
Malam itu, Kia menceritakan semua kejadian kepada Dinda saat di Cafe tadi. Dinda yang mendengar cerita sahabatnya itu sunggu terkejut. Bagaimana mungkin seorang Istri Sah nya menginginkan Suaminya menikah lagi?? terlebih lagi dengan Mantan kekasihnya dulu. Sungguh aneh..!! Dan Dinda sungguh kecewa dengan keputusan Kia. Ia tidak menyangka bahwa Kia akan menerima lamaran dari suami beristri itu.
"Yang benar aja loe Ki!! Loe mau jadi istri kedua nya??? Nggak waras loe Ki!!!"., ucap Dinda yang sedikit ketus. Kia yang melihat wajah sahabatnya itu yang tidak biasa, hanya diam. Ia tahu keputusannya salah. Bahkan Keluarganya yang di Bandung pun belum tahu akan hal ini. Ia berencana akan memberitahunya dengan mengajak Rako. Karena bagaimanapun, Rako harus melamar secara resmi di depan keluarganya.
Dinda yang tak habis pikir dengan jalan pikiran Kia itu sangat kesal. Ia melanjutkan pembicaraanya yang membuat Kia menangis.
"Loe sama aja tau nggak sama PELAKOR!!! " ucap Dinda bersuara tinggi dan penuh penekanan. Kia langsung menangis. Ia mengerti temannya ini akan marah. Ya, apapun alasannya, orang tetap akan menganggap dirinya seorang perusak rumah tangga orang alias pelakor.
"Istri dia juga memohon sama gw Din!!.hikss..hikss.. dan gw masih sangat mencintai Rako".. tutur Kia menangis
"Gw tau loe cinta sama dia. Tapi harusnya loe tolak donk!!!gimanapun loe salah Ki!! Apa loe ga berfikir panjang??! Gimana kalau sampe nanti loe hamil terus melahirkan anak dari dia, dan seketika mertua loe tau!! Dia bisa aja kan mengancam loe untuk mencelakai anak loe yang tak lain cucunya sendiri agar loe mau ninggalin Rako??!! itu yang gw takutin Ki!!".. lirih Dinda yang memeluk sahabatnya itu. Ia sangat khawatir akan nasib sahabatnya. Kia baru menyadari akan resiko terbesarnya jika ia menikah dengan Rako. Ya, dia harus membuat kesepakatan hitam diatas putih oleh Rako dan Lidya.
"Makasih ya Din, gw akan bicarain ini dengan Rako dan keluarga gw.. loe emang sahabat gw yang terbaik Din".. tutur Kia membalas pelukan sahabatnya.
***
Berbeda dengan Kia dan Dinda. Rako dan Istrinya yang sekarang sedang duduk di balkon kamarnya, sambil menikmati angin malam sangat senang akan keputusan Kia. Lidya sendiri entah kenapa tidak begitu merasa cemburu. Mungkin karena usaha dia selama mengejar cinta suaminya itu sia-sia, dia sudah lelah. Dan di tambah lagi setelah ia tahu bahwa ia mengidap penyakit yang cukup berbahaya di rahimnya. Saat itu Dokter Elang, yang tak lain sepupunya Lidya, menyarankan agar lidya di angkat rahimnya agar kondisinya membaik. Namun Lidya menolak. Biarkan dia hanya mengkonsumsi obat saja, yang penting ia tidak di operasi. Rako sendiri tidak tahu. Ia takut Rako akan meninggalkanya, karena ia tidak bisa memberikan keturunan dan yang parahnya ia juga tidak mencintainya.
Akhirnya ia merahasiakan ini semua dari suami dan keluarganya.
"Lidya, Terima kasih ya kamu sudah mengizinkan aku menikah dengan Kia".. ucap Rako tulus sambil mengesap kopi nya." Dan bagaimana kamu bisa ketemu dan tahu bahwa itu Kia ku?".. tanya Rako menatap Lidya
"aku pernah mencerikan padamu saat aku di tolong gadis cantik , dan bernama Kia. Setelah aku selidiki dia ternyata Kia kamu Mas. Dan hmm..aku juga sudah melihat kalian berdua saat diruangan kamu beberapa minggu lalu. Dan aku sangat menyesal, ternyata Kia sangatlah baik. Maafkan aku Mas".. ucap Lidya yang menyesal akan perbuatannya.
"Jadi, kamu saat itu datang ke kantor ku??".. tanya Rako sedikit kaget. Dan Lidya hanya menganggukan kepalanya seraya tersenyum.
