
"Assalamualaikum Ibu Idah," ucap semua Ibu-ibu itu sesaat setelah mereka memasuki kamar perawatan yang VIP yang sangat luas itu.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Saidah menjawab seraya membangunkan tubuhnya agak tinggi. Ia dibantu oleh Marwah sang putri.
"Gimana keadaannya Bu?" tanya Bu Siti seraya menghampiri ranjang dimana perempuan tak berdaya itu berbaring dengan posisi seperti orang duduk karena punggungnya lebih tinggi.
"Alhamdulillah baik Bu Siti. Mohon maaf lahir dan batin ya semuanya." Saidah berucap dengan wajah meringis. Tangannya ia lipat di depan dadanya memohon maaf atas segala dosa dan kesalahannya selama hidup bertetangga dengan orang-orang baik ini.
"Kita saling memaafkan Bu Idah. Semoga lekas sembuh ya," ujar Bu Siti lagi seraya mengelus lembut tangan perempuan lemah itu.
"Aamiin Allohumma aamiin. Makasih banyak ya ibu-ibu karena sudah meluangkan waktunya untuk saya. Sungguh saya sangat bahagia. Ibu-ibu semua Semoga mendapatkan balasan yang besar dari Allah SWT."
"Ibu Idah, itulah gunanya tetangga. Kami datang sebagai teman dan keluarga ingin mendoakan kesehatan ibu Idah."
"Terima kasih banyak. Aamiin ya Allah. Semoga doa ibu diijabah oleh Allah SWT."
"Iya Bu. Saya juga berterima kasih kepada ibu-ibu semuanya. Sekarang ayo duduk dulu Bu Ibu. Pasti capek kan kalo berdiri terus di sini," ujar Marwah seraya mempersilahkan para tamunya duduk di atas sofa empuk di dalam ruangan kamar itu.
"Kamu cantik sekali Marwah," ucap ibu Ramlah dengan tatapan takjub pada sosok gadis cantik dihadapannya.
"Ah, biasa saja Bu. Ini karena ibu-ibu pada capek sampai di sini. Jadi semuanya kelihatan segar dan bagus, hehehe." Marwah Jingga terkekeh. Ia dan Risma segera menyuguhkan makanan dan minuman ringan untuk para tetangga di kampungnya itu.
"Ruangan ini tidak seperti kamar Rumah sakit Marwah, ini seperti di hotel," ujar Ibu Ramlah seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Hatinya betul-betul takjub dengan apa yang ia saksikan sekarang ini.
"Bu Ramlah pernah ke Hotel?" tanya Bu Siti dengan wajah penasarannya.
"Ya tidak pernah sih. Cuma lihat di televisi Bu Siti." Bu Ramlah menjawab dengan bibir mencebik. Ia suka sekali mendapatkan teguran dari para ibu-ibu tetangganya itu.
"Silakan diminum Bu." Marwah dan Risma segera mengalihkan pembicaraan mereka yang sepertinya akan saling menyindir lagi.
"Ah iya makasih banyak Marwah."
"Eh, ngomong-ngomong tinggal di kamar seperti ini bayarnya berapa?" tanya Bu Tika setelah menyeruput minumannya.
"Ternyata bukan aku saja yang penasaran, Bu Tika juga ya?" timpal Bu Ramlah dengan senyum miringnya. Bu Tika tersenyum saja seraya memandang wajah Ramlah menunggu jawaban gadis cantik itu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Bu - ibu. Bukan Aku yang membayar pengobatannya ibu. Ini ditanggung oleh keluarga H.Ismail," jawab Marwah tersenyum.
"Hah? H. Ismail?" Mata mereka semua melotot tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Mereka semua tahu siapa itu H. Ismail di kampung mereka. Seorang tuan tanah dan juga seorang pengusaha sukses.
Risma menatap sahabatnya itu dengan tatapan tanya. Ia tidak menyangka kalau Marwah akan menyembunyikan berita sebesar ini darinya.
