Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 51 Takut Gempa Lokal


__ADS_3

Malam semakin larut. Suasana di sekitar rumah itu sudah mulai lengang dan sepi. Semua pelayan yang ikut membantu pada acara syukuran makan-makan itu sudah pulang ke rumah Haji Ismail.


Semua perlengkapan makan yang sudah mereka gunakan pun sudah bersih dan ditata dengan rapi di atas mobil Kang Udin. Setelah itu mereka pergi meninggalkan rumah itu. Putra dan Marwah pun masuk ke rumah mereka.


"Silahkan duduk mas," ujar Marwah mempersilahkan suaminya itu untuk duduk. Pria yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di rumahnya itu tersenyum dan mengikuti permintaan istrinya.


"Maaf mas. Rumahnya sangat sederhana. Kursinya saja cuma kursi plastik dan tidak ada empuk-empuknya," ujar Marwah lagi.


Putra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan memandang ke sekeliling ruangan tamu yang berukuran 3X4 itu.


"Ibu sudah tidur ya?" tanya Putra.


"Iya Mas. Sepertinya Ibu sudah tidur," ujar Marwah setelah mengintip kedalam pintu kamar sang ibu. "Ibu pasti sudah sangat kelelahan. Dan lihat mas, jam sekarang sudah menunjukkan pukul 10.00 malam." lanjut gadis itu seraya duduk didepan suaminya.


"Oh iya. Ibu memang harus cepat tidur. Ia butuh lebih banyak istirahat," kata Putra seraya menatap istrinya itu dengan senyum diwajahnya. Marwah hanya menunduk karena merasa tatapan suaminya itu mengandung makna yang sangat dalam. Mereka berdua akhirnya saling diam-diaman dengan debaran jantung yang seakan ingin meledakkan dada mereka.


"Kamar kita yang mana?" tanya Putra setelah lama terdiam.


"Kamar aku ada di sebelah kamarnya Ibu Mas. Apa mas sekarang mau istirahat?"


"Ya boleh juga. Aku ingin meluruskan punggung. Terbang selama 2 jam kemudian dilanjut ke sini naik mobil selama 3 jam perjalanan. Aku rasa sangat cukup membuat punggungku rasanya sakit. Aku ingin berbaring."


"Iya mas, mari kita ke dalam." Marwah pun berdiri dari duduknya dan membawa suaminya masuk ke kamarnya yang sangat kecil dan sempit. Pria itu, membuka kamar itu dan melihat bahwa ranjang Marwah hanya untuk satu orang saja. Ia tetap berdiri di pintu dan tidak melangkahkan kakinya untuk masuk.


"Kenapa mas? Kenapa kamu tidak masuk katanya lelah mau istirahat. Putra meringis. Ia meremas tengkuknya kemudian memaksakan kakinya untuk masuk.


Udara di dalam kamar itu pun sangat panas yang membuatnya semakin merasa kegerahan.


"Marwah, apa aku boleh membuka jendelanya?" tanya pria itu meminta izin. Marwah mengangguk setuju.


"Silahkan mas. Kamar ini juga sangat panas dan juga sangat sempit. Maaf mas, kamu jadi tidak bisa istirahat dengan nyaman," ujar sang istri dengan wajah tak nyaman. Putra pun membuka daun jendela itu hingga membuat angin malam berhembus masuk.


Mereka berdua pun merasakan sedikit kesegaran di dalam kamar sempit itu. Ruangan itu pun tidak terasa pengap lagi. Dengan udara yang sedikit itu sudah langsung membuat mereka merasa lebih nyaman.


Putra pun duduk di atas ranjang kecil itu seraya memanggil Marwah untuk duduk bersamanya.


"Sayang, kalau aku tidur di sini, kamu tidur di mana?" tanyanya seraya menggenggam tangan sang istri. Marwah tersentak kaget. Ia baru sadar kalau ranjangnya memang sangat kecil dan hanya cukup untuk satu orang.


