
**Sinar Matahari masuk kedalam celah jendela kamar Dinda.. Hari ini dia sedang cuti, karena ingin menemani sahabatnya itu di Rumah Sakit.
"ehmmm.. jam berapa yaa?".. gumam dinda sambil meregangkan ototnya
Setelah melihat jam di ponselnya , ternyata sudah pukul 08:00. Dinda yang kaget langsung terburu-buru masuk kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.
15 menit kemudian ia sudah keluar dari kamar mandi, dan ia sebelumnya yang sudah membereskan semua pakaian ganti untuk Kia ingin langsung ke Rumah sakit. Dinda hari ini terlihat sangat santai, dengan menggunakan kaos warna pink dan celana pencil berbahan jins, rambutnya yang di ikat menjadi satu, serta sendal jepit, dan karena ia membawa motor Kia, ia memakai Jaket berwarna putih bercorak pink.
****
Dinda yang sudah tahu bahwa kamar rawat Kia berada di Vvip kamar No.2 Lt. 3 , langsung bergegas menuju ruangan dimana sahabatnya di rawat.
"Assalamualaikum"...ceklek....Dinda mengucap salam dan membuka knop pintu.
"Walaikumsalam..Dindaaaa"..sahut Kia senang melihat kedatangan sahabatnya itu. Mereka berpelukan.
"Ya Allah Ki, loe kenapa bs sampe kaya gini sih?!" .tanya Dinda melepaskan pelukannya.
"Ya kata Dokter gw kurang darah sama kurang makan sayur".. jawab Kia sambil memajukan bibirnya
"Sukurrinn!! kalo di kasih tau susah sihhh loe!!".. ucap Dinda yang memang sering sekali menasehati Kia untuk makan makanan bergizi.
"huh jahat!!". ucap Kia.."eh bawa apa tuh?".. tanya Kia melihat Dinda menaruh 2 kantong di kursi. satu pakaian ganti Kia, dan satunya kue coklat kesukaan Kia.
"Nih gw bawa baju ganti loe, sama Kueeee".. jawab dinda yang mengambil kue itu dan memberikan pada Kia
"woww kamu emang yang terbaik Din".. ucap Kia memberikan kiss jarak jauh.
"Giliran di bawain kue bilang gw yang terbaik". canda Dinda. Mereka nerdua tertawa bersama. Kia asik memakan kue coklat yang Dinda bawa, sedangkan dinda sedang duduk di sofa sambil melihat isi ruangan kamar Kia yang terbilang mewah seperti di hotel.
"Gilaaa.. Pak Rako bener-bener kasih fasilitas yang luar biasaaa".. batin Dinda saat melihat ruangan kamar Kia.
"Ki, Pak Rako gak ke sini? ".. tanya Dinda
"Nggak Din, katanya ada meeting di Surabaya".. jawab Kia yang masih mengunyah kue. "Lagian gw gak enak sama dia Din, kemaren aja susah banget fi kasih taunya kalau nggak usah nungguin gw di sini. Dia tetep kekeh nemenin gw".. ucap Kia menceritakan pada Dinda kejadian kemarin.
"Cinta banget dia sama loe Ki. Sampai loe di kasih fasilitas luar biasa kaya gini. Udh gitu dia lebih milih loe dibanding istrinya sendiri coba". tutur Dinda.
"Justru itu Din, gw gak mau tambah dosa! Suami orang gw biarin ngerawat gw di sini..huft".. lirih Kia.
"Susah juga sih Ki, bertahun-tahun dia rindu sama loe, dia masih merasakan cinta sama loe, dan udah ketemu cintanya.. ya gak akan di lepas!".. ucap Dinda terkekeh.. Tanpa mereka sadari ada yang mendengar obrolan mereka di balik pintu.
"Sebegitu cintakah kamu sama dia Mas?".. batin Lidya
Ya, dia adalah Lidya, istri sah Rako. Lidya ingin menjenguk Kia. Dia sebelumnya sudah menelpon suaminya untuk menanyakan ruang rawat Kia, dan Rako pun memberi tahunya. Lidya yang hendak mau masuk, mendengar obrolan Kia bersama temannya tentang suaminya. Dan sungguh, dia tidak menyangka begitu besarnya cinta suaminya pada Kia.
Lidya menghela nafasnya untuk masuk ke kamar Kia.
"Assalamualaikum".. ucap Lidya sambil membuka knop pintu dan tersenyum.
''Walaikumsalam".. saut Kia dan Dinda bersamaan. Dinda sungguh terkejut kedatangan istri dari Bos nya itu. Kia juga sama, namun ia bisa mengendalikan ekspresi keterkejutannya.