"Apa dia melihatku berciuman dengan Kia".. batin Rako
"Mas, apa rencana kamu setelah menikah dengan Kia?Apa kamu akan membeli rumah ?kalau bisa jangan jauh-jauh dari sini ya Mas, jika kamu bekerja kan aku juga ada temannya, begitupun Kia." ucap Lidya menatap suaminya itu
"Nanti aku coba bicarakan dengan Kia, kalau di daerah sini aku takut mami akan melihatnya. Kamu juga harus bantu melindungi Kia dari Mami Lid.".. jawab rako..
"Pasti Mas, aku tahu mami sangat mengingingkan cucu. Aku yakin jika Kia bisa memberikannya cucu, pasti mami akan senang dan otomatis akan menerima Kia''.. ujar Lidya membayangkan Rako dan Kia punya anak
"Ya semoga aja. Tapi misal diluar perkiraan kamu? misal mami justru hanya menginginkan cucunya, apa yang kamu lakukan?? jangan bilang ini rencana kalian??".. tanya rako penuh selidik
"Ya ampun Mas, tega banget kamu bilang gitu sama aku. Aku tidak akan mau di Madu jika aku memikirkan keegoisan ku lagi, walau hanya ingin punya anak dari rahim wanita lain, aku tidak sudi suamiku menikah lagi, lebih baik Adopsi anak aja "., ujar Lidya.
Rako yang mencerna pembicaraan Lidya sedikit percaya. Tapi ia juga harus berhati-hati. Bagaimanapun wanita ini pernah melakukan segala cara untuk membuat Kia sengsara.
"Aku tetap akan menyelidiki mu Lidya, tidak akan kubiarkan kamu menghancurkan kebahagiaan aku dan kia lagi".. batin Rako.
****
Pagi hari yang cerah kedua gadis ini belum terbangun dari tidurnya. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 06:00. Karena ponsel Kia Nobatt, jadi alarm yang membangunkannya tidak berbunyi. Dinda yang ingin buang air kecil terbangun dari tidurnya, di lihatnya jam dinding di kamar Kia.
"Hoaam... Ya ampun udh jam enam aja.. Ki..Kiaa.. bangun udah jam enam nih..". ucap Dinda sambil berlalu ke kamar mandi. Kia mengulet tubuhnya dan membuka matanya perlahan, di lihatnya jam dinding itu.
"haduhh kepalaku pusing banget ya..hoaamm.." ucap Kia dengan suara ciri khas orang bangun tidur..
Setelah 15 menit, Dinda sudah melakukan aktivitas mandi nya itu, ia sudah mengganti pakaian dengan pakaian kerjanya. Dan Kia yang masih terbaring di kasur, meraskan pusing di kepalanya. Dinda yang melihat Kia menghampiri temannya itu.
"Loe sakit Ki?" tanya Dinda sambil memeriksa dahi kia dengan punggung tangannya.
"Nggak tahu nih Din, kepala gw pusing banget, karena kebanyakan nangis kali yaa". jawab Kia sambil memijit pangkal hidungnya dan memejamkan mata.
"Ya udah loe istirahat aja di rumah ya, nanti gw yang infoin ke Pak Alvino kalau loe sakit".. ucap Dinda. Dinda sudah lama suka dengan Pak Vino, namun Vini selalu tidak menganhhap lebih Dinda selain parntner kerjanya. Kebetulan mereka sama-sama Hrd, namun pangkat Vino lebih tinggi dari Dinda.
"Makasih ya Din, loe hati-hati berangktnya" tutur Kia lemah
__ADS_1
"Ya Kia, gw berangkat ya, nanti gw kesini lagi kok. loe beli makan aja via ojek online, trs minum obat".. ucap Dinda lembut. Kia hanya menganggukan kepalanya. " Asslamualaikum Ki".. salam Dinda ketika akan berangkat kerja.
"Walaikumsalam".. jawab Kia. Setelah kepergian Dinda, ia ingin mandi dahulu kemudian tidur lagi untuk menghilangkan pusing di kepalanya. Setelah mandi, Kia yang menggunakan kaos berwarna putih yang terlihat kebesaran di tubuhnya, serta celana pendek warna hitam berbahan katun diatas lututnya dan menampakkan paha mulusnya serta kaki jenjangnya itu terlihat Sexy.
Dan sekarang Kia sudah merebahkan tubuhnya kembali.
#Di Kantor#
Dinda yang sudah meminta izin kepada Pak Vino bahwa Kia sedang sakit, sekarang ia sedang berjalan menuju lantai 7, tempat Ceo berada. Karena Pak Vino meminta Dinda untuk meminta tanda tangan kepada Pak Rako.
Saat di lantai tujuh, ada seorang wanita lumayan cantik, dengan dandanan menor dam berpakaian cukup sexy yang duduk di depan ruangan Pak Rako. Dinda menghampiri wanita itu.
