
Keesokan Harinya..
Shiren yang sudah resmi menjadi Sekretaris Rako , terlihat bersemangat sekali kerjanya. Pagi ini ia terlihat sedang meriview jadwal Ceo nya itu. Sedangkan Ali, ia sedang di tugaskan Rako ke Luar kota.
Kia yang dari kemarin kesal dengan Rako karena tidak menghubunginya, bertekad untuk mengacuhkan Rako. Rako sendiri bukan karena lupa pada Kia, karena ia sedang focus mengajari Shiren tentang pekerjaannya.
Pak Regar seperti biasa meminta Kia untuk mengantarkan Document ke ruangan Pak Rako. Kia sebenarnya sangat malas, tapi dia harus profesional.
"Kia, tolong antar ini ke Pak Rako ya, setelah ia tanda tangan bawa lagi documentnya". ucap Regar sambil menyerahkan document ke Kia.
"Baik Pak".. ujar Kia menerima document itu
Kia pun berjalan menuju lift untuk ke lantai 7. Ia yang saat ini memakai kemeja lengan pendek vneck berwarna Navy dan di masukkan ke dalam rok hitam yang agak ketat di atas lutut, rambutnya ia ikat rapih dan menyisahkan poni miringnya, dengan memakai sepatu high heels 5cm menambah kesan cantik dan elegannya.
Sesampainya di lantai tujuh, ia melihat Shiren sedang asik dengan Laptop nya. Terlihat ia sangat serius sekali. Kia pun menyapanya.
"Siang Shiren, Pak Rako nya ada ?".. sapa Kia ramah, shiren pun mendongakan kepalanya melihat sosok yang menyapanya.
"Eh Kakak cantik.. ada kok. Kalau boleh tahu ada perlu apa ya ?".. ujar Shiren tersenyum.
"Ini mau minta tanda tangan di minta Pak Regar".. ucap Kia memperlihatkan documentnya.
"Ya sudah masuk aja Kak".. tutur Shiren, Kia pun tersenyum menganggukan kepalanya.
tok..tok..tok.. "permisi".. ucap kia mengetuk pintu , terdengar dari dalam menjawab "Masuk".. ya Rako langsung menyuruh masuk.
ceklek.
Kia pun berjalan menuju kursi di mana Rako berada. Rako yang memperhatikan calon istrinya itu terlihat cemberut bertanya-tanya pada dirinya.
"kenapa dia, kok mukanya di tekuk gitu?? apa dia gak kangen sama aku"?! batin Rako.
"Nih Pak, tolong tanda tangan soalnya Pak Regar minta di bawa langsung". ucap Kia dingin dan menaruh berkas di atas meja Rako. Rako yang menatap Kia yang sedang berdiri bingung akan sikapnya.
"Duduk dulu lah sayank, aku cek dulu yaa",. tutur Rako lembut.
"Gak usah!! Oia tolong jangan panggil saya sayank ya!!". ujar Kia ketus. Rako pun akhirnya berdiri dan memegang tangan Kia, Kia pun menghempaskan tangannya. Tapi Rako tidak menyerah, dan akhirnya Kia mengalah untuk diam.
"hei, kamu kenapa sih yank?" tutur rako lembut memegang kedua tangan Kia.
__ADS_1
"Gapapa. Udah cepetan tanda tangan, saya sudah di tunggu Pak Regar!!". ucap Kia datar. Rako menghela nafasnya..
"Sayank, kita akan menikah dalam 2 bulan lagi. Dan aku rencananya minggu ini mau ke Bandung untuk menemui keluarga kamu. Kalau aku ada salah, tolong kasih tahu, jangan seperti ini". ucap Rako lembut. Kia pun menangis tiba-tiba. Rako sendiri bingung ada apa sebenarnya.
"loh..loh.. kamu kenapa sayank?? kok malah nangis sih, sini duduk dulu". tutur Rako menggiring Kia untuk duduk di kursi. Rako yang berlutut depan Kia dengan tangan kiri menggenggam jemari Kia, dan tangan kanannya mengusap air mata kekasihnya itu.
"Ayo cerita sayank, kalau aku ada salah aku minta maaf.." ucap Rako lembut
"Hiks..hiks.. kamu kemarin seharian tidak menghubungi aku. Tapi kamu terlihat bahagia sekali jalan sama sekretaris baru kamu itu!!.,hiks..hikss.. ".. ucap kia mengeluarkan uneg-unegnya. Rako pun tersenyum, ia baru paham bahwa calon istrinya ini sedang cemburu.
"Aku tahu , mungkin sekarang aku tidak berhak marah sama kamu! Tapi sikap kamu yang selalu menunjukkan mencintai aku, membuat aku jadi berharap lebih sama kamu".. hiks... " tutur Kia.. Rako pun mengusap air mata Kia. Dia menciumi jemari tangan Kia.
"Aku minta maaf kalau kemarin seharian aku tidak menghubungi kamu." Rako menjeda ucapannya.." Aku kemarin sibuk bersama Shiren untuk bertemu klien dan aku juga harus turun tangan mengajari dia".. ucap Rako menjelaskan. Kia pun semakin cemburu.
"Ya aku tau, kamu sibuk sama dia. Sampai lupa sama aku! Ya udah aku mau keluar dulu!!". ucap Kia dan berdiri dari duduknya. Rako pun sontak ikut berdiri menghadang Kia.
"Wahh..kamu kalau cemburu serem juga ya..hihii",, ucap rako terkekeh. Kia pun tidak memandang wajah Rako.
