
Rako yang pulang kerja langsung ke Apartementnya, mencari sosok wanita yang selama ini dia nikahi. Ya, dia mencari Lidya karena ingin mengatakan semuanya, bahwa ia ingin mengajak Lidya bertemu dengan Keluarga Kia di Bandung.
"Lidya..Lidya..!!".. Teriak Rako mencari Lidya. Lidya yang sedang di toilet, mendengar suaminya memanggil.
"Tumben dia nyariin aku"..gumam Lidya sendiri, dia pun keluar dari toilet dan menemui suaminya yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan kemeja yang sudah di gulung ke siku, dan jas yang di letakan di sampingnya.
"ada apa Mas? Tumben nyariin istrinya!". ucap Lidya tersenyum. Rako pun langsung menatap Lidya, dan menyuruhnya duduk disampingnya.
"Sini, aku mau bicara serius", ujar Rako menepuk sofa di sebelahnya agar Lidya duduk. Lidya pun menurutinya.
"Aku ingin mengajak kamu ke Bandung untuk bertemu Keluarga Kia".ujar Rako datar menatap Lidya. Lidya pun terkejut.
"Loh, kan masih 3 bulan lagi nikahnya?? nanti aja lah mas temuinnya!".. ujar Lidya sedikit cemberut.
"Ya, tapi masalahnya kondisinya beda Lidya!".. tutur Rako tegas. "Kita harus minta restu dulu sama keluarga Kia donk! Makanya aku ajak kamu, agar mereka percaya bahwa Kia bukanlah merebut suami orang!! Tapi kamu dan aku yang meminta dia, bahkan kamu sndiri sampai memohon kan?!!"., lanjut Rako menjelaskan. Lidya terdiam sejenak.
"Oke, tapi aku punya 1 syarat buat kamu!".. ujar Lidya tegas. Rako pun mengerutkan dahinya.
"maksud kamu??! kenapa pakai syarat, ini kan sudah kesepakatan kita!!".saut Rako sedikit bersuara tinggi. Lidya pun menelan salivanya.
"Mas, aku tidak pernah menuntut kamu apa-apa! bahkan aku rela di madu demi kamu Bahagia! sekali ini saja turuti aku!". lirih Lidya, Rako pun terdiam.
"Memang apa syaratnya??".ucap Rako dingin.
"Cukup kita menghabiskan malam ini berdua". ucap Lidya menggoda dan memegang lengan Rako. Rako yang mengerti menatap Lidya.
"Maaf Lidya, aku tidak bisa!". ujar Rako memalingkan wajahnya. Lidya pun terkejut.
"Aku ini istri sah kamu Mas!! Bahkan dalam 4 tahun ini kamu menyentuhku tidak sampai 10 kali!! Apa jadinya aku saat kamu menikah dengan Dia?!!" teriak Lidya dan menangis. Rako pun masih diam.
"Apa aku perlu mencari pria lain untuk memuaskan nafsuku??? Suami ku sendiri tidak pernah menjamahku, bahkan menciumku saja tidak??!". lanjut Lidya bersuara tinggi. Rako mulai panas, ia sendiri yang tidak mau diceraikan dari dulu
"Apa kamu lupa Lidya??!! dari awal aku ingin menceraikan kamu supaya kamu bisa bahagia dengan laki-laki yang mencintai kamu! Tapi kamu memohon padaku agar aku tetap mempertahankan kamu, dan kamu bersedia aku menikah dengan wanita yang aku cintai!! Dan kamu juga membebaskan aku melakukan apa saja kan??!".. ujar Rako menatap tajam Lidya. Lidya pun menangis.
"Dan kalau kamu ingin mencari laki-laki lain untuk memuaskan nafsumu, dengan senang hati aku mengizinkannya! Bahkan aku bisa langsung menTalak kamu!!Dan aku berdoa agar laki-laki itu mencintai kamu, agar kamu bisa hidup bahagia dan aku pun juga bahagia dengan pilihanku!!". lanjut rako berbisik dan tersenyum getir. Lidya pun nampak kaku, bagaimana pun dia takut Rako meninggalkannya.
"Ak..aku mohon maafkan aku Mas. aku hanya rindu belaian kamu, belaian suamiku!".. tutur Lidya gugup dan menahan tangisnya. Rako pun menatap tajam Lidya.
"Lidya, aku heran sama kamu, kamu kenapa bisa bertahan dengan suami sepertiku!! apa kamu sedang merencanakan sesuatu..hmm??"" tanya Rako dingin dan menatap tajam Lidya, Lidya pun menelan salivanya.
"Ti..tidak!! Karena aku ingin menikah sekali seumur hidup mas!".. lirih Lidya menunduk.
"Oke, setelah aku menikah dengan Kia, aku harap kamu mengerti posisi kamu. aku tetap akan memberikanmu jatah bulanan, jadi jangan khawatir". ujar Rako dan berdiri meninggalkan lidya yang masih duduk. Ia pun berbalik mengatakan sesuatu lagi.
"Kamu juga siap-siap, sabtu ini kita ke Bandung?!". ujar Rako dan kembali menuju kamarnya. Lidya hanya diam dan mendengarkan.
