
Tibalah hari yang di nantikan oleh Kia dan Rako. Setelah Subuh mereka berempat, yaitu Kia, Dinda, Rako dan Shiren sudah berada dalam satu mobil yang Rako kendarai menuju Kota Bandung, tempat Kakak Kia dan keluarganya berada. Rako di dampingi oleh Kia di kursi penumpang, sedangkan Dinda dan Shiren di kursi belakang. Rako pun sebelumnya sudah di ceritakan Shiren bahwa Dinda sahabatnya saat di Sidney. Kia terlihat diam dan gugup. Rako tahu pasti calon istrinya ini takut jika keluarganya tidak merestuinya. Dia pun menggenggam tangan kanan Kia dengan satu tangannya. Kia pun menoleh ke arah Rako dan tersenyum, Rako pun melihat sekilas dan tersenyum pula.
Terlihat dua gadis tertidur di kursi belakang. Rako yang melihat dari spion hanya menggelengkan kepala.
"Yank, liat deh di belakang!. Pada ngiler gak tuh?!".ucap Rako terkekeh, Kia pun menoleh ke belakang.
"Biarinlah mereka pada tidur, biar nanti bisa bantu aku untuk bicara sama Kak Shania".. tutur Kia terkekeh pula. Rako pun mengusap rambut Kia lembut.
"Oia, Mbak Lidya tau kamu mau ke Bandung sama aku dan Shiren?.. tanya Kia yang menghadap ke Rako. Rako melirik sekilas dan kembali lagi fokus ke depan karena dia sedang menyetir.
"Aku bilangnya sih emang ke Bandung sama Shiren.. Tapi masalah kerjaan. Bukan mau melamar gadis cantik".. ucap Rako menggoda. Kia pun tersenyum.
"Dasar ganjen".. tutur Kia malu.. Rako pun tekekeh.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 08:00.. Shiren dan Dinda yang sudah bangun setengah jam lalu terlihat antusias. Mereka juga membawa baju salin, karena mereka berencana sampai minggu di Bandung. Dan mereka akan menginap di Hotel yang dekat dari tempat-tempat wisata di Kota Kembang itu. Karena Shiren dan Dinda memohon pada Rako dan Kia untuk refreshing.
Mereka sudah tiba di perumahan yang sangat asri. Kak Shania dan Bang Pandu pun sudah tahu kalau Kia mau ke rumah mereka bersama teman-temannya. Namun mereka tidak mengetahui jika Rako pun ikut. Mereka sudah turun dari mobil tepat depan halaman rumah Kakaknya Kia. Rako, Dinda dan Shiren, terlihat memandangi sekelilingi perumahan itu. Sungguh sejuk dan Asri. Terlihat pegunungan dari jauh, dan mereka nampak menghirup udara pagi yang sangat sejuk. Rumah Shania terbilang sederhana, namun karena bangunan baru, dan berada di komplek yang cukup mewah, apalagi dengan pemandangan pegunungan dan udara yang membuat semua orang betah, terlihat sangat indah.
"Yuk masuk.." tutur Kia pada mereka semua yang terlihat masih meikmati udara pagi yang sejuk. Mereka pun menoleh ke arah Kia, dan mengikuti langkah kaki Kia.
"Bismillah".. Doa Rako yang terlihat gugup.
tok..tok..tok.." Assalamualaikum".. ucap salam Kia di depan pintu rumah Kakaknya itu.
"Walaikumsalam"..saut Shania dari dalam.
ceklek..
"Kiaaaa..'' teriak kak shania senang dan langsung memeluk Adiknya itu. Ia belum sadar bahwa ada Rako disana. Kia pun membalas pelukan kakaknya itu. Memang sudah hampir 1 tahun ini Kia tidak berkunjung ke Bandung, karena ia juga belum dapat cuti dari Perusahaannya.
"Kakak sehat?".. tanya Kia melepaskan pelukannya, dam mencium punggung tangan Kakaknya itu.
"Alhamdulilah kita semua sehat Ki.. kamu makin cantik aja".. tutur Kakaknya yang melihat Kia memang tambah cantik.
