Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 23 Usaha Terbaik


__ADS_3

"Kamu keluarganya?" tanya dokter muda yang bernama Abdillah itu dengan tatapan lurus pada wajah Marwah.


"Ah iya dokter, saya adalah putri ibu Saidah." Marwah menjawab dengan hati deg-degan. Ia berharap apa yang akan disampaikan oleh dokter itu tidak akan mengguncang jiwanya.


"Kita bisa mengobrol sambil duduk. Mari kita duduk di ruangan saya," ujar sang dokter dengan wajah cerahnya. Marwah tidak bergerak dari tempatnya. Matanya terus memandang ke arah pintu IGD.


"Maaf dokter. Saya ingin melihat ibu saya terlebih dahulu, bolehkan?"


"Ah iya. Boleh saja, silahkan," ujar sang dokter. Ia pun mendorong pintu kaca itu dan mempersilahkan Marwah untuk masuk. Gadis itu pun masuk ke ruangan itu dengan berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihannya. Sedangkan ia sendiri mencari tempat duduk yang tidak jauh dari mereka.


"Ibu, bagaimana keadaanmu?" tanya Marwah seraya meraih tangan perempuan lemah tak berdaya itu dan mengusapnya sangat lembut.


"Ibu sudah baik nak. Alhamdulillah, kamu bisa lihat sendiri 'kan?"' Saidah menjawab dengan berusaha untuk tersenyum cerah. Ia berusaha menutupi rasa sakit ia rasakan. Meskipun sudah diberi obat anti nyeri akan tetapi rasa sakit itu masih terasa apalagi setelah diberikan tes deteksi kanker serviks.


"Ibu tidur saja ya, dengan menyebut nama Allah ibu pasti sembuh kok. Sekarang aku mau bicara dengan dokter Abdillah. Bolehkan aku tinggalkan ibu sejenak?"


"Iya nak. Eh ngomong-ngomong nak Putra ada dimana sekarang?"


"Mas Putra lagi pergi mencari ayah. Bukankah ibu ingin bertemu laki-laki itu?"


"Ah iya. Ibu memang ingin bertemu dengan ayahmu. Bagaimana pun dia juga adalah seseorang yang telah berjasa dalam kelahiran kamu ke dunia ini."


"Iya ibu. Kita berdoa saja semoga Mas Putra segera menemukan ayah. Nah sekarang istirahatlah ibu. Aku hanya ingin bicara dengan dokter sebentar saja."


"Ah iya. Pergilah," ujar Saidah dengan senyum teduhnya. Marwah pun tersenyum kemudian meraih tangan ibunya dan menciumnya. Setelah itu ia pergi dari sana untuk bertemu dengan dokter Abdillah.


"Katakan padaku dokter, penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh ibuku."

__ADS_1


Dokter muda dan tampan itu tersenyum lebar kemudian menjawab, " Apakah ibu Saidah sudah sering mengalami pendarahan seperti ini?"


Pendarahan mungkin normal ketika wanita haid, tetapi akan berbeda kasus dan penanganannya ketika pendarahan ini malah terjadi secara tidak normal. Termasuk juga adalah pendarahan setelah melakukan hubungan seksual. Waspadai hal ini, karena bisa jadi hal ini adalah gejala kanker serviks. Meskipun ada kemungkinan hal ini disebabkan oleh yang lain, tetapi penting untuk segera melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan pada ahlinya.


Marwah tampak berpikir. Ia ingat bahwa ibunya memang sering mengatakan tidak ikut sholat karena sedang haid. Dan itu kadang sering lama periodenya.


"Iya dokter. Ibu sering seperti itu. Waktu itu aku bilang kalau itu memang penyakit dan bukan darah haid," jawabnya seraya menatap dokter itu.


"Apa ibu Saidah juga sering mengeluh nyeri di bagian perut bawah atau leher rahim?" tanya dokter itu lagi. Marwah menganggukkan kepalanya dengan perasaan khawatir.


