Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 48 Keinginan Sasmita


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu.


"Rasakan!" kata Putri dengan seringai di wajahnya. Gadis itu begitu senang karena keluarga Marwah Jingga tidak berhasil masuk ke rumahnya. Ya, ia sengaja mengunci pintu itu saat kedua orang tuanya sedang beristirahat di dalam kamar. Dan sekarang ia sedang berada di balkon lantai 2 rumah mewahnya melihat kepergian Marwah dan ibunya diantar oleh Kang Udin.


Putri Ayuningtyas betul-betul puas karena berhasil membuat Marwah tidak menginjakkan lagi kakinya ke dalam rumahnya. Ia sudah berjanji tidak akan pernah mau menerima Marwah tinggal bersama dibawah atap yang sama dengannya.


Sesungguhnya, ia belum bisa menerima bahwa kakaknya, Putra Adam Wijaya telah menikahi Marwah. Ia sungguh tidak rela kalau Marwah akan menjadi kesayangan semua orang di rumahnya.


Gadis itupun kemudian turun ke lantai bawah setelah mandi dan berdandan cantik. Ia berniat membuka pintu rumah dan tak sengaja bertemu dengan mama dan Papanya di ruang tamu.


"Mau ke mana Put?" tanya Sasmita saat melihatnya sudah tampak segar dan rapih.


"Aku mau makan jajan bakso di luar ma," jawabnya santai seraya memutar-mutar kunci mobilnya. Sasmita langsung tersenyum. Ia juga sangat suka bakso.


"Mama boleh nitip nggak?"


"Boleh mah, nitip apaan?" Putri balik bertanya.


"Kamu beli bakso yang banyak ya,"


"Untuk apa ya Ma?"


"Untuk menjamu Marwah Kakak iparmu bersama ibu Ida. Mereka kan akan datang sebentar lagi," kata Sasmita sambil melihat jam besar yang berada di sudut ruangan. Putri mendengus, "Aku kira banyak makanan di dalam rumah ma," ujarnya dengan wajah datar.


"Iya. Bibi sudah masak banyak tapi mama pikir mungkin Marwah pasti suka makan bakso kamu belikan ya," jawab Sasmita seraya memberinya beberapa lembar uang merah. Sekali lagi Putri membuang nafas kasar.


"Iya Ma," jawabnya seraya memasukkan uang itu kedalam tas selempangnya. Ia pun pamit dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. "Memangnya aku mau melihat Marwah menikmati semua yang ia inginkan? Hemmm, jangan mimpi!" geramnya dengan wajah kesal. Gadis itu pun mengambil mobilnya di garasi dan pergi meninggalkan rumah itu untuk mencari bakso langganannya.


Sasmita dan haji Ismail yang masih duduk di ruang tamu tampak memasang wajah khawatir. Sebentar-sebentar mereka melihat jam. Hari sudah sore, waktu magrib pun hampir masuk tapi kok Bu Ida dan juga menantunya belum datang juga.

__ADS_1


"Pa, kok mereka belum sampai juga ya? padahal ini kan sudah sore sekali. Perjalanan dari Rumah Sakit ke sini paling cuma 2 jam. Itupun kalau macet. Lah ini udah sore gini kok mereka gak sampai-sampai sih?" Sasmita sudah sangat tidak nyaman dengan perasaannya.


"Iya Ma. Kenapa nggak kita telepon saja mereka? Punya nomor handphone mereka 'kan?" H. Ismail menjawab dengan memberikan saran.


"Oh iya Pa. Kok saya gak kepikiran ya," jawab Sasmita seraya memukul dahinya pelan. Perempuan paruh baya itu pun mengambil handphonenya dan mulai mencari kontak atas nama Marwah. Akan tetapi ternyata ia tidak mempunyai nomor menantunya itu. Orang yang pertama ditelepon adalah Kang Udin sang sopir.


"Assalamualaikum Kang Udin," sapanya saat sambungan telepon itu tersambung.


"Waalaikumsalam Ibu."


"Kamu di mana?"


