Mantanku Istri Keduaku

Mantanku Istri Keduaku
Kia & Lidya


__ADS_3

Kia merasa khawatir dengan keadaan Dinda. Ia tidak bisa tidur hingga pukul 23:00. Ia ingin menghubungi Dinda, namun takut menganggunya. Kia yang sedang merebahkan tubuh di kamar nya sambil memainkan ponsel,tiba-tiba ada telepon masuk dari Calon Suaminya itu. Dia sungguh terkejut. Untuk apa Rako menelpon malam-malam begini. Ia pun akhirnya menerima panggilan masuk itu. Namun belum sempat menjawab, terdengar suara seperti dua orang yang berbincang.


"Kenapa kamu tidak berusaha untuk menemui keluarganya Mas?". . kata-kata itulah yang terdengar di balik telepon. Dan sudah di pastikan itu adalah Lidya. Karena hanya dia yang memanggil Rako 'Mas'. Kia pun masih setia mendengarkan percakapan suami istri itu.


"Kia sendiri yang melarang aku. Mungkin kita tidak berjodoh.Apakah kamu bahagia Lidya??" terdengar suara Rako. Kia pun nampak terkejut dengan ucapan Rako.


"Sepertinya Rako sudah memainkan sandiwaranya"., batin Kia.


"Aku justru merasa bersalah pada kalian. Aku akan berbicara pada Kia." tutur Lidya yang masih terdengar oleh Kia di balik telepon.


"Untuk apa Lidya?? Aku tidak akan mau memaksakan sesorang untuk menjadi milikku. Apalagi jika dia tidak bahagia bersamaku! Bukan begitu Lidya??" ucap Rako terdengar seperti menyindir.


"Maafkan aku". lirih Lidya.


"Aku mau tidur, kamu kembalilah ke kamarmu!!" titah Rako dan tak lama terdengar suara pintu tertutup oleh Kia. Kia pun terkejut.


"Berati mereka benar sudah pisah ranjang! Ya Allah.. apakah Rako benar-benar tidak bahagia bersama Lidya?!" batin Kia.


"Sayank..".. suara Rako yang berbicara di balik telepon. Kia pun tersadar dari lamunannya.


"Ha..hallo.. kamu ngapain telpon aku malam-malam?" tanya Kia yang pura-pura tidak mengerti.


"Apakah kamu sudah mendengar semuanya? aku sudah mengatakan pada Lidya, bahwa kamu membatalkan pernikahan kita." ucap Rako lembut.."Dan aku pastikan, dialah yang meminta untuk bertemu denganmu yank".. lanjut rako


"Iya aku dengar semua tadi. hmm.. Apa kamu pisah ranjang sama dia?" tanya Kia hati-hati.


"Iya sayank sudah 3 hari ini. Kenapa?!apa kamu bahagia?"tutur Rako terkekeh.


"Mana ada seperti itu! Justru aku merasa akulah penyebab rumah tangga kalian jadi tidak harmonis!" lirih Kia. Rako pun mengerti


"Sayank, jika aku bertemu kamu dalam kondisi kamu menikah, atau aku tidak pernah bertemu denganmu lagi, memang rumah tanggaku tidak akan pernah harmonis!! Karena aku tidak mencintainya!! Terlebih lagi dia wanita yang licik!!". ujar Rako menjelaskan. Ada rasa tenang di dalam diri Kia. Paling tidak ini semua bukan salahnya.


"Yasudah kalau gitu aku mau tidur. Kamu juga istrihat ya Pak CEO!". ucapnya lembut. Rako pun tersenyum senang di balik telepon.


"Ya Receptionist cantikku.. Mimpiin aku ya".. balas Rako mesra. Kia pun senang mendengarnya.


"Ya udah, aku tutup yaa.. Assalamualaikum". ujar Kia lembut


"Waalaikumsalam sayank". balas Rako. Dan mereka mengakhiri teleponnya.


****


Lidya di kamar tamu sudah merebahkan tubuhnya. Namun tetap saja, matanya belum terpejam. Ia masih kepikiran tentang hubungan Rako dan Kia.