"Ya laah Kia gitu loh".. ucap Kia terkekeh. "Oia Kak, ini teman-teman aku di kantor.. ini Dinda, ini Shiren dan...." ucap Kia mengenalkan sahabat-sahabatnya pada Shania, Shania pun menyalami mereka dan tersenyum, dan saat ingin mengenalkan Rako, ucapannya terpotong, karena Shania sudah melihat sosok tampan yang berada di belakang Kia.
"Rako???".. ucapnya terkejut. Rako pun mengulurkan tangannya pada Shania untuk bersalaman. Shania dengan ragu akhirnya menerima uluran tangan Rako.
"Apa kabar Nia?".. ucap Rako yang memang seumuran dengan Shania.
"Ba..baik".. Shania masih bingung kenapa Kia mengajak Rako, ia pun menatap adiknya itu. Kia yang mengerti langsung tersenyum.
"Kak, kita gak di suruh masuk?".. tutur Kia
"Eh iaa.. maaf, Yuk masuk ke dalam.. Maaf ya rumahnya kecil".. ucap Shania pada mereka. Mereka yang sudah duduk di sofa warna hijau pun tersenyum memandangi sekeliling rumah Shania yang rapih dan bersih.
"Ih ini tuh nyaman banget kak".. tutur Shiren jujur dan menatap sekeliling rumah Shania. Terlihat nuansa serba putih dan hijau.
''Sebentar ya aku buatin minum dulu". ucap kia. Shania pun langsung menyuruh Kia duduk menemani tamunya.
"Ki, biar Kakak aja. Kamu duduk aja'.. ucap Shania lembut. Kia pun duduk berdampingan dengan Dinda, Shiren dengan Rako. Sambil menunggu Shania datang membawa minuman, Kia menatap Rako yang terlihat diam saja.
"Rako, aku yakin kamu bisa meyakinkan kakak aku".. ucap Kia lembut pada Rako. Rako pun menatap Kia dan tersenyum.
"Makasih sayank".. tutur Rako lembut. Dinda dan Shiren pun nampak terkekeh.
Shania pun datang membawa nampan berisi teh manis hangat untuk mereka berempat, dan ada beberapa cemilan.
"Silahkan di minum yaa, ini kuenya kakak bikin sendiri loh".. ucap Shania ramah.
"Wahh makasih kak, aku makan ya"., ujar Dinda memakan satu potong bolu tape buatan Shani, Shiren pun ikut mengambil kue tersebut.
"Di makan ya Kaak".. ucap Shiren yang sudah memegang satu potong kue. Shania pun tersenyum. Lalu ia beralih melihat Rako.
"Ayo Ko, di minum teh nya.. Bolu tapenya juga di makan jangan malu-malu".. ujar Shania ramah. Walau gimanapun nantinya, Shania tetap ramah pada tamunya.
"Ya saya minum ya".. tutur Rako dan mengambil cangkir berisi teh manis itu.
"Oia, bang Pandu sama Key kemana kak?".. tanya Kia pada Shania menanyakan kakak ipar dan ponakan laki-laki nya, yaitu Keydan Zavendra Hutomo yang di panggil Key, dan nama belakangnya perpaduan dari Kakek-kakeknya, Keluarga Zavendra dari Keluarga Kia dan Shania, sedangkan Hutomo dari Pandu. Key saat ini berusia 3,5 tahun.
"Biasa... Key kalau pagi ngajak beli bubur ayam".. ucap Shania. Kia pun menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Tak lama Pandu dan anaknya datang, terdengar suara motor yang memasuki halaman kecil Shania.
" Assalamualaikum".. ucap Pandu dan Key bersamaan. Key dengan suara anak kecilnya sangat menggemaskan. Mereka pun menoleh ke arah pintu yang terbuka itu.
"Walaikumsalam".. Jawab mereka bersamaan.
"Eh udah pada dateng.." Ujar Pandu ramah, dan Kia menghampiri Kakak iparnya yang usianya 30 tahun itu, ia pun mencium punggung tangan Pandu, di susul Dinda dan Shiren. Rako pun juga ikut berdiri dan bersalaman dengan Pandu. Pandu yang terkejut Rako ada di antara mereka, hanya tersenyum kaku. Ia pun bertanya-tanya dalam hatinya.
