
"Ma, kita pulang aja yuk." Putri tiba-tiba saja muncul dihadapan Sasmita dan juga Saidah dengan tangan kosong. Ia tidak membawa barang belanjaan sedikitpun.
"Lho? Barang belanjaannya mana? Kok kosong?" Sasmita menatap putrinya itu dengan wajah bingung.
"Aku gak mau belanja kalau ada dia!" Putri menjawab seraya menunjuk wajah Marwah Jingga yang kebetulan sudah berada di tempat itu dengan dua kresek besar dan penuh di kedua tangannya.
"Lho? Putri kalo ngomong yang sopan dong sayang. Marwah itu putrinya tante Idah lho." Sasmita menegur putrinya dengan tatapan tajam. Ia paling tidak suka melihat putrinya tidak sopan seperti itu pada orang lain.
Putri Ayuningtyas hanya mendengus tak suka. Marwah sendiri langsung menghampiri perempuan itu dan menyalaminya.
"Tante, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik. Kamu jalan-jalan ke Rumah saat lebaran ya." Sasmita menjawab seraya mengelus kepala gadis itu. Ia begitu sangat senang dengan Marwah yang baik hati.
"Insyaallah Tante. Mari kami pamit duluan. Ibu harus istirahat soalnya." Marwah tidak ingin berbasa-basi terlalu lama. Ibunya harus segera ia bawa pulang untuk beristirahat.
"Kamu naik apa kesini. Biar Putri yang antar." Sasmita tetap Ingin menunjukkan rasa empatinya pada Saidah dan putrinya itu.
"Kami naik becak Tante. Kasihan juga sudah lama menunggu. Terimakasih banyak. Assalamualaikum Tante." Marwah benar-benar ingin menghindar dari keluarga kaya itu. Apalagi Putri Ayuningtyas yang sangat membencinya itu ada juga disana. Sungguh, ia tidak ingin cari masalah.
"Waalaikumussalam." Sasmita menjawab dengan senyum diwajahnya. Ia pun membantu Saidah untuk naik ke atas becak itu.
"Mari Mit." ujar Saidah saat becak itu mulai berjalan keluar dari area parkir toko ini. Sasmita melambaikan tangannya kemudian kembali ke dalam toko.
"Ada apa denganmu Put! Kamu tadi sangat tidak sopan nak." Ia menatap putrinya itu dengan wajah kesal.
"Aku gak suka sama Marwah Ma. Ia selalu saja mendapat perhatian lebih dari orang lain." Putri menjawab dengan bibir mencibir.
"Ya Allah, jaga sikapmu nak. Gak baik seperti itu sama orang lain. Apalagi mereka itu adalah saudara kita. Tante Idah itu adalah sahabat Mama sejak SMP."
"Jadi gak nih kita belanjanya?!" Putri berusaha mengalihkan pembicaraan karena tidak mau membahas tentang keluarga Marwah Jingga yang sangat ia benci.
"Ayo kita lanjutkan belanjanya." Sasmita mengalah. Ia tidak mau berdebat di toko itu dan dilihat oleh orang banyak. Mereka berdua pun kembali ke dalam Toko untuk mencari berbagai macam sembako yang akan mereka bagikan pada semua keluarga dan juga tetangga dekat mereka.
Sementara itu Saidah dan Marwah akhirnya sampai juga di rumah mereka. Sepanjang perjalanan dari Toko sampai ke rumah. Mereka tidak ada yang berminat membahas tentang kejadian tadi dengan keluarga H. Ismail Wijaya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Mari Mbak saya bantu," ujar sang Tukang becak menawarkan bantuannya menurunkan barang-barang belanjaan mereka.
"Eh? udah sampai ya bang?" Marwah tersentak. Saking sibuknya dengan pikirannya ia sampai tidak sabar kalau becak yang mengantarkan mereka sudah sampai di depan rumah mereka.
__ADS_1
"Terimakasih banyak ya bang," ujar Marwah saat membayar ongkosnya.
"Sama-sama mbak Marwah." ujar sang tukang becak sebelum meninggalkan tempat itu.
"Ibu istirahat saja. Aku yang akan mengatur barang-barang ini di warung," ujar Marwah seraya mengantar sang ibu ke dalam kamarnya. Langkah mereka terhenti karena tiba-tiba saja ada tamu yang datang.
