Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 50 Rindu Yang Menggunung


__ADS_3

"Kenapa sayang? Kamu tidak senang aku datang?" tanya Putra seraya membuka kedua tangannya ingin memeluk istrinya itu. Marwah tersenyum kemudian melangkah mendekat. Ia masuk ke dalam pelukan suaminya itu dengan tangis sesenggukan.


Setelah itu ia cepat-cepat melepaskan dirinya karena tersadar kalau mereka sedang berada di halaman rumahnya. Dan tentunya masih banyak orang yang sedang lalu-lalang dan mungkin melihat mereka dalam keadaan seperti itu.


"Hey, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Putra dengan wajah bingung. Marwah menundukkan wajahnya malu. Ia tidak mungkin mengatakan kalau ia menangis karena terlalu bahagia rindunya pada pria itu sudah terobati.


"Putra?"


"Iya, Ma. Assalamualaikum." jawab pria itu dan langsung menyalami mama dan papanya. Sasmita dan H. Ismail nampak sangat kaget dengan keberadaan anak laki-lakinya itu di tempat itu.


"Kok tiba-tiba ada disini nak? Sengaja kasih kita kejutan ya?" tanya Sasmita seraya meminta putra kesayangannya itu untuk duduk.


"Iya Ma, aku sengaja mau bikin kejutan tapi tenyata akulah yang terkejut," jawab pria itu dengan tatapan mata tak lepas dari wajah istrinya yang sedang menunduk.


"Aku sampai di rumah kok sepi banget, semua orang pada kemana, begitu tanyaku. Untungnya ada mbak Jum Yann ngasih tahu kalau kalian semua ada di rumah ini," lanjutnya dengan senyum diwajahnya.


"Iya nak. Tadinya sih istrimu udah sampai di rumah, tapi karena sedikit miss komunikasi jadilah berakhir seperti ini," jawab Sasmita ikut tersenyum.


"Miss komunikasi seperti apa ma?" tanya Putra penasaran. Ia menatap semua orang yang ada di hadapannya itu bergantian.


"Ah gak. Cuma masalah pintu rumah yang terkunci saat mereka datang. Mama dan Papa ketiduran jadi istrimu berinisiatif untuk pulang ke rumah ini saja. Lagipula katanya ibu Idah juga udah sangat rindu dengan rumah dan tempat tidurnya jadi terpaksa lah kita semua kesini. Begitu tuh ceritanya."


"Oh gitu? Terus kok malah sangat ramai seperti ini ma?" Putra kembali memandang ke sekeliling halaman rumah yang masih cukup ramai oleh beberapa pelayan dari rumahnya.


"Karena mama sudah masak banyak kami pun mengundang semua tetangga untuk datang ke rumah ini merayakan syukuran atas keluarnya Ibu Saidah dari rumah sakit," jelas Sasmita dengan lengkap.


"Oh iya ma. Itu bagus sekali, semua tetangga pasti juga akan senang melihat ibu mertua sudah lebih baik daripada kemarin-kemarin," ujar Putra dengan wajah gembiranya. Betul kata mamanya, ia memang sangat suka untuk berbagi kepada orang lain.


"Kamu pasti capek dan lapar nak. Apa kamu ingin makan?" tanya Sasmita pada sang putra.


"Iya, mas. Kamu pasti lapar dan juga butuh istirahat," ujar Marah menimpali. Putra tersenyum dan meraih tangan istrinya kedalam genggamannya.


"Iya ma, aku memang lapar dan ingin makan tapi aku ingin bersama dengan istriku ini." Sasmita tersenyum kemudian menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.


"Hum, beginilah kalau orang sedang jatuh cinta Mama dan Papa sudah tidak dipedulikan. Makan pun harus bersama dengan istri," gerutu Sasmita berpura-pura kesal.

__ADS_1


"Ih mama jangan berkata seperti itu, tapi aku memang sudah lama rindu dengan Marwah ma Pa. Aku ingin makan bersamanya hanya berdua dibawah sinar bulan purnama malam ini. Boleh kan Ma Pa?"


"Ya Allah anak ini. Baiklah. Silakan makan. Kami juga sudah bersiap untuk pulang. Malam juga sudah sangat larut.


"Iya ma." Putra pun berdiri dari duduknya dan membawa Marwah untuk ke sebuah meja prasmanan yang masih terpasang di depan halaman rumah Istrinya itu.


Sedangkan H, Ismail dan istrinya pun berpamitan kepada Saidah dan beberapa orang yang masih berada di rumah itu. Kang Udin pun akhirnya pergi juga dari sana untuk mengantar pulang majikannya meskipun ia belum rela. Hanya ini kesempatannya bersama dengan Risma, entah besok. Ia tidak punya lagi alasan untuk bertemu dengan gadis itu lagi.


"Ris, kamu masih tinggal di sini enggak?"