"Ranjangnya sangat kecil ya mas, maaf ya." Marwah semakin merasa sangat tidak nyaman melihat kondisi kamarnya saat ini.


"Mas tidur di sini aja biar aku tidur bersama ibu, gimana?" usilnya setelah lama terdiam. Putra langsung melotot mendengarnya.


"Hay, memangnya aku akan membiarkan kamu tidur bersama ibu malam ini? Jauh-jauh aku dari kota ke sini hanya ingin tidur bersamamu, lalu kamu ingin tidur bersama ibumu? Tega sekali?" Pria itu menatap Marwah dengan tajam.

__ADS_1


Marwah langsung menundukkan wajahnya tak nyaman. "Maaf Mas tapi kan kalau aku tidur di sini kamu jadi tidak bisa istirahat. Dan juga tempat tidur Ibu lebih luas kok."


"Sayang, walaupun tempat tidur ini sempit, tapi kita kan bisa tidur berdua Marwah. Gimana? Kamu mau kan?" ujar Putra seraya membawa tangan istrinya itu ke bibirnya. Ia mengecupnya dengan sangat lembut menimbulkan sebuah perasaan aneh dari dalam tubuh Marwah.


"Aku takut Mas," cicit gadis itu dengan suara pelan.


"Kenapa?" Putra nampak bingung dengan jawaban istrinya.


"Aku takut ranjangnya roboh mas. Ini adalah ranjang yang sudah lama dan mungkin sudah lapuk aku lihat papan dan tiangnya saja sudah hampir roboh kalau kita tidur berdua." Marwah menatap suaminya yang lumayan tinggi dan juga besar. "Apa tidak akan menimbulkan gempa lokal mas?" tanya gadis itu dengan wajah polosnya yang langsung membuat suaminya tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha." Putra benar-benar merasa lucu. Ia sampai memegang perutnya tertawa karena tidak tahan dengan kelucuan istrinya. Sungguh, ia tidak pernah membayangkan bahwa malam pertamanya dengan istrinya akan berakhir seperti ini.


Membayangkan tidur di ranjang sempit dengan derit ranjang yang pastinya akan sangat ribut padahal mereka belum melakukan apa-apa, ia semakin ingin tertawa lagi.


"Oh ya ampun!" Putra mengelus wajahnya kasar. Tubuhnya yang gerah rasanya ingin ia guyur dengan air hangat. Sungguh, ia ingin mandi untuk lebih merilekskan tubuhnya. Dan sepertinya malam ini ia harus bersabar lagi.


Marwah sangat mengerti perasaan suaminya. Ia pun berucap, "Mas maafkan aku ya karena kamu menikahi perempuan yang sangat miskin dan gak punya apa-apa."


"Hey. Jangan berkata seperti itu sayang. Aku mencintaimu apa adanya. Hanya karena ranjang sempit ini saja jangan sampai membuatmu sangat khawatir seperti itu. Kita kan bisa ke rumah mama dan papa malam ini," ujar Putra seraya mencubit ujung hidung istrinya.


"Tempat tidurku di sana sangat luas dan juga empuk. Kita bisa bebas melakukan apa saja di atasnya." lanjut pria itu dengan senyum samar diwajahnya.


"Ya Allah, mas. Aku sangat malu sama mama dan papa kalau kita akhirnya menginap malam ini disana," ujar Marwah dengan pipi menghangat.


"Kenapa harus malu? Itu kan rumah kita juga. Kamarku dan tempat tidurku adalah milikmu juga Marwah."


"Tapi mas, oh ya ampun aku malu," ujar Marwah seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kita ini suami istri sayang. Daripada kita tidak bisa tidur malam ini dan hanya duduk saja lebih baik kita mencari tempat yang nyaman bukan?"


"Iya mas, tapi bagaimana dengan Ibu apa kita harus meninggalkannya di rumah ini sendirian?" tanya Marwah dengan wajah khawatirnya.


"Tidak apa-apa sayang. Ibu pasti sangat nyenyak malam ini. Dan kita mungkin bisa pulang saat subuh sebelum Ibu bangun."


