
Keesokan harinya..
Kia yang masih kepikiran dengan kata-kata Vino, hari ini akan bertanya pada Dinda tentang apa yang di katakan Vino. Jam istirahat nanti, Kia berencana akan berbicara empat mata olehnya. Kebetulan Shiren juga sedang ada meeting di luar kantor bersama Rako. Ya, Rako selalu mengirim pesan pada Kia dan ia juga mengatakan kalau hari ini akan ada Meeting di luar dan Shiren juga mendampinginya.
Dinda yang hari ini terlihat sedikit ceria, mengatakan pada Kia bahwa makan siang akan mengajaknya ke Cafe. Dan kebetulan sekali, Kia juga ingin berbicara serius di tempat yang tidak terlalu ramai seperti di kantin. Vino dan Dinda walau satu kantor, terlihat profesional. Walau mereka sudah putus, tidak munafik bahwa Dinda masih sangat mencintainya. Terlebih lagi Vino adalah cinta pertama Dinda. Beda halnya dengan Vino. Ia terlihat sangat acuh, bahkan seolah-olah membenci Dinda. Namun, dalam pekerjaan ia tetap profesional sebagai seorang HRD.
Jam Istirahat..
Saat ini mereka berdua sudah duduk dan memesan makanan dan minuman di Cafe langganan mereka yang berjarak tak jauh dari tempat mereka bekerja. Kia yang memulai pembicaraan langsung menatap Dinda.
"Din, gw kemarin nyamperin Vino pas di parkiran!" ucap Kia datar. Dinda pun membulatkan matanya.
"What??? teruss loe ngomong apa sama dia Ki?? Dia bilang gak alesannya putus sama gw ?? Dia nanyain gw gak Ki??" tanya Dinda antusias dan menggoyang-goyangkan tangan Kia. Kia pun merasa jengah.
"Haduhh Din!!Loe nanya apa bikin novel!! panjang banget!!" ujar Kia kesal dan menarik tangannya dari genggaman Dinda. Dan dinda hanya menyengir kuda.
"Maaf deh!" ucap Dinda .."Gw kangen sama dia Ki".. lanjut Dinda pelan. Kia pun sangat mengerti perasaannya.
"Gw ngerti banget perasaan loe Din.. Tapi loe harus ikhlas ngejalanin ini semua. Insyaallah loe pasti di kasih yang terbaik sama Allah." tutur Kia lembut. Dinda pun meneteskan air mata tanpa suara.
"Din, gw selama berteman sama loe memang gak tahu rumah loe dimana, orang tua loe siapa, dan gw hanya denger cerita loe aja.hmm.. kemarin Vino bilang seakan-akan loe itu gak baik!! gw di suruh cari tahu loe siapa, keluarga loe siapa?!! Sumpah gw gak ngerti Din!".. lanjut Kia menjelaskan. Dinda pun mengeritkan dahinya.
"Vino bilang begitu??" tanya Dinda kaget, Kia hanya menganggukan kepalanya.
"Berati dugaan gw bener Ki. Vino itu berubah total sikapnya pas dia gw bawa kerumah gw dan ketemu nyokap gw aja, karena bokap gw kebetulan masih nememin Adik gw di Singapore! Udah sekitar 3 bulan lalu lah dia kerumah gw Ki! Kalau gw tanya dia selalu bilang gapapa. Dan sampai akhirnya yaa itu.. dia bilang mau nikah sama pilihan mamanya".. ujar Dinda tersenyum getir.
"Apa loe gak cari tahu Din? atau loe tanya sama Nyokap loe gitu?" ucap Kia berpendapat. Dinda pun bingung, karena Ibunya Dinda juga melarang Vino menjadi pacarnya.
"Hmm.. gw juga gak tahu Ki. Nyokap gw pertama liat Vino langsung kaya gak suka. Dia bilang gw harus jauhin Vino". lirih Dinda. Dan seketika Kia dapat ide.
"Din, coba loe ikutin Vino sampai kerumahnya. Nah, setelah itu pas dia lagi kerja, loe pura-pura gak masuk atau apalah, loe bertamu deh tuh kerumah Vino. Minta penjelasan orang tuanya aja", ucap Kia dengan idenya. Dinda pun menganggukan kepalanya.
