
Dinda hari ini terlihat begitu semangat. Kia melihatnya sangat heran. Kia memang belum tahu masalah bahwa Dinda bukan anak kandung dari Papanya. Dia tidak mau bertanya terlebih dahulu. Sudah melihat sahabatnya semangat dan tidak terpuruk, ia pun ikut bahagia.
Dinda datang keruangan Vino. Ia ingin meminta tanda tangan Vino di laporannya.
tok..tok..tok..
"Masuk".. jawab Vino yang duduk di kursi sedang fokus pada komputernya.
Dinda pun langsung membuka pintu dan masuk kedalam ruangan yang tidak terlalu luas itu.
"Permisi, saya mau minta tanda tangannya". ucap Dinda datar dan memberikan laporannya. Vino mendongakan kepalanya melihat dinda. Ia langsung beralih pada berkas laporan yang Dinda letakan di atas meja kerjanya. Vino memeriksa detail laporannya. Dinda sebenarnya sangat merindukan Vino. Ada perasaan lega di hatinya, kalau ia bisa saja menikah dengan Vino.
"Siapa yang kerjakan ini??" tanya Vino datar.
"Ak..Saya!" jawab Dinda yang ingin mengucapkan kata Aku.
"Revisi!!" ujar Vino dingin dan melempar laporan itu ke atas meja kerjanya dengan kasar.Dinda sangat kesal.
"Apa yang harus di revisi?? itu kan sudah seperti bulan-bulan lalu!!" jawab Dinda kesal. Vino pun menatap tajam Dinda.
"Saya bilang revisi ya revisi!!" bentak Vino. Dinda membulatkan matanya karena terkejut.
"Pak Vino yang terhormat!! Jika anda mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan, saya rasa sikap Bapak tidak pantas menjadi seorang Head Hrd!!" ucap Dinda ketus. Vino bangun dari duduknya.
"Saya tidak mencampuri urusan pribadi ya!! Tapi saya muak melihat wajah kamu yang tak lain anak dari Seorang Pelakor!!" ucap Vino penuh penekanan. Dinda pun sangat marah, jelas-jelas Bundanya lah yang selingkuh dan lebih rendah dari mama nya.
Plak!!!
Dinda menampar keras Wajah Vino. Vino sangat terkejut.
"Dengar baik-baik Vino Vargantara Malik!!! Anda selama ini sudah di bohongi oleh Ibu Anda!! Anda tanyakan padanya siapa JUNA!! Dan satu lagi!! Mama saya bukan seorang Pelakor!!" ucap Dinda bersuara tinggi dan pergi meninggalkan Vino yang diam dengan seribu pertanyaan di hatinya.
"Juna?? siapa dia?" gumam Vino. Ia pun memutuskan sepulang kerja akan menanyakan hal ini pada Bunda nya.
****
Kia saat ini sedang sibuk di mejanya. Ia tengah memilah milih berkas-berkas yang akan di kirimkan ke kantor cabang yang berada di beberapa kota.
Tiba-tiba ia mendapat telepon dari Rako. Karena suasana sepi, ia pun mengangkat ponselnya.
"Hallo Assalamualaikum". ucap Kia lembut
"Waalaikumsalam sayank. Lagi apa?" tanya Rako lembut
"Lagi kerjalah Pak.. Kan masih jam dua siang".jawab Kia , Rako pun terkekeh dengan jawaban Kekasihnya itu.
"Oh rajinnya..''saut Rako menggoda di balik telepon. "Yank, jam 7 malam aku jemput di rumah kamu ya, kamu dandan yang cantik oke." lanjut Rako mengajak Kia pergi.
"Hah!? mau kemana emang??" tanya Kia bersuara pelan
"Ada dehh!! Aku jemput jam 7 ya..Mmmuaachh". ujar Rako dan menutup telponnya.
"Ih ngeselin banget sih!!" gumam Kia sendiri.
***
Dinda menghampiri Kia di meja kerjanya. Dan memeluk sahabatnya itu.