"Nanti aku jelaskan sayang. Sebentar lagi kamu akan tahu jawabannya. Jadi yang sabar ya, jangan terlalu penasaran nanti kamu tidak cantik lagi." Marwah memeluk gadis itu dengan senyum malu-malu diwajahnya.
"Kok bisa sih H. Ismail baik banget sama kamu Marwah?" tanya Bu Ramlah dengan wajah yang masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Yah, itu semua karena Allah. Bu-ibu. Aku juga sekalian ingin menyampaikan bahwa sebentar lagi aku akan menikah di tempat ini."
"Hah?" Mata mereka kembali melotot tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Ada yang sampai tersedak minuman karena terlalu kaget.
Sedangkan Risma kembali menatap sahabatnya itu meminta penjelasan. Sungguh, ia sedikit kecewa karena tidak diberi tahu berita besar dan menggembirakan ini.
Tok
Tok
Tok
"Biar aku yang buka," ujar gadis itu seraya melangkahkan kakinya ke arah pintu. Ia membuka pintunya dan mendapati ayahnya datang bersama dengan Tante Irma yang pernah bersitegang dengannya waktu itu.
"Ayah, Tante, mari masuk." Marwah mempersilahkan dua orang itu untuk masuk.
"Hendra?" tegur Ramlah dengan wajah kagetnya. Meskipun sudah belasan tahun tidak saling bertemu tapi ia masih cukup bisa mengenali pria itu sebagai suami Saidah. Maklumlah mereka adalah mantan tetangga yang cukup baik. Meskipun ia seringkali mendengar pertengkarannya dengan Saidah waktu itu.
"Iya Bu. Saya adalah Hendra." pria itu menjawab pertanyaan dari Bu Ramlah dengan senyum diwajahnya.
"Alhamdulillah, kamu akhirnya bisa pulang saat istrimu sedang sakit. Semoga kamu tidak pergi-pergi lagi." Hendra hanya tersenyum. Mana mungkin ia tidak akan pergi-pergi lagi sedangkan ia sudah mempunyai istri yang lain.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Pintu kembali diketuk dari luar dan membuat semua orang berpandangan. Rupanya akan ada banyak tamu yang akan datang hari ini. Untungnya ruangan kamar itu sangat luas dan juga ada banyak kursi di dalamnya.
"Aku yang akan buka pintunya." Risma berujar dengan cepat. Tanpa menunggu respon dari semua orang, ia segera melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Dokter?"
"Kamu?"
Risma dan Abdillah saling menatap dalam beberapa detik kemudian saling menyapa. Risma seketika teringat akan pertemuan mereka tadi yang cukup memalukan.
"Silahkan masuk dokter," ucapnya setelah berhasil menguasai perasaannya yang tidak nyaman.
"Ah iya. Aku cuma ingin memeriksa keadaan pasien sebelum acara pernikahan Marwah dilaksanakan."
"Oh, iya dokter. Silahkan." Risma mempersilahkan dokter muda itu untuk masuk. Dalam hati ia semakin kesal pada sahabatnya yang menyembunyikan hal ini dari dirinya.
Bahkan dokter itu pun lebih duluan tahu tentang kabar besar ini sedangkan aku sahabatnya malah tidak diberi tahu sama sekali. Dasar kamu Marwah. Mentang-mentang sudah bahagia, aku dilupakan. Awas kamu Marwah.
Baru saja ia ingin menghampiri Marwah yang sedang mendampingi ibu dan ayahnya. Pintu diketuk lagi dari luar. Ia pun segera membuka pintu itu dengan wajah kembali melongo tak percaya. Hari ini ia merasa mendapatkan kejutan yang sangat banyak.
Di depan matanya berdiri seorang pria yang sangat tampan dengan penampilan couple dengan penampilan Marwah sang sahabat.
Dan ia adalah si PAW, yang telah menjadi donatur lomba pada saat itu. Kejutan berikutnya adalah pria itu bersama dengan H. Ismail dan istrinya. Mereka membawa seserahan di tangan mereka.
Jangan-jangan?
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like
ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