
__ADS_1
Tetapi dia belum melihat dengan mata kepalanya sendiri, dan sepertinya dia harus mencari tahu siapa yang mengirim pesan ini dan juga apa yang dilakukan oleh suaminya diluaran sana.