
"Kamu tidak keberatan 'kan kalau aku yang temani kamu disini?" tanya Abdillah setelah kontak mata mereka berdua terputus. Risma tersenyum kemudian mengangguk. Dadanya saat ini rasanya seperti sedang sangat sesak karena tatapan mereka barusan.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu pada dokter," jawab gadis itu seraya mendudukkan wajahnya yang terasa sangat hangat karena malu dan juga senang.
"Dokter pasti sangat sibuk," lanjut Risma lagi tanpa mengangkat wajahnya.
"Ah tidak. Aku sekarang sudah bebas. Satu operasi tadi sudah aku lakukan. Dan sekarang aku ingin menyegarkan otak dengan melihat yang indah dan cantik seperti kamu."
"Eh?" Risma mengangkat wajahnya karena merasa telah mendengar sebuah kalimat manis bagaikan madu murni. Ia tiba-tiba merasa sangat tersanjung tetapi kemudian ia merasa kalau dokter ini pastilah seorang dokter play boy yang gampang merayu banyak gadis.
"Maaf ya, tapi aku memang suka melihat yang cantik-cantik setelah stress bekerja. Rasanya aku kembali jadi manusia normal lagi setelah berkutat dengan berbagai macam penyakit dan pembedahannya." Abdillah membuang nafas pelan.
Dengan banyak bicara pada orang yang baru dikenalnya terkadang membuat orang menyangka kalau ia tidak bisa menjaga sikap, tetapi yang sebenarnya adalah itulah caranya melupakan kerumitan dalam hidupnya. Ya, ia adalah pria yang sangat menyedihkan karena tidak pernah merasakan sebuah hubungan yang baik dengan orang-orang terdekatnya.
Sepi
Mereka berdua terdiam dan tidak tahu harus membicarakan hal apa lagi. Risma akhirnya membuka mulutnya agar suasana di tempat itu jadi bermakna dan tidak terlalu mencekam seperti itu.
"Kalau dokter tidak keberatan, aku mau ditraktir kok makan yang hangat dan segar untuk membuat pikiran anda kembali fresh."
"Itu ide yang bagus. Aku suka itu. Aku juga sangat lapar sebenarnya. Tapi tunggu hasil laboratorium dulu ya," ujar dokter muda itu seraya berdiri dari duduknya. Ia ingin segera mendapatkan hasil dari pemeriksaan pap smear.
"Ibu Saidah!" Baru saja ia ingin menggedor-gedor pintu laboratorium itu karena tidak sabar. Petugas di dalam sana sudah berteriak memanggil nama Saidah.
"Ah iya, ini keluarga dokter Abdilah ya. Maaf membuat anda menunggu dokter. Ini hasil untuk ibu Saidah." Petugas itu langsung memberikan sebuah amplop putih panjang pada sang dokter.
"Terimakasih banyak Gin." Abdillah pun mengambil amplop itu dan membuka isinya. Tak ada yang bisa ia katakan selain menarik nafas panjang. Sejak awal diagnosanya sendiri memang mengarahkan kalau perempuan itu mengidap penyakit yang sangat berbahaya itu. Dan sekarang hasilnya sudah sangat jelas.
"Bagaimana dokter? Apa ada berita baik?" tanya Risma dengan wajah khawatirnya.
__ADS_1
"Positif, Is."
"Oh ya Allah." Risma langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ia paling takut mendengar kata "positif". Trauma dengan istilah itu sejak adanya serangan virus covid 19 yang terjadi di seluruh dunia belakangan ini.
"Risma, apa kamu baik-baik saja?" tanya Abdillah dengan wajah khawatir.
"Ah iya dokter. Tapi aku tidak tahu kenapa aku takut sekali," jawab gadis itu seraya membuka kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya.
"Jangan terlalu takut dan khawatir seperti itu. Ibu Saidah dan Marwah sudah tahu hal ini. Jadi ini bukan berita baru sebenarnya. Ini hanya prosedural dari dokter dan rumah sakit untuk mempunyai data dan rujukan agar kami bisa tenang dalam mengambil langkah selanjutnya." jelas Abdillah memberikan penghiburan pada gadis itu.
"Sekarang, kamu tarik nafas dan lepaskan agar kamu tidak nampak tegang seperti itu," ujar sang dokter dengan senyum diwajahnya.