****
Malam pun tiba. Shiren yang masih tinggal di Apartement Rako, terlihat sedang menonton tv di ruang tengah. Rako pun juga ikut menemaninya. Lidya yang baru saja keluar dari kamarnya berinisiatif membuatkan jus untuk mereka. Ia pun berlalu ke dapur. Shiren yang kebetulan ingin minum ikut menuju dapur. Namun sesampainya disana, ia memberhentikan langkahnya, dan bersembunyi di balik lemari es. Ia melihat Lidya memasukan sesuatu ke minuman yang seperti Jus Alpukat itu.
Ia pun kembali berjalan cepat menuju Abangnya. Ia memberi tahu Rako agar tidak meminum jus yang diberikan Lidya, karena ia melihat lidya menaruh sesuatu di dalamnya. Rako sangat percaya dengan Shiren ia pun tersenyum getir seakan punya rencana.
__ADS_1
Tak lama, Lidya pun datang menghampiri mereka berdua.
"Ayo minum dulu, aku buatin Jus Alpukat kesukaan kamu Mas." ujar Lidya tersenyum dan meletakan gelas di atas meja tepat depan Rako dan Shiren. " nih mbak buatin juga buat kamu dek". ujar Lidya lembut pada Shiren, shiren pun hanya tersenyum.
"Kamu gak bikin?" ujar Rako pada lidya
"Aku masih kenyang Mas". saut Lidya lembut.
"Ya udah berdua aja sama aku ini".. ujar Rako mengambil gelas dan menyodorkan pada Lidya. Lidya membulatkan matanya.
"Eng..enggak Mas aku masih kenyang banget, buat kamu aja.".. tutur Lidya mendorong gelas yang dipegang Rako.
"Kalau kamu mau minum, kita akan bercumbu malam ini!". ujar Rako berbisik di telinga Lidya dengan suara menggoda. Lidya pun sangat senang, sampai dia lupa sudah memasukan sesuatu di minumannya. Ia pun meminum jus Alpukat buatannya sendiri. Shiren yang dari tadi mendengarkan obrolan suami istri ini tanpa meminum Jusnya, begitu kaget melihat Lidya menghabiskan Jus nya itu.
"Senjata makan tuan nih?!!", batin Shiren terkekeh.
"Wah kamu haus kan ternyata".. ujar Rako pada Lidya yang menenggak habis Jus nya. Lidya pun tersadar dan langsung berlari ke toilet.
"Hahah.. kita liat reaksinya". ujar Rako tertawa pada Shiren.
"Emang obat apa sih Bang yang di kasih sama dia?!". tanya Shiren.
"Liat aja nanti, kamu juga tahu!" jawab Rako tersenyum. " oia, kamu buang tuh minumannya". suruh Rako pada Iren. Shiren pun langsung ke dapur membuang Jus nya di wastafel.
Beberapa menit kemudian Lidya keluar dengan menggaruk-garuk seluruh tubuhnya seperti kera, wajahnya sangat merah, matanya pun ikut memerah tapi bukan menangis. Ia langsung berlalu menuju kamarnya. Shiren dan Rako saling tatap dan tertawa!
"Hahaaa... makan tuh obat gatelll untuk nenek ganjen"! ucap Shiren tertawa. Rako pun ikut tertawa.
"Abang gitu loh!!" saut Rako dengan PD nya. " Jadi, beberapa hari lalu, abang gak sengaja melihat obat yang ada di meja rias dia. Abang tadinya berpikir dia sakit keras, hingga abang mencari tahu di mbah g***** obat apa itu. Setelah mendapat keterangannya, Abang sangat kaget, ternyata itu obat untuk membuat seluruh tubuh kita mengalami gatal-gatal namun tidalk berbahaya. Hanya saja kulit tubuh kita jadi merah dan bengkak. Dan butuh waktu 3 hari untuk kembali seperti semula! itu pun harus di suntik sama Dokter Spesialis Kulit". ujar Rako menjelaskan, Shiren pun mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Tapi, kenapa dia melakukan itu ya bang?" ..tanya Shiren
"Sepertinya ia ingin menggagalkan rencana abang untuk ke Bandung menemui keluarga Kia. Karena tadi abang sudah mengajak dia, kalau Sabtu ini kita ke Bandung minta restu keluarga Kia.", ucap Rako menjelaskan. Karena dimana Sabtu ini tepat 2 hari lagi. Maka Lidya ingin membuat Rako tetap dirumah dengan cara yang sedikit kejam.
"What?? parah juga tuh nenek!!" ujar Shiren.. rako pun tersenyum dan berdiri ingin melihat keadaan Lidya.
"Ya udah kamu istrihat dih dek, besok kan kerja lagi. Abang mau liat dia dulu". ucap Rako lembut dan berlalu meninggalkan Shiren. Shiren pun mengangkat jempolnya tanda Ok.
****
Lidya yang menangis sambil garuk-garuk di seluruh tubuhnya saat ini hanya menggunakan Bra dan Cd. Tubuhnya memerah dan mulai membengkak. Rako yang baru masuk, melihat Lidya penuh prihatin, dia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia yang meminum jus itu.
