
**Sinar matahari menyinari seluruh Kota Jakarta. Rako yang baru sampai di Bandara, terlihat wajahnya sangat senang. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Calon Istrinya. Terlihat sekarang ia sudah masuk ke dalam mobil mewahnya yang di jemput supir untuk langsung ke Rumah Sakit.
"Pak, cepat sedikit ya".. ucap Rako kepada Pak Totok supir pribadi nya yang sudah mengabdi bertahun-tahun. Tampak seorang Pria tampan duduk di jok belakang sambil menatap jendela luar.
"Ya Den..", jawab sopan Pak Totok.. Dia yang sebelumnya sudah mengenal Kia waktu masih berpacaran dengan Rako, sangat terkejut bahwa Rako akan menemuinya di Rumah Sakit.
"Pantas aja muka Den Rako ceria banget. Udah lama gak liat dia begitu, ternyata ini mau ketemu orang yang sama di masa lalu toh".. batin Totok sesekali melihat Bosnya itu lewat kaca spion.
****
Rako sudah sampai di Rumah sakit. Saat ini waktu menunjukkan pukul 10:15. Dia yang membawa sebuah paper bag yang berisi sesuatu untuk Kia terlihat tergesa-gesa ingin menuju lantai 3, dimana orang yang di cintainya itu berada.
ceklek
Rako membuka knop pintu kamar rawat Kia dengan perlahan tanpa mengucap salam seakan ingin memberi kejutan. Dan ia melihat Kia sedang memegang ponselnya sembari senyum-senyum.. Rako yang awalnya ceria, melihat itu menjadi kesal, pikirannya siapa yang sedang chat an dengan calon istrinya itu? Apa yang buat dia senyum-senyum? Kia pun tidak mengetahui kedatangan Rako, karena ia sedang asik membaca chat di ponselnya.
"eheem"... suara deheman Rako membuyarkan Kia. Kia sangat terkejut. Ia yang memang posisinya sedang duduk bersandar, langsung duduk tegak menghadap Rako dan meletakan ponselnya di samping bantal.
"Hei.. kamu udah pulang? Kok gak ngucap salam?".. tanya Kia tersenyum. Sedangkan Rako dengan wajah yang cemberut dan menatap Kia.
"Kamu aja yang gak dengar saking asiknya chat an sama cowok lain, senyum-senyum lagi".. ucap Rako berbohong dan tersenyum getir. Kia mengeritkan dahinya.
"Cowok?? siapa??".. tanya Kia yang sengaja ingin melihat kecemburuan Rako.
"Loh kok nanya aku?? itu hp kamu aja langsung di umpetin gitu!". ucap Rako ketus. Kia pun tertawa karena tidak tahan melihat orang yang di cintainya itu cemberut. Bagi Kia itu sangat lucu.
"Hahaa.. aku lagi baca chat an Dinda Yank".. ucap Kia yang menyebut Yank. Rako sebenarnya sangat senang, tapi ia ingin menguji kekasihnya ini. Ia ingin Kia mengucapkan kata Cinta padanya.
"Oh".. ucap Rako singkat dan meletakan paper bag di kursi samping brankar Kia. Ia yang masih berdiri sebenarnya ingin keluar karena ponselnya tertinggal di mobil.
"Yank, kamu mau kemana?? Maafin aku, aku bersumpah ini dari Dinda, dia tadi subuh kan pulang, trus dia chat aku katanya celana dia robek gara" buru" turun dari motor, trs ketahuan sama Pak Vino".. ucap Kia menjelaskan detail karena melihat Rako yang ingin keluar kamarny. Rako yang membelakangi kia tersenyum senang. Ia berpikir Kia benar-benar mencintainya. Karena dia menjelaskan masalahnya. Tapo Rako masih bersikap dingin.
"Aku mau pulang dulu, dari Bandara aku buru-buru ke sini karena ingin cepat-cepat ketemu sama kamu tadinya. Tapi sepertinya hanya aku yang kangen". ucap rako datar tanpa membalikan tubuhnya. Kia yang mendengarnya begitu sakit. Ia pun juga sama, sangat merindukan sosok pria bersuami orang ini. Ia hanya diam. Rako pun yang tidak mendapat jawaban dari Kia sempat menunggu apa yang akan di katakan gadisnya ini. Lama tidak ada jawaban, ia pun keluar karena ingin mengambil ponselnya. Tapi Kia yang tidak tahu menangis sesegukan.
