
**Rako saat ini sedang berada di rumah utama, yaitu kediaman Pak Ridho dan Bu Erlina, orang tua dari Rako. Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga, ada Lidya dan Shiren sepupu Rako yang tak lain adik dari Ali, Asisten Rako di kantornya.
"Bang, aku kangen deh!".. ucap Shiren yang bergelayut manja di lengan kiri Rako. Ya, memang sejak dulu Shiren sangat dekat dengan Rako. Karena Rako adalah anak tunggal, maka dia sudah menganggap Shiren adalah adiknya. Lidya yang semenjak menikah dengan Rako, juga tahu bahwa Shiren sangatlah manja kepada suaminua itu.
"Ya, abang juga kangen".. tutur Rako lembut mengusap kepala Shiren dengan tangan kanannya. Lidya duduk berdampingan dengan Mami, Papi duduk di sofa kebesarannya. Sedangkan Rako, duduk berdampingan dengan Shiren.
"kamu tadi dari mana dulu Rako?? kenapa tidak bareng sama istri kamu ke sininya?!"., tanya Mami menatap tajam anaknya itu.
"Aku ada urusan Mi, lagian aku kan baru balik dari Surabaya?". tutur Rako berbohong dan menatap mata Maminya.
"Apa kamu masih mencari keberadaan gadis miskin itu???!".. ucap Mami sinis.
"Dia mungkin Miskin harta Mi, tapi dia Kaya Iman!! sedangkan mami??? Mami miskin Akhlak dan Iman!!". tutur rako dingin dan berdiri ingin keluar rumah.. Mami sangat malu akan ucapan Rako itu. Sedangkan Lidya hanya diam.
"Rako!!! duduk!!". titah papinya yang baru mengeluarkan suara. Rako pun duduk kembali di sofanya. Shiren yang sejak tadi hanya menyimak bertanya-tanya.
''Apa yang di maksud gadis miskin mantan pacarnya abang?? aku jadi penasaran seperti apa dia. Dulu aku bekum sempat berkenalan sama pacar abang itu".. batin Shiren.
Shiren memang tidak begitu menyukai Lidya, karena ia pernah melihat Lidya memasuki sesuatu ke dalam minuman abangnya itu. Jadi dia berfikir bahwa Lidya melakukan cara yang licik untuk mendapatkan Rako. Shiren yang berusia 21 tahun memiliki wajah yang cantik. Rambut panjang sepinggangnya yang suka berganti-ganti warna, tubuhnya kurus dan tidak terlalu tinggi, hidung mancung, kulit putih bersih. Dia sejak dulu bersekolah di Sidney. Jadi saat Rako dan Kia masih berpacaran, dia belum pernah berkenalan apalagi bertemu. Dia adalah orang yang apa adanya. Jika dia tidak menyukai seseorang, ia akan melihatkan wajah ketidaksukaannya terhadap orang itu, dan dia tidak bisa berbasa basi, begitupun sebaliknya. Ya, dia tidak suka pada Lidya, namun karena Mami yang tak ibu dari Rako memohon agar dia tidak terlalu jutek kepada kakak iparnya itu. Jadi dia terpaksa sedikit ramah dengan Lidya.
"Kamu tidak sopan bicara seperti itu pada Mami mu!!". ucap Papi tegas, rako pun hanya diam. Papi mengehela nafasnya.. "Kalian sampai sekarang kan belum ada keturunan, apa kalian tidak ingin melakukan bayi tabung?".. ucap papi lembut kepada Rako dan Lidya.
"Papi kan tau sendiri, dulu Dokter pernah mengataan rahim Lidya sedikit bermasalah. Justru aku takut melakukan bayi tabung akan membahaykan keduanya". ucap rako yang sebenarnya tidak ingin punya anak dari Lidya, ia hanya ingin memiliki anak dari orang yang di cintainya, Kia. Lidya pun hanya diam.
"Kenapa gak nikah lagi aja bang?".. ucap Shiren terkekeh, dan mampu membulatkan mata papi dan maminya. Rako pun tersenyum pada Shiren.
"Anak kecil bisa-bisa punya ide briliant..hahaa".. Ucap rako tertawa, shiren pun tertawa. Tapi tidak untuk Lidya. ia sangat kesal dengan perkataan Shiren yang bicara di depan mertuanya itu.
"Shiren, kamu tidak boleh bicara kaya gitu. Mami tidak akan pernah mau punya menantu selain Lidya". ucap mami, lidya pun tersenyum pada Mami.
"Walau nantinya kita tidak punya anak mi??". ucap Rako menimpali. Mami seketika diam. Tidak bisa di pungkiri, ia ingin sekali punya cucu dari darah daging anaknya itu. Lidya pun tampak sedih.
"Sudah ah Shiren mau ke kamar", ucap shiren memecahkan keheningan itu. Setelah Shiren berlalu ke kamarnya, Papi mempunyai ide yang mampu membulatkan mata ketiganya.