"Eh Mbak Lidya.. sini mbak".. ucap Kia yang menyuruh Lidya untuk duduk di kursi samping brankar tidur Kia.
"Duh maaf ganggu nih".,. ucap Lidya pada mereka, Lidya mendekati Kia. Dan bersalaman dengan Dinda. Dinda yang tidak enak memilih untuk meninggalkan mereka.
"Gak ganggu kok mbak, ini temen aku namanya Dinda".. ucap Kia setelah mereka bersalaman.
"Ki, gw lupa tadi kunci motor taruh dimana ya?! takutnya ketinggalan di motornya, gw cek dulu ya di parkiran".. ucap dinda berbohong mencari alasan agar meninggalkan mereka. Kia yang sudah tahu akal bulus temannya hanya menatap tajam Dinda.
"Ya sudah coba cari dulu takut keburu hilang nanti". saut Lidya panik.
"Iya mbak, saya titip Kia dulu ya sebentar",, tutur Dinda sopan, dan di anggukan oleh Lidya. Dinda pun keluar ruangan kamar Kia, Ia menuju kantin rumah sakit untuk makan dan membeli minuman.
"Kia kamu sakit apa?".. tanya Lidya lembut
"Kata dokter sih aku kurang darah mbak".. jawab kia sopan. Kia yang posisinya duduk menyender di brankar kasurnya itu menatap Lidya.
"hmm.. mbak, maafin Kia ya, semalem Rako nemenin di sini, Kia udh suruh dia pulang, tapi dia..." belum sempat kia melanjutkan bicaranya, Lidya sudah memotong perkataan Kia
"Iya gapapa Kia, lagian dia sudah izin juga sama saya. Dan saya mengizinkannya. Anggap saja ini latihan kita nanti"..ucap Lidya terkekeh. Kia pun hanya tersenyum.
"Ohya nih saya bawain kamu Brownis. Katanya kamu suka makanan yang berbau coklat ya.." ucap dinda terkekeh.
"Ya ampun mbak, jadi ngerepotin..kata siapa mbak aku suka coklat hehe".. ucap Kia yang senang namun tidak enak juga sama Lidya yang notabennya lebih tua dari Kia.
__ADS_1
"Ya siapa lagi... Calon Suami kamu lah". ucap Lidya tertawa. Kia membulatkan matanya. Bisa-bisanya Lidya menyebut suaminya menjadi calon suami ke wanita lain. Apa dia sudah tidak cinta sama Rako? atau dia hanya menutupi kesedihannya?!..
"Maafin Kia ya mbak".. lirih Kia
"minta maaf apa sih Ki., ya udah mending kamu makan nih aku juga bawa jeruk". ucap Lidya. Kia yang lagi memakan jeruk pemberian Lidya mendapat telpon di ponselnya dari Rako, karena ponselnya di taruh di kasur, otomatis Lidya melihat siapa nama tertera di layar ponselnya itu..Kesayangan.. Kia yang tidak tahu bahwa Rako menyimpan nomornya di hp nya itu juga sangat terkejut. Ia juga tidak enak terhadap Lidya yang melihat nya.
"Angkat aja Kia siapa tau penting".. ucap Lidya tersenyum. Mau tidak mau Kia mengangkat telpon dari pujaan hatinya itu.
"Halo..".. ucap Kia datar. Sedangkan Rako terdengar sangat kencang suaranya sampai-sampai Lidya mendengarnya, Rako dan Kolega-koleganya sedang makan siang di Restoran yang sangat ramai, Rako izin sebentar kepada Kolega nya untuk menelpon Istrinya. Dia bilangnya sih istri, taunya telepon Calon Istri..😆
"Hallo sayank.. kamu lagi apa? udah makan belum?" terdengar lembut dan kencang karena suasana di sana ramai.
"Aku lagi dijenguk mbak Lidya nih".. jawab Kia dan tidak menjawab pertanyaan Rako lainnya, karena ia secara tidak langsung ingin memberitahu bahwa dia sedang bersama istrinya , jadi jangan panggil sayank. gitu maksudnya. Namun Rako sepertinya tidak peka, karena pikirannya hanya menerima kabar dari orang yang di cintainya.
"Oia yank, tadi pagi Lidya telpon aku tanya ruangan kamu di rawat. Gimana..Apa kamu masih lemas? Aku kangeen banget sama kamu yank, besok aku baru pulang".. tutur Rako perhatian kembali. Kia yang melihat Lidya bermain dengan ponselnya sangat yakin kalau itu hanya kamuflase, padaha ia pasti mendengar ucapan Rako walau tidak di loudspeaker. Akhirnya tanpa menjawab pertanyaan Rako, Kia berpura-pura jaringan error..