"Hikss,.hiks.. kamu kenapa masih bilang aku gak kangen sama kamu?! Aku kangeeen banget sama kamu yank. aku mau peluk kamu. Tapi aku tahu diri..hikss.hiks.. " gumam Kia menangis. Ia pun berniat ingin pulang saja, karena tidak ingin merepotkan Rako. Apalagi pikirnya Rako sedang marah saat ini. Ia mencabut paksa infusan yang ada di tangannya. Sediki keluar darah namun ia diamkan. Walau tubuhnya masih agak lemas, ia membereskan pakaian-pakaiannya sambil menangis. Rako yang sudah berada di Lt. 3 ingin minta maaf pada gadisnya itu.
ceklek..
"Ya Allah Kia!! Apa yang kamu lakukan??!"., ucap Rako dengan nada tinggi dan langsung memeluk Kia dari belakang yang sedang membereskan pakaiannya itu. Ia melihat darah berceceran di lantai. Kia sangat terkejut karena Rako kembali, ia semakin menangis sesegukan.
"Lepaskan aku!! Aku mau pulang aja, aku juga udah mendingan!! Aku tidak mau merepotkanmu!!", ucap Kia dengan nada tinggi, Rako pun sangat menyesal atas perilakunya tadi. Ia yang ingin mendengar Kia mengucapkan kata Cinta, malah menjadi seperti ini.
"Maafkan aku sayank, aku tadi hanya mengambil hp di mobil, tadi pun aku gak sungguh-sungguh marah sama kamu. Aku cuma mau kamu bilang cinta ke aku".. lirih Rako berlinang air mata. Kia pun sontak melepaskan pelukan Rako dan menghadap pria tampan ini.
"Cinta!!?? Apa kamu masih meragukan aku.. hah??? Aku dengan relanya menjadi istri kedua kamu!! Aku yang 4 tahun ini bahkan tidak pernah menjalin kasih dengan laki-laki lain?!! Karena apa Rako??? karena aku sangat sangat mencintai kamu!!!".. ucap kia dengan nada tinggi dan menangis. Rako yang mendengar pun terkejut dan langsung memeluk Kia dengan erat, Kia pun tidak berontak dan tidak membalas, ia hanya menangis. Rako berpikir betapa bodohnya dia yang masih meragukan cinta gadisnya ini. Benar, ia sampai rela menjadi istri kedua dan tidak pernah pacaran selama ini? bahkan aku sendiri pun sudah berhubungan dengan wanita lain walau tanpa sadar..
"Maafkan aku sayank.. maafkan aku.. aku juga sangat sangat sangaaaaat mencintai kamu".. lirih Rako dan Kia membalas pelukannya. Rako menciumi pucuk kepala Kia. Dia mengusap rambut indah Kia.
Cukup lama mereka berpelukan, Rako yang menggendong Kia ala bridal langsung meletakan dengan sangat lembut ke atas brankas kasurnya itu.
Rako sudah menekan tombol untuk memanggil Dokter atau Perawat. Sambil menunggu mereka datang, Kia yang masih sesegukan karena sisa menangisnya, di genggam jemari tangannya oleh Rako, di ciumi nya.
"Jangan pernah lakuin ini lagi ya ".. ucap rako lembut, kia hanya diam.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf. Aku percaya sama kamu. Tapi cara aku salah.". lirih Rako. Dan suster pun masuk ke dalam ruangannya itu.
"Permisi Pak, ada yang bisa di bantu?". ucap suster itu ramah dan mendekati Kia.. " loh kok infusnya lepas?".. tanya Suster yang melihat infusnya berceceran.
"Ya Sus, tadi kesenggol sama istri saya pas tidur". ucap Rako, Kia hanya diam.
"Ya sudah sayan ganti saja dulu, tunggu sebentar ya". ucap suster itu dan langsung meninggalkan mereka.
