Mantanku Istri Keduaku

Mantanku Istri Keduaku
Refreshing


__ADS_3

Pagi ini tepat pukul 07:00 semua orang yang berada di rumah Shania dan Pandu, nampak sudah rapih dan wangi tentunya. Karena mereka berempat berencana pulang ke Jakarta hari ini, yaitu hari Minggu. Tapi sebelumnya, Dinda dan Shiren menagih pada Rako dan Kia untuk refreshing terlebih dahulu. Kia pun mengajak untuk pergi ke Kawah Putih. Mereka pun sangat senang.


"Ayo sarapan dulu, kakak udh masak nasi goreng nih banyak..". ajak Shania pada mereka. Mereka pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut, dan mengikuti langkah Shania menuju meja makan yang pas untuk berenam. Mereka semua sudah duduk di kursi masing-masing, kecuali Key, karena dia masih tidur.


"Wahh aku bisa gendut nih kalau sebulan disini, makan mulu soalnya ".. ucap Shiren terkekeh.


"Loe mah emang rakuss!!",. saut Dinda yang meledek Shiren, mereka semua pun tertawa.


"udah ayo makan dulu, biar nanti gak jajan di sana hahaa",, ucap Kia tertawa, Rako pun ikut tertawa.


"Wah Bu Boss pelit bangettt".. ujar Dinda, dan langsung di injak kakinya oleh Shiren yang kebetulan disampingnya dan tanpa sepengetahuan yang lain.


"Aww!!".. teriak Dinda yang kakinya di injek, dan melirik tajam pada Shiren. Shiren pun seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"*Awas loe ya Iren!! ".. batin Dinda


"Ish Dinda b**o banget sih!! Mereka kan belum di restuin, jangan bilang Bu Boss segala laah!!".. batin Shiren*


****


Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka berempat pun pamit pulang. Shania yang memeluk Kia, meneteskan air mata.


"Jaga diri loe baik-baik ya Ki.. Jangan terlalu dekat dengan suami orang". ucap Shania berbisik pada Kia sembari berpelukan. Kia pun membulatkan matanya dan hanya diam. Mereka pun melepas pelukannya, dan bergantian dengan Shiren dan Dinda. Walau cuma sehari, mereka sudah akrab.


"Makasih ya Kak jamuannya. Sehat-sehat ya Kak.. salam untuk Key". ujar Dinda memeluk Shania..


"Sama-sama .. kapan-kapan main lagi ya nginep yang lama biar bisa keliling Bandung".. tutur Shania.


"Ia Kak, kalau Kia Nikah pasti kan di sini, jadi aku bisa ambil cuti dehh"., saut Dinda dengan polosnya. Shiren, Kia, Shania, Rako dan Pandu pun langsung diam. Mereka juga tidak mau menyakiti hati adiknya. Dinda pun sadar atas ucapannya.


"Eh, maksudnya Nikah dengan siapapun, kan pasti Kia akan menikah nantinya..Ya kan Ki?!"., ucap Dinda tersenyum menampakkan giginya itu, Shiren dengan kesalnya menjitak kepala Dinda. Kia pun ingin tertawa, tapi di tahannya.


"Ish punya mulut lemess banget".. ucap Shiren kesal sambil menjitak kepala Dinda.


"Aww!!!.. Sakit B**o!!".. saut Dinda memegang kepalanya itu dan Shiren menatap tajam Dinda.


"Sudah..sudah nanti keburu penuh loh Kawah Putihnya!".. ucap Shania memecah keributan dua gadis muda itu.


****


Mereka berempat sudah berada dalam satu mobil yang di kendarai oleh Rako. Kia duduk di samping supir, Dinda dan Shiren duduk berdampingan di belakang. Nampak ada yang aneh sama kedua gadis muda itu. Mereka tampak diam-diaman dan sama-sama menoleh ke jendela samping mereka masing-masing. Kia yang menyadari keheningan dalam mobil itu, melihat ke belakang.