"Engga!! mereka gak boleh gagal menikah!!" gumam Lidya Khawatir


"Kalau Rako tidak menikah dengan Kia, pasti aku di ceraikan" . tutur Lidya bicara pada diri sendiri.


Ia pun nekat akan menemui Kia besok tanpa sepengetahuan Rako.


#Keesokan Harinya#


Pagi ini Kia sudah berada di meja kerjanya. Iya memang selalu berangkat pagi menggunakan motor maticnya. Hari ini ia terlihat sangat cantik. Ia menggunakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya, serta celana panjang berwarna putih yang juga pas di kaki jenjangnya. Di tambah lagi dengan sepatu highheels nya yang tidak terlalu tinggi, dan rambut yang di ikat menjadi satu. Wajahnya sedikit di poles dan memakai gincu berwarna pink.


Ia sedang memeriksa berkas-berkas yang akan di kirim ke Perusahaan yang menjalin kerjasama dengan Mango Group. Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja, dan ia melihat dari Mbak Lidya. Ia sungguh terkejut, benar kata Rako, Pasti Dia lah yang akan menemui Kia. Kia pun akhirnya menerima telepon dari Istri Rako itu.


"Hallo Assalamualaikum".. jawab Kia ramah


"Waalaikumsalam.. Kia apa kamu ada waktu sore ini setelah pulang kantor ?" tanya Lidya lembut.


"Hmm.. memang ada perlu apa ya mbak?" tanya lagi Kia yang seolah-olah tidak tahu.


"Ada yang mau Mbak bicarakan berdua sama kamu. Bisa yaa ?" ujar Lidya memohon.


"Baiklah mbak, jam 4 sore aku keluar dari kantor. Mau ketemu dimana mbak?" ucap Kia


"Di Cafe dekat kantor kamu aja gapapa". jawab Lidya.


"Baiklah Mbak, sampai ketemu nanti ya.. Assalamualaikum". ucap Kia lembut, Lidya pun menjawab salamnya.


"Waalaikumsalam". saut Lidya. Mereka pun mengakhiri teleponnya.


Kia langsung mengirim pesan pada Rako mengenai pertemuan Lidya nanti.


Isi pesan Kia & Rako


Cantikku : Rako, tadi Mbak Lidya telepon aku, dan ngajak aku ketemu di Cafe pulang kantor.


Kesayangan : Ok, sesuai rencana. Pokoknya kamu yakinkan dia kalau kamu tidak mau sama aku ya.


Cantikku : Dengan senang hati sayank 😄


Kesayangan : HANYA PURA-PURA SASKIA PRATAMA!! 😈


Cantikku : 😢


Kesayangan : Wah..wwah.. senang sekali kamu ya kalau beneran?! ( balas Rako dengan senyuman)


Cantikku : Ya udah ah Pak Boss , saya mau kerja dulu.


Kesayangan : Jangan terlalu capek ya sayank, nanti setelah menikah kamu hanya boleh kerja di atas kasur 😍


Cantikku : Ogaah ah.( balas Kia senyum-senyum )


Kesayangan : Ke ruangan aku sekarang.


Kia pun tidak membalasnya. Ia tahu apa yang akan terjadi jika dia naik ke atas tempat ruangan Rako. Rako pun menunggu Kia yang tak kunjung datang. Akhirnya karena Rindu yang mendalam, ia turun ke lantai bawah hanya untuk bertemu dengan Kia. Namun, dia juga punya alasan untuk membicarakan pekerjaan bersama Pak Regar.


Kia yang sedang sibuk menerima telepon kantornya dari luar tidak menyadari kehadiran CEO nya sekaligus calon suaminya itu. Rako terus memperhatikan Kia yang terlihat cantik hari ini. Saat Kia sudah menutup telpon di mejanya, ia mendongakan kepala untuk menyapa tamu yang datang. Kebetulan hanya dia sendiri dan Rako yang di depan kantor itu.


"Selamat Si..." ucapnya terputus setelah melihat siapa yang datang.


"Rako, ngapain ke sini Ya Allah kamu jangan cari gara-gara ya!!" tutur Kia berbicara seperti berbisik dan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Rako pun menaruh tangannya di meja yang cukup tinggi itu dan tersenyum tampan melihat kepanikan Kekasihnya.