"Assalamualaikum mbak Marwah."
"Waalaikumussalam. Ibu bisa masuk ke kamar sendiri ya." Marwah menjawab seraya menatap sang ibu.
"Gak apa-apa. Ibu mau lihat siapa yang datang. Kayaknya tuh si Nisa dari suaranya."
"Iya deh, Bu." Marwah membawa kembali perempuan paruh baya itu ke depan untuk melihat siapa yabg datang.
"Eh, Nisa. Ada apa dek?"
"Ini mbak. Ada kurir yang ngantar paket ke Mushola. Tapi nama yang dituju untuk Marwah Jingga. Ini pasti untuk Mbak Marwah." Nisa meletakan sebuah paket berukuran besar di atas meja plastik yang ada di ruangan itu.
"Paket? Kamu tanya darimana gak Nis?"
"Nih ada. Pengirimnya tapi pakai insial gitu. Jangan-jangan dari penggemar berat Mbak nih." Nisa tersenyum kemudian setelah itu berpamitan.
"Iya Mbak sama-sama." Gadis berusia 15 tahun itu pun pergi dari rumah itu setelah berpamitan.
"Paketnya besar ya Wa' kira-kira siapa pengirimnya ya?" tanya Saidah dengan tangan membolak-balik kardus besar itu.
"Gak tahu juga Bu. Kita buka saja kalau begitu. Bikin penasaran aja 'kan." Saidah tersenyum. Seumur hidupnya baru kali ini ia mendapatkan sebuah paket yang sangat besar seperti ini.
"Bismillahirrahmanirrahim." ujar Risma dari depan pintu. Saidah dan Marwah tersentak kaget dan langsung tertawa. Mereka yang sedang akan membuka paket tapi orang lain yang membaca bismillah.
"Masuk Is, kita buka sama-sama paketnya." panggil Marwah pada sahabatnya yang baru datang itu. Risma langsung tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapih.
"Alhamdulillah. Dapat TeHaEr darimana nihh? Semoga namaku ada juga didalamnya ya, Wa'." canda Risma kemudian ikut duduk di depan paket yang lumayan besar itu.
"Pengirimnya kok pake inisial gitu sih, sok rahasia-rahasiaan segala." Risma kembali berucap seraya membaca nama pengirimnya.
"PAW. Kayak singkatan dari nama siapa ya? Eh, ini langsung dari Jakarta lho. Jangan-jangan dari Paspampres hihihihi." Risma kembali bercanda sambil menunggu Marwah membuka paket itu dengan menggunakan pisau cutter.
"Bismillahirrahmanirrahim. Kita buka ya," ujar Marwah tanpa memperdulikan candaan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Wow, baju baru untuk lebaran. Alhamdulillah.' Risma kembali berucap setelah membuka paket itu yang berisi beberapa set pakaian muslimah yang sedang tren saat ini.
"Wah banyak sekali. Pengirimnya baik banget ya," ujar Saidah ikut berkomentar.
"Iya Tante. Pengirimnya baik banget. Semoga dibalas oleh Allah dengan balasan yang banyak." Marwah hanya terdiam. Ia nampak bahagia tapi sekaligus penasaran.
"Heh, gak usah bengong gitu. Tuh lihat ada suratnya." Risma menunjuk sebuah sampul surat berwarna biru muda yang tiba-tiba saja terjatuh diantara pakaian itu. Marwah pun mengambil surat itu dan membukanya dengan dada berdebar-debar.
"Bacanya harus nyaring, supaya aku sama Tante Ida juga mendengarnya."
"Iya Is. Yang sabar dong kamu."
Assalamualaikum Mbak Marwah.
Semoga pakaiannya cocok ya.
Dan ingat kalau duduk jangan asal duduk aja. Periksa dulu ada gak permen karetnya hehehe.
Hari lebaran nanti pakai yang warna marun ya, Plis.
Kita pasti bertemu Lagi.
Wassalam.
PAW
"Permen karet? Kok dia tahu sih tentang permen karet itu? Jangan-jangan dia?" Marwah tampak berpikir dan mengingat sesuatu.
"Jangan-jangan siapa Wa'? Apa ada yang kamu curigai?" Risma semakin penasaran.
"Ah sudahlah. Kamu pilih aja Is. Mau ambil set yang mana. Itu banyak sekali lho kalau mau dipakai lebaran semua."
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1