
Setelah pulang dari Cafe X, Rako yang tiba di Apartement nya pukul 22:00, sudah masuk ke dalam Apartement miliknya. Terlihat sangat hening dan gelap. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar utama, yang Lidya juga berada disana. Sebelum ia membuka pintu, ia mendengar suara Lidya seperti berbicara dengan seseorang di telepon. Rako membuka pintu sedikit dan perlahan, agar terdengar jelas apa yang di bicarakan. Ia pun segera menyetel recorder di ponselnya dan di di genggamnya.
Lidya yang sedang duduk bersila di atas kasur menghadap jendela atau lebih tepatnya membelakangi pintu dimana Rako mengintip dan menguping pembicaraanya. Rako dengan seksama mendengarkan apa yang di bicarakan Lidya. Sungguh ia terkejut. Lidya seperti memesan obat untuk merusak peranakam seseorang agar tidak bisa hamil. Rako sudah pasti curiga bahwa itu untuk Kia.
"Br***ek kamu Lidya!!!" batin Rako
"Pokonya berapa aja saya transfer, asal manjur tuh obatnya!". suara lidya yang terdengar rako
"Iyaa, intinya merusak rahim gitu deh!" lanjut Lidya yang masih di dengar Rako.
"Oke, kirim ke tempat biasa ya". ujar Lidya dan menutup teleponya. Rako pun masuk tiba-tiba.
"Telepon siapa kamu malam-malam?!" tanya Rako menatap tajam Lidya. Lidya mendengar suara Rako sangat terkejut. Dengan reflek dia membalikkan tubuhnya menghadap Rako.
"Ka..kamu udah pulang". tutur Lidya gugup. Dia pun menghampiri suaminya.
"Mau aku siapin air hangat?". tanya lidya tersenyum. Rako sangat muak melihatnya. Ia menaruh ponselnya di nakas meja dan masih stay on merekam tanpa sepengetahuan Lidya.
"Gak usah mengalihkan pembicaraan!! telepon siapa kamu..hmm??" tanya rako tegas dan menatap tajam Lidya. Dia pun menelan salivanya.
"Itu.. dari Elang.. Aku tanya masalah obat buat rahimku". jawab Lidya berbohong
"Oh ya??mana ponsel kamu??" ujar Rako menadahkan tangannya meminta ponsel Lidya. Lidya pun sangat ketakutan.
"Matilah aku!!" batin Lidya.
"ini.. hp ku low batt Mas!". ujar Lidya sembari berusaha mematikan teleponya. Dengan sigap Rako merebut ponsel Lidya dan memeriksa panggilan keluar. Lidya pun tidak nisa melawan. Ia berusaha merebut namun karena Rako lebih tinggi darinya sudah pasti ia kalah.
Rako pun menelpon kembali nomor terakhir yang dihubungi Lidya dan meloudspeakernya.
tut..tut..tutt..
"Ya Boss, kenapa lagi?" jawab seorang laki-laki dari ujung sana.
Rako sangat terkejut, ia di panggil Boss?!!
"Saya temannya Lidya, apa pesanannya bisa sampai besok?". ujar Rako beracting. Seorang laki-laki disana pun menjawabnya.
"Lidya??.. hmm..Paling lusa Pak. Karena kita harus racik dulu!". jawab orang itu yang membuat Rako terkejut dan menatap tajam Lidya. Lidya pun jantungnya sangat berdebar. Tubuhnya seakan tidak ada tulang. Ia takut semua ketahuan.
"Itu bisa merusak rahim apa gimana obatnya ?Soalnya saya mau dia MATI!!" ujar Rako menekan kata Mati menatap Lidya. Lidya pun menunduk takut.
__ADS_1
"Kalau nanti Tuan memberikannya satu sendok makan, bisa-bisa dia mati tuan. Karena ini sangat keras! Tadi saya juga bilang sama Boss Lili kasih seujung kuku aja!". ujar Orang itu menjelaskan.
"Lili?? Oh maksudnya Lidya?".. tanya Rako heran dan terus menatap tajam Lidya
"Iya Tuan, Bos Lili".. ujar orang itu. Rako pun langsung menutup telponnya dan membanting kasar hingga pecah dan mati. Lidya sangat terkejut dan ketakutan.
"Untuk siapa kamu memesan itu Lidya???!!" teriak Rako pada Lidya, ia sudah tidaj tahan dengan sikap istrinya ini.
"Ak..aku pesan untuk temanku Mas.." jawab Lidya gugup dan berbohong.
"Oh ya??? aku tidak bodoh Lidya!!! Saat kau menaruh sesuatu di Jus Alpukat, aku melihatnya!! Maka dari itu aku menyuruh kamu untuk minum!!". ujar Rako tersenyum getir. Lidya pun kaget.
"Kenapa??? kaget ya??? " tutur Rako tegas.Lidya pun diam.