"Siapa suruh kamu gak ke ruangan aku!" ucapnya terkekeh. Saat mau menjawab ucapan Rako, Pak Regar yang ingin ke toilet sungguh terkejut melihat Bos nya itu turun ke bawah dan sedang berhadapan dengan Kia. Ia tidak curiga sedikitpun, justru ia takut Kia melakukan kesalahan.


"Siang Pak Rako.. Maaf ada yang bisa saya bantu? Atau Kia melakukan kesalahan?". tanya Pak Regar yang mengejutkan keduanya. Rako pun langsung berdiri tegap dan bersikap dingin dan tegas.


"Oh tidak Pak, saya hanya jngin berkunjung ke bawah saja. Kebetulan tadi saya bertanya- tanya pada Kia". ujar Rako tersenyum kecil. Kia pun nampak lega.


"Mari Pak, apa Bapak mau lihat-lihat di dalam?" tanya Pak Regar.


"Boleh. Sekalian saya mau ke ruangan Pak Regar membicarakan laporan kemarin". ujar Rako. Pak Regar pun nampak tegang dan gerogi.


"Ba..baik Pak. Mari Pak silahkan!" ujar Regar yang membungkukan badannya dan mempersilahkan Rako untuk berjalan. Sambil berjalan dan mengikuti Regar, Rako melirik Kia dan mengedipkan satu matanya genit. Kia pun tersipu malu.


"Dasarr Bos ganjen".. gumam Kia dan terkekeh senang.

__ADS_1


****


Jam pulang kantor pun tiba. Lidya sudah memberi pesan bahwa dia sudah berada di Cafe dekat kantor Suaminya itu. Dia juga meminta pada Kia untuk merahasiakan dari siapapun. Kia pun hanya mengiyakan, padahal dia sudah mengatakan pada Rako. Rako yang sudah tahu dari Kia bahwa Lidya akan bertemu Kia di Cafe, melakukan penyamaran. Ia memakai celana jins panjang dengan sepatu kets nya dan kaos tanpa kerah di lapisi jaket hitam yang ada het nya di kepala dan tentu saja, semua itu baru ia beli hari ini. Karena ia ingin Lidya tidak curiga.


Kia sudah sampai di Cafe dengan membawa motor maticnya. Ia langsung masuk ke dalam Cafe dan mencari sosok Lidya. Ia pun tidak tahu kalau Rako ada di Cafe itu dengan menyamar. Kia pun berhasil menemukan Lidya, dan dia berjalan menghampirinya. Tak jauh dari meja mereka berada, Rako pun sudah duduk disana.


"Hallo Mbak.." sapa Kia bersalaman pada Lidya. Lidya pun membalasnya dan tersenyum.


"Hallo Ki, ayo duduk".. ujar Lidya. Kia pun langsung duduk di hadapan Lidya yang terhalang meja.


"Ayo minum dulu, aku sengaja udah pesankan agar kita bisa langsung mengobrol". ujar Lidya menyodorkan jus jeruk pada Kia. Kia pun ingat kata-kata Rako, bahwa jangan pernah meminum atau makanan dari Lidya.


"Ya ampun mbak kok repot-repot sih udah di pesan. Tapi maaf mbak, aku lagi kepengen Ice Lemon Tea",. ujar Kia tersenyum. Lidya pun nampak kecewa.


"Oh gitu. ya udah kamu pesan lagi aja". ujar Lidya. Dan memanggil pelayan.


"Mbak, pesan Ice Lemon Tea nya satu ya". tutur Lidya pada pelayan wanita itu.


"Baik Bu, mohon ditunggu". saut pelayan itu ramah.


"Jus Jeruknya kasih ke pelayan itu aja mbak". ujar Kia lembut menunjuk pelayan laki-laki yang sedang membersihkan meja di belakang Lidya. Lidya pun menoleh.


"Gak usah Ki, di buang ajalah", ujar Lidya tersenyum kecil.


"Loh sayang mbak, mending kasih orang biar bermanfaat". tutur Kia ramah.


"Aku kan pesanin ini spesial buat kamu Kia." ujar Lidya memajukan bibirnya.