" Pagi Mbak, Pak Rako nya ada ?".. tanya Dinda sopan
Wanita itu melihat Dinda dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dan dengan ketusnya dia menjawab.
" Mau ngapain dan ada perlu apa??".. ketus Vera. Ya , wanita itu adalah Vera, Sekretaris baru dari Ceo yang tak lain adalah Pak Rako. Dinda yang baru ingat bahwa beberapa minggu kemarin, Vino sedang menyeleksi Sekretaris baru untuk Ceo nya.
"apa dia yang terpilih untuk jadi sekretaris Pak Rako?? gak salah nih si Ayang mbeb Vino. Masa model begini di pilih jadi sekretaris Rako?? hahaa..Kia harus tau nih".. batin Dinda dan tersenyum
Vera yang melihat Dinda senyum-senyum sendiri dan tidak menjawab pertanyaan nya itu sungguh kesal. Dia menggebrak meja nya untuk menyadarkan Dinda.
Brakkk!!
Dinda langsung terjungkit sedikit mendengar suara meja dan suara cempreng wanita itu.
"Heh Mbak!!di tanya malah diem!!! gila kali loe yaa senyum-senyum sendiri".. ucap vera kesal
Dinda yang dari tadi sudah sabar, akhirnya tidak bisa menahannya lagi.
"Heh!!! Loe di sini baru kan??? loe tau gak gw siapa?? Gw ini Hrd loe !! inget ya loe itu masih dalam masa percobaan!! Gw bisa aja langsung info ke Pak Vino dan Pak Regar biar loe langsung di cut!!!"... ucap Dinda penuh amarah. Dan Vera menelan salivanya.
"Haduhh kalian kenapa sih ribut-ribut??!.. Kalau mau berantem jangan depan ruangan saya!"., ucap rako menatap tajam keduanya. Dinda langsung melihat ke arah Pak Rako. Sedangkan Vera langsung menampakan wajah sok cantiknya.
"Maaf Pak, tadi mbak ini marah-marah karena saya tanya mau ada perlu apa mencari Bapak. ".tutur Vera berbohong. Dinda yang mendengar ucapan Vera membulatkan matanya.. Lalu Rako menatap Dinda.
"Pak, dia bohong!! Dia ini tadi..." belum selesai Dinda mengatakan yang sejujurnynya, Rako memotong pembicarannya.
"Kamu ada apa ke sini??"..ucap Rako dingin, sedangkan Vera tersenyum sinis dan merasa menang, Dinda yang melihat itu ingin sekali menjambak rambut panjang wanita itu!..
"Awas loe yaaa !! Sekretaris s****n!!! Errrggg...Gw jambak juga loe!!".. batin dinda emosi
"Heii!!! kamu dengar tidak??".. tanya Rako mengulangnya. Dinda yang sedang menahan emosi itu menghela nafasnya..
"Ini Pak, saya mau minta tanda tangan Bapak untuk berkas ini.." ucap Dinda sambil memberikan berkas yang ia bawa kepada Rako.
"Loh biasanya Receptionist yang antar kesini?".. tanya Rako yang sebenarnya Rindu dengan wanitanya.
"Kia lagi sakit Pak, dia tidak masuk hari ini." tutur dinda
Rako yang sudah menerima berkas itu langsung melemparkan ke arah Vera yang berada di sampinya. Ia sangat terkejut mendengar gadis yang di cintainya sakit. Dan vera yang menerima berkas itu secara tiba-tiba, gelagapan menerimanya. Dinda yang melihat itu menahan tawanya.
""Apa?? Kia sakit??Sakit apa dia trs sekarang dia dimana?" tanya Rako khawatir dan menatap Dinda.
Dinda yang melihat Bos nya ini mengkhawatirkan temannya, langsung membatin, bahwa ternyata Kia benar. Cinta itu hadir karena terbiasa, Cinta itu pergi karena Rasa, dan Cinta itu Kekal karena Kita..
"Kia sakit pusing aja Pak, sekarang lagi istrihat aja di kontrakannya".. jawab dinda.
"Kamu ayo ke ruangan saya, bawa berkas tadi".. ucap Rako yang langsung masuk ke ruangannya di susul Dinda yang langsung merampas kasar berkas di tangan Vera.
__ADS_1
"Oia, apa kamu teman dekatnya Kia?".. tanya rako yang sudah duduk di bangku kebesarannya itu. Dan Dinda dalam posisi berdiri di hadapannya dengan terhalang meja.
"Iya Pak, sangat dekat, saya juga sering menginap di kontrakannya"..jawab Dinda.
