Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 35 Malam Pertama 3


__ADS_3

Saidah tersenyum saat melihat pandangan mata Putra tak berkedip dari anak perempuan satu-satunya. Ya, Marwah sedang berjalan menghampiri mereka berdua setelah membersihkan diri di dalam kamar mandi.


"Mas, ih jangan lihatin aku kayak gitu, malu tahu?" ujar Marwah pada sang suami. Putra hanya tersenyum kemudian meraih tangan istrinya itu agar mendekat lagi padanya.


"Lihatlah putrimu ibu."ujar Putra mengalihkan pandangannya ke arah sang ibu mertua.


"Sewaktu Ibu mengandungnya ia diberi makan apa? Kenapa bisa ia sangat cantik seperti ini Bu?!" lanjut pria itu dengan gombalan recehnya. Dan ternyata mampu membuat Saidah tersenyum dan sangat terhibur.


"Hahaha bisa saja kamu ya Putra. Lihatlah pipi Marwah sudah memerah seperti tomat." Saidah tertawa terbahak-bahak dan lumayan melupakan penyakit yang sedang dideritanya.


"Ah ibu. Kamu membuatku semakin malu," ujar Marwah dengan wajah yang benar-benar semakin memerah karena malu dan bahagia.


"Semoga kalian bahagia selalu, dan ibu ingatkan untuk kamu Putra. Sayangi Marwah dengan kasih sayang yang berlimpah. Jangan biarkan ia bersedih," ujar perempuan tua itu pada sang menantu.


"Dan untuk kamu Marwah, jadilah istri yang baik. Taat dan hormat pada suami karena Allah, nak."


"Iya ibu. Aku akan dengarkan nasehatmu. Terimakasih banyak." Marwah Jingga tersenyum kemudian memeluk tubuh ibunya dengan rasa haru dan bahagia.


"Apa kalian sudah makan?" tanya Saidah setelah pelukan putrinya terlepas.


"Belum ibu." Putra yang menjawab seraya menarik tubuh istrinya kedalam rengkuhannya.


"Mas, ya ampun, ibu ada disini," bisik Marwah dengan suara sangat rendah bagai bisikan. Putra tersenyum kemudian semakin merapatkan tubuh mereka berdua.


"Lihatlah ibu, putri mu malu padamu."


"Oh ya ampun, mas. Kamu ya." tatap Marwah dengan gemas pada suaminya.


"Marwah, biarkan suamimu melakukan apa saja padamu nak. Jangan ditolak. Insyaallah kamu akan dapat pahala." Saidah tersenyum. Ia sangat mengerti kalau anak perempuannya itu masih sangat malu karena selama ini tidak pernah berpacaran sebelumnya.


"Iya ibu. Mas, mau makan gak?" Marwah cepat-cepat mengalihkan pembicaraan dengan tangan berusaha melepaskan dirinya dari rengkuhan suaminya.


"Boleh. Mau ke kantin Rumah sakit? Kita bisa makan disana. Restoran biasanya masih banyak yang tutup di hari pertama lebaran seperti saat ini.


"Ibu, boleh gak kami ke kantin?" tanya Marwah pada sang Ibu.


"Boleh, tapi jangan lama-lama ya. Ibu juga gak enak nih kalau sendiri saja di kamar yang luas ini." Saidah menjawab seraya mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling ruangan.


"Kalau gitu gak apa-apa kita makan disini sayang. Makanan yang Mama bawa tadi masih banyak 'kan?" sahut Putra dengan wajah yang sangat mengerti perasaan sang ibu mertua.


"Udah habis mas. Aku kasih ke ibu-ibu tetangga kami di kampung kak. Maaf ya, aku takutnya rusak karena makanan itu hanya sekali."

__ADS_1


"Ya Alhamdulillah. Itu sudah bagus sekali sayang. Disimpan disini takutnya rusak dan juga mubazzir. Ya jadi emang itu cara yang lebih baik."


Marwah menarik nafas panjang kemudian tersenyum.


"Jadi? Kita ke Kantin kalau begitu. Tapi gak pakai lama." Putra pun memutuskan dengan cepat. Setelah itu ia pamit pada sang ibu untuk segera pergi ke kantin Rumah Sakit yang ada di lantai satu Rumah sakit itu.


"Wah, Rumah sakit ini luas dan bersih banget ya Mas," ujar Marwah saat mereka sudah berhasil sampai di lantai 1. Mereka sedang berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit menuju ke Kantin.


"Iya, ini Rumah Sakit swasta yang terkenal bersih dan juga punya pelayanan yang sangat baik. Makanya itu aku bawa ibu kesini."


"Makasih banyak ya Mas, pasti bayarnya mahal banget ya?"