"Ya sudah di bungkus saja deh, nanti malam aku minum". ujar kia yang penasaran kenapa Lidya kekeh sekali memberikan Jus itu padanya. Lidya pun nampak senang. Rako yang mendengar nya sangat curiga.


Tak lama pelayan datang membawa Ice lemon tea. Kia pun langsung meminumya menggunakan sedotan.


"Mbak, ada apa ya mengajak aku ke sini? " tanya Kia.


"Kia, aku sudah tahu kalau hubungan kamu sama Rako sudah tidak bisa di lanjutkan. Rako sendiri yang bilang padaku. Kenapa Kia?" tanya Lidya memelas.


"Ak..aku.. tidak bisa menikah tanpa restu keluargaku Mbak". .lirih Kia.


"Aku akan menjelaskan pada keluargamu Kia! Aku mohon jangan batalkan pernikahan kalian?!" tutur Lidya berlinang air mata. Kia pun nambpak bingung harus mengatakan apa. Ia tetap ingat pesan Rako untuk tetap bilang tidak mau menikah dengannya.


"Maaf mbak, walau mbak bertemu keluargaku, tapi tetap saja, mereka tidak rela aku menjadi istri kedua! Apalagi seakan-akan aku seorang pelakor dan perusak rumah tangga kalian!". ujar Kia menatap Lidya.


"Aku heran sama mbak, kenapa mbak ingin sekali di madu?! Kalau aku jadi seorang istri, apapun alasannya aku tidak mau menyuruh suamiku menikah lagi!" ujar Kia tegas. Lidya pun menelan salivanya.


"Ak..aku hanya ingin suamiku bahagia. Bahagianya itu kamu Kia!". tutur Lidya menatap Kia.


"Kalau begitu, kenapa mbak tidak melepaskan dia untukku??Kenapa aku haris jadi yang kedua?" tanya Kia intens. Lidya pun nampak geram.


"Ohh. jadi kamu ingin menjadi satu-satunya Kia??" ucap Lidya tersenyum getir. Rako yang mendengar percakapan mereka tersenyum senang.


"Bagus sayank, terus buat dia emosi dan menunjukan siapa dirinya!!" batin Rako menatap Kia yang dia sendiri tidak tahu ada Rako disana.


"Loh!! Kenapa mbak marah?? aku justru membatalkan pernikahan aku sama Rako, karena aku tidak mau menyakiti seorang wanita!! Karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai!!" ujar Kia santai dan kesal dengan sikap lidya.


"Aku meminta kamu menikah dengan suamiku, karena dia mencintaimu!! Dan karena aku tidak bisa memberi dia keturunan" . ucap Lidya sedikit bersuara tinggi.


"Lalu kenapa mbak masih bertahan??" tanya Kia yang membuat Lidya bungkam. Ia bingung alasannya.


"Sialan!! Kenapa jadi aku yang terpojok!!" batin Lidya


"Karena dalam hidupku berjanji, hanya menikah sekali seumur hidup !!". ujar Lidya tegas.


"Mbak, cinta tidak bisa di paksakan. Aku memang mencintai dia. Tapi aku tidak bisa bahagia di atas penderitaan perempuan lain. Karena sudah pasti, jika kita menikah, Mbak Lidya semakin terabaikan oleh Rako!!". tutur Kia dingin.


"Aku tahu resikonya. Dan aku tetap merelakannya. Asal aku tidak di ceraikan!!" ujar Lidya tersenyum getir.


"Kalau begitu, berusahalah mendapat cintanya dan memiliki keturunan. Karena aku tetap menolak mbak. Maafkan aku!" ujar Kia dan berdiri dari duduknya. Lidya menahan tangan Kia agar tetap duduk.


"Kia, tunggu. Aku mohon duduk dulu".. ujar Lidya lembut, Kia pun duduk kembali


"Baiklah, kalau begitu kita buat perjanjian bagaimana??." ujar Lidya dan Kia mengerutkan keningnya


"Jika kalian sudah menikah, dan dalam 1 tahun belum di karuniai seorang anak, maka aku tetap jadi istri pertama. Namun sebaliknya, Jika dalam 1 tahun kamu mengandung anak Rako, aku akan mundur dan bercerai dengannya!". lanjut Lidya menjelaskan. Kia pun nampak terkejut, begitupun Rako. Namun ia tidak percaya begitu saja.


