
Pagi ini Rako terlihat bahagia sekali. Bagaimana tidak, weekend ini ia dan Kia beserta Shiren dan Dinda ikut ke Bandung. Ya, Kia yang meminta Rako agar Shiren dan Dinda ikut. Alasannya, supaya Kak Shania dan Bang Pandu merestui hubungan mereka. Akhirnya Rako mengalah. Ali yang masih di Luar kota sebenarnya sudah tahu hubungan Rako dan Kia. Saat di Cafe pertemuan antara ketiganya, yaitu Rako, Lidya dan Kia, ia yang ada di cafe itu juga tanpa sepengetahuan yang lain mendengar semuanya. Awalnya ia terkejut, tapi ia sudah menyelidiki semuanya. Maka ia pun mengikuti permainannya. Ia ingin melindungi Rako. Apapun yang membuat Rako bahagia, ia akan selalu mendukungnya. Namun, baik Rako dan lainnya tidak mengetahui itu.
Rako yang sekarang sudah duduk di kursi kebesarannya, terlihat sedang bicara pada Shiren, Sekretaris sekaligus sepupunya itu.
"Dek, kira-kira Lidya ikut gak ya ke Bandung?".. ucap Rako minta pendapat Shiren, Pasalnya ia takut keluarga Kia tidak percaya dengan ucapannya, bahwa Istri dia pun menyetujuinya.
"Yahh gak usahlah bang!! Kita berempat dulu aja. Kalau memang keluarga Kak Kia meminta istri abang untuk datang, baru deh kalian bertiga aja kesana lagi sekaligus lamaran, bawa seserahan gitu".. tutur Shiren yang terkekeh sambil menaikan kedua alisnya berulang-ulang.
"Wah.. cerdas juga kamu.. Gak sia-sia abang gaji gede..haha"..ujar Rako. Shiren pun ikut tertawa..
"Bagus deh abang mendengarkan pendapat aku..kalau sampe tuh nenek ganjen ikut, yang ada makin membahayakan hubungan mereka".. batin Shiren.
****
Kia yang terlihat sedikit santai, sedang duduk memikirkan bagaimana jika kakaknya murka. Dalam keluarganya, sangat anti merebut pacar apalagi suami orang.
"Huft,, tapi kan aku menikah dengan Rako atas permintaan istrinya juga, jadi aku bukan pelakor donk!".. gumam Kia meyakinkan dirinya.
"Haii. kakak cantikk"... ucap Shiren dan membuat Kia sedikit kaget.
"Eh,. Shiren.. kaget aku".. tutur Kia menatap Shiren, Shiren pun terkekeh
"Makan bareng yuk kak, sekalian aku mau kenalan sama Kak Dinda"..ucap Shiren..
"Ayo, udah jam 12 yaa, aku baru sadar hehe.." ujar Kia melihat jam tangannya.
Tak lama Dinda pun datang menuju meja Kia.
"Ki, makan yuk gw laperrr".. ucap Dinda yang tak sadar ada Shiren.
"Dindaa??.." ucap Shiren terkejut.. Dinda pun menoleh pada Shiren.
"Hah Iren????".. ucap Dinda tak kalah terkejutnya. Kia hanya menatap heran keduanya.
Dinda dan Shiren pun berpelukan..
"Loe kemana aja Din, gw kangen tauu.. nomor hp loe juga ganti!!".. tutur Shiren melepas pelukannya.
"Ya maaf Ren, nyokap gw sempat sakit waktu itu, dan hp gw ilang, jadi gw ganti nomor... eh loe Sekretaris Pak Boss??" ucap Dinda. Shiren pun menganggukan kepalanya..
"Ya udah yuk makan ".. ucap dinda menarik Kia dan Shiren. Kia pun bertanya pada Dinda dan Shiren.
"Kalian hutang penjelasan sama aku ya".. tutur Kia cemberut yang di buat-buat.
"Siapp Bu Boss".. jawab keduanya bersamaan. Mereka pun tertawa.
Di Kantin
Mereka yang sudah duduk di kantin, terlihat akrab sekali. Dinda yang ingin memesan makanan pun bertanya pada temannya itu.
"Loe berdua mau pesen apa, biar sekalian gw pesenin",, ujar Dinda
"Gw ayam bakar madu deh Din, minumnya air mineral aja".. ucap Kia.
