
Saidah langsung dibawa ke rumah sakit hari itu juga. Hari libur lebaran saat itu membuat pelayanan di Rumah Sakit umum daerah tidak begitu maksimal.
Ada banyak dokter ahli yang sedang tidak bertugas. Putra tidak sabar. Ia lalu membawa perempuan sakit itu ke sebuah rumah sakit di kota yang mempunyai fasilitas yang banyak dan juga lengkap.
Sepanjang perjalanan, Marwah tak berhenti menangis. Tubuh ibu nya ia peluk dan cium dengan harapan kesembuhan yang sangat besar.
"Jangan menangis sayang. Kalau ibu sudah tiada. Maukah kamu mencari ayahmu Marwah?"
"Ibu insyaallah akan sembuh. Jadi kumohon untuk tidak mengatakan hal itu."
"Aamiin. Tapi ayahmu Marwah. Sejahat apapun dia. Beliau tetap ayahmu nak. Mintakan maafku padanya."
"Iya ibu. Yang penting berjanjilah padaku untuk mempunyai semangat untuk sembuh." Marwah berujar seraya mengelus tangan perempuan itu dengan sangat lembut. Akan tetapi ia tiba-tiba merasa sangat takut. Tangan ibunya kini terasa sangat dingin.
"Tidurlah ibu, istirahatlah. Rumah Sakit masih butuh sekitar 1 jam lagi," lanjutnya dengan hati khawatir. Air matanya sepertinya ingin menyeruak kembali ke permukaan. Ketakutannya semakin bertambah saja, untuk itu ia tidak ingin ibunya bicara lagi. Ia ingin perempuan itu istirahat karena tubuhnya semakin lemah.
Saidah tersenyum diantara wajah lemahnya. Ia lantas berucap lagi, "Berjanjilah untuk mencari ayahmu. Ibu sangat ingin bertemu sebelum ibu pergi nak. Dan juga, ibu ingin melihatmu menikah."
"Tolonglah ibu. Istirahatlah. Kamu akan sembuh dan pasti melihatku menikah."
Saidah tersenyum menutup matanya dengan hati terus beristighfar dan memohon ampun pada Tuhan untuk kesembuhannya.Tak lama kemudian ia pun tertidur.
Putra menatap Marwah yang duduk dibagian belakang lewat sebuah kaca kecil yang ada di atas kepalanya. Ia tak menyangka kalau gadis itu mempunyai masalah yang sangat rumit seperti itu. Ia mendengar tentang ketiadaan sosok ayah dalam hidupnya.
"Aku yang akan mencari dimana ayahmu Marwah. Jadi kamu fokus saja menjaga ibumu," ucapnya seraya melihat ke arah belakang.
"Iya Mas."
Kendaraan itu pun sepi. Yang terdengar adalah isakan sisa tangis dari mulut Marwah. Putra merasa sangat sedih juga mendengarnya. Andaikan Marwah sudah halal buatnya maka ia akan memberikan pelukan hangat untuk menghibur gadis itu.
Ciiit
Mobil yang dikemudikan oleh Udin akhirnya sampai juga di depan Rumah sakit. Saidah langsung dibawa masuk ke ruangan IGD untuk mendapatkan penanganan secepatnya.
__ADS_1
Para petugas IGd itu benar-benar bekerja dengan sangat cepat setelah mendiagnosis penyakit perempuan paruh baya itu.
"Kami akan melakukan banyak tes untuk mengetahui penyebab pendarahan yang dialami oleh pasien, jadi silahkan untuk menunggu di luar ya." ujar sang dokter seraya meminta Putra dan Marwah untuk keluar dari tempat itu.
"Kita tunggu di luar Marwah, mereka sepertinya akan melakukan tes seperti ini untuk ibu," ujar Putra seraya memperlihatkan sebuah artikel dalam bentuk brosur yang ia dapatkan di sebuah dinding di rumah sakit itu.
Tes umum & prosedur
Pap smear: Sel-sel dari leher rahim diambil dan diperiksa di laboratorium untuk kelainan.
X-ray: Diambil untuk melihat apakah kanker telah menyebar di luar leher rahim.