"Hallo.. kok ilang-ilang gini suaranya.. haloo.. Rako aku gak dengar suara kamu..hallo.." dan akhirnya kia menutup panggilannya.
"maafin aku ya sayank, aku terpaksa matiin telpon kamu karena ada mbak Lidya disini, aku menjaga perasaanya. Aku juga kangen kamu".. batin Kia.
"Loh udah teleponnya?".. tanya Lidya menaruh ponselnya ke tas brandid miliknya dan menatap Kia tersenyum.
'Sinyalnya jelek kayaknya Mbak, suaranya putus-putus".. jawab Kia lalu menaruh ponselnya di bawah bantal, tentunya ia sudah mematikan telponnya itu. Ia takut Rako akan menghubunginya lagi.
"*Aku tau Kia, kamu sengaja mematikan telpon dari Rako karena menjaga perasaanku! Begitu perhatiannya dia sama kamu. Selama aku menikah dengannya, aku tidak pernah di perhatikan seperti itu".. batin Lidya
"Maafkan aku mbak, aku tau pasti kamu sedih, jadi lebih aku matikan saja teleponnya".. batin Kia*
Mereka sama-sama terdiam dalam pikirannya masing-masing. Dan Dinda masuk dengan mengucapkan salam.
'Assalamualaikum".. ucap Dinda.
''Walaikumsalam".. jawab keduanya bersamaan.
"Ada nggak Din kuncinya?"..tanya Kia
"Ada, ternyata di kantong celana aku".. jawab Dinda tersenyum menampakkan giginya.
"Huh dasarr".. tutur Kia.
'Ya udah kalau gitu saya pulang dulu ya Kia..Kamu juga harus banyak istirahat. Ingat, kamu harus makan makanan yang sehat buat tambah darah".. ucap lidya seraya berdiri dari duduknya.
"Dinda, saya titip Kia ya".. ucap Lidya kepada Dinda
"Pasti mbak".. jawab Dinda tersenyum
"Mbak, Terima kasih banyak ya udah sempat jenguk aku".. tutur Kia lembut
"Iyaa, kamu udah seperti adik aku". ucap Lidya tersenyum, mereka pun berpelukan. Dinda yang melihatnya tersenyum getir.
"Bisa aja acting kamu mbak, kita liat aja nanti"..batin Dinda
****
Setelah kepergian Lidya, Dinda bertanya apa saja yang di bicarakan mereka berdua. Dan Kia menceritakan semuanya.
"Gw nggak enak banget sama mbak Lidya Din, sumpah deh gw gak tau Rako namain di contact gw dengan nama Kesayangan.." ucap Kia cemas.
"Ya udah sih biarin aja. Toh yang nelpon juga dia duluan bukan loe". ucap Dinda santai.
"Maaf Ki, gw belum bisa cerita ke loe. Tapi gw yakin loe tidak akan menyesal dengan semua ini".. batin Dinda
****
Sore harinya di kamar rumah sakit, Dinda yang sedang rebahan di sofa mendapat telpon dari Vino..
"Hallo Mas..".. jawab Dinda. Kia yang memang belum tahu sejauh mana hubungan Vino dan Dinda, mengeritkan dahinya.
"Mas??"...gumam Kia.
"Ya Mas, Lt. 3 ruangan Vvip no. 2 ya".. ucap Dinda senyum-senyum.
Setelah Dinda menutup telponnya, Kia langsung bertanya.
"Siapa Din? kok loe nyebut kamar rawat gw?"..tanya Kia heran
__ADS_1
"Hehee.. nanti loe juga tau".. jawab Dinda cengengesan. Dan tak lama ada yang mengetuk kamar rawat Kia.
tok..tok.tok.. "Assalamualaikum"... ucap salam Vino. Sepulang kerja, ia datang menjenguk Kia bersama Pak Regar.
"Walaikumsalam".. ucap Kia dan Dinda bersamaan. Dinda yang membuka pintu sontak tersenyum melihat sosok tampan di depannya.
"Silahkan masuk Mas..eh Pak Vino, Pak Regar".. ucap Dinda sopan. Ia lupa bahwa sekarang banyak orang, jadi harus memanggil dengan sebutan Pak.
"Hallo Kia, gimana keadaan kamu?".. tanya Vino yang menghampiri Kia, Kia yang sedang duduk bersandar sangat kaget melihat atasannya menjenguk dia.