"Gak mahal kok jika dibandingkan dengan pelayanan yang sangat baik dan bagus. Semua orang pasti rela merogoh sakunya dalam asalkan puas. Jadi kamu gak usah mikirin itu."


"Kartu BPJSnya ibu digunakan gak ya Mas?" Putra tersenyum kemudian menjawab.


"Biar masyarakat yang lebih membutuhkan saja yang menggunakannya sayang."


"Maksudnya gimana Mas?" tanya Marwah dengan wajah bingungnya.


"Udah, jangan kamu pikirkan. Nah itu kantinnya. Kita segera makan dan cepetan kembali ke kamarnya ibu."


"Iya Mas." Mereka berdua pun segera memasuki Kantin yang berdinding kaca ala Restoran besar itu. Tempatnya benar-benar sangat nyaman dan juga bersih. Sampai pengunjung yang datang tidak akan menyangka kalau tempat ini berada di dalam Rumah Sakit.


"Soto ayam saja mas."


"Minumnya?"


"Jus jeruk saja."


"Oh iya, 2 soto ayam dan 2 jus jeruknya mbak." Putra memberitahu pelayan kantin itu kemudian mengajak Marwah duduk di pojok ruangan yang cukup privasi untuk mereka berdua.


"Mas kok pesan soto ayam juga. Gak coba pesan yang lain gitu?" tanya Marwah seraya mendudukkan tubuhnya disamping kursi suaminya.


"Lho, emangnya gak boleh ya?" Putra balik bertanya.


"Ih boleh dong mas, aku kan cuma nanyain. Aku kan pengen coba menu makanan yang lain hehehehe."


"Maksudnya?" Putra tampak semakin bingung dengan perkataan istrinya itu.


"Aku kalau nyari makan sama Risma suka pesan makanan yang berbeda gitu. Untuk apa?" tanya Marwah dan membuat Putra mengangkat bahunya belum mengerti.

__ADS_1


"Supaya kami berdua bisa merasakan makanan yang berbeda dengan hanya membayar satu kali saja, hehehe,"kekeh gadis cantik itu dengan sangat lucu.


"Ya Allah, itu ide yang bagus sayang." Putra tersenyum melihat tingkah istrinya yang nampak sangat menggemaskan.


"Dan tentunya paket hemat mas. Kami bisa saling berbagi makanan, hehehe," lanjut Marwah dengan ekspresi yang sama. Putra semakin bahagia saja melihat kesederhanaan sang istri. Ia yakin sekali kalau Marwah adalah istri yang selama ini ia idam-idamkan.


"Silahkan Mas, Mbak." Seorang pelayan datang menata pesanan makanan mereka di atas meja. Dan mempersilahkan keduanya untuk menikmati hidangan yang disajikan.


"Tunggu mbak. Istri saya sepertinya mau coba makanan lain disini. Kira-kira makanan yang paling banyak disukai orang apa ya mbak?" Putra menahan langkah pelayan itu karena masih ingin memesan makanan.


"Ih mas, apaan sih?" Marwah tersipu malu. Ia jadi tampak seperti orang yang sangat rakus akan makanan.


"Gak apa-apa sayang. Nanti aku bantuin kamu makan kalau gak habis. Mau makan apa sih?"


"Disini yang ramai selain soto ayam ya mie ayam mas." Timpal sang pelayan dengan cepat.


"Mau mie ayam gak?" Putra memandang istrinya meminta pendapat.


"Tapi kamu bantuin aku kan mas?" Marwah balik bertanya, ia tertarik pada mie ayam tapi tidak yakin akan menghabiskan semuanya.


"Iya, aku akan bantu habiskan. Sekarang kamu makan sotonya dulu," ujar Putra kemudian meminta pelayan membawakan satu porsi mie ayam spesial buat mereka berdua.


"Makasih mas. Kamu baik sekali."


"Hem, sudah kubilang kamu jangan berterima kasih terus seperti itu. Malam ini masih panjang untuk melakukannya."


"Eh?" Dahi Marwah berkerut. Ia bingung dengan kata-kata suaminya yang selalu saja ia ulang-ulang seperti itu. Mungkin ia harus mencari di mesin pencarian tentang maksud dari kata-kata suaminya itu.


Ah sudahlah, nikmati aja sotonya, bentar aku akan berterima kasih lagi.


Sementara itu Putra hanya bisa melirik istrinya yang sedang menikmati soto ayam pesanannya. Ia berharap di malam pertama ini ia bisa mendapatkan sesuatu lebih dari kata terimakasih dari gadis cantik itu.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


Eh, othor lupa ngucapin Minal Aidzin wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin ya para readers tersayang. Semoga ibadah yang kita lakukan dibulan Ramdhan ini diterima disisi Allah sebagai bekal kita berjumpa dengan Rabb.

__ADS_1


Aamiin ya Allah.


__ADS_2