"Papi punya Ide. Bagaimana pun.. Papi ingin memiliki cucu dari darah daging keluarga kita. Jadi, Rako kamu carilah perempuan yang mau melahirkan anakmu, setelah itu tinggalkan dia, dan kamu bersama Lidya bisa mengurus anak kamu itu". ucap Papi. Mereka sangat terkejut akan ide papinya. Rako memang akn menikah lagi, tapi untuk selamanya bersama Kia.
"Astagfirllah Papi!!! apa papi setega itu nantinya memisahkan anak dari Ibu kandungnya??.. Kalaupun nanti aku menikah lagi dan memiliki anak dari wanita itu, aku tetap akan mempertahankannya!!!" ucap Rako dengan suara tinggi. " Kamu setuju kan Lidya???". lanjut Rako menatap tajam istrinya itu.
"I..iyaa".. lirih Lidya terbata-bata.
****
Shiren nampak sedang berbaring memainkan ponselnya di tas kasur mewahnya.
tok..tok..tok.."Shiren?".. ucap rako dari balik pintu kamar Shiren
"masuk aja bang".. saut Shiren, Rako pun membuka pintu, dan berjalan untuk duduk di tepi ranjang. Shiren pun merubah posisinya menjadi duduk bersila di atas kasurnya itu.
"Ada apa bang?"..tanya Shiren
"Gak, abang mau tanya apa kamu besok mau kerja di Perusahaan Abang? kebetulan Abang lagi cari sekretaris. Kayaknya kamu bisa di andalkan, secara gitu loh adik abang ini cerdas!".. tutur Rako terkekeh. Shiren pun sangat senang
"Mauu banget bang, makasih ya bang".. ucap Shiren antusias kegirangan dan memeluk Rako, Rako tersenyum dan mengusap kepala adik sepupunya itu.
__ADS_1
"Tapi.. ada syaratnya!". ucap Rako, Shiren pun melepaskan pelukannya.
"Apa bang?".. ujar shiren
"Jangan bilang pada siapapun kamu itu adik sepupu abang!!". ujar Rako menatap Shiren.
"Loh kenapa bang? Aku gak akan buat abang malu kok". tutur Shiren memelas.
"Haha.. bukan itu dek, tapi masalahnya Abang mau kamu menjadi mata-mata buat abang di kantor".. tutur Rako. Ia memilih Shiren, karena Shiren sangatlah cerdas. Di usia 21 tahun, dia sudah menyelesaikan kuliah sampai S2 nya.
"Hmm..seru juga. Ok deh!". ucap Shiren mengangkat jempolnya.
****
Hari senin pun tiba, Kia yang sudah kembali bekerja terlihat lebih cantik hari ini. Dia memakai dress berwarna Salem yang ada kerahnya,dengan lengan panjang 3/4 dengan panjang di atas lutut, walau tidak terlalu ketat tapi cukup terlihat body nya yang aduhai. Di tambah lagi ada ikat pinggang kecil berwarna hitam yang melingkar di pinggang rampingnya. Rambut hitam sebahunya ia ikat rapi menjadi satu dan hany tersisa poni miringnya saja. Ia sedikit memoles wajahnya dengan bedak, dan memakai maskara serta lipstik berwarna pink tapi tidak menor. Dinda dan teman-teman lainnya selalu memuji penampilan Kia. Bima pun sangat terpesona.
Pak Regar menyampaikan pada Kia bahwa hari ini akan datang sekretaris baru untuk Ceo nyam yang tak lain, Rako Hadi Pratama. Ya, semenjak sekretaris lama nya di pecat, baru ini dapat pengganti atas rekomend Ali, Asisten Rako. Pak Regar pun tidak tahu bahwa Ali adalah sepupu dari Ceo itu.
"Kia, nanti ada sekretaris baru untuk Pak Rako. Kalau dia datang, antar keruangan saya ya".. ucap Pak Regar pada Kia.
"Baik Pak".. ucap Kia ramah.
Kia pun bertanya-tanya dalam hatinya.
"Sekretaris?? huft.. ".. batin Kia
Tak lama kemudian, datang seorang gadis cantik berambut panjang berwarna coklat, dengan memakai kemeja lengan pendek berwarna grey di masukkan ke dalam rok hitam di atas lutut yang ketat, sepatu high heels sekitar 10cm, dan tas uang di jinjingnya. Wajahnya yang cantik sedikit berdandan, ia memakai lisptik berwarna merah. Kia yang dari jauh melihat kedatangan gadis cantik terlihat kagum, dan gadis itu mendekat ke meja Kia.
"Selamat Pagi Mbak". sapa sopan Shiren pada Kia, Kia yang berdiri menyambut tamu tersenyum ramah.