"Maaf mbak, aku tidak bisa." ujar Kia datar, Lidya pun membulatkan matanya.


"Oke!! lalu mau kamu bagaimana??" tanya Lidya tegas. Kia pun menatap Lidya


"Kalau mbak menanyakan mauku, tentu saja aku maunya menikah dengan seorang pria yang single, duda pun tak masalah! Asal bukan Suami Orang!!" ujar Kia penuh penekanan. Lidya pun kesal mendengarnya.


"Wah, ternyata kau licik juga ya Kia!! Aku pikir kamu cocok menjadi maduku!! ternyata kau mau merebutnya dariku!!" ujar Lidya tersenyum getir, Kia pun sudah tahu sekarang Lidya seperti apa!


"Apa?? aku merebut dia?? apa tidak salah Mbak Lidya yang terhormat??!" ucap Kia terkekeh. Lidya pun menahan amarahnya.


"Sudahlah Mbak, harusnya mbak berterimakasih padaku, Karena aku tidak mau menikahi suamimu!! Jika waktu itu mbak menawarkan pada wanita lain, mungkin mereka akan sangat senang menerimanya. Karena sosok Rako yang tampan, baik dan kaya raya pastinya. Tapi aku bukanlah wanita yang mengincar harta!! Aku adalah wanita yang mengerti perasaan wanita lain!! " ujar Kia tegas dan Lidya sangat tersindir akan ucapannya. Rako pun mendengarnya semakin kagum akan sifat Kia.


"Maksud kamu aku matre begitu!???" ucap Lidya bersuara tinggi


"Loh kenapa mbak tersindir!?? Aku tidak bilang kalau mbak matre!??" ucap Kia bingung dengan sikap Lidya. Lidya pun nampak malu.


Lidya yang tersadar bahwa dia sudan menunjukkan sikap arogannya langsung merendah dan meminta maaf pada Kia.


"Huft.. maafkan aku Kia, aku sangat labil hari ini!" ujar Lidya lembut dan memijat keningnya. Kia pun tersenyum getir.


"Kia aku mohon, menikahlah dengan Rako". lirih Lidya menggenggam jemari Kia di atas meja.


Kia menghela nafasnya,.


"Aku butuh waktu mbak".. ucap Kia melepaskan genggaman Lidya.


"Aku sangat bersedia menemui keluargamu Kia." lanjut lidya


"Insyaallah Mbak", jawab Kia tersenyum paksa. " Kalau begitu aku pamit ya mbak, sudah mau Maghrib", lanjut Kia merapihkan tasnya.


"Baiklah,ini jusnya di minum ya"., ujar Lidya menyodorkan jus jeruk yang sebelumnya sudah di bungkus oleh pelayan Cafe. Kia pun mengambil jus nya itu.


"Aku duluan ya Mbak".. ujar Kia ramah. Lidya pun menganggukan kepalanya. Kia pun sudah meninggalkan Lidya sendiri di cafe. Rako pun masih ada disana.


Lidya menelpon seseorang dan terdengar Rako seperti menyuruh mencelakai Kia. Rako sangat terkejut.


"Hallo, dia sudah keluar dari cafe. Lakukan saja sesukamu! Jangan sampai dia mati?!" ucap lidya di balik telpon dengan seseorang. Rako pun langsung keluar dengan terburu-buru untuk mengejar Kia.


****


Dalam perjalanan, Kia merasa seperti diikuti oleh motor lain. Ia melihat dari spion nampak dua pria mengikutinya. Ia mencoba memperlambat jalan motornya, ternyata motor di belakangnya pun tidak menyalip. Ia akhirnya melajukan dengan kencang, dan benar saja, motor itu ikut kencang di belakang Kia. Kia yang gugup dan tak tentu arah, ternyata mendapati jalanan yang sepi. Motor itupun menyalipnya. Kia langsung turun dan melepas helmnya. Dua pria itu juga turun dan langsung menghampiri Kia.