CT scan: CT scan serviks menyediakan gambar terperinci untuk mengidentifikasi tingkat keparahan kanker.
Tes DNA HPV: Sel yang diambil dari leher rahim diperiksa untuk infeksi HPV.
Biopsi kerucut: Pemeriksaan leher rahim oleh alat pembesar yang disebut kolkop.
Kuret endocervical: Menggunakan instrumen kecil berbentuk sendok yang disebut curette untuk mengikis sampel jaringan dari leher rahim. Sampel diuji untuk keberadaan sel-sel kanker.
Pencitraan resonansi magnetik (MRI): MrI scan serviks dilakukan untuk mengidentifikasi sejauh mana penyebaran kanker.
Marwah memandang pria itu setelah membaca artikel itu. Matanya kembali berkaca-kaca
"Apakah penyakit ibu separah itu Mas?" Putra tersenyum kemudian mengajak Marwah untuk duduk. Iya tidak ingin Marwah terlalu tegang maka dari itu ia ingin gadis itu santai kemudian ia akan menceritakan apa yang ia dengar tentang penyakit Ibu Saidah.
"Kamu harus kuat Marwah karena kamulah kekuatan ibumu. Kita berharap setelah tes itu ibu hanya menderita penyakit biasa dan bukan menderita penyakit yang sangat berat dan berbahaya. Mari kita banyak berdoa saja semoga hal itu terjadi."
"Iya Mas. Semoga ibu baik-baik saja."
"Aamiin."
Putra menarik nafas panjang. Sekarang ia ingin berpamitan untuk mencari Ayah Marwah karena ia yakin Ibu Saidah sebenarnya sangat ingin bertemu dengan suaminya itu.
__ADS_1
"Aku ingin mencari ayahmu. Mungkin ada keluarga yang kamu kenal yang bisa aku hubungi agar aku lebih gampang untuk mendapatkan alamatnya."
"Terima kasih banyak Mas kamu sudah banyak membantu kami."
"Itu tidak masalah Marwah. Aku kan calon suamimu siapa lagi yang akan membantumu kalau bukan aku, lagi pula aku melihat ibumu sangat ingin bertemu dengan ayahmu walaupun aku berharap itu bukanlah permintaan terakhir tetapi untuk memberikan ia kebahagiaan dan meringankan beban penyakit yang ia rasakan aku rasa ayahmu memang harus berada di tempat ini."
"Iya Mas." Marwah pun setuju demi kebahagiaan ibunya ia akan melakukan apa saja meskipun sebenarnya ia sedang sangat tak ingin bertemu dengan ayahnya yang telah meninggalkannya selama bertahun-tahun. Ia pun memberikan alamat Tante Irma yang ia tahu.
"Apa aku bisa pergi sekarang Marwah? Kamu tidak masalah 'kan kalau aku tinggal?" Marwah mengangguk. Pria itu pun meraih tangan gadis pujaannya itu dan memberikannya dompetnya.
"Mas, ini untuk apa?" Marwah nampak bingung. Ia memandang dompet kulit itu bergantian dengan wajah pria itu.
"Selama aku pergi, mungkin kamu ingin membayar atau membeli sesuatu."
"Mas,"
"Udah jangan dipikirkan. Kalau cashnya kurang, aku udah kirim pin kartunya di handphonemu."
"Iya Mas. Makasih banyak." Hanya itu yang bisa Marwah ucapkan. Putra pun pergi dari sana dengan langkah cepat. Ia harus segera menemukan laki-laki itu. Laki-laki yang juga harus menjadi wali dari Marwah saat ia menikahinya nanti.
Marwah menggenggam dompet kulit berwarna coklat itu dengan perasaan haru. Ia bersyukur ada seseorang yang mau membantunya disaat seperti ini.
Pintu IGD itu terbuka dan seorang dokter keluar dari sana. Marwah langsung menghampiri dokter itu untuk menanyakan keadaan ibunya.
"Dokter, bagaimana keadaan pasien ibu Saidah?" tanya gadis itu dengan wajah tegang. Ia benar-benar berharap dokter itu memberinya kabar baik.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1