
"Mas, Marwah ternyata menolak lamaran kita padanya" lapor Sasmita pada suaminya yang baru saja menutup Mushaf yang baru saja dibacanya.
"Kenapa? Apa alasannya?" Ismail membuka kacamatanya dengan tatapan lurus pada wajah istrinya.
"Katanya ia belum mau menikah. Dan ingin melanjutkan sekolah. Eh, ibunya juga tak ingin ia tinggalkan." Perempuan itu menyebutkan alasan gadis itu satu persatu dengan wajah muram.
"Ya kalau begitu, gak usah. Kita cari gadis lain atau kita minta Putra sendiri yang mencari jodoh untuknya sendiri."
"Ih, saya tidak mau mas. Saya suka sama Marwah. Dan ia harus menjadi menantuku. Ibunya itu sudah sakit-sakitan. Siapa yang akan menjaganya kalau Idah mungkin pergi lebih dulu dan meninggalkannya sendiri," kekeh Sasmita tak mau mengalah. Perempuan paruh baya itu ingin suaminya membantunya memaksa gadis itu. Ismail hanya bisa menarik nafas panjang.
"Ya masak kita harus memaksa sih kalau orangnya tidak mau. Kamu ini ada-ada saja," ujar pria itu mengerti tentang keinginan istrinya. Sungguh, Pria itu juga sangat menginginkan Marwah menjadi menantunya tapi kalau orangnya tidak mau apa mungkin mereka akan memaksa?
"Mas, pokoknya atur bagaimana caranya supaya Marwah mau menerima lamaran kita." Sasmita masih saja memaksa. Ia belum ingin mundur sebelum berusaha sampai garis finish.
"Oh jadi Marwah yang ingin Mama dan Papa jodohkan dengan Kak Putra?" tanya Putri dengan wajah kagetnya. Ia yang menguping pembicaraan kedua orangtuanya ikut nimbrung karena tidak tahan.
"Iya. Memangnya kenapa?" Sasmita menjawab dengan balik bertanya.
"Kak Putra baru saja chat Aku Ma. Katanya ia sudah punya calon istri dan ia akan melamarnya sendiri saat lebaran nanti."
"Apa?" Ismail dan istrinya tampak sangat kaget dengan ucapan putri keduanya itu. Mereka tak menyangka kalau Putra berani mengambil keputusan itu tanpa memberi tahu mereka sebagai orang tua.
"Iya Ma Pa. Dan aku juga sangat tidak setuju kalau Marwah yang akan dijodohkan untuk kakak. Marwah itu munafik. Kelihatannya sangat baik padahal apa? Ia cuma berpura-pura baik di depan semua orang!" tegas Putri dengan wajah mengeras marah.
"Heh kok kamu ngomongnya kayak gitu sih nak. Marwah itu anak baik. Ia jujur dan juga rendah hati." Sasmita langsung menatap tajam pada putrinya.
"Aku ini ngomong yang benar Ma. Aku tidak bohong. Marwah itu selalu nampak baik di depan semua orang padahal dia sebenarnya sangat busuk!"
"Putri! Jaga mulutmu!" Sasmita berteriak dengan keras pada putrinya. Baginya Marwah adalah putrinya sendiri. Dulu, waktu masih bayi, ia sering menggendong anak itu saat Saidah pergi ke pabrik untuk bekerja.
"Tuh kan, mama gak adil. Mama lebih sayang Marwah daripada aku, anak kandung mama sendiri!" Gadis itu langsung pergi dari hadapan kedua orangtuanya dengan marah.
__ADS_1
"Lho kok gitu sih? Apa saya salah mas?" Sasmita merasa tak nyaman. Ia memandang suaminya dengan tatapan tanya.
"Gak usah dipikirin. Kamu sudah lihat sendiri 'kan kalau Putra sudah punya calon sendiri. Jadi tugas kita sudah tidak berat lagi. Kita tunggu saja anak itu datang dan memperkenalkan calon istrinya pada kita. Beres 'kan?" Ismail mengangkat kedua tangannya menyatakan semua urusan telah selesai.