"Hei, kalian siapa!?? kenapa mengikuti aku!!". ujar Kia galak.

__ADS_1


"Wah cantik ternyata bos!!" ujar laki-laki yang tidak tinggi kepada rekannya yang sepertinya bos nya.


"Hai cantik, kita cuma mau kenalan aja kok!!" ujar Bos itu yang berbadan tinggi dan kurus.


"Wah kalian jangan macam-macam ya!!" ancam Kia menghampiri dua laki-laki itu dan langsung memberi tendangan pada wajah dan dadanya. Mereka pun langsung jatuh ke aspal.


"Hai nona, kau ternyata jago juga ya!! Baiklah". ujar bos itu berdiri dan mulai mengahajar Kia. namun kia masih bisa melawannya.


Hiat.,,bugh...bugh.. Hiaat!!"..


Dan anak buah pria itu mengambil sebuah balok, dan memukul punggung Kia yang sedang menghajar Bosnya itu.


Bugh!!!


Kia pun terjatuh namun tidak pingsan, dan anak buah itu langsung memegang kedua tangan Kia dan di taruh di belakangnya dalam posisi Kia terduduk. Kia pun susah untuk melawan.


"Bos, sudah dapat!!". ujar laki- laki itu.


Bos itu yang sudah babak belur di wajahnya bangun perlahan dan menghampiri Kia.


Plak!!


Ia menampar wajah Kia hingga mengeluarkan darah dan bukan itu saja, ia juga menendang perut Kia, kia pun terhuyung kebelakang. Dan ia tetap tersenyum getir.


"Aku tidak tahu apa salahku, jika kalian hanya di suruh sesorang, kalian orang yang bodoh!!"ujar Kia pada mereka.


Plak!!


Satu tamparan lagi mengenai wajah mulus Kia. Ia juga mulai merobek baju Kia. Kia sungguh terkejut. Kia langsung menendang alat vital Bosnya itu, dia pun langsung tersungkur kesakitan. Tak lama Rako datang dan langsung menghabisi mereka!!


bughh..bughh.. Bre**** kalian!!! ujar Rako emosi.


Mereka pun saling menghajar dua lawan satu. Namun tetap kalah dengan tenaga Rako yang tercampur emosi. Kia yang terduduk lemas memandang Rako menghajar mereka. Apalagi Rako melihat kondisi Kia yang di robek bajunya sangat membabi buta.


Bosnya berhasil kabur, namun anak buah tertangkap Rako.


"Siapa yang menyuruh kalian!!!" teriak Rako sambil melintir tangan laki-laki itu ke belakang.


"Ampun pak!! saya hanya mengikuti bos saya saja!" ucap Pria itu ketakutan


"Cepat katakan, kalian di suruh siapa!! kalau tidak aku akan membakarmu hidup-hidup disini!!" tegas Rako dengan tatapan membunuh. Pria itu pun ketakutan.


"Ja..jangan Pak..Ampun!! Sa..saya hanya mendengar bos saya bicara di telpon dengan Bu Lili!!" ujar Orang itu. Rako pun sangat emosi! dia sudah tahu Lili adalah panggilan Lidya kepada orang-orang suruhannya!!".


"wanita s****n!! aku akan membalasnya!!" ucap Rako membayangkan Lidya. Kia pun sangat terkejut. ia sudah tahu pasti itu Lidya.


Pria itu akhirnya di bawa ke kantor Polisi oleh beberapa orang yang melihat keributan itu terjadi. Rako menghampiri Kia yang sudah berdiri di sampingnya. Dia meneteskan air mata melihat kondisi Kia yang acak-acakan dan berdarah di ujung bibir.


"Kamu tidak apa-apa sayank?" tanya Rako lembut meneteskan air mata dan mengusap darah di ujung bibir Kia. Kia pun menangis.



''Aku baik-baik saja..hiks.." jawab Kia menangis. Rako menutup mata Kia yang sedang menatapnya karena wajah Rako pun ada beberapa yang lebam.


"Jangan melihatku seperti itu. Maafkan aku yang terlambat".. ujar Rako dan langsung memeluk erat Kia. Kia pun membalasnya. Rako melepaskan pelukannya dan memberikan jaket kepada Kia.


