
"Apa ibu Saidah memang sering sakit Ma?" tanya Putra setelah berhasil menyelesaikan makannya. Segelas air putih ia habiskan dengan cepat.
"Iya nak. Ibu Saidah memang mempunyai penyakit yang sangat berbahaya. Dan sayangnya Mama baru tahu itu." Sasmita menjawab dengan tangan menyusun piring kotor sisa makan anak laki-lakinya itu.
"Sakit apa Ma?
"Miyom. Tapi mama curiga itu bukan cuma miyom aja sih nak."
"Innailaihi. Kenapa kita tidak bawa saja ke rumah sakit Ma?" Putra langsung berdiri dari duduknya. Ia sangat khawatir dengan keadaan perempuan yang telah melahirkan calon istrinya itu.
"Ma, aku kesana ya," ujarnya lagi dengan cepat. Langkahnya bagaikan berlari. Sasmita sendiri segera mengikuti langkah sang putra.
Di dalam kamar itu ia menemukan Marwah sedang mengurus ibunya dengan tangis sesenggukan. Beberapa lembar kain sarung ia pakai untuk menahan darah yang selalu keluar dari pangkal paha perempuan paruh baya yang baru saja dari dalam kamar mandi itu.
"Ada apa dengan ibu?" tanya Putra dengan wajah penasaran sekaligus khawatir. Ia bingung dengan apa yang terjadi karena Marwah terus saja menangis.
"Mas, Ibu sedang sakit parah, aku takut sekali," jawab Marwah seraya membantu ibunya berbaring di atas tempat tidur.
"Innalilahi." Putra menutup mulutnya karena kaget melihat banyaknya bekas-bekas ceceran darah di lantai kamar itu.
"Maafkan kami Mas. Ibu berdarah terus dan lantainya jadi kotor." Perempuan cantik itu kembali ke Kamar mandi untuk mengambil kain lap untuk membersihkan lantai bekas darah dari ibunya itu. Ia sungguh sangat malu karena membuat seprei dan kamar itu jadi ternoda.
__ADS_1
"Gak usah kamu bersihkan, ada banyak pelayan yang akan mengurusnya." Putra langsung meraih bahu Marwah yang sedang mengepel lantai kamar itu.
"Gak apa-apa mas. Gak enak lho kalau orang lain yang bersihkan." Marwah menolak untuk menghentikan kegiatannya. Ia terus saja membersihkan lantai itu sampai benar-benar bersih.
"Mas, aku minta tolong dibelikan pembalut untuk ibu, boleh?"
"Pembalut? Apa Itu?" tanya Putra bingung.
"Ah iya maaf. Kamu pasti tidak mengerti. Biar aku aja yang beli. Kamu jaga ibu mas, bagaimana?"
"Kalian berdua pergi saja. Nanti mama yang akan menjaga Idah disini."
"Mama udah menopause. Udah gak haid dan juga gak butuh pembalut. Kalau Putri sih mungkin punya. Tapi ya, kamu tahu dia kan sayang. Kalian lebih baik ke warung untuk beli. Dekat kok, gak jauh dari rumah."
"Ah iya Tante, aku akan ke sana kalau begitu." Marwah pun menghampiri sang ibu kemudian mencium pipinya.
"Aku pergi dulu ya Ma, bentar aja kok." Saidah menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan. Marwah kembali menangis kemudian segera pergi dari kamar itu diikuti oleh Putra dibelakangnya. Ia ingin melanjutkan tangisnya di luar saja karena tak mau sendiri ibunya ikut sedih.
"Mas bisa lihat ibu semakin pucat sekali, hiks," ujar Marwah dengan tangis yang semakin pecah di depan ruangan kamar itu.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang. Ibu gak bisa didiamkan seperti ini saja."
__ADS_1
"Iya Mas, tapi kita harus beli pembalut dulu dan juga pakaian ibu ada di rumah."
"Aku akan mengantarmu ke rumahmu setelah itu kita langsung ke rumah sakit." Putra langsung meraih tangan perempuan itu agar mengikutinya menuju mobil yang ada di depan rumah.
Mereka berdua pun segera naik ke atas kendaraan roda empat itu menuju rumah Marwah. Ia tidak perlu lagi membeli pembalut di warung lain karena di warungnya juga tersedia.
Beberapa potong pakaian ibunya ia masukkan ke dalam sebuah tas besar berikut sarung dan kain lainnya. Kartu BPJS nya pun tak lupa ia bawa karena ia sedang tidak punya uang sekarang.
"Bagaimana? Sudah selesai?" tanya Putra yang sejak tadi berdiri saja di depan rumah itu. Pria itu begitu trenyuh melihat kondisi ekonomi keluarga Marwah yang sangat ia cintai itu. Dalam hati ia marah pada kedua orangtuanya yang tidak membantu keluarga sahabatnya ini.
"Ayo mas. Kita pergi sekarang." Marwah menyentak lamunannya.
"Ah iya. Kita berangkat sekarang." Mereka berdua pun pergi dari rumah itu dan berharap keadaan Ibu Saidah baik-baik saja.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1