
Ismail melirik istrinya yang sejak tadi diam saja. Setelah mengunjungi rumah Saidah dan melihat sesuatu yang tidak ia harapkan, perempuan paruh baya itu sudah tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun.
"Jadi kita kemana nih? Mau lanjut ngabuburit gak?" tanya Ismail lagi untuk kesekian kesekian kalinya. Ia tahu kalau istrinya mungkin kecewa pada Marwah. Dan sekarang ia ingin menghibur Sasmita agar tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi.
"Kenapa diam saja Ma? Kalau masih penasaran, kenapa kita tidak tanyakan saja hubungan gadis itu dengan Airlangga, menebak-nebak dengan ketidakpastian itu tidak akan memberikan ketenangan lho." Ismail memberi saran karena perempuan yang telah ia nikahi itu nampak belum tenang.
"Mau turun untuk bertanya atau kita lanjut pulang nih?" tanya Ismail lagi dengan sabar. Ia tahu kalau istrinya sangat shock melihat calon menantu yang sangat diidam-idamkannya itu justru sedang bersama dengan pacar putrinya. Dan ya, ia sudah bisa menyimpulkan kalau kebencian putrinya itu pada Marwah adalah karena hal ini.
"Gak usah deh Mas. Malu atuh tanya-tanya hal pribadi pada orang." Perempuan itu akhirnya membuka mulutnya. Ismail tersenyum melihat istrinya sudah mulai nampak biasa lagi.
"Hem, baiklah kita pulang saja kalau begitu." Pria paruh baya itu pun melajukan kendaraannya untuk pulang.
Sementara itu, di rumah Saidah. Marwah hanya bisa menundukkan wajahnya karena ibunya nampak sedang tidak baik-baik saja. Perempuan yang tela melahirkannya itu memberikannya sebuah nasehat.
"Lihatlah begitu baiknya keluarga Om Mail. Mereka tetap datang ke rumah kita meskipun ibu sudah menolak lamarannya."
"Dan siapa pria tadi Wa'? Apakah karena anak itu kamu jadi kekeh tidak mau menikah dengan putra mereka?"
"Ibu, Airlangga itu temanku di organisasi Masjid. Dan dia juga sudah punya pacar. Jadi ibu jangan berpikir yang tidak-tidak." Marwah menjawab ibunya dengan perasaan tak nyaman.
Saidah pun terdiam. Ia percaya putrinya, ia cuma takut kalau putrinya lebih memilih berpacaran dengan anak ingusan seperti itu daripada menikah dengan pria yang sudah mapan.
"Sudahlah Bu. Insyaallah aku tidak akan mengecewakan ibu. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuat ibu malu."
"Tapi sekarang, ibu malu Wa'. Keluarga itu sudah sering membantu keluarga kita. Lihatlah apa yang mereka bawa," balas Saidah dengan menunjukkan barang-barang yang telah dibawa oleh pasangan,suami istri itu. Sekarung beras ada di depan pintu rumah mereka beserta beberapa barang lainnya dalam dua buah kantongan besar.
"Ibu, bukan kita yang meminta tapi mereka sendiri yang bawa. Jadi kalau ibu tidak nyaman karena aku menolak lamaran mereka. Bagaimana kalau kita kembalikan saja pemberian mereka."
"Astagfirullah, kamu kok ngomongnya seperti itu nak. Gak baik lho. Itu pasti malah menambah rasa kecewa mereka pada kita." Saidah menatap putrinya itu dengan tatapan tak terbaca.
"Maafkan aku ibu. Maafkan aku," ujar Marwah seraya meraih tangan perempuan itu dan mengecupnya.
"Bukan maksud aku seperti itu Bu. Ini hanya perumpamaan saja." Marwah semakin tak enak hati jadinya.
"Ya sudah, sekarang kamu bawa barang bawaan mereka ke dalam. Ibu mau jaga warung lagi." Saidah pun segera pergi dari hadapan putrinya itu. Ia takut akan mengeluarkan kata-kata yang tidak nyaman di dengar kalau mereka berdua tetap berada di tempat yang sama. Maklumlah, hatinya sekarang sedang sensitif.
"Assalamualaikum Tante," ujar Nisa saat ia berjalan menuju warung yang ada didepan rumahnya.
"Waalaikumussalam Nis, ada apa nak?"
"Nih, ada paket lagi untuk mbak Marwah." Nisa mengacungkan sebuah paket ukuran kecil di depan Saidah.
__ADS_1
"Dari siapa?"
"Sepertinya dari pengirim yang kemarin itu Tante Idah." Nisa melihat kembali paket yang ada ditangannya kemudian membacanya.
"Oh, Bawakan saja ke dalam. Mbak Marwah ada kok di rumah."