"Gak jadi aja yaa ke Kawah nya ??!!",, ucap Kia datar pada mereka berdua. Sontak mereka pun melihat ke arah Kia.


"Jadiii!!".. ucap mereka bersamaan. Kia pun menggelengkan kepalanya. Rako hanya melirik sekilas kekasihnya itu, dan sesekali melihat ke arah spion untuk melihat kedua gadis muda itu.


"Ngapain kalau jalan-jalan tapi pada kaya kanebo kering, kaku gitu!!".. ujar Kia masih melihat ke belakang.


"Kanebo apaan Ki??".. tanya Dinda serius. Rako hanya menahan tawanya. Shiren pun juga menahan tawanya. Dinda memang polos dan sedikit bodoh haha.


"Ya ampun Dindaaa!! Kanebo gak tau??!!.. ucap Kia terkejut.. " Kamu tau gak ?".. tanya nya pada Rako.


"Ya tau lah sayank".. jawab Rako melihat sekilas Kia dan kembali fokus menyetir.


"Tuh, seorang CEO aja tauuu kanebo Dindaa!".. ujar Kia pada Dinda dengan sedikit bersuara tinggi.


"Shiren juga pasti gak tau!!". ucap Dinda ketus. Shiren pun langsung tidak terima.


"Gw kaya tapi gw gak bodoh!".. ujar Shiren tersenyum getir


"Oh yaaa??? terus apa coba jelasin?" ujar Dinda meledek sinis.


"Loe pernah liat gak orang ngelap-ngelap mobil atau motor?? ".. tanya Shiren


"Pernah lah!"..jawab Dinda datar


"Pake apaan dia Lap nya??".. tanya lagi Shiren.

__ADS_1


"Ya pake kaya kain gitu".. ujar Dinda.


"Itu namanya Kanebo b**o!!".. ucap Shiren, Dinda pun masih belum nyambung. Kia yang sedang makan snack sudah duduk di posisi semula. Ia sembari menyuapi Rako snack mendengarkan keributan di belakangnya.


"Lah kata Kia Kanebo kering b**o!! itu mah basah!!".. ucap dinda tidak mau di bilang b**o.


"Ihh loe tuh bener-bener yaa!!! bikin emosi dari tadi!! Ya kalau gak di basahin tuh kanebo jadi keriiiiing!!" ujar Shiren dengan nada tinggi, Rako pun tertawa. Mereka berdua sontak melihat ke arah depan.


"Nah ini biang keroknya, kita mah ribut masalahin kanebo, dia malah asik suap-suapan!!".. ujar Dinda kesal pada Kia.


"Pusing ah gw, kita langsung pulang aja ke Jakarta ya Sayank".. ujar Kia pada Rako dengan nada lembut menggoda temannya.


"Yahh jangan donk Ki, ya udah gw minta maaf deh. Tapi jadi yaa jalan-jalannya??!!.." ucap dinda memelas.


"Hmm.. gimana ya.. kalian masih kaku gitu, males ah!!". ucap Kia, yang ingin mereka berbaikan.


Shiren pun menghela nafasnya.


"Ya udah maafin gw ya Din, tadi gw gak sopan udah jitak kepala loe. Soalnya loe bahas masalah yang berhubungan sama Kak Kia dan Bang Rako. Gw cuma takut keluarga Kak Kia itu jadi khawatir sama dia, terus yang ada Kak kia di suruh pulang ke Bandung gak boleh balik-balik lagi, terus nanti di jodohin disana"!!. tutur Shiren yang memang berpikir ke depan. Kia dan Rako pun saling bertatapam sekilas. Pikiran Rako saat ini, Shiren ada benarnya juga, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Dia harus cepat-cepat membawa Lidya menemui Shania dan Pandu. Dinda pun yang baru mengerti maksud Shiren langsung memeluknya.


"Ya Allah, maafin gw ya Ren, gw bener-bener bodoh gak berfikir ke sana!!".. ujar Dinda memeluk Shiren. ia pun membalasnya.


