
"Marwah sayang, apa yang kamu katakan?" tanya Saidah dengan perasaan tak nyaman pada semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Perempuan paruh baya itu sungguh tak suka dengan jawaban putrinya.
"Ibu, aku mengatakan yang sebenarnya. Ibu masih sakit dan akan menghadapi sebuah operasi besar. Jadi, mana mungkin aku menikah disaat kondisi ibu masih sangat kritis seperti sekarang ini," ucap Marwah seraya menundukkan wajahnya ke bawah.
"Marwah, lihat ibu sayang," ucap perempuan paruh baya itu dengan meraih tangan putrinya. Marwah menurut, ia pun menatap Ibunya dengan perasaan sayang.
"Marwah, Ibu yakin kamu sudah tahu apa penyakit ibu dari dokter Abdillah. Kesempatan ibu untuk sehat rasanya sangat kurang." Saidah menatap sang putri dengan tatapan berkabut air mata. Ia juga meraih tangan sang putri dengan penuh perasaan.
"Kumohon ibu, jangan pernah mengatakan hal sepertinya itu. Insyaallah ibu sembuh kok."
"Aamiin, tapi ibu berharap sekali kalau kamu menikah sebelum ibu operasi biar ibumu ini tenang karena ada yang menjagamu."
"Ibu, tolong. Jangan pernah berpikir macam-macam. Ibu pasti sembuh. Dan setelah itu kita aka saling menjaga."
"Marwah, tolonglah nak. Penuhi permintaan ibumu sayang." Saidah memohon lagi agar putrinya yang sering keras kepala itu mau mendengarnya. Marwah terdiam begitupun semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
Setelah beberapa menit memikirkan dengan matang, gadis itu pun menjawab, "Baiklah, aku bersedia." Satu jawaban itu membuat semua orang bernafas lega. Semuanya saling pandang kemudian tersenyum.
"Alhamdulillah, kalau begitu kami akan menyiapkan segala sesuatunya. Sebuah kebaikan yang diberkahi oleh Allah, haruslah segera dilaksanakan." ujar H. Ismail dengan wajah gembiranya. Ia lalu meminta izin pada semua orang untuk membawa Putra untuk keluar mencari mahar dan cincin pernikahan.
Di depan pintu ruangan itu, mereka bertemu dengan Dokter Abdillah. "Sudah mau pulang pak haji?" tanya dokter muda itu dengan wajah ramahnya. Ia baru saja ingin melihat kondisi Ibu Saidah dan juga putrinya yang sangat menggangu pikirannya itu.
"Tidak dokter. Kami ada keperluan sedikit di luar."
"Oh ya? Silahkan lanjutkan pak," ujar dokter muda itu seraya melanjutkan langkahnya ke dalam ruangan.
"Put, ada toko yang buka gak ya dihari lebaran seperti ini?"
"Sepertinya ada Pa, tapi biasanya yang Mart- Mart itu saja. Yang lain pada tutup kayaknya." Putra menjawab dengan otak berusaha mengingat toko yang mungkin buka pada hari lebaran ini.
"Memangnya Papa mau beli apa?"
"Papa mau belikan mahar untuk kamu berikan pada Marwah nak."
__ADS_1
"Ya Allah, Pa. Makasih banyak. Tapi kalau untuk mahar dan cincin pernikahan sudah aku siapkan kok."
"Hah? Yang benar kamu Put? Secepat itu ya kamu mempersiapkannya." H. Ismail tampak sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh anak lelakinya itu.
"Sejak pertama bertemu, aku sudah jatuh cinta padanya Pa. Dan setelah pertemuan kami selanjutnya, aku sudah yakin dan mantap untuk menjadikannya sebagai istriku." Putra tersenyum dengan sangat gembira. Dadanya berdebar dengan sangat kencang karena bahagia.
"Tapi kita membutuhkan mahar dan cincin itu nak. Sedangkan kamu tidak membawanya ke sini." Hati H. Ismail langsung merasa tidak nyaman. Putra tersenyum melihat ekspresi ayahnya.