"Oh iya Tante. Saya kesana ya," ujar Nisa kemudian berlalu dari hadapan perempuan paruh baya itu. Saidah menganggukkan kepalanya.
Dalam hati ia mulai menduga-duga, jangan-jangan si pengirim paket misterius itu ada hati pada putrinya hingga sering sekali mengirimkan barang-barang kepada Marwah. Dan mereka berdua diam-diam berhubungan.
Apa gara-gara itu Marwah tidak ingin menerima lamaran dari H. Ismail?
Oh ya Allah, berikan yang terbaik pada kami.
Perempuan itu menarik nafas panjang. Ia berusaha berprasangka baik. Gadis remaja seperti Marwah adalah gadis yang masih labil. Jangan sampai ia tergoda pada hal-hal yang mungkin berbahaya buatnya.
Marwah Jingga tersenyum-senyum sendiri saat membuka paket dari pengirim berisinial PAW itu. Sebuah handphone keluaran terbaru ada ditangannya. Mulutnya sampai menganga takjub dengan apa yang baru ia dapatkan.
"Wah, Mbak Marwah. Handphonenya keren sekali. Ini pasti mahal." Annisa yang lumayan kepo dengan paket-paket yang selalu ia antar karena dialamatkan ke Musholla dekat rumahnya kini menyediakan waktunya untuk melihat sendiri paket itu.
"Iya Nis, ini bagus sekali. Aku hanya pernah punya handphone tapi itu pun sudah rusak." Marwah tersenyum seraya menghidupkan handphone itu.
"Selamat mbak. Penggemar rahasia mbak Marwah pasti orang kaya. Dan mungkin selanjutnya ia akan mengirim hadiah motor untuk mbak Marwah."
"Mbak Marwah jangan berprasangka buruk begitu dong. Gak baik kata orang." Nisa yang lebih muda umurnya langsung menyalak tidak suka.
"Hehehe, jangan marah. Tapi makasih ya, kamu sudah berbaik hati menjadi kurir hehehe." Marwah terkekeh.
"Ada tips gak Mbak, hehehe." Nisa mengedipkan matanya dengan lucu.
"Ada, ada, kita berfoto aja pake handphone ini. Pasti kita kelihatan lebih cantik dari biasanya, hehehe." Nisa mendengus tapi akhirnya ikut berfoto juga dengan beberapa gaya.
Drrrt
Drrrt
"Wah, handphonenya langsung bunyi Nis. Langsung aktif pula," ujar Marwah kaget. Rupanya handphone baru ini sudah siap digunakan.
"Angkat Mbak. Ini pasti pengirimnya," ujar Nisa dengan dada berdebar-debar. Marwah jangan ditanya. Jantungnya hampir copot karena kaget.
"Halo, Assalamualaikum," ujar Marwah membuka pembicaraan. Tak ada suara dari seberang.
__ADS_1
"Halo, ha ha Halllo." Marwah mengulang kembali ucapannya. Ia menatap Nisa dengan pandangan tanya. "Gak dijawab," ucapnya dengan nada rendah bagaikan bisikan.
"Waalaikumussalam. Hai Marwah." Suara pria dari ujung telepon itu membuat tubuh gadis itu langsung membeku. Jadi benar, pengirim itu adalah benar-benar seorang pria.
"Oh Ha-hai."
"Handphonenya bagus gak, kamu suka?" tanya pria itu lagi dengan suara yang kedengaran sangat senang.
"Ah iya. Makasih banyak ya Pak, eh Mas. Tapi siapa anda maaf?" Dahi Marwah mengernyit bingung.
"Nanti kamu tahu sendiri. Sekarang kirim foto kamu sekarang, supaya bisa jadi bukti kalau kamu benar-benar sudah terima paketnya."
"Eh iya Pak. Eh Mas," ujar Marwah gugup. Ia pun mematikan sambungan telepon itu kemudian mengirimkan fotonya bersama dengan Nisa yang mereka ambil tadi.
Tring
Sebuah pesan balasan pun masuk setelah ia mengirimkan satu fotonya dengan gadis bernama Nisa itu.
Kirimkan Foto tanpa orang lain di sampingmu.
"Nis, katanya, aku harus ngirim foto yang sendiri aja. Fotoin Aku ya," ujar Marwah seraya memberikan handphone mahal itu pada Nisa.
"Okey, siap Mbak."
Cekrek
Cekrek
"Udah Nis, kan cuma bukti aja. Jadi gak usah banyak-banyak." Marwah meraih handphonenya dan mengirimkan satu gambar yang baru saja di ambil tadi.
Pesan balasan pun datang dengan cepat.
Tring
Makasih.
Marwah tersenyum dengan dada berdebar. Hanya itu jawabannya. Baik banget orang itu. Semoga saja ia dibalas dengan Berlipat-lipat kebaikan dari Allah. Harapnya dalam hati.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