"Yaa, ngaku kan loe kalau b**o!!". ucap Shiren terkekeh, Dinda pun melepas pelukannya.


"Wahh mulai lagi nih"., ujar Dinda menatap Shiren..


"Hahaa.. ya maap.".. ujar Shiren mengedipkan kedua matanya berulang-ulang. Dinda pun tertawa.


"Ki, maafin gw ya, gw bener-bener gak mikir ke arah sana".. ucap Dinda lembut sembari mendekatkan tubuhnya ke arah Kia yang duduk di kursi depan.


"Ya gapapa Din".. ucap Kia tersenyum.


"Berati jadi donk kita Refreshing?"". ujar Dinda ceria.


"Saya gimana Bu Boss aja".. ucap Rako melirik Kia.


"Ih jangan bilang Bu Boss ah.. Gak pantas banget kayanya".. tutur Kia datar. Rako pun mengelus kepala Kia.


"Aamiin".. saut Dinda dan Shiren bersamaan.


"Oke deh.. Cuzzz Kawah Putih Supir Tampan".. ucap Kia terkekeh menatap rako. Rako pun tersenyum.


"Siap Nyonya Rako!".. saut Rako seperti seorang Prajurit dan Wajah Kia pun merona.


****


Tepat pukul 08:20 mereka sampai di Kawah Putih. Kia dan Rako membeli tiket masuk yang sangat terjangkau.


Mereka pun sudah masuk ke dalam. Rako yang memakai kaos tanpa kerah berwarna putih dan di lapisi jaket hitamnya terlihat sangat tampan. Kia juga mengenakan pakaian santainya. Kaos tanpa kerah berwarna putih yang di depannya bergambar love, dengan luarannya cardigan berwarna hitam, celana jins yang pas di kaki jenjangnya, serta sepatu kets berwarna putih kado dari Rako kala itu.Rako pun juga sama memakai sepatunya yang di beli couple saat itu. Mereka tidak janjian dalam berpakain, tapi terlihat kompak dan serasi.


Kawah Putih



Mereka berempat sudah berada di jembatan yang bisa melihat langsung keindahan Kawah Putih itu. Kia yang berada di samping Rako, terlihat menghirup udara pagi. Rako menatap Kia dengan penuh cinta. Tiba-tiba Kia merasa ada yang menggenggam jemari tangannya. Ia melirik ke arah samping, sosok tampan tengah tersenyum padanya. Rako yang begitu erat menggenggam jemari tangan Kia, hingga Kia tidak bisa menolaknya.


Dinda dan Shiren asik berfoto ria. Tanpa Kia dan Rako sadari, kedua gadis muda itu telah mengambil beberapa foto candid mereka. Dinda dan Shiren tersenyum melihat hasil jepretannya di ponsel mahal Shiren.


Shiren pun mengajak semua untuk berselfie. Kia pun menyetujuinya, asal mereka tidak mengunggah foto tersebut ke sosmed mereka masing-masing. Mereka pun mengerti.


"Yuk ganti gaya sekarang. Abang di belakang kak Kia ya.". ujar Shiren mengatur pose mereka. Mereka pun menurut saja.


"Satu..dua.. ti..." cekrek.. ucap Shiren mengambil gambar mereka berempat. Shiren di depan memegang poonselnya, Dinda di belakang Shiren, Kia di belakang Dinda, dan Rako di belakang Kia. Rako yang memeluk pundak Kia, terlihat sangat bahagia. Kia pun nampak tersenyum melihatkan giginya.


"Dek, kirimin fotonya ya".. ujar Rako.


"Ih jangan Shiren!! ".. tolak Kia. "Nanti kalau Mbak Lidya periksa-periksa hp kamu gimana?!".. ujar Kia lirih

__ADS_1


"Ya biarin aja!",, ujar Rako santai. Kia pun membulatkan matanya.


"Lagian aku udah pake face lock yank, jadi cuma bisa di buka pake muka aku". tutur Rako, Kia pun sedikit lega.