"Baiklah, ini sudah tidak bisa dimaafkan, mulai besok aku akan CERAIKAN KAMU!!!!" ujar Rako dingin dan meninggalkan Lidya. Lidya sangat takut diceraikan Rako. Ia berlari dan berlutut memegang satu kaki Rako untuk menahan ia pergi.
"Maafkan aku Mas, aku salah. Jangan ceriakan aku, aku mohon. Aku akui aku memang yang memasukan obat gatal itu, tujuannya agar kamu bisa dirumah berhari-hari sama aku dan tidak jadi pergi. Aku belum siap untuk itu". ujar Lidya menangis. Rako pun tersenyum senang mendengar Lidya mengaku dan terekam, ia berhenti saat Lidya memegang satu kaki panjangnya dan mendengarkan pengakuan Lidya.
"Ohh jadi itu tujuan kamu!!! setega itu kamu sama suamimu sendiri!!!!" teriak Rako. Lidya pun melepas pelukan pada kaki Rako dan ia berdiri perlahan menghadap Rako dengan tatapan sendu, namun Rako sama sekali tidak iba.
"Maafkan aku Mas, ak..aku cuma mau berduaan sama kamu, tapi caraku salah..hiks..hiks.." tutur Lidya menangis.
"Aku sudah tidak bisa mempertahankanmu Lidya!! Menikah atau tidak menikah lagi, aku akan tetap Menceraikanmu!!!" ujar Rako dengan suara tinggi. Lidya pun sangat takut.
"Lalu, untuk apa kau pesan obat berbahaya yang bisa merusak rahim seperti tadi??" tanya Rako dingin menatap tajam lidya.
"Itu temanku yang pesan Mas, karena aku kenal sama orang nya!". jawab Lidya pelan.
"Sekali lagi aku tanya Lidya!!!" ucap Rako pelan.. "UNTUK APA KAU PESAN OBAT ITU!!!!???" Teriak Rako yang membuat jantung Lidya semakin berdebar.
"Un..untuk Ki...Kirana Mas, teman Kuliah aku. Dia selalu meledekku tidak punya anak, aku ingin dia merasakan nya juga!!" Lirih Lidya, rako pun tidak percaya.
"Kirana??? Hmm... Aku akan selidik!". ujar Rako tegas. Lidya pun menelan salivanya.
"Jika kau tidak mau di ceraikan, tidur di kamar tamu!! aku muak tidur dengamu!!" ujar Rako mengambil ponselnya dan meninggalkan Lidya ketoilet. Lidya pun menurut, ia memindahkan beberapa pakaian untuk taruh di kamar tamu, tepatnya samping kamar Shiren.
Di dalam toilet, Rako segera menyimpan recordernya dan mengirim pada Shiren dan Ali. Setelah membersihkan tubuhnya, Rako sudah merebahkan tubuhnya di kasur miliknya.
"Aku akan mengurangi jatah bulanan untuk Lidya!!" gumam Rako sendiri.
****
__ADS_1
Keesokan harinya..
Berhubung masih hari libur, Shiren dan Rako yang habis Joging setelah Subuh, sudah masuk kembali ke Apartement milik Rako. Rako melihat Lidya sudah menata sarapan nasi goreng, yang seumur hidupnya baru memasak. Selama ini mereka makan memesan online atau memanggil Bi Ani dari Rumah utama Rako. Karena masakan Bi Ani termasuk cocok di Lidah Rako. Sudah pasti ia sangat cocok dengan masakan Kia. Karena sejak pacaran dulu, Rako sering makan masakan Kia yang terbilang enak itu.
"Eh udh datang.. sini sarapan dulu".. ujar Lidya tersenyum. Rako dan Shiren saling bertatapan heran, dan shiren pun menuju meja makan.
"Ini..mbak yang masak?" tanya Shiren melihat nasi goreng yang berwarna gelap seperti kebanyakan kecap.
"Iya donk, spesial aku masak buat kalian.." jawab Lidya tersenyum.
"Aku dan Shiren sudah makan bubur tadi!" ujar Rako dingin lalu pergi ke kamar utama. Shiren pun ikut meninggalkan Lidya. Sebenarnya mereka belum makan, dan sekarang Shiren sangat kelaparan. Ia juga takut makan dari Lidya, takut di racuni..😂
Lidya dan Dr. Sam
Rako dan Kia
Shiren
Dinda
**°
°
°
°
##Haiii... terimakasih yang udah mau membaca novel aku dari awal sampai sekarang. Aku seneng deh nulisnya karena banyak yang Like. 😘
Terus dukung yaa dan jangan lupa di like n Vote nya gaessss 😆
Oia, Visualnya aku pake Animasi, karena aku suka aja. tapi kalau Kalian punya imajinasi Visual lainnya, sok atuhh gapapa 😆..
__ADS_1
Dadaaaaaaahh👋👋 Sayaaaaaankkkk 😙**