"Hallo ponakan onti yang ganteeeng".. ucap Kia menunduk kearah ponakannya. Key pun memeluk onti nya itu.
"Ontii.. key tangeenn ( kangen)".. ujar Key yang masih sedikit cadel, ia memeluk ontinya itu.
"Ontii juga kangeeen banget sama Key..".. tutur Kia mengusap kepala ponakannya itu.
"Hai ganteng namanya siapa sih?".. sapa Dinda pada Key lembut, Key pun melepas pelukan Kia dan menatap Dinda.
"Aku Key", jawab Key dengan suara cemprengnya
"Aku Onti Dinda, ini Onti Shiren".. ujar Dinda mengenalkan pada Key. Key pun menciumi punggung tangan Mereka. Key melihat sosok Rako yang juga menatap Key dengan lembut, ia ingin sekali memiliki anak.
"Onti kalau ini pacal onti ya??".. tanya Key pada Kia. Mereka semua pun membulatkan matanya. Pandu yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya bicara pada anaknya.
"Ayo.. Key salim dulu sama Om Rako".. ujar Pandu lembut pada Key. Key pun menciumi punggung tangan Rako. Terlihat Rako senang di perlakukan ramah oleh keluarga Kia.
"Hallo Key,, udah gede pasti ganteng kaya om".. ucap Rako terkekeh, Key pun yang masih kecil mengakui Rako sangat tampan.
"Yaa Key mau.. Pacar onti cakepp banget ya Yah".. ucap Rako kepada Pandu, ayahnya, mereka semua pun tertawa.
****
Sekarang tinggalah Rako, Kia, Shania dan Pandu di ruang tamu. Yang lainnya sedang beristirahat dan menemani Key bermain di kamar nya Key.
"Bang, Nia.. saya ke sini mau berbicara serius sama kalian".. ujar Rako menatap mereka bergantian. Kia yang duduk di samping Shania, Rako yang berhadapan dengan Pandu walau terhalang meja.
"Mau ngomong apa Ko?". ucap pandu ramah.
"Begini.. ( Rako menghela nafasnya ).. Saya ingin melamar Kia menjadi istri saya." ucap Rako mantab dan menatap mereka berdua, sesekali ia melirik kekasihnya yang terlihat menunduk. Kia pun sangat berdebar jantungnya.
"Apa???".. Shania dan pandu mengucapkan kata yang sama dan sangat terkejut.
"Bang, saya mohon dengarkan penjelasan saya dulu ya..Jadi,, Kia akan menjadi istri kedua saya, dan.." ucap rako terpotong karena Nia mengatakan sesuatu.
"Gila loe Ko, ade gw mau loe jadiin bini kedua, yang ada dia akan di bilang pelakor"!! ucap Shania dengan nada tinggi. Kia pun disampingnya hanya diam. Dan tak terasa air matanya sudah jatuh membasahi pipinya yang mulus. Rako melihat orang yang di cintainya ini menangis, ia pun mengehela nafasnya..
"Nia, tolong dengerin saya dulu bicara.." ucap Rako memohon, Pandu pun terlihat dewasa dan meminta istrinya untuk diam dulu.
"Jadi, istri saya pun juga memohon pada Kia agar mau menikah dengan saya. Karena saya selama menikah 4 tahun ini belum di karunia anak, rahim dia ada masalah kata Dokter. Sedangkan usia saya juga tidak muda lagi. Kalian juga tahu kan kalau saya dari dulu masih sangat mencintai Kia." lirih Rako pada mereka , Pandu pun tau perjuangan Rako seperti apa untuk mencari Kia kala itu.
"Saya dan Lidya, istri saya itu di jodohkan. Sampai sekarang pun saya tidak bisa mencintai dia atau wanita lain. Dari dulu saya mencari keberadaan Kia. Abang tau sendiri kan??.. " ucap rako menatap Pandu, pandu pun diam.." Tapi saya tidak pernah berhasil menemuinya, saya hanya berdoa, jika saya masih di beri kesempatan bertemu dengan Kia, saya akan membahagiakannya."., tutur Rako. Kia pun semakin menangis walau tak bersuara.
