
Marwah Jingga kembali beraktifitas seperti biasa. Ia dan ibunya berusaha melupakan kedatangan Irma yang cukup menggangu pikiran mereka beberapa hari ini. Meskipun begitu mereka tak bisa melupakan perkataan perempuan itu kalau kedatangannya ke rumah itu atas suruhan ayah dari Marwah Jingga sendiri.
Pagi ini gadis itu mengantar sang ibu ke Rumah Sakit untuk melakukan kontrol kesehatannya. Saidah mewanti-wanti dokter untuk tidak memberitahukan pada putrinya kalau ia juga mengidap penyakit yang lebih parah daripada miom yang sedang dideritanya.
Ia tidak ingin menambah beban pikiran putrinya.
"Apa kata dokter Bu?" tanyanya pada sang ibu yang baru keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Yah begitulah nak. Kata dokter ya tetap harus diangkat. Tapi ibu minta sesudah lebaran saja supaya kita fokus beribadah di bulan suci ini nak." Saidah berucap dengan berusaha urusan tersenyum.
"Iya Bu." Marwah menurut saja. Yang penting ibunya sehat. Mereka pun pulang setelah menyelesaikan urusan pembayaran di apotik.
"Alhamdulillah, kamu masih ada uang untuk biaya pengobatan ibu dari hadiahi lombanya nak."
Marwah Jingga tersenyum. Ia baru menyadari kalau sebenarnya inilah yang terbaik untuk dirinya yang seharusnya ia syukuri.
Andaikan gadis itu benar-benar jadi pemenang pertama, ia mungkin tidak bisa merawat dan mengobati ibunya. Karena hadiah juara 1 adalah beasiswa untuk lanjut ke Universitas.
Pemenang pertama mendapatkan piagam dan piala. Akan tetapi ia tidak mendapatkan uang tunai seperti yang ia dapatkan sekarang.
Hum, Allah memang tahu yang terbaik untuk kita. Dia memberikan bukan apa yang kita inginkan akan tetapi apa yang kita butuhkan.
"Aku masih punya uang Bu. Bagaimana kalau kita mampir berbelanja untuk mengisi warung kita." Marwah memberi usulan pada ibunya setelah menghitung-hitung pengeluaran mereka sampai lebaran.
"Memangnya kamu masih punya uang nak?"
"Masih ada Bu. Ini juga supaya warung kita ramai kembali. Dan ibu tidak bosan juga tinggal di rumah."
"Oh iya, terserah kamu deh. Ibu ikut saja. Tapi bagaimana dengan baju lebaranmu?"
"Ah ibu. Aku ini bukan anak kecil yang selalu minta baju baru untuk lebaran. Baju lama kalau bersih insyaallah juga bagus kok."
__ADS_1
"Heh, tidak apa. Itu kan hasil dari apa yang sudah kamu kerjakan. Kamu harusnya juga beli nak meskipun yang sederhana saja. Untuk menunjukkan rasa syukur kita pada hari kemenangan."
"Iya deh Bu. Insyaallah akan ada rezeki kok. Lebaran juga masih ada seminggu. Masih lama."
"Eh, seminggu itu bukan waktu yang lama. Bisa-bisa semua persediaan toko sudah habis." Saidah masih saja bertahan untuk kemauannya itu. Ia kasihan pada putrinya yang untuk tampil nyanyi saja harus pinjam punya Risma.
"Iya Bu. Iya. Nanti kita belanja pakaian baru kalau semua urusan isi warung sudah selesai." Marwah pasrah. Ia akan membeli pakaian baru nantinya kalau ia masih ada uang. Mereka pun singgah Toko grosir langganan mereka.
Memilih barang-barang jualan yang seyogianya akan laku saat menjelang lebaran. Marwah meminta ibunya untuk duduk di depan toko saja sementara ia yang akan berbelanja.
"Eh, Idah. Lagi bersama siapa?" Sasmita yang datang bersama dengan putrinya langsung menegur Saidah yang sedang duduk di depan toko dekat tempat penitipan barang.
"Eh, Mita. Saya bersama Marwah, anak itu lagi belanja untuk kebutuhan warung."
"Oh, gitu ya. Kalau begitu saya akan menemani ibu disini sampai nak Marwah datang."
