Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 56 Gara-gara Kartu


__ADS_3

Putri Ayuningtyas memandang kepergian mobil kakak nya keluar dari pekarangan rumah mereka yang sangat luas. Ia mendengar kalau kakaknya dan Marwah akan menuju ke pusat perbelanjaan sore itu. Untuk berbelanja kebutuhan pesta pernikahan mereka yang akan dilaksanakan sepekan lagi.


Gadis itu menutup tirai jendelanya dengan kasar sampai mengeluarkan bunyi yang cukup mengganggu telinga siapa saja yang mendengarnya. Ia mondar-mandir di dalam kamarnya dengan tangan mengepal kuat. Ia benar-benar merasa sangat kesal sepanjang hari.


Selama ini hatinya agak tenang meskipun ia sudah mendengar kalau abangnya telah menikahi Marwah di Rumah Sakit. Prinsipnya adalah yang penting ia tidak melihat kebahagiaan mereka maka itu tidak terlalu mempengaruhinya.


Akan tetapi bagaimana dengan sekarang? Entah kenapa ia belum bisa membujuk hatinya untuk menerima Marwah Jingga menjadi saudara iparnya. Ia sangat tidak rela jika mempunyai hubungan keluarga dengan seorang perempuan yang selalu bisa menang daripada dirinya.


Dari sejak mereka masih duduk di bangku SMP, Marwah selalu mengalahkannya dalam banyak hal dan sampai sekarang gadis miskin itupun masih saja mengalahkannya dalam hal keberuntungan. Marwah telah menikahi dengan pria yang kaya raya seperti kakaknya dan mendapatkan kasih sayang yang begitu banyak dari semua orang.


"Sial! Aku benci padamu Marwah!" Aku ingin kamu tidak kembali ke rumah ini apalagi bersama dengan Ibumu yang sakit-sakitan itu!" geram gadis itu dengan dada sesak menahan emosi dihatinya.


Kedatangan Marwah dan ibunya di rumah ini membuat mama dan Papanya sama sekali tidak memperhatikannya. Tak ada lagi kata-kata manis yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya setiap pagi. Ia bahkan selalu dianggap salah dan tidak sopan pada orang tua.


Segala sesuatu yang ia lakukan tak pernah benar dimata semua orang. Rasa bencinya pada kakak iparnya itu kini semakin menggunung saja.


Dalam hati Ia berpikir kenapa semua orang menyayangi Marwah padahal menurutnya tak ada kelebihan yang perempuan itu miliki daripada dirinya.


"Ah, sebaiknya aku mencari angin segar sekaligus mencari ide untuk menghancurkan si brengsek Marwah itu," ujarnya dengan seringai diwajahnya. Ia pun meraih kunci mobilnya dan keluar dari kamar itu.


Ia pun menuruni tangga di rumah itu dengan langkah cepat. Sebelum ia pergi, ia menyempatkan dirinya untuk pamit pada mamanya sekaligus untuk meminta uang.


"Mau kemana kamu Put?" tanya Sas Sasmita saat ia meminta izin untuk keluar dari rumah itu.


"Aku mau ke mall Ma, ada barang yang ingin aku beli. Mama tambahin uang jajanku ya," jawab gadis itu seraya meminta uang jajan tambahan.


"Memangnya uang yang tadi pagi itu sudah habis lagi Put?" tanya Sasmita dengan tatapan tajam. Pasalnya beberapa jam yang lalu Putri sudah meminta uang dan ia memberinya dengan alasan ingin membeli sesuatu.


"Astaga Mama. Uang yang tadi itu udah habis. Ini aku mau beli handphone baru."


"Putri? Handphone baru lagi? Bukannya bulan lalu kamu udah ganti handphone sayang?" Sasmita melotot tak percaya dengan apa yang ia dengar. Begitu gampangnya anak ini menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

__ADS_1


"Ya ampun mama. Berapa sih kalau cuma segitu juga. Tiap hari kalian berbagi pada orang-orang miskin. Memberi mereka makan dan hadiah, lah aku anak kandung sendiri dibiarkan jadi pengemis." Gadis itu balas menatap wajah Mamanya dengan tatapan tajam.


"Putri! Kamu jangan berkata seperti itu nak. Tidak baik. Dengan bersedekah maka itu bisa membersihkan diri dan harta kita. Tidak sepantasnya kamu berkata seperti itu."


"Nah sekarang aku sebagai anakmu ma, meminta sedekahmu. Aku yakin semua pengobatan penyakit ibu Idah itu juga dari sedekah kalian 'kan? Berikan sejumlah uang yang sama padaku."


"Astagfirullah Putri. Kamu harus merubah kebiasaan burukmu ini nak. Kamu mungkin akan menikah sebentar lagi. Kamu harus lebih bersikap dewasa. Lihatlah Marwah. Ia anak yang baik. Ia tidak boros seperti dirimu."