"Iya dokter, terimakasih banyak. Aku cuma shock dan takut sekali Dokter. Aku sangat kasihan pada Ibu Idah. Ia pasti sangat terguncang dengan hal ini." Risma berusaha tersenyum meskipun dadanya masih sangat sesak karena khawatir.
"Kita bawa hasil ini ke Poli KIA selanjutnya aku akan membawamu refreshing. Kurasa kita berdua membutuhkannya." Abdillah pun meraih tangan gadis itu dan membawanya meninggalkan Laboratorium.
"Sudah ada hasilnya dokter?" tanya Marwah dan Putra bersamaan. Abdillah memperlihatkan amplop putih yang diberikan dipegangnya kemudian berucap, " Hasilnya akan aku berikan pada dokter Nadya, setelah itu kita akan tahu apa yang akan disampaikannya, jadi bersabar dulu sedikit ya." Abdillah tahu apa isinya tapi ia tidak mau melangkahi wewenang dari dokter yang sedang menangani ibu Saidah saat ini.
"Iya dokter, terimakasih banyak." Marwah dan Putra sekali lagi menjawab bersamaan. Abdillah pun masuk ke dalam ruang Poli meniggalkan empat orang itu.
"Insyaallah ibu sembuh kok. Dokter disini adalah dokter terbaik," ujar Risma seraya berjongkok di depan kursi roda ibu Saidah.
"Aamiin Allohumma aamiin. Saya pasrah dan bertawakal akan apa yang Allah berikan pada saya nak. Insyaallah ini yang terbaik untukku."
Marwah ikut berjongkok di depan kursi roda ibunya disamping Risma.
"Kalian semua bersama dengan saya disini adalah anugrah dari Allah yang sangat luar biasa. Saya yakin Allah punya rencana terbaik untuk saya. Jadi ibu mohon kalian saling menjaga ya, biarkan persahabatan kalian seperti persahabatanku dengan Sasmita."
"Insyaallah ibu, aku dan Risma akan saling menyayangi sampai kapanpun."
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Dengan begitu kalau saya pergi meninggalkan dunia ini. Saya sudah tenang."
"Ibu kenapa selalu berkata seperti itu. Kami semua adalah anak-anak ibu. Kami akan menemani ibu dan juga akan memberikan cucu yang banyak untuk ibu." Putra ikut menimpali seraya memeluk bahu ibu mertuanya.
Abdillah yang sedari tadi melihat keakraban mereka semua, merasakan hatinya menghangat. Ada rasa haru dan bahagia melihat kekompakan keluarga kecil itu yang tidak mempunyai hubungan darah. Ia pun datang menghampiri mereka bertiga dan ikut bergabung.
"Hasil laboratorium itu menunjukkan kalau ibu positif tapi itu bukan akhir dari segalanya. Kami akan tetao berusaha semaksimal mungkin untuk membantu ibu Saidah. "
"Terimakasih banyak dokter. Insyaallah saya kuat. Ajal itu sudah ditentukan oleh Allah jauh sebelum kita lahir. Jadi jangan ada yang bersedih karena ini sudah jadi hukum alam."
Marwah dan Risma saling berpandangan kemudian berpelukan. Tangis mereka juga semakin pecah karena sedih mendengar kata-kata sang ibu.
"Jangan menangis. Kalau kalian seperti ini saya tidak akan tenang dan ikutan sedih." Saidah kembali berucap dengan suara bergetar. Mati-matian ia berusaha menahan kesedihannya juga.
"Bagaimana kalau kita cari tempat makan yang enak, agar perasaan kita kembali baik? Aku sudah sangat lapar." Abdillah dengan cepat mengalihkan suasana yang sudah mengharu biru seperti itu.
"Nah, itu benar sekali. Aku juga lapar. Ibu juga mungkin ingin makan sesuatu yang menggugah selera, bagaimana Bu?" Putra ikut menimpali karena setuju dengan usul dokter itu.
"Baiklah, saya sudah lama ingin makan sup iga sapi yang sangat pedas." Saidah menyebutkan makanan yang sudah lama ia ingin makan. Ia tidak mau peduli dengan penyakitnya. Ia ingin memakan semua yang menjadi pantangannya.
"Baiklah, kita berangkat sekarang juga." Abdillah langsung menjadi pemimpin dalam acara makan-makan itu. Mereka tidak boleh terpuruk dengan kesedihan yang tak ada habisnya itu. Untuk kebahagiaan Saidah mereka harus nampak bahagia juga.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1