"cantikk banget ini mbak reseptionistnya, cocok nih jadi istri abang".. batin Shiren
"Saya Calon Sekretaris baru di sini, bisa bertemu Pak Regar?".. tutur Shiren
"what?? jadi dia sekretaris barunya?? Ya Allah cantik banget, pasti rako betah nih".. batin Kia menatap Shiren
"Hallo..mbakk??".. ucap Shiren yang melambaikan tangannya ke depan wajah Kia yang bengong. kia pun tersadar.
"Eh.. Maaf Bu, abis cantik banget sih".. ucap Kia jujur dan tersenyum, shiren oun terkekeh melihat Kia.
"jangan panggil Ibu kali, sYa masih 21 tahun mbak!".. ucap Shirem terkekeh.
"Apa??..eh.. maaf".. ucap Kia terkekeh.." Ya sudah ayo saya antar ke ruangan Pak Regar". tutur Kia lembut dan menuntun Shiren berjalan ke ruangan Pak Regar. Shiren yang melihat Kia dari belakang di buat kagum, pasalnya Kia memiliki bodi yang bagus, bokongnya yang berisi, kulit putih bersih dan tubuh yang tinggi, serta ia melihat tadi dadanya Kia sangat pas di tubuhnya.
"Ya ampun nih cewek kenapa gak jadi model aja yaa??!! Mami harusnya cari mantu kaya gini, jangan model si nenek ganjen itu"., batin Shiren.
"Silahkan ini ruangan Pak Regar, beliau sudah menunggu kamu".. ucap Kia ramah
"Terimakasih ya mbak, oia saya Shiren".. ucap shiren menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Oh saya Kia"..balas Kia tersenyum dan mereka pun bersalaman..
****
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 12:00, Kia yang sedang berjalan menuju kantin bersama Dinda, melihat Shiren berbicara dan tertawa bersama Rako. Dari kejauhan nampak mereka sedang menunggu mobil menjemputnya.
"akrab banget sih, baru sehari, pantesan gak chat aku hari ini".. gumam Kia
"Ki, loe kenapa??".. tanya Dinda..
"ah,,gak kok, gw mau makan bakso",. ucap Kia mengelak.
Sedangkan di posisi Rako dan Shiren yang berjalan berdampingan,Rako ingin mengajak Shiren ke salah satu kliennya. Shiren sepanjang jalan bercerita tentang dia yang bertemu Kia. Rako yang mendengarnya sangat senang, calon istrinya di puji adik sepupunya ini, yang notabennya tidak begitu terlalu mudah akrab dengan orang lain.
"Bang, receptionistnya bening banget.. Bodinya bagusss banget deh bang. Harusnya dia jadi istri abang bukan si nenek ganjen".. ucap shiren
"Haha, iya dia memang cantik, dia primadona di kantor abang".. tutur rako yang tahu bahwa Kia banyak yang menyukainya.
"Nikahin aja diem-diem bang, shiren yang akan dukung abang dan jaga rahasianya"..ucap Shiren antusias, Rako tertawa bahagia.
"Haha.. kamu nih, gak suka banget kayanya sama Lidya".. tutur Rako
"Dia itu licik bang, dulu waktu aku menginap di Apartement abang, aku pernah liat dia masukin sesuatu ke dalam kopi abang".. ucap Shiren jujur, rako yang sudah tahu akan hal itu hanya tersenyum.
"Ya sudah, insyallah abang tidak akan kena jebakan batman lagi".. ucap Rako tersenyum.
"Bang, aku liat abang sangat berubah, tadi abang Sholat jam 9, terus abang selalu mengucapkan Alhamdulillah, Insyaallah, Astaghfirullahaladzim.. terus..." ucap Shiren nampak berpikir. Karena tiga tahun lalu, Shiren melihat abangnya ini selalu mabuk-mabukkan, dan bicara kasar.
" Ya donk, ada yang sudah merubah abang",, ucap Rako tersenyum membayangkan wajah Kia..
"Kayanya gak mungkin si nenek ganjen!! jangan bilang abang punya pacar lagi???". ucap Shiren terkejut, Rako pun hanya tertawa.
****
Waktu jam kantor sudah habis, para karyawan sibuk bersiap-siap untuk pulang. Terlihat Kia yang masih duduk di kursi kerjanya sedang memegang benda pipihnya dan melamun.
"Sampai sekarang gak chat aku, apa aku duluan ya".. gumam Kia
"Woyyy, ngelamun aja!!". teriak Dinda mengagetkan Kia.
"Astghfirullahadzim.. Dindaaaa kebiasaan deh". ucap Kia terkejut dan terlihat kesal dengan Sahabatnya itu. Dinda pun hanya tertawa.
"Lagii.. bengong aja. Yuk balik". ajak Dinda. Kia pun akhirnya pulang bersama Dinda. Dinda pun masih menginap di kontrakan Kia.
****
°
°
°
°
°
#**Siapa yang berpikiran Shiren pelakor?? 😃... Shiren aku buat dia mendukung Kia.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Readers 😙😙**