"Hei, kenapa Din?" tanya Kia lembut
"Aku kangen kamu Ki". jawab Dinda pelan dan masih memeluk Kia yang sedang duduk di kursinya.
"Sabar ya Sayang." .. ucap Kia lembut yang tahu kalau dia sedang bersedih.
Dinda pun melepas pelukanya, ia akhirnya bercerita intinya saja pada Kia mengenai status Dinda yang bukan anak kandung papanya. Kia sangat terkejut, ia langsung berdiri dan memeluk sahabatnya itu.
"Sabar ya Din, Allah sayang sama kamu. Kamu di pertemukan sosok Papa yang sangat baik!" ujar Kia lembut meneteskan air mata, Dinda pun menangis juga.
"Bantu aku ya Ki agar Vino tahu sebenarnya. Kasihan Papa, dia sangat merindukan Vino". ucap Dinda pada Kia.
"Iya Din, aku pasti bantu". saut Kia tersenyum.
****
Kia sudah berada di rumahnya. Ia sudah sampai dari jam 5 sore. Ia pun masih kepikiran perkataan Rako.
"Dandan yang cantik?? Huft.. aku bingung mau pakai apa!" gumam Kia sendiri sambil mencari-cari baju dilemarinya yang cocok untuk di kenakan nanti malam.
Akhirnya Kia menemukan sebuah gaun cantik berwarna merah. Dan dia akan mengenakannya untuk nanti malam.
Tak terasa sudah terdengar Adzan Maghrib. Kia pun melakukan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Selesai Sholat, ia langsung bersiap-siap sebelum Rako datang. Butuh waktu 30 menit ia berdandan, akhirnya Rako datang menjemput Kia.
"Assalamualaikum".. ucap Rako mengetuk pintu pelan
__ADS_1
"Waalaikumsalam". jawab Kia dan membukakan pintu. mereka saling pandang karena mengagumi satu sama lain.
"Ya ampun ganteng banget sih dia!!" batin Kia
"Cantiknya calon istriku". batin Rako tersenyum
"Ehem.." suara deheman Rako yang membuyarkan lamunan Kia. Kia pun menyuruh rako masuk.
"Sini masuk dulu, aku mau ambil tas".ucap Kia dan membalikan tubuhnya, Rako pun langsung menarik memeluk pinggang Kia dari belakang. Hingga mereka sangat dekat.
Mereka sungguh pasangan yang serasi. Kia yang gugup melepaskan pelukan Rako.
"Yank, lepas donk. Ayo berangkat!". ucap Kia berusaha melepas pelukan Rako. Akhirnya Rako melepaskan pelukannya.
"Kamu cantik banget yank". ucap Rako jujur menatap Kia. Kia pun tersipu malu
"Kamu juga tampan!". balasnya tersenyum, Rako pun ikut tersenyum.
Mereka sudah dalam mobil yang di kendarai oleh Rako sendiri. Kia yang berada di sampingnya sangat penasaran.
"Yank, kita mau kemana sih??" tanya Kia yang kesal, karena Rako tidak pernah menjawabnya.
"Kamu bawel ya. Nanti aku cium loh biar gak banyak tanya lagi". jawabnya terkekeh. Kia pun memajukan bibir nya.
Akhirnya dengan jarak 1 jam, mereka sudah tiba di restoran mewah yang sangat romantis. Rako menggandeng tangan Kia untuk berjalan bersama ke dalam Restorant itu. Mereka di sambut para pelayan dengan ramah. Rako menarik salah satu kursi untuk Kia duduki. Kia pun sangat senang dan langsung duduk di kursi tersebut. Rako pun ikut duduk berhadapan dengan Kia dalam satu meja yang sudah terisi hidangan mewahnya.
"Kamu siapin ini semua?'' tanya Kia tersenyum pada Rako.
"Iya donk. Kamu suka gak?" tanya Rako yang memang dia sudah mempersiapkan ini semua untuk Kia. Dia menyewa restorant itu hanya untuk dirinya.
