Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 8 Pertemuan Kedua


__ADS_3

"Hati-hati nak. Ingat untuk pulang sebelum lebaran." Sasmita mengingatkan putranya sebelum ia keluar dari rumah subuh hari itu. Putra sulungnya itu akan ke ibukota untuk urusan pekerjaan. Ia akan ikut pada penerbangan pertama sebuah maskapai.


"Insyaallah Ma, doakan semoga urusan saya lancar , Aamin." Pria muda itu tersenyum seraya mencium pipi sang ibu.


"Dan ingat, Kamu jangan cari perempuan lagi untuk dijadikan istri ya," ujar Ismail Wijaya pada putranya itu.


"Ya ampun Pa, kenapa?" Putra tersenyum lucu. Ia heran dengan kedua orangtuanya itu. Beberapa bulan yang lalu, ia dipaksa untuk segera mencari calon istri sekarang malah mendapatkan larangan. Ia semakin bingung saja.


"Karena kami sudah mendapatkan calon istri untukmu. Kami sudah melamarnya semalam." Ismail menjawab dengan senyum lebar diwajahnya. Nampak sekali kalau ia begitu bangga dengan apa yang sudah ia lakukan.


"Hah! Sudah melamar tanpa sepengetahuan saya?" Putra Adam bertanya dengan wajah kagetnya. Ismail dan Sasmita mengangguk bersamaan.


"Sudahlah. Nanti kamu ketinggalan pesawat. Sana cepat berangkat. Yang penting habis lebaran kalian akan menikah." Ismail menepuk bahu putranya itu dengan pelan. Ia ingin menutup pembicaraan ini setelah menyampaikan niatnya.


"Pa Ma, saya berangkat ya Assalamualaikum." Pria itu pun tidak ingin lagi bertanya tentang lamaran itu meskipun hatinya sangat tidak setuju. Ia tidak ingin menikah dengan perempuan yang ia tidak kenal sebelumnya.


"Hati-hati bawa mobilnya Din!" ujar Ismail pada Udin yang akan membawa putranya itu ke Bandara.


"Iya Pak haji." Udin pun melajukan mobil itu keluar rumah di saat subuh masih menyelimuti kota kecil itu. Sekitar 1 jam perjalanan harus mereka tempuh untuk sampai di Bandara. Sedangkan ia sudah harus check ini jam 6 pagi. Untuk itu ia harus berangkat sebelum sholat subuh.


"Din. Berhenti sebentar," pinta pria itu saat melewati musholla tak jauh dari rumahnya.


"Kita sholat di sini saja Din."

__ADS_1


"Gak takut telat nih den?" tanya Udin dengan tatapan tanyanya.


"Insyaallah tidak kok Din. Lagipula kita akan lewat di jalan tol bukan?" ujar Putra dengan tangan langsung membuka pintu mobilnya. Ia segera melompat turun dan melangkah ke arah tempat wudhu. Udin pun ikut turun setelah mematikan mesin kendaraan roda empat itu.


Azan sudah selesai berkumandang dan itu berarti sholat subuh akan segera dilaksanakan. Setelah selesai berwudhu' ia segera masuk ke tempat ibadah yang tidak begitu luas itu hingga hampir semua jamaah bisa saling melihat.


Sebuah pertemuan tak disengaja pun terjadi. Tanpa sadar ekor matanya melihat siluet gadis cantik penyanyi nasyid itu memasuki pintu yang akan ia masuki juga. Dadanya entah kenapa berdebar tak karuan. Ia ingin menyapa tapi suara kumandang iqomah sudah terdengar.


Dua rakaat shalat subuh itu telah selesai. Karena ingat kalau ia tidak punya waktu banyak, ia pun langsung keluar tanpa menunggu sang Imam memimpin zikir sesuai kebiasaan di Musholah itu.


Ia pergi bersama Udin tapi hatinya masih terpaut pada gadis cantik bernama Marwah Jingga itu. Untuk pertama kalinya ia berniat untuk menolak lamaran kedua orangtuanya pada seorang gadis yang ia tidak kenal.


"Marwah Jingga, bismillahirrahmanirrahim. Aku akan menjadikanmu istriku," gumamnya seraya melangkahkan kakinya menaiki tangga pesawat.


🌻


"Assalamualaikum ibu," ucapnya pada sang ibu dengan wajah cerahnya.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Dua orang yang sedang berada di beranda depan menjawab serentak. Ya, perempuan paruh baya itu sedang duduk dengan seorang tamu yang masih samar-samar di dalam ingatannya.


"Nah tuh anaknya udah datang. Marwah kenal gak siapa ini?" Marwah memandang tamu perempuan yang sedang duduk dengan ibunya itu kemudian menyalaminya. Lama ia berfikir kemudian menjawab.


"Tante Irma?"

__ADS_1


"Yah, kamu betul sekali Marwah. Ingatan kamu bagus juga ya." Perempuan yang bernama Irma itu tersenyum senang.


"Karena Tante orang baik makanya gampang saya ingat hehehe." Marwah terkekeh lucu. Mereka bertiga pun saling tertawa. Kedatangan tamu pada pagi ke 13 Ramadhan itu cukup memberi semangat pada semua orang.


"Tante semalam gak sengaja lewat di alun-alun. Dan mendengar nama kamu disebut-sebut. Tante yakin itu pasti kamu. Makanya Tante ikut nonton penampilan kamu."


"Dan karena kita tidak sempat ketemu semalam. Pagi ini Tante maksain om untuk ngantar Tante Sholat subuh di Mushola sini. Rasanya masih terbayang-bayang dengan penampilan kamu semalam." Perempuan yang bernama Irma itu menjelaskan tentang kedatangannya agar pemilik rumah itu tidak curiga dengan kedatangannya pagi-pagi begini. Padahal jarak rumah perempuan itu begitu jauh dari tempat ini.


"Ah, Tante bisa saja. Saya jadi malu." Marwah tersenyum seraya menunduk. Ia benar-benar tak menyangka seorang keluarga jauh yang tidak pernah berkunjung sebelumnya bisa berada di rumahnya sekarang ini.


"Jangan malu sayang. Kami memang datang kesini untuk melihat kalian. Kami sudah lama tidak tahu kabar keluarga ini padahal kami adalah keluarga dekatmu." Saidah dan Marwah saling berpandangan. Irma adalah saudara dari ayahnya. Dan sekarang ia datang bersama suaminya setelah belasan tahun.


"Kalau Kak Ida mengizinkan, saya ingin mengambil Marwah untuk tinggal di rumah kami. Saya ingin mengangkatnya sebagai anak sendiri dan menyekolahkannya."


Duarr


Saidah dan Marwah kembali saling berpandangan. Perasaan mereka berdua langsung merasa tidak nyaman.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2