"Alhamdulillah Pak, sudah mendingan, Saya cuma kurang darah"., ucap Kia senyum.
"oh syukurlah kalau sudah membaik. Sepi di kantor gak ada kalian berdua tau!".. sahut Pak Regar.
"Saya kan baru sehari Pak".. ucap dinda terkekeh..
"Ya tapi udah kaya setahun gak ketemu".. ucap Vino menatap Dinda.
Blush..
Wajah Dinda langsung memerah karena malu, bisa-bisanya dia bilang gitu depan Pak Regar dan Kia.
"ih apaan sih nih mbeb Vino! kan maluu gw!! bakal di eksekusi gw nih sama Kia. ngeliatnya aja serem banget!"..batin Kia yang memang sedang di tatap dengan tatapan tajam.
"Wah Vino semua cewek di gombalin juga. Tadi Hana, sekarang Dinda". ucap pak Regar dengan polosnya. Dinda langsung berubah menjadi kesal.
"Hana?? anak baru finance?? cantik sih tapi masih bocah gitu.."batin Dinda kesal
"Haha kalau sama Hana mah saya seneng ngeledek aja Pak, lucu gitu mukanya kaya adik saya".. ucap Vino jujur. Karena Hana seusia adiknya yang sedang kuliah di Luar Negeri.
"Bisa ajaa ngelesnya".. ucap Dinda tersenyum getir. Vino yang melihatnys terkekeh. Tapi tidak dengan Kia, ia dari tadi memperhatikan kedua insan ini seperti pacaran.
"Dinda sama Pak Vino kok kaya orang pacaran ya?! Wah gw ketinggalan info nieh.."batin Kia
Lama berbincang, tidak terasa sudah memasuki Maghrib. Kedua lelaki itu pamit sekaligus mau beribadah di Masjid area rumah sakit.
"Kia, saya sama pak Regar pamit ya, sekalian saya mau Sholat dulu".. ucap Vino. Walaupun Pak Regar Non Muslim, tapi ia sangat menghargai perbedaan itu.Ia akan menunggu Vino melaksanakan kewajibannya sebagai Umat Muslim.
"Ya udah yuk Vin, nanti saua tunggu di dekat-dekat Masjid aja".. ucap Pak Regar.
"Pak Regar tunggu di sini aja".. sahut Kia
"Nggak usah deh Kia, kebetulan saya nebeng sama Vino. Nggak enak kalau nanti dia udah selesai Sholatnya malah saya yang di tunggu". ucap Regar terkekeh.. Dan yang lainnya pun tertawa.
Akhirnya mereka sudah pulang. Tinggalah Kia dan Dinda.
"Ehem.. Ada hubungan apa loe sama Pak Vino??".. tanya Kia menatap tajam temannya itu.
"Gak ada apa-apa Ki".. jawab Dinda cemberut. Ia masih kesal dengan Vino yang suka menggoda Hana. Yah walaupun dia belum resmi berpacaran, tapi kejadian Vino yang mencium kening Dinda sudah dianggap tidak wajar bagi Dinda. Dia beranggapan Vino juga jatuh cinta padanya.
"Kok cemberut gitu?? cerita donk ada apa?".. tanya Kia lembut. Akhirnya Dinda menceritakan semua pada Kia. Kia sangat terkejut ternyata Dinda sudah lama sekali menyimpan rasa pada Vino.
" Ya Allah Din, jadi loe udah selama itu suka sama Vino??".. tanya Kia.. Dan Dinda menganggukan kepalanya.
"Ya udah Din, loe banyak berdoa aja, minta jodoh yang baik. Karena Allah tau yang terbaik buat kita". ucap Kia menasehati.
"Makasih ya Ki". lirih Dinda memeluk Kia. " Ki, kalau nanti loe udah nikah, loe tetep mau kan berteman sama gw?".. tanya Dinda yang sudah meneteskan air mata.
"Hei..heii..heii.. ngomong apa sih loe?!sampai kapanpun loe dan gw akan selalu bersahabat. Dan kita juga masih sering ketemu. Kalau Rako lagi di istri pertama, loe nginep rumah gw ya".. ucap Kia meneteskan air mata juga.
Mereka berpelukan cukup lama.
°
°
°
°
°
## **Hallo Readers....😊.. Siapa nih yang penasaran dengan batin Dinda?? kok dia seakan tau maksud dari Lidya yaa??😞
Teruss simak yaa novel pertama aku 😍
__ADS_1
Selamat meninggalkan jejak 💟**