"Jangan khawatir seperti itu Pa. Semuanya selalu kubawa kemana-mana. Aku menyimpan mahar dan cincin kawin untuk Marwah di dalam tas kecil ini." Pria muda itu mengangkat sebuah tas kecil yang selalu ia bawa di bahunya.
"MasyaAllah. Papa tidak menyangka kalau kamu sangat berniat seperti ini nak." H. Ismail memeluk putramya dengan tangis haru dan bahagia.
"Jadi Pa? Kita masuk lagi sekarang?" tanya Putra seraya memandang pintu IGD.
"Sebuah pernikahan sesederhana pun itu, haruslah juga menjamu para tamu yang hadir meskipun hanya seadanya sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan."
"Ah iya Pa. Kalau begitu aku akan minta Udin untuk membeli makanan dan minuman untuk semua pasien di rumah sakit ini."
"Apa? Semua pasien?" H. Ismail melotot tak percaya dengan apa yang ia dengar. Matanya langsung memandang keseluruhan area Rumah sakit yang sangat besar dan luas itu.
"Papa, jangan khawatir. Berbagi kebahagiaan pada mereka yang sedang sakit dan tidak bisa berlebaran di Rumah mereka merupakan kenikmatan tersendiri."
"Baiklah kalau begitu. Papa serahkan semuanya padamu Nak."
"Iya Pa. Aku akan minta Udin untuk berbelanja sekarang juga sebelum akad berlangsung." Putra pun meraih handphonenya untuk mencari dimana keberadaan sopir keluarganya itu.
"Papa masuk duluan ya, untuk berbicara dengan Pak Hendra," ujar H. Ismail seraya menepuk bahu sang putra.
"Iya Pa."
H. Ismail melempar senyum kemudian meninggalkan tempat itu menuju ruangan IGD. Pria paruh baya itu membuka pintunya kemudian masuk dan mendapati Saidah sedang diberikan obat antibiotik dari selang infusnya.
Ia terus memperhatikan dokter muda itu memberikan penjelasan tentang penyakit ibu Saidah dan cara apa yang akan mereka ambil untuk meringankan beban penderitaan pasien kanker serviks itu.
__ADS_1
"Jadi kapan jadwal operasinya dokter?" tanya Sasmita ingin tahu.
"Insyaallah hari senin depan Bu karena masih banyak hal yang harus kita lakukan untuk kesiapan kondisi tubuh pasien," jawab dokter itu.
"Oh iya dokter. Terimakasih kasih banyak ya." Sasmita berucap dengan senyum diwajahnya.
"Eh, iya Bu. Sama-sama." Abdillah menjawab dengan tatapan kearah Saidah dan Marwahnya bergantian.
"Ibu Saidah jangan menangis. Nanti putrinya juga ikut menangis. Kondisi hati yang bahagia akan membuat kondisi tubuh juga baik. Secara tidak langsung merupakan obat yang sangat mujarab."
"Nah, itu. Ibu dengar 'kan kata dokter. Ibu akan sehat kalau hati senang terus. Jadi jangan memikirkan hal yang berat-berat," ujar Marwah.
"Ibu baru tenang kalau kamu sudah menikah dengan calon suamimu sebelum ibu operasi."
Abdillah langsung mengarahkan pandangannya ke arah dua orang perempuan itu. Sungguh, ia sangat tidak suka mendengarkan pembicaraan mereka tentang calon Marwah. Dengan cepat ia ingin pergi dari sana.
"Maaf dokter, saya ingin meminta tolong kepada anda, semoga saja bisa." H.Ismail menghadang langkah dokter itu yang ingin keluar dari ruangan itu.
"Minta tolong apa pak?"
"Maukah anda menjadi saksi pernikahan putra dan putri kami dokter?"
"Insyaallah saya akan hadir. Dimana tempatnya pak aji?
"Pernikahannya sangat sederhana dan hanya akan dihadiri oleh beberapa orang saja."
"Ah iya. Saya mengerti kok." Abdillah langsung pergi dari kamar itu karena merasa sangat malu pada ayah dari rivalnya itu.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