"Hei,.liat sini..." ucap Rako memegang kedua pipi Kia untuk menatap matanya. Kia pun menurut.
"Aku ada rahasia buat kamu, tapi cukup kamu saja yang tau, Dinda pun jangan sampai kamu kasih tau".. ucap Rako yang membuat Kia penasaran.
"Shiren itu...hmmm...tapi kamu jangan marah ya".. ucap Rako dengan wajah serius karena ingin mengerjai kekasihnya. Kia pun tiba-tiba sangat berdebar.
"Iyaa!!".. tutur Kia..
"Shiren itu Adik Sepupu aku sayank....hahahaa...muka kamu lucu banget.." ucap Rako tertawa, kia pun membulatkan matanya.
"Apa??? Sepupu??".. tutur Kia sedikit tinggi suaranya. Rako pun menganggukan kepalanya. Sungguh ia sangat malu saat ini, bisa-bisanya dia salah paham sama sepupunya itu.
"Kenapa sayank mukanya??" ledek rako yang melihat wajah Kia panik.
"Kamu kenapa gak bilang sih?!" ucap Kia kesal dan memukul lengan Rako.
"Aww.. sakit sayank".. ucap Rako manja.
"Biarin!!".. tutur Kia. Rako pun mencium bibir Kia dengan kilat. Kia pun memukul lengan Rako lagi.
"ih... bisa-bisanya ngambil kesempatan ya!!.." ucap Kia kesal
__ADS_1
"Abis gemess.. sayank, kamu kalau pake rok jangan ketat kaya gini donk!! kamu sengaja ya biar di liatin cowok-cowok?!!".. ucap Rako yang sedari tadi memperhatikan kekasihnya ini semakin sexi, ditambah lagi Rok yang dipakai Kia agak ketat dan pendek diatas lutut. Kia pun refleks melihat rok nya.
"Gak lah emang aku cewe apaan! ya udah nanti aku ganti, aku bawa celana kok".. ucap Kia. Rako pun tersenyum dan mengusap kepala Kia. Kia sontak memeluk tubuh Pria yang di cintainya ini, jujur, dia sangat rindu pada Rako. Janjinya pada diri sendiri bahwa ia akan mengacuhkan Rako pun hilang. Rako pun dengan senang hati membalas pelukan Kia. Tanpa kata mereka menikmati kasih sayang yang di curahkan lewat sebuah pelukan.
Shiren yang sejak tadi penasaran karena Kia tidak kunjung keluar dari ruangan Rako, akhirnya membuka pintu ingin melihat apa yang sedang Rako lakukan pada Kia. Ia takut Rako memarahi Kia karena document itu.
"Kia lama banget yaa, aku takut dia di marahin lagi sama Abang. Walau gak mungkin sih, karena Kia kan cantik bangett".. gumam Shiren. " Ah masuk aja deh pura'' ada telepon"., tutur shiren berbicara sendiri.
*ceklek..
"Abang???".. ucap Shiren yang terkejut melihat mereka berpelukan*.
Kia pun dengan kasar melepas pelukannya. Wajah Kia sungguh merah, ia malu sekali. Ini sudah kesekian kalinya ia kepergok sedang mesra-mesraan dengan Rako.
"Kak Kia,, kamu..?".. ucap Shiren bertanya pada Kia. Kia pun gugup, Rako yang melihat Kia gugup dan takut langsung menyuruh adiknya untuk masuk.
"Sini dek, tutup pintunya..". ucap Rako. Shiren pun berjalan dan menghampiri mereka.
"Dek, kamu inget kan mantan abang yang selalu abang ceritakan?".. tanya Rako. Shiren pun terkejut.
"Ja..jadii Kak Kia ini... Mantan Abang??".. tanya Shiren terbata-bata, karena ia ingin sekali bertemu dengan kekasih abangnya itu. Dulu abangnya selalu ceria dan ramah. Semenjak menikah dengan Lidya, dia selalu marah-marah dan parahnya selalu mabuk-mabukkan. Dan memang akhir-akhir ini dia melihat seperti Rako yang dulu, dia pun paham.
"Kak Kiaaa.." Shiren langsung menghamburkan pelukan ke Kia. Kia pun terkejut. Ia membalas pelukan shiren.
"Dari dulu aku pengen banget ketemu kakak, tapi aku sekolah di Sidney. Dan pas ke sini, abang udah nikah sama nenek ganjen".. ucap Shiren masih memeluk Kia. Kia sangat kaget, Lidya di bilang nenek ganjen.
"Maafin aku ya Shiren, aku tau aku salah masih berhubungan sama Rako, tapi ceritanya panjang".. tutur Kia lembut. Shiren pun melepas pelukannya.
"Aku sangatt mendukung hubungan kalian. Karena nenek ganjen itu jahat!!!".. tutur Shiren. Kia pun membulatkan matanya.
"oiaa, mulai sekarang kita berteman yaa kak, kalau di luar aku adalah adik kak Kia".. ucap shiren menyodorkan tangannya. Kia pun membalasnya. Rako sangat bahagia sekali melihat mereka.
"Shiren, tolong jaga rahasia ini. Nanti biar Kia yang cerita semuanya".. ucap Rako
"Beress.. asal ada traktirannya hahaa".. ledek shiren
"Dasaar matree"..ucap Rako terkekeh.
Mereka pun sudah kembali ke tempat kerjanya masing-masing. Kia yang masih tidak menyangka dengan perkataan Shiren, terlihat melamun. Dan akhirnya jam istirahat pun tiba..
__ADS_1
****