"Bener juga loe Ki. Hmm.. besok deh gw samperin tuh rumahnya. " lanjut Dinda.
***
Singkat cerita, keesokan harinya Dinda izin tidak masuk karena tidak enak badan. Dinda bercerita pada Kia bahwa itu hanya sandiwara, karena hari sebelumnya, ia mengikuti Vino sampai kerumahnya. Dan sekarang, saat Vino bekerja, ia mau bertamu kerumah mantan nya itu.
"Ki, Doain gw ya.." isi pesan Dinda pada kia.
"Yang kuat jangan cengeng oke!" balas Kia mengirim pesan.
Di Rumah Vino
Dinda yang membawa mobil pribadinya, sudah sampai di pekarangan halaman rumah Vino yang cukup luas. Dinda berjalan ke arah pintu yang tertutup dan mulai mengetuknya.
tok..tok..tok.. ''Assalamuallaikum".. Dinda mengetuk dan memberi salam.
Tak lama seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan lebih tua dari Ibunya Dinda membuka pintunya.
"Waalaikumsalam.. Maaf cari siapa nak?". ujar wanita itu yang sudah membuka pintu. Dinda menyodorkan tangannya untuk bersalaman, Wanita itu pun mengulurkan tangannya. Dinda menciumi punggung tangan wanita itu tanda hormat. Wanita paruh baya itupun terkejut.
"Perkenalkan saya Dinda bu, temannya Vino". ujar Dinda tersenyum.
"Oh gitu, tapi Vino nya sedamg bekerja nak." ujar wanita itu.
"Iya Nu saya tahu.. hmm tapi saya kesini memang mau bertemu Ibunya Vino. Apa ibu ini orang tua Vino?". tanya Dinda ramah.
__ADS_1
''Iya saya Bunda nya.. ada apa yaa nak?" tanya ibu itu panik
"Saya sebenarnya mantan nya Vino Bu. Saya hanya mau memastikan apa benar Vino mau nikah dengan perempuan yang sudah Ibu jodohkan?" ucap Dinda lembut. Bunda Vino pun terkejut.
"Nikah?? Di jodohkan sama Bunda??"tanya Bunda heran. Dinda pun tak kalah terkejutnya.
"Ibu gak tahu soal ini??" tanya Dinda yang kaget.
"Sini masuk dulu nak, bicara di dalam saja." ujar Bunda mempersilahkan Dinda masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu yang rapih dan cukup luas itu, Dinda duduk di sofa yang berwarna coklat. Dan Dinda mengelilingi pandangan di sekitar rumahnya Vino. Ada beberapa foto-foto yang menempel di dinding ruang tamu itu. Salah satunya ada foto keluarga terlihat sangat bahagia. Ayah dan Ibu nya duduk berdampingan, sang Ayah memangku seorang anak lelaki berusia sekitar 5 tahun. Dan Ibunya memangku anak lelaki sekitar usia 3 tahun. Dan Dinda seperti mengenali sosok Sang Ayah pada figura foto tersebut.
"Nak, siapa nama kamu?" tanya Bunda yang membuyarkan tatapan Dinda pada Foto itu.
"Eh.. saya Dinda Bu.." ucap Dinda sopan
"Panggil saja Bunda nak, Bunda namanya Vina." ujar Bunda Vina ramah.
"I..iya Bun, terimakasih".. ucap Dinda ramah dan tersenyum.
"Jadi Kamu pernah berpacaran sama Vino?" tanya Bunda.
"Iya Bun, udah sekitar 6 bulan kita dekat. Tapi..tiba-tiba Vino memutuskan hubungan gitu aja Bun, katanya mau di jodohkan sama orang tuanya dan dia menyetujuinya". ucap Dinda tersenyum di paksakan.
"Bunda gak pernah ikut campur masalah percintaan anak-anak bunda. Dan Bunda juga tidak tahu kenapa Vino bicara seperti itu sama kamu Nak." ujar Bunda menjelaskan, Dinda pun terkejut. Jantungnya terasa berdebar lebih kencang. Tiba-tiba Dinda ingin menanyakan sosok yang terdapat di Dinding figura rumah nya Vino.