"Sampai akhirnya ALLAH menemukan saya dengan Kia di Perusahaan saya sendiri. Dia receptionist di sana. Lidya pun sebelumnya sudah kenal dengan Kia, karena kia menolongnya waktu itu saat dia sedang sakit di pinggir jalan. Makanya dia sangat setuju saya menikah dengan Kia".. ucap Rako menceritakan kepada mereka. Shania pun mulai mengerti, karena istrinya Rako tidak punya anak, mulia sekali jika sang istri mengizinkan suaminya menikah lagi untuk mencari keturunan.
"gw paham maksud loe. Tapi orang tua loe gimana? Loe tau sendiri mereka sebenci apa sama Kia, karena kita lahir dari keluarga orang susah",, ucap Pandu menatap Rako.
"Kalau masalah itu kalian tenang aja, Lidya akan bantu bicara sama orang tua saya. Dan saya pastikan untuk melindungi Kia dari siapapun, termasuk dari orang tua saya!!". ucap rako meyakinkan.
"Saya mohon Bang, Nia.. restuin kami".. lirih Rako yang berlinang air mata, Pandu yang melihat ketulusan dan cinta dari mereka berdua pun tidak bisa apa-apa.
"Kia, kamu sendiri mau jadi istri kedua?".. tanya pandu pada Kia. Kia pun mengangkat kepalanya melihat pandu, ia mengusap air matanya.
"Insyaallah Bang, Kia mau. Tadinya Rako ingin menceraikan Istri pertamanya dan menikah dengan Kia. Tapi Kia menolak. Kia mau jadi yang kedua aja, Kia gak mau menyakiti hati mbak Lidya yang sudah rela di madu.", ucap Kia yang mampu membuat Nia kaget.
"Ya ampun Ki, kamu malah mau jadi yang kedua?? apa kamu yakin?? karena Rako pun harus adil dalam semuanya. Bahkan dia tidak boleh memihak kepada istri yang lainnya, itu sama aja buat dia Dosa!!. ", ucap Shania bersuara tinggi. Kia pun nampak diam.
"Sekarang gini deh Ko, apa yang membuat loe mempertahankan Lidya kalau loe emang gak cinta sama dia ?".. tanya shania pada rako.
"Kia".. jawab Rako tegas.."Karena Kia yang meminta untuk saya tidak meninggalkan Lidya. Kia mengancam, tidak akan mau menikah dengan saya kalau saya menceraikan Lidya".. lanjut Rako menjelaskan, Shania pun membulatkan matanya. Ia langsung menatap Kia.
"Ki, apa bener??".. tanya Shania,. Kia pun menanggukan kepalanya.
"Gak waras loe Ki!!!" ucap Shania kesal pada adiknya. Bagaimanapun ia tidak mau adiknya yang masih perawan dan muda harus menikah dengan laki-laki beristri. Kia pun terisak karena perkataan Shania. Apa benar ia terlalu naif.
"Udahlah Bun, jangan terlalu memojokkan Kia. Aku sih lihatnya Kia itu dewasa. Ia tidak egois, Lidya sudah meminta dia untuk menikah dengan suaminya, terus apa Kia harus menyuruh Rako menceraikannya??".. ucap pandu pada istrinya. semua pun diam.
__ADS_1
"Mungkin Rako dengan senang hati akan menceraikan Lidya, karena dulu dia penyebab hubungan kalian terpisah. Tapi kalian ingat, dia juga yang sudah menyatukan kalian!". tutur Pandu.
"Ya udah lah, kalau Kia memang mau, aku bisa apa. Gw cuma mau loe tidak membuat adik gw ini sakit hati untuk kedua kalinya!".. ujar Shania pada Rako.
"Maksudnya kalian merestui kita??".. tanya Rako bersemangat kepada mereka
"Belum sih, karena gw mau ketemu istri loe dulu",, ujar Shania pada Rako. Kia pun menelan salivanya.