"Sama deh sama Kak Kia"..tutur Shiren
Dinda pun memesan makanan mereka bertiga. Dan tak berapa lama , Dinda kembali bergabung dengan sahabatnya. Sambil menunggu makanan datang, Kia pun sangat penasaran terhadap keduanya.
"Ayo cerita, kenapa kalian bisa saling kenal?".. ucap Kia.
"Dinda aja deh yang cerita Kak"., ucap Shiren terkekeh..
"Jadi Ki, Iren ini dulu teman gw dari kecil. Kita juga selalu satu sekolah di Sidney. Orang tua kita itu sahabatan. Mungkin kalau gw cowok, gw akan di nikahin sama dia nih".. ucap Dinda terkekeh.. Shiren pun tertawa.
"teruss..".. ucap Kia penasaran
"Nah, gw kan sama dia umurnya tuaan gw dikit.. jadi pas lulus sekolah,karena nyokap sakit, gw sekeluarga ke Singapore, kebetulan Om gw Dokter disana. Dan gw lama juga disana Ki, hingga gw ga sempat pamit dan bahkan hp gw ilang. Jadi gw sama Iren udah lost contact 5 tahunan". ujar Dinda menjelaskan. Kia pun menganggukan kepalanya
"Alhamdulillah kalau gitu, sahabat sejati itu pasti akan bertemu lagi kok".. ucap Kia kepada dua temannya itu.
__ADS_1
"Termasuk cinta sejati ya Kak?".. tutur Shiren terkekeh, Kia pun membulatkan matanya.
"Eh tunggu, loe udah tahu hubungan mereka?? Atau jangan-jangan, Abang yang dulu sering loe ceritain itu Al dan Ko itu Asisten Ali dan Boss Rako??? . tanya Dinda pada Shiren. Shiren pun menganggukan kepalanya. Dulu, ia sering bilang, jika ada yang nakal, ia akan menyuruh kedua abangnya yaitu Bang Al dan Bang Ko.
"Iya Din.. gw juga udah tau hubungan mereka, kalau gak kepergok gak akan tahu juga sih hahaa".. ucap Shiren tertawa mengingat ia melihat kedua kakaknya ini berpelukan dalam ruangan Ceo.
"What??? mereka lagi ngapain?? " tanya Dinda meledek karena ia juga pernah memergoki sahabatnya itu berciuman di ruangan rawat saat Kia di Rumah sakit. Kia pun sangat malu pada keduanya, mukanya sangat merah.
Sebelum Shiren menjawab, Makanan mereka pun datang bersamaan. Kia sangat lega. Mereka memakannya dengan hikmat. Selang beberapa menit, mereka sudah menghabiskan makanannya. Waktu istirahat mereka pun masih tersisia 30 menit lagi. Mereka masih setia duduk di bangku kantin yang sangat nyaman itu. Walau suasana nya ramai, tapi nampak mereka semua asik pada dunianya masing-masing.
"Kak,ceritain yang kemarin Abang bilang?!".. ucap Shiren..
Kia pun menceritakan semuanya dari awal. Shiren yang meneteskan air mata, karena ternyata begitu berat cobaan mereka. Apalagi Kia, ia yang merasakan pahitnya kehidupan, sampai-sampai di tolak di berbagai perusahaan.
"Hei.. itu hanya masa lalu, kenapa kamu nangis shiren?",, ujar Kia melihat Shiren meneteskan air mata.
"Aku sedih aja, aku gak bisa membayangkan kalau di posisi kakak",, tutur Shiren masih menangis. Kia pun mengusap tangan Shiren yang di depannya, karena Kia duduk berhadapan dengan Dinda dan Shiren.
"Kak, aku akan dukung kalian. Aku tau banget Mami. Dia tidak mungkin menjadi kejam jika bukan ada orang yang memprovokatorinya", tutur Shiren menatap Kia. Kia pun hanya tersenyum.
"Sudahlah, aku sangat mengerti posisi Mami.. eh maksudnya Ibu Erlina. Namanya orang tua, khususnya Ibu, ia ingin anaknya bahagia.".. tutur Kia. Shiren pun sangat kagum dengan pemikiran positif Kia.
"aku akan buktikan ke Mami, kalau kak Kia lebih pantas dari si nenek ganjen".. batin Shiren
Akhirnya mereka telah kembali dalam posisi masing-masing di meja kerjanya.