"Bun, Maaf.. itu Ayahnya Vino ya ? tanya dinda hati-hati yang menunjuk foto itu. Dan Bunda melihat arah tangan Dinda. Seketika wajahnya berubah menjadi sendu.
"Iya, itu Ayah nya Vino. Dan yang di pangkunya itu Kakaknya Vino, Vito namanya" ujar Bunda menjelaskan dan menatap Dinda.
"Sekarang Ayah dan Kakaknya dimana bun?" tanya Dinda.
"Kak Vito lagi di Luar Kota ada kerjaan, dan Ayahnya belum pulang". ujar Bunda
"Memang ayah kamu dimana?" tanya Bunda pelan
"Papah aku lagi di Singapore Bun, nemenin adik aku berobat disana.". tutur Dinda menjelaskan.
Mereka saling berbincang bahkan sudah terlihat sangat dekat. Dan tanpa mereka sadari Vino sudah tiba di depan pintu rumahnya yang terbuka itu. Vino awalnya sangat terkejut melihat sosok wanita yang dia sayangi ada di rumahnya. Bahkan sangat akrab dengan Ibunya. Kebetulan Vino izin pulang cepat dari kantor, karena ia merasa sangat pusing, dan ia berencana ingin beristirahat di rumahnya.
"Ngapain kamu kesini?!" suara datar dan tegas itu mengalihkan pandangan dua wanita yang tengah duduk di sofa. Dinda sangat terkejut. Kenapa Vino pulang masih jam 1 siang.
"Loh kamu kok sudah pulang..? ada apa? " tanya Bunda lembut menghampiri anaknya. Vino menciumi tangan Bunda nya. Ia beralih menatap tajam Dinda.
"Katanya kamu sakit ?? ternyata kamu lagi berusaha cari tahu tentang aku ya??!" ujar Vino ketus. Dinda pun sangat sedih. Vino biasanya lembut dan humoris.
"Ak..aku.. mau silaturahmi dengan keluarga kamu aja". jawab Dinda pelan , Bunda pun sangat tidak mengerti kenapa anaknya menjadi galak seperti ini.
"Sayang, gak boleh seperti itu. Dinda anak yang baik. Dinda sudah cerita semua ke Bunda. Dia kesini mau memastikan apa kamu benar mau di jodohkan?! Dan bunda sangat kaget. Kenapa kamu berbohong nak?". ujar Bunda lembut. Vino pun nampak geram.
"Ngapain sih nih cewek ngadu sama Bunda!!" batin Vino
"Udah lah Bun, aku izin pulang mau istirahat. Karena kepala aku pusing banget Bun. Taunya ada Dia!!" .. ujar Vino ketus. Dinda pun hanya diam.
"Vino, bunda tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu! apalagi sama seorang perempuan! Kamu ingat kan bagaimana sakitnya Bunda saat itu !!?? harusnya kamu belajar menghargai wanita dan tulus menyayanginya!.. ucap Bunda dengan sedikit suara tinggi. Vino pun menatap Bundanya.
"Justru itu Bun!! Aku benci sama dia!!!" teriak Vino menujuk Dinda. Dinda pun terkejut dan meneteskan air mata
"Aku benci karena Dia dan ibunya penyebab Bunda sakit hati!!!!" teriak kembali Vino. Bunda pun membulatkan matanya, begitupula Dinda. ia sungguh tidak mengerti.
__ADS_1
"Ap..apa maksud kamu Vin?" tanya Dinda menahan isak tangisnya. Vino pun menatap tajam Dinda.
"Awalnya aku beneran sayang sama kamu!! Tapi setelah aku melihat Ibumu???!! Aku sangat ingin membunuhmu dan juga Ibu mu itu!!" bentak vino yang membuat Dinda lemas, jantung dia pun berdebar hebat.
"Maksud kamu apa Vino??!! Dinda gadis yang baik, Bunda bisa liat itu!" ujar Bunda pada Vino.