"Ya Allah Lidya, kamu kenapa bisa seperti ini?? apa kamu alergi Jus Alpukat??".. tanya Rako panik penuh sandiwara.
"Bawa aku ke dokter Mas, plisss..hikss..". Lirih Lidya, ia pun tidak bisa mengatakannya, karena bisa-bisa Rako marah. Padahal tanpa ia tahu, Rako pun sudah mengetahuinya.
Rako karena rasa Iba nya, ia menghubungi Dokter Pribadinya untuk segera datang ke Apartementnya. Dan satu jam kemudian, Dokter Sam yang tak lain Dokter Pribadinya Rako yang sudah sejak 10 tahun itu, menekan bel di balik pintu. Rako pun membuka pintu tersebut. Mereka berpelukan ala lelaki, karena usia mereka pun hanya selisih 2 tahun. Dr. Sam yang usianya 29 tahun adalah sosok yang tampan, berkacamata, putih dan tinggi. Ia sudah seperti saudara dengan Rako.
"Siapa yang sakit bro?".. tanya Dr.Sam
"Lidya!!.. Ya sudah ayo ke kamar". ajak Rako pada Sam. Lidya yang sudah menggunakan pakaian tidurnya terlihat makin membengkak di wajah dan matanya. Rako dan Sam pun sangat terkejut. Sam yang memang tertarik pada Lidya sejak awal bertemu merasa kasihan.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa dia sampai mengerikan seperti ini?".. batin Sam
"Sam, tolong Aku!!" . lirih Lidya menangis sambil menggarukan tubuhnya. Sam pun mendekat dan segera memeriksa tubuh Lidya.
"Ini sepertinya bukan Alergi. Terakhir di makan apa Bro?" tanya Sam pada Rako.
"Dia habis minum jus Alpukat Sam. Dan itu buatan dia sendiri!" jawab Rako datar.
"Oke, saya hanya bisa kasih obat untuk mengurangi rasa gatalnya, tapi besok kamu harus bawa dia ke Spesialis Kulit Bro.", tutur Sam. Rako pun menganggukan kepalanya.
"Kira-kira kenapa dia ya Sam?". tanya Rako depan Lidya. Lidya pun tampak panik.
"Gw sih gak bisa pastikan, tapi yang jelas ini ada kandungan Kimia yang sengaja atau tidak terminum olehnya.". tutur Sam. Rako pun menatap Lidya.
"Kamu bisa bayangkan Lidya bagaimana jika aku yang minum tadi?!! Bisa-bisa perusahaan ku kehilangan Milyaran Rupiah karena aku tidak bisa bekerja!". ujar Rako ketus dan menataP tajam Lidya. Lidya hanya diam ketakutan.
"Oke ini minum sekarang, sama besok pagi setelah sarapan ya." ujar Sam lembut pada Lidya sambil memberikan obatnya, Rako yang memperhatikan Sam, sedikit curiga.
"Sepertinya Sam suka sama Lidya. Semoga aja deh, bagaimanapun aku ingin dia bahagia dengan laki-laki yang mencintainya". batin Rako.
"Ya udah gw balik ya Bro, jaga istri loe baik-baik ya". ucap Sam menepuk bahu Rako. Rako pun tersenyum. Sam sendiri tahu kisah cinta Kia dan Rako. Ia pun sangat kasihan pada Kia. Dan di sisi lain, ia juga menyukai Lidya saat pertama kali bertemu di pernikahan Rako dan Lidya, dan di beberapa pertemuan lainnya.
****
Lidya saat ini sedang tertidur, setelah minum obat, gatal-gatal pada tubuhnya berkurang. Rako yang melihat wajah dan tubuh Lidya memerah dan membengkak, sangat kasihan. Tapi ia juga tidak bisa membayangkan gimana jadinya jika ia yang meminum Jus itu. Untung saja ada Shiren. Si kancil Cerdas.
Rako yang ikut berbaring di samping Lidya, mengusap rambut Lidya.
"Maafkan Aku Lidya, aku tidak bisa mencintaimu. Suatu saat kamu akan mendapatkan sosok Suami yang kamu idam-idam kan, dan itu bukan Aku.". gumam Rako pelan. Rako pun ikut memejamkan matanya dan membelakangi Lidya.
Tanpa Rako sadari, Lidya yang tebangun karena masih merasakan gatalnya sedikit, dengan mata yang masih terpejam, mendengar ucapan Rako. Ia pun meneteskan air matanya.
Dan lama-lama Lidya pun sudah ikut tertidur di samping Rako. Ia memeluk tubuh suaminya itu dari belakang. Rako yang tidur pulas tidak tahu akan hal itu.
****
°
°
°
°
°
##**Hai semua, terimakasih yang masih setia menunggu update an dari novel aku.
Oiaa, sekedar info.. untuk obat gatal-gatal perihal efek dan segala macamnya itu, Author hanya Halu yaa, dan maaf jika ada salah-salah dalam isinya 😊..
Jangan lupa terus dukung author ya, dan kasih masukkan yang membangun dan buat semangat Author 😆..
__ADS_1
Terimakaasih Sayaaang 😘**