"Suka banget yank.. Makasih ya". jawab Kia bahagia. Rako pun ikut bahagia.
Saat mereka sedang menikmati makan malamnya yang di iringi musik romantis, Mami Elina yang tak lain Orang tua dari Rako datang menghampiri mereka bersama Shiren.
"Hallo Sayank". sapa Mami pada Kia. Kia pun sontak mendongakan kepalanya melihat siapa yang menyapa. Ia langsung terkejut. Tubuhnya terasa kaku, jantungnya berdebar sangat kencang. Sedangkan Rako, ia tersenyum bahagia melihat kedatangan Maminya dan bersikap lembut pada Calon Istrinya. Kia langsung bangun dari duduknya dan memberi salam pada Ibu Rako itu. Mami mengulurkan tangannya kepada Kia dan tersenyum.
"Apa kabar Nak?".. ucap lembut Mami sambil mengulurkan tangannya pada Kia
"Sa..saya Baik Nyonya".. jawab Kia ramah dan menciumi punggung tangan Mami Rako. Mami sungguh terkejut dengan perlakuan Kia. Ia sungguh menyesali perbuatannya selama ini. Dan ia merasa sudah di hasut dan di bodohi oleh Lidya.
"Ayo duduk Mi, Dek".. ucap Rako pada mami dan Shiren. Mereka pun duduk bersama dalam satu meja makan di Restoran itu. Kia masih nampak kaku dan tegang. Rako menggenggam jemari Kia yang berada di paha Kia. Kia pun menoleh ke arah Rako dan Rako tersenyum menganggukan kepala seolah menenangkan Kia bahwa semua baik-baik saja. Kia pun tersenyum juga.
"Nak, maafkan sikap Mami selama ini ya sama kamu".. ujar Mami membuka suara dan menatap wajah Kia dengan tatapan sendu. Kia pun tak menyangka dengan sikap mami rako.
"Jangan panggil Mami nyonya sayang, panggil Mami seperti Rako dan Shiren. Mulai sekarang anggap Mami ini orang tuamu juga.." ucap Mami lembut dan tersenyum pada Kia. Kia pun bahagia mendengarnya.
"Baiklah Nyo..Mi.." ucap Kia kaku.
"Alhamdulillah, aku bahagia sekali hari ini. Hubungan kita sudah dapat restu orang tuaku sayank. Kebetulan Papi sedang ke Jepang untuk menemui keluarga Lidya. Bagaimanapun mereka juga harus tahu anaknya sudah di penjara." ucap Rako pada Kia. Ya, kia juga sudah tau kalau Lidya sudah di tangkap oleh Polisi sebelumnya.
"Terimakasih ya Mi.. Aku juga masih butuh bantuan Mami lagi". ujar Rako pelan. Kia pun menatap Rako mengerutkan keningnya. Rako tersenyum dan mengusap kepala Kia dengan lembut.
"Aku butuh Mami dan Papi melamar kamu ke Bandung sayank".. ujar Rako pada Kia, Kia pun membulatkan matanya.
"Mami sangat setuju sayang. Kapan kita ke rumah Calon mantu mami?" ucap Mami bahagia. Kia pun tampak sumringah.
"Asikkk..kita ke Bandung lagi!!" saut Shiren kegirangan yang membuat semua tertawa.
"Lagi?? Owh jadi kalian sudah pernah kesana dan Mami tidak di ajak?!" ucap Mami yang cemberut dibuat-buat. Kia pun merasa tidak enak.
"Kan waktu itu Mami masih jadi Soulmate nya nenek ganjen!" saut Shiren terkekeh, Rako pun tertawa.
"Ya sudah itu kan dulu. Dan Mami sangat menyesalinya". lirih Mami. Rako menggenggam tangan Mami.
"Terimakasih ya Mi.." ucap Rako lembut, Mami pun membalas genggaman rako.