"Hei Kau!! Dengar baik-baik!! IBU mu adalah seorang PELAKOR!!! Dia telah merusak kebahagiaan Keluarga aku!! dia sudah merebut Suami Bunda sekaligus Ayah aku!!! Bahkan dia telah melahirkan anak Ha**m sepertimu!!!" ujar Vino bersuara tinggi dan membuat Dinda jatuh duduk terlantai. Bunda pun terhuyung tubuhnya ke sofa, ia sungguh tidak menyangka akan bertemu anak dari wanita yang sudah merebut suaminya! dinda pun tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya menangis tersedu-sedu. Vino melihatnya sedikit ada rasa iba, namun kebencian terhadap Ibu Dinda lebih besar. Ya, Dinda dan Vino ternyata satu Bapak. Bisa di katakan mereka adik kakak.
"Lebih baik kamu pulang nak!!" ujar Bunda datar pada Dinda dan berjalan pelan menuju kamarnya.
''Katakan pada Ibu mu, bahwa Vino Vargantara Malik adalah anak kandung Bunda Vina Cakradinata!!!" ujar Vino dingin dan penuh penekanan pada Dinda. Dinda pun hanya diam, dan dia berusaha berdiri untuk pergi dari rumah itu.
****
Sepanjang jalan Dinda hanya menangis dan mencoba kuat untuk mengendarai mobilnya yang di arahkan ke kontrakan Kia. Ia ingin mencurahkan semua pada sahabatnya itu.
Sesampainya di rumah Kia, ia mengetuk pintu cukup keras. Hingga Kia yang sedang menyetrika pakaiannya bangun terburu-buru dan mematikan setrikaannya.
tok..tok..tok..tok..tok..
"Kia.. Kiaa!!" ucap Dinda menahan tangisnya.
ceklek
"Ya Allah Din, ngagetin aja!!" ujar Kia yang sudah membuka pintunya, Dinda langsung menghamburkan pelukanya pada Kia dan menangis tersedu-sedu. Kia pun diam dan membalas pelukannya.
"Yuk masuk dulu",, ucap kia lembut. Dinda pun masuk ke dalam rumah Kia. Dinda langsung duduk di Sofa. Sedangkan Kia, mengambil air putih untuknya.
"Ini..minum dulu".. ucap kia menyodorkan gelasnya ke bibir Dinda. dinda pun meminumnya perlahan.
"Ada apa Din?" tanya Kia lembut. Dinda pun menjadi tambah sedih dan menangis sejadi-jadinya. Kia pun memeluk sahabatnya itu. Tanpa di sadari , air matanya pun ikut menetes.
"Ki, gw anak haram!!" lirih Dinda. Kia pun melepas pelukannya,
"Hei, Anak itu tidak salah, Dan tidak ada istilah anak haram!!" ujar Kia tegas.
"Ki, nyokap gw ternyata.,hiks..hiks..Pelakor Ki!! hikss..hikss" ucap Dinda sambil menangis. Dan sontak Kia sangat terkejut. Dia juga tiba-tiba memikirkan dirinya yang akan menjadi pelakor.
"Papah gw ternyata papah Vino juga Ki, gw adik kakak sama dia!! Tapi lain Ibu! Karena nyokap gw udah merebut Papah dari keluarga Vino !! hiks..hiks.." cerita Dinda yang membuat Kia menutup mulutnya dengan satu tangannya karena terkejut.
"Loe kata siapa Din? " tanya Kia pelan
"Vino sendiri yang cerita dan ada Bunda nya juga!" jawab Dinda tersedu.
"Din, apa loe udah tanya orang tua loe? kita jangan dengar sepihak. Seperti gw yang akan menjadi istri kedua Rako. Mungkin orang yang tidak tahu akan menganggap gw pelakor nantinya, Tapi yang tahu, akan diam dan mendoakan yang terbaik". ujar Kia menjelaskan. Dinda pun diam, dalam hatinya ia juga membenarkan kata Kia.
Cukup lama mereka berbincang, Dinda memutuskan untuk pulang kerumahnya. Ia ingin menyelesaikan masalah ini. Sedangkan Kia, dia sedikit ragu untuk melanjutkan pernikahannya bersama Rako. Karena ia takut akan seperti keluarga Vino dan Dinda.
***
°
°
°
°
__ADS_1
°
°