"Kalau gw bisa yakin setelah bicara sama istri loe, baru deh loe ngomong sama Mang Edi, Mang Usep, mereka Adik-adiknya bokap gw sama Kia, yang nantinya jadi wali loe berdua",, ucap Shania, Rako pun menelan salivanya
"masih panjang perjalanannya, pokoknya gw harus kelarin semua dalam bulan ini".. batin Rako
"Oke,, minggu depan saya ajak Lidya bertemu kalian. Tapi kita janjian aja ya di suatu tempat jangan dirumah".. ujar Rako.
"loh emang kenapa Ko?".. tanya pandu
"Hmm.. saya takut Lidya suatu saat berubah pikiran, dan bisa mengancam Kia lewat kalian karena tahu rumah kalian.".. ucap Rako , mereka pun terkejut.
"Sebegitunya?? jadi ragu gw kalau Kia jadi Madunya!!" ucap Shania
"Tenang aja, saya pasti akan menjaga Kia dengan baik".tutur Rako.
"Udah jangan pada Su'udzon dulu. Aku yakin mbak Lidya tulus kok". ucap Kia pada mereka. mereka pun diam.
****
Tampak Rako yang merebahkan tubuhnya di kamar Key. Ya, karena Pandu dan Shania meminta pada mereka untuk menginap di rumahnya saja, merekapun akhirnya menyetujuinya. Kamar di rumah Shania ada 3. Kamar utama untuk Shania, Pandu dan Key, kamar 2 berisi Kia, Dinda dan Shiren, dan kamar Key di isi oleh Rako. Walau tanpa Ac , kamar mereka sudah dingin karena dekatnya pegunungan.
Setelah makan malam , mereka pun masuk ke kamar masing-masing. Tiga gadis itu nampak antusias mendengar cerita Kia tadi pagi.
"Ki, gimana?? kayaknya lampu hijau nih?".. ledek Dinda pada Kia yang sedari tadi melihat Kakak-kakanya nampak ramah dengan Rako. Kia yang sedang merebahkan tubuhnya sambil bermain ponselnya, Dinda yang posisinya tengkurap di tengah-tengah antara mereka, dan Shiren yang tidur miring ke arah Kia sambil menopang tangan kanannya untuk menahan kepalanya.
"Alhamdulillah sih mereka gimana gw, walau awalnya Kak Nia emang menentang banget. Trus dia mau ketemu sama Lidya''.. ucap kia menatap temannya itu. Shiren pun sontak merubah posisinya menjadi duduk.
"Apa???".. tanya Shiren terkejut.
"Iya, kalau yang gw tangkap sih, Kak Nia itu mau liat aja apa Rako itu jujur?".. ucap Kia.
"Tapi Kak, lewat Vcall aja sih jadi kelar hari ini"., ucap Shiren berpendapat.
"Shiren sayaaang, abang kamu itu bilangnya ada kerjaan di Bandung, bukan mau melamar aku".. ucap Kia terkekeh
"Tau nih anak kecil".. sambung Dinda meledek.
"loe sama gw beda 1 tahun doank keless".. saut Shiren pada dinda, Kia pun tersenyum menggelengkan kepalanya. Dan ponsel Kia berbunyi tanda pesan masuk.
Kia nampak bahagia melihat isi pesan itu.
**Kesayangan : Alhamdulillah ya , Kakak-kakak kamu baik banget. Walau belum 100 % setuju, paling tidak aku di perlakukan sangat baik sama mereka.
Cantikku : Ya Alhamdulillah.. Semangat sayank, dan kita harus banyak berdoa..
Kesayangan : Pasti sayank.. asal kamu selalu di sisi aku, aku akan memperjuangkannya 😙
Cantikku : Ya udah kamu istirahat ya, besok kan kamu harus nyetir lagi. Kita juga mau ke kawah putih kan?
Kesayangan : Ya yank, kamu juga istirahat ya. Nite 💓
Cantikku : Nite Too 💗**
Chatingan pun berakhir. Kia yang sejak tadi senyum-senyum sendiri, tak sadar kedua sahabatnya itu sudah tertidur di posisinya masing-masing.
Kia pun ikut tertidur bersama mereka. Mereka pun hanyut dalam mimpi nya masing-masing.
**Kamar Key
**Kamar Kia
**Kamar Utama
__ADS_1