Rako yang sedang mengirim pesan pada Kia, terlihat senyum-senyum sendiri. Sedangkan Kia, ia terlihat sedang menerima telpon di mejanya. Setelah selesai, ia melihat ada pesan masuk di hp nya yang ia taruh di atas meja tepat depan Kia.
Isi pesan keduanya..
Kesayangan : **Yank, nanti pulang kerja kita ke mall yuk?
Cantikku : Ngapain**??.. balas Kia, Rako menyimpan nama Kia di contactnya "Cantikku"
Kesayangan : Kencan 😙
Cantikku : Janganlah kalau berdua, nanti kalau ada yang lihat bahaya.
Cantikku : Dih... ganjen.. udah ah!! Jam pulang aku nanti ke ruangan kamu aja ya.. Sekalian ada yang mau aku bicarakan.
Kesayangan : Oke cantikku 😘😘**
Kia pun hanya tersenyum melihat chat dari calon suaminya itu. Rako memang sosok yang romantis dan manja kepadanya.
Jam Kerja pun sudah habis. Dinda yang kebetulan hari ini tidak menginap di rumah Kia, sudah pulang duluan. Kia pun mengendap-ngendap untuk ke ruangan Rako. Sesampainya di lantai 7, terlihat Shiren sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Hai cantik"., sapa Kia. Shiren pun melihat Kia dan tersenyum
"Hai juga cantikk bangett".. jawab Shiren terkekeh.." Hayoo ada maunya nieh".. ujar Shiren meledek Kia, Kia pun tersenyum menampakkan giginya.
"Ada boss?".. tanya Kia.
"Adaa.. ya udah masuk gih",, ujar shiren, Kia pun masuk ke dalam ruangannya.
Tok..tok..ceklek
Kia membuka pintu tanpa menunggu sahutan dari dalam. Rako yang sedang menatap laptopnya, langsung melihat sosok cantik yang menghampirinya.
"Kamu sibuk ya?".. tanya Kia yang sudah duduk berhadapan terhalang meja dengan Rako.
"Gak kok sayang, sambil nunggu kamu datang aku cek laporan aja''.. jawab Rako yang bangun dari duduknya dan menghampiri Kia. Ia pun mengajak Kia duduk di Sofa. Kia pun menurutinya.
Shiren yang ragu untuk pulang, karena takut Lidya ke kantor, akhirnya memutuskan untuk menunggu mereka berdua keluar dari ruangannya, dan tentunya tanpa sepengetahuan Rako dan Kia.
"gw tungguin pasangan itu aja deh, takut nanti ada yang datang".. gumam Shiren.
Kembali ke pasangan yang sedang jatuh cinta..
"Rako, apa nanti kita ajak mbak Lidya?".. ujar Kia menatap Rako yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Gak usah dulu yank, nanti aja kalau kakak kamu yang minta, baru deh. Lagian kan kita ajak Shiren dan Dinda juga. Dan Lidya pun gak tahu kalau mereka tahu hubungan kita".. ujar Rako menjelaskan sembari memainkan jemari Kia yang di genggamnya.
"Hmm..iya juga sih".. tutur Kia. "Ya udah deh, aku mau pulang dulu ya takut keburu Maghrib".. lanjut Kia. Rako pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Di tariknya tengkuk Kia, dan Rako mencium bibir kia dengan lembut. Kia yang tadinya diam, akhirnya membalasnya, ia mengalungkan tangannya ke leher Rako, dan terjadilah c***an yang memabukkan dan sangat lama. Rako masih menahan birahinya. Ia tidak akan lebih dari sekedar c***an.. Mereka melepaskan c***annya untuk mengambil nafas, Rako menatap Kia dengan cinta, kia pun tertunduk karena malu. Rako kembali mencium bibir Kia dan posisinya berbeda. Kia di rebahkan di sofa, Rako yang diatasnya namun tidak menindih tubuh Kia, melainkan menopang dengan kedua tangannya yang di sofa, Kia pun sangat menikmati c***an Rako.. Cukup lama mereka melakukannya hingga tersadar ketukan pintu. Ya, shiren yang sejak tadi menunggu pasangan itu keluar, namun tak kunjung muncul, akhirnya mengetuk pintu.
tok..tok.. "hellooow ayo pulang..." Teriak Shiren di balik pintu, ia tidak mau main asal masuk lagi, karena takut melihat yang tidak-tidak 😆.