Akhirnya mereka berdua pergi dalam satu mobil Rako untuk memberi kesaksian pada polisi. Rako sudah menghubungi Ali untuk mengambil motor Kia yang sudah di arahkan jalannya.


***


Setelah memberi kesaksian pada Polisi, Rako mengantar Kia ke rumahnya. Ia pun ikut masuk ke dalam. Kia langsung membersihkan dirinya di toilet dan tak lupa ia sudah membawa baju ganti. Ia menggunakan baju tidur lengan pendek bergambar Mickey Mouse dan celana panjangnya. Kia membawa air hangat dan handuk kecil untuk mengobati luka Rako.


"Sini aku bersihkan wajah kam". ujar Kia pada Rako. Rako pun menurut. Kia mengelap wajah rako dengan hati-hati. Rako sangat senang dengan perlakuan Kia.


"Yank, terimakasih ya kamu sudah menolong aku". ujar Kia lembut menatap Rako.


"Sudah kewajiban aku melindungi kamu sayank. Kamu tadi tidak di apa-apakan sama mereka kan??" tanya Rako khawatir.


"Alhamdulillah, aku masih bisa jaga diri aku. Mereka baru merobek baju aku. Dan untng saja kamu cepat datang. tapi kok kamu tahu yaa aku disana?" ujar Kia


"Sebenarnya saat kalian berdua di Cafe, aku sudah disana. Dan pas kamu pulang, aku ingin lihat Lidya melakukan apa. Ternyata aku mendengar dia menelpon seseorang untuk mencelakai kamu!! Aku langsung buru-buru mengejar kamu". jelas Rako pada Kia. Kia pun terkejut.


"Jahat sekali dia yank!! Dia hampir membuat aku ternodai" . ujar Kia menahan air mata.


"Yank, apa tadi ada yang membantu kamu??"tanya Rako


"Tidak ada, aku memang bodoh, melarikan diri malah ketempat yang sepi, jadi cuma aku dan dia preman itu aja". ujar Kia kesal.


"Tapi.. pas aku datang wajah mereka sudah babak belur loh" ucap Rako heran yang sebenarnya tidak tahu Kia bisa bela diri.


"Oh, itu aku yang menghajarnya. Cuma pas satu rekannya memukul punggung aku pakai balok, aku langsung terjatuh, dan mereka kesempatan mengunci tangan aku agar tidak melawan". tutur Kia menjelaskan. rako sangat terkejut


"Apa!!?? Kamu menghajar mereka?? siapa yang berani mukul kamu pakai balok yank?? apa kamu tidak apa-apa??" tanya rako khawatir dan melihat tubuh kia dengan menggunakan tangannya.


"Aduh sakit yank.. Aku tidak apa-apa. Kebetulan aku dua tahun ini aku sudah ikut Karate." ujar Kia jujur. Rako pun membulatkan matanya


"Wah kamu hebat syaank.. cup!".. ujar Rako tersenyum dan mencium pipi Kia.


"Ih cari kesempatan banget". saut Kia memukul lengan Rako pelan.


"Haduhh sayank sakitt nih" jawab Rako manja. Kia pun menggelengkan kepalanya.


"Yank, bagaimana rencana kamu selanjutnya? Kamu sudah dengar kan pastinya kejadian di Cafe!? Jadi aku gak usah cerita lagi", ucap Kia pada Rako. Rako pun tersenyum penuh arti.


"Tenang sayank serahkan padaku!!" ucap Rako tersenyum penuh arti.


****


Dan Akhirnya Rako pun sudah pulang pukul 20:30 menuju Apartemennya. Ia sungguh tidak tahan dengan Lidya.


°


°


°


°


°


°


##Haloo Readers.. Maaf baru Up yaa..😊


Lidya sudah terlihat jahatnya tuh.. Kira-kira apa yaa yang akan di lakukan Rako??? 😰


Terus dukung author yAa.. jangan lupa Like, comment dan Votenya biar Author Semangatt!! 😆

__ADS_1


Makasihhhh Sayaaaaaankk 😙


__ADS_2