Dokter Abdillah pun melanjutkan pekerjaannya, "Gejala yang ditimbulkan oleh kanker serviks juga bisa berupa timbulnya rasa nyeri pada bagian bawah perut atau area sekitar pinggul. Rasa nyeri saat berhubungan seksual, hal demikian juga patut diwaspadai sebagai gejala awal kanker serviks."


"Jadi maksud dokter ibu sedang mengidap penyakit itu?" Marwah terhenyak. Ia berharap apa yang ada dipikirannya tidaklah benar.


"Munculnya keputihan dan pendarahan adalah hal yang tidak normal. Artinya, keadaan demikian ini adalah salah satu gejala awal dari kanker serviks yang tetap harus diwaspadai. Karena ketika mengalami keputihan dengan cairan va*gina berwarna cokelat, pucat, encer, berbau tidak sedap ataupun bercampur dengan darah, terlebih lagi jika terjadi terus menerus dan berulang. Hal seperti ini bisa menjadi salah satu gejala yang ditimbulkan oleh kanker serviks."


"Oh ya Allah." Marwah langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya gemetar. Ia sangat takut. Karena gejala yang disebutkan oleh dokter itu semuanya dialami oleh ibunya.


Marwah sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi mendengarkan penjelasan dokter itu. Matanya sudah berkabut. Ia menangis. Tak sanggup ia membayangkan jika ibunya sebegitu menderita seperti sekarang ini.


"Kanker serviks tahap awal tidak menunjukkan gejala. Karena kanker hanya akan terlihat gejalanya ketika tumor sudah terbentuk. Tumor inilah yang kemudaian mendorong organ sekitar dan mengganggu sel sehat."


"Apakah penyakit itu sangat berbahaya dokter?" tanya Marwah setelah berhasil menguasai perasaannya.


"Iya. Penyakit itu sangat berbahaya. Dan itu adalah penyakit yang merupakan pembunuh tertinggi di dunia."


Marwah tak tahan lagi. Air matanya pun mengalir dengan bebas membentuk anak sungai di pipinya.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kami lakukan dokter? Dan apakah ibu akan sembuh?"


"Operasi." Marwah terhenyak. Ia tahu kalau ibunya memang akan dioperasi, tapi ia tidak menyangka kalau ada penyakitnya yang lebih parah dari miyom. Ia menatap dokter itu dengan wajah takut.


"Operasi ini dilakukan untuk mengangkat sel yang terinfeksi terlebih dahulu. Ada beberapa jenis operasi yang terkenal yakni radical trachelectrony, histerektomi dan pelvic extentrasion." Marwah menyimak istilah-istilah kedokteran itu dengan dahi mengernyit. Ia tidak mengerti dengan apa yang dokter itu katakan.


"Cara yang lainnya adalah, Radioterapi


Pada tahap ini, tubuh akan dipaparkan dengan radiasi. Jika kanker sudah masuk tahap lanjut, radioterapi dengan kemoterapi akan menjadi rekomendasi guna mengurangi pendarahan serta rasa sakit pasien."


"Ya Allah, kenapa Engkau memberikan cobaan yang sangat berat ini."


"Jangan berkata seperti itu. Hanya karena salah satu dari keluargamu mengalami musibah sehingga mengurangi rasa sukur yang terjadi "Kamu pernah mendengar kata kemoterapi!" Untuk kesekian kalinya ia bertanya pada gadis cantik yang ada dihadapannya ini. Marwah menggelengkan kepalanya. Ia belum pernah mendengar kata seperti itu.


"Kemoterapi selalu dikombinasikan dengan radioterapi dalam menangani kanker serviks. Metode ini digunakan untuk mencegah pertumbuhan sel kanker."


"Oh?" Marwah hanya bisa menjawab dengan sangat singkat seperti itu. Ia sudah tidak punya kata-kata lagi untuk ia sampaikan kepada dokter itu. Saat ini ia hanya ingin menghabiskan banyak waktu dengan sang ibu tercinta.


"Kami akan mengoperasi pasien secepatnya."


"Ah iya dokter. Kalau itu yang terbaik untuk ibu maka lakukanlah."


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


.


__ADS_2