"Tapi Mas, saya belum rela. Cuma itu cara ku menyambung silaturahmi sama Idah." Perempuan itu berucap dengan wajah kembali muram.
"Sudah Ma. Kita bisa menjalin silaturahim dengan mereka tidak harus lewat pernikahan. Kita bisa memberinya beasiswa atau santunan. Dan itu lebih baik lagi."
"Bukankah Marwah mau melanjutkan pendidikannya?" lanjut pria paruh baya itu dengan tatapan lurus pada wajah istrinya yang sedang menunduk.
"Ah iya Mas. Tapi 'kan saya tidak rela kalau ia dinikahi sama orang lain."
"Astagfirullah Mama. Gak baik terlalu memaksa seperti itu. Ada banyak rintangannya kedepan kalau kita terlalu memaksa. Pertama, Marwah tidak mau. Kedua, Putra juga tidak mau. Ketiga Putri lebih-lebih tidak mau. Semua persyaratan pernikahan itu tidak ada yang terpenuhi sayang."
"Baiklah. Kalau begitu antar saya ke rumah mereka. Saya akan mencabut lamaran ini."
"Hahaha, gak perlu dicabut. Toh mereka tidak pernah setuju." Ismail tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah. Kalau begitu bersiaplah. Kita akan ngabuburit di rumah calon besan yang tidak jadi, hahahaha." Ismail kembali tertawa. Dan istrinya kembali mencebikkan bibirnya.
Pria itu berdiri dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya. Jarak rumahnya dengan rumah Saidah sekitar 1 kilometer. Udin langsung menaikkan beberapa kantong berisi sembako ke atas perintah
Sasmita.
🌻
Saidah memperhatikan putrinya yang sedang mengobrol dengan seorang pemuda di depan warungnya. Entah kenapa ia begitu curiga dengan pria muda yang sedang memakai peci dan juga baju Koko itu.
Perempuan paruh baya itu pun keluar dari warungnya dan mendekati mereka berpura-pura membuang sampah plastik yang ia paksa ambil dari warungnya.
"Kalau ada tamu, dibawa duduk di dalam rumah," tegurnya pada dua orang muda-mudi itu. Ia tidak suka melihat putrinya mengobrol dengan seorang pria.
__ADS_1
"Eh iya Bu. Ayuk Ga. Kita masuk dulu. Duduk di dalam."
"Iya makasih Wa'," ujar pria itu dengan senyum diwajahnya. Ia pun meminta izin pada perempuan paruh baya itu untuk masuk ke dalam.
"Aku mau ngajak kamu ke acara takbiran di depan alun-alun nanti," ujar pria yang bernama Airlangga itu. Pria itu adalah salah satu pengurus remaja masjid di kampung itu.
"Duh maaf banget ya Ga. Aku gak bisa ikut. Malam takbiran mana bisa ciwik-ciwik keluar rumah." jawab Marwah tersenyum.
"Kenapa?" tanya Airlangga pura-pura tidak mengerti.
"Malam takbiran itu, para ciwik-ciwik itu masak ketupat, bersih-bersih rumah, dan lain-lain. Jadi gak bisa maaf ya Ga."
"Ah iya deh. Kalau gitu, saat mengantar zakat kamu mau ikutan?" Sepertinya Airlangga tidak kehabisan ide. Ia tetap saja mencari cara untuk mengajak gadis itu keluar.
Marwah tampak berpikir. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada pria dihadapannya ini. Ia ingin menolak tapi tak enak hati.
"Gimana? mau gak? Kasihan lho teman-teman yang lain kalau kamu gak bisa ikutan."
"Duh gimana ya? Aku bukan gak mau tapi ibuku kurang sehat. Aku bisa pergi jauh-jauh. Maaf sekali lagi ya," ujar Marwah dengan wajah tak nyaman. Airlangga adalah pacar dari Putri Ayuningtyas dan ia tidak mungkin mengikuti kemauan pria itu.
"Assalamualaikum." Kedua orang itu tersentak kaget dan langsung melihat ke arah pintu. Ismail dan Sasmita menatap mereka berdua dengan tatapan tak terbaca.
"Waalaikumussalam. Silahkan masuk Tante, Om."
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍.
__ADS_1