"Maaf Mi, kalau Rako belum resmi bercerai dengan Mbak Lidya, apa boleh nantinya kita menikah?" tanya Kia lembut.
"Karena bagaimanapun keluarga ku pasti tidak akan setuju dengan pernikahan Sirih". ucap Kia kembali dan sendu. Rako pun mengerti. Karena kalau pernikahan itu resmi secara Hukum juga, harus ada persetujuan Istri pertamanya.
"Baiklah, kita tunggu aku resmi bercerai dengan Dia!". jawab Rako menatap Kia dan tersenyum. Kia pun menganggukan pelan kepalanya.
"Mami ingin bertemu dengan Keluarga kamu dulu apa boleh Nak?" ucap Mami lembut pada Kia. Kia pun menoleh ke arah Rako, Rako yang mengerti menganggukan kepalanya.
"Tentu saja Mi. Tapi.." jawab Kia ragu
"Tapi apa sayank?".. tanya Mami
"Tapi aku hanya tinggal bersama kakak ku Mi. Dan rumah Kakakku juga sederhana sekali." jawab Kia lirih dan menunduk. Mami pun mengusap punggung tangan Kia yang ada diatas meja di hadapannya.
"Sayang, Maafkan Mami kalau dulu Mami memandang kamu karena harta!. Dan sekarang, Mami tidak perduli dengan keadaan kamu, yang penting kamulah yang jadi Mantu Mami!". ucap Mami tegas dan tersenyum. Rako dan Shiren sangat bahagia melihat Maminya sudah berubah.
__ADS_1
"Terimakasih Mi".. ujar Kia berlinang air mata menatap Mami. Mami pun tersenyum.
Akhirnya mereka menikmati hidangan yang sudah ada di atas meja dengan nikmat.
****
Kia dan Rako kini sudah dalam perjalanan menuju rumah Kia. Setelah makan malam tadi, Mami dan Shiren pulang ke rumah utama menggunakan mobil lainnya dan di kendarai oleh supir pribadinya.
Di dalam mobil, Kia hanya diam. Rako melirik sekilas wanita disampingnya dan kembali lagi melihat ke depan.
"Sayank, kamu kenapa?" tanya Rako sambil menyetir. Kia pun menoleh ke arah rako yang disampingnya.
"Yank, kenapa kamu tidak ikut Papi kamu menemui Keluarga dia di Jepang?" tanya Kia yang dari tadi ingin ditanyakan.
"Oh jadi kamu mikirin itu". jawab lembut Rako yang sekilas melihat kekasihnya.
"Sayank, Lidya itu anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya juga perempuan yang aku juga tidak tahu dia dimana. Karena aku sendiri tidak pernah bertemu dengannya. Dan disana, orang tuanya sedang membuat sebuah Hotel. Papi yang menaruh sahamnya 30% pada orang tua Lidya ingin membicarakan perihal bisnis mereka, sekaligus membahas anak-anaknya. Jika nanti Papi mengatakan aku harus kesana, ya aku akan berangkat.". ujar Rako menjelaskan. Kia pun mengerti.
"Sayank, terima kasih yaa." ucap Kia lembut menatap Rako. Rako pun tersenyum.
"Untuk apa?" tanya Rako lembut melirik sekilas ke kia.
"Untuk semuanya.. Untuk kamu masih mencintai aku, untuk kamu yang memperjuangkan aku, untuk kamu yang selalu membuat aku bahagia".. jawab Kia sendu dan ia pun meneteskan air matanya.
"Hei sayank jangan menangis, aku yang berterimakasih sama kamu, karena kamu sudah setia menunggu Dudaku. Bahkan kamu tidak pernah membuka hatimu untuk pria lain!". ujar Rako jujur dan terkekeh
"Pede sekali kamu kalau aku setia menunggu kamu sampai Duda. Aku juga gak mau sebenarnya punya suami Duda. Tapi gimana ya.. kamu maksa sih". saut kia meledek Rako dengan wajah yang sedih dibuat-buat. Rako pun menepikan mobilnya di trotoar jalan. Kia pun langsung menoleh ke Rako.