"Gak kang. Semua urusan sudah beres jadi aku juga ingin pulang ke rumah sendiri. Aku pengen tidur karena capek dan ngantuk banget." Risma menguap. Ia sudah bisa membayangkan kasur empuk dan bantalnya sudah berada dalam kuasanya.


"Selamat malam Risma. Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih karena kamu mau menemani aku dan menjadikan aku sebagai temanmu. Jangan khawatir aku tidak akan merebutmu dari dokter Abdillah jika kamu tidak ingin." Risma langsung tertawa terbahak-bahak


"Tentu saja kang Udin. Jangan berani-berani mengganggu hubungan kami ya," ujarnya dengan jari telunjuk bergoyang-goyang didepan wajahnya. Udin langsung meringis. Ia tahu kalau hatinya sangat sakit saat ini tapi bagaimanapun juga ia harus menerimanya. Risma lebih menyukai dokter muda itu daripada dirinya yang bukan siapa-siapa. Pria itu pun pergi membawa mobil bersama dengan Haji Ismail dan Sasmita. Risma juga berpamitan setelah kepergian mereka.


Sedangkan Putra dan Marwah masih bersama di sana. Mereka berdua makan di halaman rumah itu dibawah sinar bulan dan juga cahaya lampu yang tidak begitu terang.


"Gimana dengan Ibu sayang. Apa memang sudah baikan sampai harus pulang dari rumah sakit,?" tanyanya pada sang istri tercinta.


"Alhamdulillah kalau begitu. Mudah-mudahan ibu selalu merasa seperti itu. Selalu merasa sehat dan juga lebih kuat lagi."


"Iya Mas" jawab Marwah sembari memakan makanan yang ada di piringnya. Putra pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua makan dengan tenang.


Pria itu nampak sangat bahagia karena bisa bertemu kembali dengan istrinya. Makan berdua di tempat yang sangat sederhana seperti ini saja rasanya sangat luar biasa jika ditemani dengan seseorang yang sangat dirindukan.


Seminggu tidak bertemu rasanya sudah seperti bertahun-tahun lamanya. Rindunya sudah sangat menggunung. Ia tak berhenti menatap istrinya yang sedang makan itu sampai Marwah jadi grogi sendiri dan tersedak.


"Hati-hati sayang. Nih minum dulu," ujar Putra sambil menyerahkan segelas air putih kepada istrinya.


"Iya mas makasih banyak. Kamu selalu menatapku sih jadi aku tidak konsentrasi makan," ujar Marwah dengan pipi menghangat malu.


"Hahaha, sayang, kamu benar-benar menggemaskan. Marwah, Aku ingin sekali memelukmu sayang." Putra jadi merasa sangat lucu sendiri.


"Mas, masih banyak orang di sini kamu tidak malu apa?"

__ADS_1


"Kenapa harus malu kamu kan istriku," jawab Putra dengan tatapan tak lepas dari wajah istrinya.


"Iya Mas, tapi ini tidak seperti di kota mas. Ini di kampung. Apa kata orang nanti. Apalagi kita kan juga belum resmi berpesta. Jadi mungkin banyak orang yang tidak tahu kalau kita sebenarnya sudah menikah."


"Oh jadi kamu ingin pernikahan kita di pestakan sayang?"


"Ah enggak gitu Mas. Maksud aku. Aku masih malu sama orang-orang di sini mas. Mereka belum pernah melihat kita duduk di pelaminan dan tiba-tiba saja berpelukan di depan orang. Aku malu."


"Baiklah. Gimana kalau kita adakan pestanya besok saja," ujar Pria itu dengan santainya. Seolah-olah membuat pesta itu seperti membalikkan telapak tangan saja.


"Ya ampun Mas. Bagaimana mungkin? Acara makan-makan hari ini saja sudah membuat seluruh tubuhku ini sangat lelah melayani semua orang."


"Ya kan besok kamu hanya berdiri sebagai pengantin dan tidak harus melayani orang sayang," ujar Putra dengan ekspresi yang sama, yaitu santai. Ia cukup merasa bersalah juga kalau ia tidak membuat acara besar untuk pernikahannya yang sangat dadakan itu tempo hari.


"Ah sudahlah mas. Kalian orang kaya memang selalu menggampangkan semua urusan. Ayo makan lagi" ujar Marwah dengan wajah berpura-pura sangat kesal.


Putra tertawa lagi kemudian berucap, "Marwah, aku merindukanmu sayang."


"Tuh kan, Jangan ucapkan di sini mas. Malu tauk, masih banyak orang tuh yang membersihkan ini dan itu."


"Lalu aku harus mengatakan apa Marwah? Aku memang sangat merindukanmu sayang." Putra masih saja berusaha untuk menggoda istrinya yang semakin bertambah cantik kalau kesal.


"Kan bisa mas ucapkan di dalam kamar saja. Gak Usah di tempat ini."


"Oh, gitu ya, kalau begitu, Cepat habiskan makanmu. Aku ingin mengucapkan rindu di dalam kamar saja."


"Eh?"


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2