"Sayank, ngomong donk?!.. kamu masih marah sama aku ya? Maki-maki aja akunya yank jangan di diemin".. ucap rako sedih dan menggenggam tangan Kia.
"Aku mau pulang".. ucap Kia tegas
"Sayank, kamu masih sakit. Kata Dokter kan kamu paling nggak bisa pulang lusa". ucap Rako menatap kekasihnya itu, ia sungguh sangat menyesal.
"Aku nggak mau merepotkan kamu!! aku juga gak enak sama mbak Lidya". ucap Kia meneteskan air mata. Rako langsung memeluk tubuh kia dia mencium kening orang yang di cintainya itu.
"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan sama kamu yank. Dan kenapa gak enak sama dia?? Dia aja enak-enak aja udah misahin aku sama kamu!!" . tutur Rako yang terdengar kesal. Kia pun yang mendengarnya sempat membenarkan. Namun ia langsung tersadar, berati dia dan Rako tidak berjodoh. Kia ingin menjawab ucapan Rako, suster pun datang membawa perlengkapan jarum infusnya.
" Permisi, maaf kalau lama ya Pak..Bu".. ucap Suster ramah
"Ya sus, langsung pasang aja".. ucap Rako. Kia pun pasrah.
Setelah beberapa menit, infusan nya sudah kembali terpasang di punggung tangan kiri Kia.
"Oia, ini aku bawa oleh-oleh buat kamu".. ucap rako tersenyum. Ia memberikan Almond Crispy Cheese berbagai rasa dan yang pastinya Almond Choco Cheese kesukaan Kia. Kia yang melihat sebenarnya ingin langsung memakannya. Tapi dia gengsi gaaess.. hihii
"Taro aja di meja"., ucap Kia datar. Rako pun menaruh paperbag itu di atas meja.
"Jangan! kamu pulang aja, nanti Dinda ke sini lagi, kan besok weekend. Lagian kasian mbak Lidya, kamu belum ketemu dia kan ?" ucap Kia menatap Rako.
"Kan aku bilang, aku dari Bandara langsung ke sini sayank. Jadi aku baru ketemu kamu. Nanti aku kabarin dia kalau aku mau di sini. Pasti dia ngerti." tutur Rako santai. Tapi tidak dengan Kia, ia berpikir harus mencari cara agar Rako tidak menginap. Kia menghela nafasnya.
"Jangan begitulah, nanti dia jadi berubah pikiran loh buat menyetujui pernikahan kita?! Lagian kamu juga harus istirahat, di sofa kan gak nyaman tidurnya.". ucap Kia lembut.
"Aku lebih gak nyaman kalau gak liat kamu yank. Udh gpp, besok aku pulangnya". ucap Rako. Sedangkan Kia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
***
Malam pun tiba.. Waktu menunjukkan pukul 20:00. Rako yang sedang berada di toilet, dan Kia yang sedang chat an dengan Dinda, tiba-tiba Kia merasakan pusing yang hebat..
"Rako... Rakoo",, teriak Kia sambil memejamkan matanya karena menahan pusing. Rako yang mendengar Kia teriak, langsung keluar dari toilet. Saking paniknya, ia yang ingin mengganti pakaian dan celananya, terlihat masih menggunakan boxer dan kaos bermerk berwarna putih.
"Yank, kamu kenapaa??". tanya Rako panik dan menejan tombol darurat.
"Kepala aku tiba-tiba pusing, aku gak berani buka mata takut makin pusing".. lirih Kia. Tak lama Dokter pun datang.
"Permisi, ada apa dengan kondisi Ibu?". tanya Dokter prempuan paruh baya yang langsung melihat keaadan pasiennya itu.Dokter itu juga melihat rako yang hanya memakai boxer dan kaos pun menegurnya.."ehem.. maaf Pak, apa bisa Bapak memakai celana dulu?", ucap dokter ini hati-hati, karena sejujurnya ia juga risih.