"Oh saya sekarang lagi ada di rumahnya Risma Bu. Lagi ngobrol dengan pak Handoko nih."


"Lah kok? Eh ngapain di rumahnya Risma bukannya kamu masih ada di jalan dari rumah sakit?"


"Lho kok bisa? Perasaan saya tidak pernah mengunci rumah. Dan bahkan membuka pintu lebar-lebar agar saat kalian datang bisa langsung masuk saja," ujar Sasmita dengan ekspresi bingungnya. Ia pun melanjutkan perkataannya.


"Iya sih. Saya dan Pak Haji memang tertidur tadi. Kalau begitu kamu kembali ke rumah sekarang juga. Saya dan Pak Haji ingin ke rumahnya Bu Ida dan menjemputnya pulang ke rumah sini!"


"Baki Bu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Sasmita pun menyimpan kembali handphonenya dan menatap sang suami. "Pah, ternyata mereka sudah sampai di sini tadi tapi karena pintu rumah terkunci akhirnya mereka kembali ke rumah mereka sendiri."


"Waduh kok bisa seperti itu sih padahal kamarnya sudah kita siapkan di sini. Tapi baiklah saya akan berpakaian dulu sambil menunggu Kang Udin datang."


"Iya Pa." Sasmita pun bangun dari duduknya kemudian pergi ke kamar mandi untuk mandi sore. Tak lama kemudian kang Udin pun datang dan membawa mereka ke rumah Bu Ida.


"Assalamualaikum!" salam Sasmita saat mereka semua sudah sampai di depan pintu rumah ibu Saidah sang besan.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam," jawab Marwah yang baru keluar dari dapur. Ia begitu kaget melihat kedua mertuanya ada di depan pintu rumahnya.


"Eh mama papa silahkan masuk," ujarnya mempersilakan dua orang mertuanya itu untuk masuk dan duduk di ruang tamunya yang sangat sempit itu.


"Ibu kamu mana sayang? Kok malah pulang kesini? Mama sama Papa udah nunggu lama lho di rumah," ujar Sasmita seraya mencium pipi kiri dan kanan menantunya itu.


"Ibu lagi istirahat Ma. Gak papa kok kami disini. Ibu udah rindu banget sama tempat tidurnya hehehe," kekeh gadis itu.


"Iya sih, tapi 'kan apa kata suamimu sayang kalau ia datang. Nanti dikira mama dan papa gak ramah lagi," ujar Sasmita lagi dengan wajah tak nyaman. Ia benar-benar sangat kecewa saat ini kalau kedua orang yang sangat disayanginya itu tidak kembali ke rumahnya.


"Mama udah masak banyak lho di rumah. Kan jadi mubazzir kalau kamu dan ibumu tidak kesana. Jadi ayolah kita kembali ke sana ya," Sasmita terus membujuk seraya menggenggam tangan Marwah. Gadis itu jadi tidak nyaman sendiri. Ia pun menjawab, "Insyaallah besok pagi kita ke rumah mama. Malam ini biar kami menginap di sini aja ma."


Marwah tetap bertahan dengan keinginannya untuk menginap di rumahnya sendiri bersama ibunya meskipun kedua mertuanya memaksanya. Sasmita merasa sangat kecewa tetapi ia berusaha untuk tidak menampakkannya. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Udin yang juga berada di sana.


"Kalau begitu semua makanan yang ada di rumah harus dibawa kemari kang Udin," titahnya dengan tegas.


"Baik Bu." Udin dengan sigap langsung berdiri dan keluar dari Rumah itu untuk melaksanakan perintah sang majikan. Akan tetapi langkahnya terhenti karena namanya dipanggil kembali oleh Sasmita.


"Kang Udin. Jangan lupa membawa alat makannya juga ya, kita akan panggil semua tetangga di sini untuk makan bersama sekalian syukuran karena Ibu Idah sudah kembali dengan sehat."


"Iya Bu. Siap!" Udin berucap dengan senyum lebar diwajahnya. Ia sangat senang dengan hal ini. Itu berarti ia punya alasan untuk bertemu dengan Risma lagi.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2