"Ih Mama gimana sih? Katanya mau belanja sama-sama." Putri mendengus tak suka. Ia tidak suka kalau ibunya dekat-dekat dengan perempuan tua yang sakit-sakitan itu.
"Putri, kamu belanja duluan gih. Kan sudah ada catatannya sama kamu." Sasmita menyuruh putrinya itu untuk masuk ke dalam toko dan meninggalkannya bersama dengan Saidah.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Sasmita seraya menggenggam tangan sahabatnya itu. Saidah tersenyum kemudian menjawab," Alhamdulillah. Seperti yang kamu lihat."
"Kamu sudah menyampaikan lamaran kami pada Marwah?"
"Sudah. Tapi anak itu belum mau menikah katanya. Masih belum mau meniggalkan saya Mit."
"Eh, memangnya dia menikah dengan orang dari luar negeri? Kita kan sekampung. Kita berdekatan. Saya cuma takut kalau Putra itu memilih istri yang tidak kami kenal."
Saidah terdiam. Ia sendiri tidak tahu kenapa Marwah tidak ingin menerima lamaran dari keluarga H.Ismail.
"Apa jangan-jangan putrimu sudah mempunyai pacar Dah?" Sasmita menatap sahabatnya itu dengan tatapan tanya.
__ADS_1
"Saya tidak tahu Mit. Marwah juga tidak mengatakan alasannya. Ia hanya bilang kalau ia tidak mau menikah muda."
"Oh gitu ya? Itu artinya lamaran kami ditolak dong."
"Maafkan Marwah ya Mit. Marwah adalah putriku satu-satunya. Saya tidak ingin memaksanya melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Kamu tahu kan cuma dia yang saya punya dalam hidup ku ini."
"Iya Dah. Nanti deh saya kasih tahu Mas Ismail. Soalnya beliau sudah sangat ingin melihat Putra segera menikah. Kasihan gak ada yang ngurus saat ia ada pekerjaan seperti ini di ibukota."
"Ah iya Mit. Maafkan kami ya." Saidah merasa sangat tak nyaman karena telah menolak keinginan sahabatnya ini.
"Tak apa Dah. Kalau jodoh pasti deh kita akan bertemu lagi sebagai besan hehehe." Sasmita terkekeh untuk menutupi rasa kecewanya. Ia sangat suka akan Marwah Jingga dan untuk itulah ia ingin menjadikannya sebagai menantu.
Sementara itu di dalam Toko, Putri Ayuningtyas dan Marwah Jingga bertemu di deretan rak bahan-bahan kue. Diantara mereka hanya saling menyapa dengan saling melempar tatapan mata. Marwah sedang malas berbasa-basi dengan orang yang selalu mengganggunya sejak dibangju sekolah sampai sekarang.
Beberapa pelanggan toko yang pernah ikut menonton kompetisi mereka beberapa saat yang lalu di alun-alun langsung mengenali mereka berdua.
"Wah gak nyangka bisa ketemu Mbak Marwah Jingga, minta foto dong," ujar salah seorang diantara mereka.
"Mbak Marwah gak tahu ya, kalau video kakak waktu tampil ramai di medsos?" ujar gadis itu setelah selesai mengambil gambar dengan dirinya.
"Masak sih? aku gak pernah lihat karena gak punya hape hehehe," jawab Marwah terkekeh. Putri Ayuningtyas yang ada di sana langsung merasakan kupingnya memerah. Ia yang juara 1 malah tidak ada yang menegur atau meminta berfoto bersamanya. I Kesal.
"Heh, baru dapat juara harapan 1 saja sombongnya minta ampun. Aku aja yang juara satu dan udah dapat tawaran rekaman santai-santai saja tuh." timpalnya dengan wajah marahnya. Beberapa orang yang ada didalam tempat itu langsung melihat kearahnya.
Entah kenapa merasa semua langsung bubar. Tidak ada yang mau menggubris perkataan gadis itu. Mereka semua berpuasa dan tidak ingin membatalkan puasa mereka jika bertemu dengan orang seperti Putri Ayuningtyas yang suka mencari masalah.
Putri Ayuningtyas mencibir dan meninggalkan trolleynya dengan marah. Ingin rasanya ia mempermalukan Marwah Jingga di depan orang banyak tapi sekarang ia lah yang jadi malu sendiri.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