
Semangkuk mie ayam itu dinikmati berdua oleh pasangan pengantin baru, Marwah Jingga dan Putra Adam Wijaya. Nampak sekali kalau mereka sedang sangat menikmati masa pacaran setelah menikah. Mereka sibuk bercanda dan kadang saling mengganggu. Mereka saling menyuap dengan perasaan yang sangat bahagia.
Kelakuan mereka yang memakan semangkuk mie berdua dengan sangat romantis itu cukup membuat pengunjung kantin malam itu merasa cemburu juga. Untungnya malam semakin larut jadi pengunjung juga sudah tidak banyak hingga mereka merasa kalau kantin itu milik mereka sendiri.
"Wah, mie ayamnya kok cepat banget sih tandas kayak gini?" Putra menatap mangkuk kosong dihadapan mereka berdua dengan berpura-pura kaget tidak percaya. Ia seperti seseorang yang baru sadar kalau mie itu sudah benar-benar habis.
"Kan dimakan berdua mas. Jadi cepat habis. Dan mas lupa ya kalau rasanya enak banget." Marwah sampai tidak sadar bersendawa karena merasa sudah sangat kenyang.
"UPS. Astagfirullah. Maaf mas." Gadis itu langsung menutup mulutnya malu karena sudah tidak sopan.
"Oh iya ya. Kok aku lupa ya?" Putra kembali berucap dengan maksud menggoda sang istri.
"Ish. Lupa tapi sangat menikmati sampai hampir gigit bibir aku, hehehe."
"Lho kok aku lupa sih? Dibagian mana tadi aku mau gigit bibir kamu Sayang," pancing Putra lagi.
"Ish, dibagian yang kayak gini nih," ujar Marwah seraya mempraktekan cara mereka tadi makan mie ayam. Mereka sama-sama mengigit ujung mie dan menyeruputnya sampai bibir mereka bertemu di satu titik.
"Oh yang itu? seru banget ya." Marwah mendengus kesal karena suaminya semakin berusaha membuatnya kesal.
"Ih kamu gak asik banget deh mas. Tapi tak apa, kalau kamu tak ingat gaya kita makan Mie ayam tadi tidak masalah. Yang penting adalah kita sudah makan berdua dengan sangat nikmat." Marwah tidak peduli dan langsung berdiri dari duduknya. Sepertinya ia sedang tidak ingin bercanda dengan suaminya.
"Ayok pulang, kasihan ibu sendiri di kamar," ujarnya dengan wajah tak sabar. Putra langsung meraih tangan istrinya itu kemudian menggenggamnya.
"Kok jadi ngambek sih. Aku kan cuma bercanda sayang. Tadi itu seru banget makannya. Dan ternyata itu bukan karena rasanya yang enak saja tapi karena makan denganmu istriku sayang."
__ADS_1
"Ish. Gombal kamu mas," balas gadis itu dengan wajah merajuk manja. Putra tersenyum dengan perasaan yang sangat bahagia. Isterinya itu berarti sudah kembali ke mode Marwah yang sebenarnya.
"Gak mau mesen makanan nih untuk ibu? Sapa tahu tertarik sama yang hangat-hangat sayang," ujar sang suami dengan tangan masih menggenggam tangan istrinya.
"Gak usah mas. Ibu tadi udah makan bubur. Lagipula ibu gak biasa makan di jam seperti ini."
"Ah iya deh. Kalau gitu kita ke kasir dulu." Putra mengajak sang istri untuk membayar makanan yang sudah mereka makan.
Setelah itu mereka berdua pun keluar dari kantin dan menyusuri koridor Rumah Sakit yang nampak sangat sepi dan mencekam. Marwah langsung merapatkan tubuhnya ke arah tubuh suaminya.
"Kenapa sayang? Kamu takut?" tanya Putra dengan bibir berkedut menahan senyumnya.
"Sepi banget ya mas. Menyeramkan."
"Eh, ini kan hari raya, semua makhluk ikut bergembira dengan saling mengunjungi rumah para sahabat dan juga keluarga lainnya. Jadi ya wajar."
"Ya iyalah. Jadi kamu gak usah takut. Dunia mereka berbeda jauh dengan dunia kita meskipun begitu sangat dekat dengan kita."
"Iya deh, aku gak takut." Marwah tidak ingin menjawab ataupun mengobrol lagi. Ia hanya ingin cepat sampai di dalam kamar sang ibu dan tidur. Rupanya malam yang semakin larut membuatnya merasa kedinginan juga.
Ya Allah, mohon maafkan aku karena sampai lupa sama Ibu. Semoga dia sudah nyenyak, ujarnya membatin.
Tring
Mereka berdua masuk ke dalam lift yang terbuka. Kotak besi itu membawa mereka ke lantai 3 gedung rumah sakit itu.
__ADS_1
"Mas, Hati-hati buka pintunya. Jangan sampai menggangu tidurnya ibu." ujar Marwah saat mereka berdua sudah sampai di depan kamar perawatan Saidah.
Putra membuka pintu kamar perawatan itu dengan pelan berharap sang ibu mertua tidak terganggu. "Mas, kayaknya memang ibu sudah tidur," ujar Marwah dengan suara yang sangat rendah.
"Iya," Putra segera menutup kembali pintu kamar itu dari belakangnya. Ia mengendap-endap masuk kemudian segera membersihkan diri mereka di kamar mandi. Marwah mendatangi ranjang sang ibu dan melihat sendiri kalau perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini sudah tertidur dengan nyenyak.
Perlahan ia memeriksa nafas ibunya, dan ternyata normal. Ia mengucapkan syukur dalam hati karena sang ibu sedang nyenyak tidurnya.
"Mas, kita tidur melantai ya, gak apa-apa kan?" ujarnya pada sang suami yang sedang membuka layar handphonenya.
"Iya. Udin juga sudah membawa perlengkapan tidur sayang. Sekarang kamu tidurlah. Aku lagi ada kerjaan saat ini." Putra memperlihatkan layar smartphone itu pada istrinya.
"Iya Mas, kalau begitu aku tidur ya, udah ngantuk banget nih." Marwah menguap, ia pun segera menyiapkan seperti dan juga selimut untuk tidur. Tidak menunggu waktu lama, gadis itu benar-benar jatuh tertidur.
Putra menyimpan smartphonenya dan mulai berjalan ke arah lantai dimana istrinya tidur dengan nyenyak. Ia pun ikut membaringkan tubuhnya disamping sang istri tercinta.
"Marwah sayang," bisiknya dengan suara yang sangat rendah. Ia gelisah dan tidak bisa tidur. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia tidur dan dekat seperti ini dengan seorang perempuan.
"Marwah..."
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