Kia pun bangun dan merapihkan pakainnya, ya walaupun hanya sekedar ciuman, tapi kemejanya terlihat kusut. Rako membantu mengusap bibir Kia. Ia pun tersenyum bahagia.
"Jadi gak sabar Halal in kamu"., ucap Rako berbisik pada Kia. Kia pun membulatkan matanya. Akhirnya Kia membuka pintu, dan terlihat Shiren tersenyum menampakkan giginya.
"Loh, kamu gak jadi pulang?".. tanya Kia pada Shiren
"Tadinya gitu, tapi aku takut kalau inget kejadian yang memergoki pasangan yang lagi jatuh cinta sedang berpelukan itu.. Nanti tiba-tiba si nenek ganjen dateng gimana?? makanya aku memantau di sini sekalian jagain kalian",, ucap Shiren terkekeh. Kia pun sangat terkejut, ia tidak berpikir sampai kesana. Ia pun langsung memeluk Shiren.
''Makasih ya sayang".. tutur Kia lembut.
"Hebat kamu dek, nanti abang transfer bonuss buat kamu".. tutur Rako mengusap kepala Shiren.
"Wajib ituu".. ujar shiren tegas, merekapun tertawa. Tapi tidak dengan Kia. Dia merasa sangat keterlaluan. Bagaimana perasaan istrinya kalau tahu suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain.. Walaupun dia sendiri yang memintanya untuk menikah dengan Suaminya sendiri, tapi tetap ini salah. Rako yang melihat Kia pun bertanya.
"Kamu kenapa?".. tanya Rako lembut, Shiren pun juga menatap Kia.
"Aku merasa bukan perempuan baik-baik".. ujar Kia meneteskan airmata. Rako pun terkejut, begitu pula Shiren.
"Kak, kakak itu wajar kok mengambil Hak kakak lagi!! Lagian Lidya itu tidak pantas buat abang!! Mami kalau tahu pasti akan menyesal!!". ujar Shiren yang terlihat emosi. Kia pun bingung dengan ucapan Shiren.
"Tetap saja, dia Istri Sah Rako, sedangkan aku??".. ucap Kia sedih, rako langsung memeluk Kia di hadapan Shiren. Kia pun tidak menolak dan tidak membalasnya.
"Aku seperti ini pun hanya dengan kamu Yank. Karena kamu wanita yang sangat baik, makanya aku memperjuangkan kamu. Kita nikahnya di percepat aja kalau gitu", ujar Rako. Kia pun melepas pelukannya.
"Gak usah sebegitunya.." ujar Kia. Kia menghela nafasnya..
"Ya sudah aku pulang dulu ya".pamit Kia pada keduanya.
"Ayo aku antar kamu pulang",, tutur Rako menggandeng Kia.
"Aku bawa motor Rako, lagian kamu harusnya anterin adik tersayang kamu ini. Dia sudah bantu kita"..tutur Kia tersenyum pada Shiren.
"Ih gapapa kali kak, aku juga bawa mobil kok, udah dianterin abang aja. Motornya taruh di parkiran aja", ujar Shiren
"Gak usah lah, lagian kakak kamu juga harus istirahat"., ucap Kia menatap wajah calon suaminya itu. Rako pun tidak bisa memaksa Kia. Ia takut Kia akan marah.
"Ya udah, kamu hati-hati ya sayank,.cup.." ujar Rako lembut dan mencium kening Kia. Kia pun terkejut atas perlakuan Rako depan Shiren.
"So sweet " tutur Shiren meledek keduanya, terlihat wajah Kia merah merona karena malu.
" Udah ah, aku pulang ya.. Kalian hati-hati ya''.. ujar Kia dan menuju lift untuk turun.
Kia pun sudah tidak terlihat oleh keduanya.
" Bang, apa Mami kita kasih tau aja soal si nenek ganjen??". ucap shiren dengan serius
"Jangan dek, kita ikutin permainannya seolah kita tidak tahu".. ucap Rako tersenyum getir.
****
°
°
°
°
°
°
#**Hai.. makin penasaran ya ada apa sih dengan nenek ganjen..upss.. Lidya maksudnya.. Simak terus ya pasti terungkap kok..
__ADS_1
Jangan lupa like dan Vote nya yah Reades.. 😚
Terimakasih... 😍**