Kuping gadis itu langsung ia rasakan memanas. Ia paling tidak suka kalau dibanding-bandingkan dengan orang lain. Apalagi jika ia dibandingkan dengan seseorang seperti Marwah.


"Kalau Mama gak mau ngasih gak usah membanding-bandingkan aku dengan Marwah. Karena kami tidak pernah selevel ma! Kenapa semua orang selalu menyayanginya dan lebih memilihnya dari pada aku Ma? Kalian semua tidak adil! Aku benci kalian!" teriak gadis itu dengan suara keras. Kakinya pun ia hentakan di depan wajah Mamanya.


"Putri! Kamu kurang ajar sama Mamamu ya!" bentak Haji Ismail pada anak perempuannya itu. Kebetulan ia melewati ruangan itu dan tidak menyangka akan mendengar perdebatan dua orang perempuan itu.


"Papa, mama membanding-bandingkan aku dengan Marwah, dan aku tidak suka!" lapor gadis itu untuk menguatkan perbuatannya melawan sang ibu.


"Hey! Jaga mulutmu! Sekarang kamu kembali ke kamarmu!" titah Haji Ismail dengan rahang mengeras. Akan tetapi Putri melawan.


"Ya Allah, papa. Apakah cara kita mendidiknya selama ini salah?" tanya Sasmita dengan lelehan air mata dipipinya. Pria paruh baya itu langsung meraih istrinya dalam pelukannya.


"Tidak sayang. Kamu jangan memikirkan itu. Doakan saja semoga Putri menyadari kesalahannya. Karena saat itu tiba, ia pasti akan meminta maaf dan pulang ke rumah ini," ujar Haji Ismail menghibur istrinya.


"Aamiin Pa, Aamiin ya Allah." Sasmita menyusut airmatanya dengan punggung tangannya. Saidah yang melihat kejadian itu jadi ikut menitikkan cairan bening dari kelopak matanya.


🌻


Putra dan Marwah sudah tiba di sebuah pusat perbelanjaan di kota itu. Untuk pertama kalinya mereka bisa jalan berdua seperti saat ini. Tangan Putra tak pernah melepaskan genggamannya pada tangan istrinya.


"Mas, kita mau beli apa?" tanya Marwah dengan wajah bingung. Mereka sudah berada di dalam pusat perbelanjaan itu dan ia sendiri belum paham alasan suaminya membawanya ke tempat yang sangat luas dan sangat lengkap seperti itu.


"Terserah kamu sayang. Kamu mau beli apa saja boleh. Tempat ini menyediakan banyak perlengkapan kebutuhan perempuan. Jadi kamu bebas memilih apa saja." Putra tersenyum.

__ADS_1


"Oh begitu ya?" ujar Marwah dengan senyum diwajahnya.


"Ada apa sih? Kamu kok nggak fokus sih sayang. Kamu nggak ngerti kalau aku membawamu kemari untuk kamu membeli pakaian dan membeli apa saja kebutuhanmu."


"Oh begitu ya Mas, hehehe," ujar Marwah masih dengan wajah yang sangat menggemaskan bagi suaminya. Putra tersenyum kemudian mencium kening istrinya.


"Masuk dan pilih apa saja yang ingin kamu inginkan sayang. Aku ada perlu sedikit dengan teman lama di sebuah Cafe depan sana. Nikmati saja belanjamu dan ini aku berikan kartu sakti untukmu. Terserah kamu kamu mau habiskan atau tidak, Okey?"


"iya Mas." Putra pun pergi meninggalkannya dan ia sendiri melanjutkan langkahnya ke bagian dalam toko itu untuk memilih-milih pakaian yang mungkin cocok untuknya. Dalam hati ia menyesal karena tidak mengajak Risma. Setidaknya sahabatnya itu bisa Ia ajak bicara untuk memilih barang yang cocok dengannya.


Cukup lama juga ia memilih pakaian-pakaian itu sampai tidak sadar bertemu dengan Putri di depan kasir.


"Hai kamu Gadis miskin! Dasar tidak tahu malu!" ucapnya ketika adik iparnya itu bertemu dengannya saat ia siap membayar apa yang ada di dalam trolley nya.


"Ini yang kamu suka menikah dengan kakak aku ya, Untuk menghabiskan semua uangnya di sini." sindir Putri lagi tapi tidak ingin diladeni oleh Marwah.


"Berikan kartu itu padaku Marwah. Aku yang paling berhak dengan ini semua!" Gadis itu berusaha menarik kartu sakti yang sedang dipegang oleh Marwah tetapi gadis itu juga tidak ingin memberikannya.


"Dasar tidak tahu malu!" umpat Putri dengan wajah kesalnya karena tidak berhasil mendapatkan kartu itu dari tangan Marwah.


"Kamu yang tidak tahu malu," ujar Marwah sarkas. Di depan toko itu mereka kembali berdebat seperti seorang istri sah dan seorang pelakor.


"Awas kamu!" ancam Putri kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Ia sudah punya cara untuk membalas Marwah karena bang Putra tidak ada bersamanya saat ini


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2