"Oh syukurlah, dia memiliki teman baik. Oia siapa nama kamu?".. tutur Rako
"Saya Dinda Pak, bawahannya Pak Vino".. jawab Dinda.Dan dia merasa ini kesempatan dia buat mengadu tentang kelakuan Vera.. "Pak, maaf kalau saya lancang. Sepertinya Sekretaris baru Bapak itu penampilannya terlalu berlebihan. Dandanannya yang menor, pakaian yang ketat, apalagi tadi dia itu gak sopan Pak dalam melayani tamuu!". ucap dinda yang merasa jengkel kejadian tadi.
"Kamu gak usah ikut campur urusan itu! Lagian dia cukup cerdas".. tutur Rako.
"Oh baik Pak, saya cuma takut Kia nanti di perlakukan tidak baik aja sama dia, apalagi dia sepertinya ingin mendekati Bapak lohh?!! Apa bapak mau Kia merubah keputusannya??".. ucap dinda yang sedikit menakut-nakuti bosnya itu. Rako yang mendengar ucapan Dinda, sangat takut jika itu benar, dia takut Kia salah paham, dan dia akan membatalkan pernikahannya.
"Oke, saya akan segera minta ke Vino untuk mengganti dia..hmm.. apa kamu tau masalah kami?".. tanya Rako, dan dinda menganggukan kepalanya.
"Kia sudah menceritakan semua sama saya Pak. Saya sebagai teman,tidak bisa melarangnya, saya hanya bisa menasehatinya. Dan saya minta ke Pak Rako untuk tidak menyakitinya. ( Dinda menghela nafasnya).. Dan tolong jaga dia dari kelicikan istri dan Ibu Bapak. Karena saya tidak yakin, istri bapak dengan relanya menikahkan kalian, kalau tidak ada udang di balik batu.". ucap Dinda penuh penekanan. Rako mencerna ucapan Dinda dalam Diam, ya ia juga tidak boleh percaya begitu saja.
"Pastii. Saya tidak bodoh, dan saya juga tidak mau kehilangan Kia lagi. ".. ucap Rako meyakinkan.
"Saya percaya sama Bapak. Karena Kia selama ini sudah cukup menderita, bahkan dia tidak bisa membuka hatinya untuk pria lain".. ujar Dinda jujur. Rako tersenyum mendengar ucapan Dinda
"Kalau begitu saya permisi Pak".. pamit Dinda dan membalikan tubuhnya untuk keluar dari ruangan. Rako yang ingin bertanya alamat kontrakan kia memanggil Dinda.
"Din.. bolehkah saya minta alamat kontrakan Kia?".. ucap Rako,dan Dinda membalikkan tunuhnya kembali..
"Boleh aja Pak, tapi tolong Bapak jangan sering'' kesana nantinya sebelum Sah!!". ucap dinda tersenyum. Rako menganggukan kepalanya dan tersenyum juga.
"Bapak tau Gedung Perpajakan daerah X..?? .. tanya Dinda, dan di anggukan oleh Rako. " Nah, dari situ lurus aja, nanti ada Lapangan,gak jauh dari situ ada gang, masuk aja ke dalam, nanti cari rumahnya No. 3.. ", ucap dinda menjelaskan. dan Rako menghafal ucapan Dinda, karena dia sudah tau daerah yang di maksud.
"Ok. Terima kasih banyak Dinda".. tutur Rako lembut
"Sama-sama Pak".. jawab Dinda dan langsung pamit keluar ruangan.
di Luar ruangan sudah ada Vera yang sedang memakai lipstik.
"Cih..bisa-bisanya loe memutar balikan fakta!!".. ucap dinda dengan tegas dan berdiri depan meja Vera, Vera yang memakai lipstik langsung menaruh lipstiknya dan mendongakan kepalanya melihat Dinda.
"Hahaa.. loe gak akan bisa melawan gw!!"..ucap vera meyakinkan. Dan tanpa sepengetahuan Vera, Dinda sedang merekam pembicaraan mereka dengan ponselnya yang ditaruh di saku kemejanya.
"Wah..wah.. anak baru aja udah songong ya!! Gw itu cuma kasih tau loe, melayani tamu itu yang senyum, lembut. Apalagi loe kan Sekretaris Bos besar. Untung gw yang datang, kalau rekan bisnisnya Beliau gimana?? bisa-bisa rugi besar Perusahaan ini karena sikap loe yang gak sopan!"..tutur Dinda yang menasehati Vera dengan lembut.
"Cih.. Bodo amat, yang penting gw di gaji dan sering ketemu Pak Rako yang ganteng".. ucap Vera. sedangkan Dinda tersenyum akan jawaban Vera.
"Terserahlah..".. ujar Dinda dan meninggalkan Vera.
" *Hahaaa.. sukurin loe, rekaman ini akan gw kasih ke Pak Vino sama Pak Regar''.. gumam Dinda yang terkekeh..
°
°
°
°
°
°
°*
__ADS_1