Rako yang ditegur Dokter wanita paruh baya itu sontak langsung melihat kebawahnya, betapa terkejutnya ia yang hanya menggunakan boxer sangat pendek dan kaos putih. Tanpa aba-aba, Raki langsung lari menuju kamar mandi. Dokter itupun tersenyum sambil menggelengkan kepala.Rako sudah memakai celana panjang santainya. Lalu ia menghampiri Kia dan Dokter itu.
"Dok, gimana keadaanya? tadi dia bilang tiba-tiba pusing"., jawab rako panik
"Ibu tadi makan gak?". ucap dokter seraya memeriksa Kia.
__ADS_1
"Makan Dok, tapi emang telat".. tutur Kia yang masih memejamkan matanya. Rako pun merasa bersalah, karena ia harus berdebat dulu dengan Kia sampai ia tidak makan.
"Mulai sekarang istrinya jangan pernah telat makan ya Pak. Soalnya Ibu punya darah rendah juga".. ucap Dokter.
"Baik Dok, saya akan memperhatikannya lagi". tutur rako menatap Kia.
" Yasudah nanti suster ke sini buat suntik ibu biar gak pusing ya".. ucap Dokter itu ramah.." kalau begitu saya permisi dulu".. lanjut Dokter
" Terima kasih dok, tolong jangan lama-lama".. ucap Rako cemas, Dokter pun menganggukan kepalanya.
Setelah kepergian Dokter, tak lama suster pun datang membawa beberapa obat-obatan.
" Permisi, Ibu saya kasih suntikan dulu yaa pereda pusingnya".. ucap suster.
"Silahkan Sus".. ujar Kia.
Kia pun akhirnya di suntik di bagian tangan. Suster pun sudah keluar dari ruangan Vvip itu. Kia yang sedang merebahkan tubuhnya masih memejamkan mata. Rako tetap menunggu di sampingnya, dan menggenggam tangan Kia.
Selang satu jamu, Kia terbangun, ia membuka matanya perlahan. Rasa pusingnya seketika hilang. Ia melihat sosok pria yang tertidur dengan menggenggam tangannya. Dengan posisi masih terduduk, Rako tertidur dalam posisi kepala di atas brankar kasur Kia dan tangan yang di genggam erat. Kia melihatnya sangat bahagia. Dia merasa beruntung masih di cintai oleh yang yang sudah 7 tahun mengisi hatinya. Di pandanginya wajah Rako. Tak lama Rako pun terbangun.
"Eh kamu udh bangun? maaf ya aku ketiduran". ucap Rako lembut.
"Aku juga baru bangun kok.. Kamu pulang aja ya, pasti kamu capek abis dr luar kota langsung ke sini. Lagian apa kamu gak ke kantor ?".. ucap Kia lembut dan mengusap rambut Rako. Rako yang di perlakukan seperti itu sangat bahagia, ia menikmati setiap sentuhan jemari tangan kekasihnya itu.
"Aku gak capek kok sayank. Di kantor sudah ada Ali yang back up kerjaan aku".. ucap Rako menatap Kia. Mereka bertatapan dan.. cup..
Rako mencium bibir Kia, karena tidak ada penolakan, Rako melanjutkan menjadi c****an mesra. Kia pun membalasnya dengan lembut, seperti yang mengungkapkan rindu mereka melakukannya sangat lama.
Mereka melepas c***an nya dan saling mengambil nafas, lalu Rako mencium lembut bibir Kia lagi..
****
Malam pun tiba, Rako yang sudah berganti pakaian untuk tidur terlihat sedang duduk memangku laptopnya. Ia memeriksa pekerjaan yang di kerjakan oleh Ali. Kia yang sedang rebahan posisi badannya miring ke arah Rako, memperhatika wajah tampan pria itu. Rako yang merasa di perhatikan hanya diam dan tersenyum.
"udah jangan di liatin, cium aja kalau mau." ucap Rako terkekeh. Kia pun langsung merubah posisinya menjadi terlentang. Wajah nya merah karena malu.
"Apaan sih pede banget".. ucap Kia malu-malu. Rako hanya tertawa.
***
Akhirnya semalaman ini Rako menemani Kia. Kia pun tertidur pulas.
°
°
°
°
°
°
__ADS_1