"Ohnya udah terserah kamu aja.. Aku juga mau ya Ren".. ucap kia terkekeh, Rako dan lainnya pun tertawa.


Lama mereka berjalan-jalan, Rako pun mengajak mereka untuk makan, dengan senang hati pasukan gadis itu menyetujuinya..


****


Mereka sudah dalam perjalanan pulang. Cukup lama mereka bersenang-senang dan menikmati indahnya ciptaan ALLAH. Dan mereka juga menyempatkan mampir membeli jajanan dan oleh-oleh khas Bandung.


Waktu menunjukkan pukul 15:00.. Rako yang fokus menyetir dapat telepon dari Istrinya, Lidya. Ia pun mengangkat dan meloudspeakernya.


"Hallo..".. jawab Rako


"Hallo Mas, kamu udah dimana?". tanya Lidya lembut


"Jalan pulang, kenapa?".. tanya Rako datar


"Ada Mami di Apartement kita. Katanya mau tunggu kamu". ujar lidya


"Oh yasudah , ini masih jauh loh bisa-bisa habis Maghrib sampenya". ucap Rako berbohong, karena ia ingin mengantar Kia dan Dinda terlebih dahulu. Untungnya Dinda menginap di kontrakan Kia.


"Oh ya udah nanti aku bilangin Mami, Kamu hati-hati ya".. ucap Lidya lembut


"Ya".. ucap Rako datar dan menutup teleponnya.


Kia dan lainnya hanya mendengarkan Suami Istri itu bicara. Kia yang merasa sangat bersalah pada Lidya terlihat diam. Rako pun melirik Kia dan tidak bertanya padanya karena masih ada Dinda dan Shiren.


****


a


Mobil Rako sudah parkir di lapangan dekat kontrakan Kia. Mereka berjalan menuju rumahnya. Sesampainya di sana, Dinda mengajak Shiren untuk ke kamar beristirahat sejenak. Karena ia tahu, Kia dan Rako pasti mau bicara serius. Shiren pun menurut, karena sekarang juga masih jam 4 sore, pikir Shiren.


Tinggalah mereka berdua di ruang tamu. Rako duduk di samping Kia.


"Kamu kenapa ? Marah Lidya telepon?".. tanya Rako lembut.


"Justru aku merasa bersalah banget mendengar suara dia. Dia begitu perhatian, begitu lembut sama kamu, padahal kamu cuek sama dia.".,ujar Kia meneteskan air mata


"Yank, aku gak bisa cerita semua sekarang. Karena Lidya tidak seperti yang kamu lihat. Makanya aku gak bisa jatuh cinta sama dia. Karena dia itu terlalu.." ucap rako terputus karena ia tidak mau bicara soal Lidya sekarang.


"Terlalu apa?? dia itu terlalu cinta sama kamu!".. ujar Kia tegas


"Karena Dia terlalu berambisi sayank.. buktinya, dia sampai terus memohon sama kamu untuk menerima aku jadi suami kamu kan?".. ujar Rako mengelak. Kia pun nampak berfikir.


"Ya udah lah, kamu juga jangan judes-judes sama istri sendiri!!".. ucap Kia pada rako.


"Ya nanti sama kamu enggaklah".. Cup..Rako mencium bibir Kia kilat. Kia pun memukul lengan Rako.


"Ihh, mesum banget sih!!". ujar Kia merona. Rako pun terkekeh.


"Ya sudah kamu pulang dih, katanya Ibu kamu ada di Apartement kamu kan?. Biar kamunbisa istirahat.". ujar Kia lembut.


Rako pun berusaha menolak, akhirnya mengalah juga. Ia sudah pulang bersama Shiren. Shiren yang di ajak untuk ke Apartementnya menurut saja.


Rako sangat senang bisa bersama orang yang di cintainya 2 hari ini. Shiren pun juga senang bisa berkenalan dengan Kia.


°


°


°


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2