"Aduh mas. Itu kan sangat menyiksa sekali." Marwah tampak meringis dengan ide suaminya itu.


"Trus bagaimana kalau kita ke hotel?"


"Hotel nya lebih jauh lagi mas daripada rumah mama dan papa." Mereka berdua terus saja sibuk mendiskusikan tempat mana yang akan mereka datangi malam ini untuk tidur


"Kalau begitu nggak usah ke hotel kita ke rumah saja, oke?" Marwah terdiam dan mulai berpikir lagi.


"Marwah, punggung ku sangat sakit saat ini sayang. Apa kamu tidak kasihan padaku? Aku ingin tidur nyenyak di atas kasur yang empuk dan memelukmu." ujar Putra kemudian mencium pipi istrinya.

__ADS_1


Marwah tersentak kaget dengan aksi tiba-tiba dari suaminya itu. Ia menatap wajah tampan pria itu sambil berpikir lama. Ia menimbang-nimbang, memikirkan banyak hal tentang ibunya tentang ibu mertuanya dan tentang semua penghuni rumah itu.


Entah akan ditaruh di mana mukanya jika orang-orang di rumah itu mengetahui kalau tengah malam begini mereka datang untuk menginap. "Marwah jangan terlalu lama berpikir. Ayo cepat!" Putra berdiri dari duduknya dan menarik tangan Istrinya untuk mengikutinya.


"Mas, bagaimana dengan ibu?" tanyanya seraya mengintip ibunya lewat celah pintu kamar perempuan paruh baya itu.


"Tidak apa-apa sayang. Sungguh, aku berjanji akan pulang ke sini sebelum Ibu bangun bagaimana?"


"Ah iya Baiklah mas." Akhirnya Marwah setuju. Ia pun mengikuti langkah suaminya mengendap-ngendap keluar dari rumah.


Mereka menutup pintu rumah itu dari luar dan menguncinya karena mereka tidak ingin membangunkan Saidah yang sedang beristirahat.


Malam itu mereka pergi ke rumah Haji Ismail dan juga Sasmita dengan menggunakan mobil pria itu sendiri. Untungnya ia meminta orang dirumahnya untuk membawakannya mobil.


Kendaraan roda empat itu pun memasuki pagar rumah mewah itu setelah dibukakan pintu oleh satpam yang berjaga di sana. Marwah mengikuti langkah suaminya memasuki rumah itu yang ternyata belum terkunci.


Putra menggandeng tangan istrinya itu ke arah tangga karena kamarnya ada di lantai 2. Setelah sampai di depan kamarnya, Putra langsung membuka pintu kamar itu dan mempersilahkan Marwah untuk masuk.


"Masuklah istriku sayang," ujarnya dengan senyum mengembang. Marwah balas tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke kamar suaminya.


Ia benar-benar tampak sangat takjub melihat kamar yang begitu luas, bersih, dan juga rapih setelah lampu dinyalakan.


"Nah kamu lihat sendiri kan tempat tidurnya sangat besar. Kita bisa melakukan apa saja di sini sepanjang malam," ujar Putra yang langsung membuat Marwah merasakan dadanya berdesir.


Ya Allah, apakah malam ini aku akan melakukan itu dengan Mas Putra? ujarnya dalam hati.


"Hei, apa yang kamu pikirkan sayang? Apa kamu membayangkan ranjang itu akan menjadi saksi Apa yang akan kita lakukan malam ini?" tanya Putra dengan tatapan anehnya.


Marwah langsung memukul lengan suaminya dengan menggunakan bantal.


"Mas, kamu benar-benar mesum!" Putra tertawa kemudian menarik tangan istrinya ke arah kamar mandi.


"Bersihkan dirimu dulu sayang, kamu sepertinya bau asem." Marwah mengerucutkan bibirnya kesal.


"Mas, kamu suka menggoda aku!" teriak gadis itu yang langsung membuat pria itu kembali tertawa.


Ia begitu senang dan ia pastikan Marwah akan menjadi miliknya malam ini.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2