"Loh kok berhenti?!" tanya Kia menatap Rako.
"Kamu menyesal ya menikah denganku yang nantinya jadi duda?" tanya Rako serius menatap wajah Kia. Kia pun kaget karena Rako menganggap ucapannya serius.
"Nggak gitu yank, aku hanya bercanda. Maaf.." ucap Kia lembut menatap Rako. Rako pun memalingkan wajahnya sendu.
"Sekarang aku tidak memaksa kamu. Aku sendiri sangat bahagia sudah lepas dari wanita itu. Jika kamu malu menikah dengan DUDA, aku tidak akan memaksakan kamu". ujar Rako datar dan menatap ke arah depan yang masih menepi di pinggir jalan.
"Yank, kamu bicara apa?? Aku hanya bercanda yank. Aku bahkan selama ini tidak pernah menyukai pria lain, karena aku masih sangat mencintai kamu..hiks." ucap Kia menangis. Rako pun diam.
"Yank, maafkan aku..aku hanya meledek kamu saja. Kalau kamu merasa ragu denganku, yasudah aku turun saja kalau begitu!". ucap Kia sendu dan tubuhnya menyerong ke arah pintu, saat ia ingin membuka pintu, Rako yang ternyata hanya berniat nge Prank Kia pun panik. Dia segera menarik lengan Kia.
"Sayank..sayank aku hanya Prank!" ujar Rako tersenyum. Kia pun membulatkan matanya.
"Apaa???Gak lucu tau gak..hiks..hiks..!!" saut Kia menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
"uuu tayaaang..maaf yaa.. aku seneng kamu bilang mencintai aku.." ujar Rako terkekeh sambil memeluk Kia yang berada disampingnya dengan posisi masih duduk di bangku mobil. Kia pun membalas pelukan Rako.
"Makasih ya Sayank.. Aku cinta banget sama kamu," ucap Rako lembut di telinga Kia.
"Hmm.." jawab Kia yang masih kesal namun dibalik pelukannya ia tersenyum senang. Rako hanya terkekeh mendengar jawaban kekasihnya.
****
Di balik kemesraan Kia dan Rako, ada wanita yang saat ini sedang berteriak-teriak di balik jeruji besinya.
"Keluarkan aku..!!!! Aku tidak salah!! Dia yang sudah merebut suamiku!!! Heiii Pak Polisii!!! Keluarkan aku!! tangkap perempuan Sialan itu!!! Aku pastikan dia tidak akan pernah bahagia!! HAHAAHA..." teriak Lidya di balik jeruji besinya.
Wanita itu sungguh terlihat memprihatinkan. Wajahnya yang tanpa make up membuat ia terlihat tua. Rambut yang acak-acakan dan berpakaian seragam tahanan.
"Nyonya., ada yang ingin bertemu dengan anda!". ucap seorang Polisi yang membuka sel Lidya dan memborgol kedua tangan Lidya untuk di tuntun berjalan menuju ruang terima tamu.
"Kakak!!".. ucap Adik perempuan Lidya yang berusia sekitar 23 tahun..Lidya pun sangat terkejut. Adik satu-satunya yang kabur dari rumahnya 4 tahun lalu kini ada di hadapannya. Dia kabur karena ingin di jodohkan oleh orang tuanya, seperti hal nya Kakaknya. Namun ia berbeda, ia menolak perjodohan itu. Karena ia ingin menikah dengan laki-laki yang ia cintai dan mencintainya juga.
Adik Lidya memeluk kakaknya.. Lidya pun menangis.
"Aku janji akan membalas mereka Kak..!".. ucap Adik Lidya dingin.
****
°
°
°
°
°
°
## Yuhuuu..aku update lagi nih... 😆..Kira-kira ada yang tahu siapa Adik Lidya ??😰
Simak terus yaa kelanjutannya... 😍
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yah Readers..💙
Terimakasih sayaankk 😙**