Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 33 Malam Pertama


__ADS_3

Marwah Jingga menatap Risma dengan tatapan sedihnya. Pengantin baru itu sungguh tidak rela kalau sahabatnya pergi dengan cepat seperti itu. Apalagi malam ini ia akan tinggal di Rumah Sakit malam ini bersama dengan sang ibu.


"Is, kamu gak mau nginap dulu di sini?" tanya Marwah pada sang sahabat. Risma tersenyum kemudian menjawab," Maafkan aku Wa'. Aku harus pulang karena di rumah juga tidak ada yang nemenin ibu. Tapi insyaallah besok aku akan datang lagi kok."


"Kenapa gak minta Nisa yang temenin ibu kamu aja."


"Waduh. kamu kan ada Pak Pe A We yang akan temenin kamu. Lah aku akan jadi obat nyamuk?" Marwah langsung meringis. Ia baru sadar kalau ia sudah menikah dan sudah mempunyai seseorang yang akan menemaninya sepanjang waktu.


"Iya deh. Kamu bisa pulang Wa'. Dan Aku terima kasih banyak sama kamu yang udah datang ke sini."


"Iya. Aku kan sahabatmu. Jadi wajar dong kalau aku datang. Kalau gitu aku pulang ya. Pasti rombongan Ibu-ibu itu sudah ribut di tempat parkiran." Risma akhirnya benar-benar keluar dari ruangan itu setelah berpamitan pada Saidah dan semua orang yang masih ada di dalam ruangan itu.


"Hati-hati ya Is. Salam sama ibu kamu nak," ujar Saidah melepas kepergian sahabat dari putrinya itu.


"Iya Bu. Semoga saat saya datang nanti, ibu juga sudah sembuh, ya."


"Iya Aamin."


Risma pun segera pergi dari sana setelah handphonenya berdering berkali-kali oleh panggilan ibu Tika di tempat parkir.


🌻


Sore pun tiba, Pernikahan yang sudah lama diimpikan oleh dua keluarga itu sudah terlaksana. Sasmita dan Saidah nampak paling berbahagia saat ini. Mereka tak berhenti tersenyum diantara tangis haru mereka berdua.


"Idah, Alhamdulillah. Allah sudah mengabulkan doa dan permohonan kita," ujar Sasmita seraya menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Iya Mit, Alhamdulillah."

__ADS_1


"Sekarang kamu harus sembuh untuk melihat cucu kecil yang akan lahir dari perut putri kita."


"Aamiin, saya juga sangat ingin sembuh Mit. Saya ingin hidup lebih lama untuk melihat mereka berdua berbahagia. Tapi kondisiku sekarang ini rasanya saya putus asa."


"Jangan berkata seperti itu Idah. Allah pasti masih akan mengabulkan permintaan kita ini. Insyaallah setelah operasi kamu akan sembuh dan kembali fit seperti semula." Sasmita benar-benar membakar semangat sahabatnya dengan memberikan kalimat motivasi yang sangat banyak.


"Terimakasih banyak Mit, saya sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti dirimu. Kamu dan keluargamu sudah banyak membantu kami. Semoga Allah membalas dengan balasan yang baik."


"Aamiin ya Allah. Sekarang kamu istirahat ya. Kami akan pulang dulu. Putri sedari tadi menelfon, katanya ada banyak tamu yang datang bersilaturahmi ke rumah."


"Iya Mit. Pulanglah. Kamu juga sudah lelah mengurus ini dan itu. Sedangkan saya hanya tiduran saja seperti ini."


"Eh, jangan berkata seperti itu Idah. Saya bukan lagi sahabatmu tapi saudaramu. Semuanya memang harus saya lakukan untuk anak-anak kita." Saidah tersenyum. Ia pun merelakan besannya itu pulang. Hendra Setiawan dan juga Irma sudah lama meninggalkan tempat itu setelah acara selesai. Dan yang tinggal di sana adalah Putra dan juga Marwah sang pengantin baru.


"Aku sudah memberitahu Udin untuk membawa perlengkapan tidur dan juga pakaian ganti untuk kita," ujar Putra pada sang istri yang nampak tidak nyaman dengan keadaan mereka saat ini.


"Ada banyak pakaian baru di rumah yang sudah aku belikan untuk kamu. Dia tinggal ambil saja semuanya."


"Ya Allah mas, kamu kok sudah mikirin itu semua sih?"


"Karena kamu sudah aku pikirkan sejak pertama kita ketemu. Semuanya sudah siap untukmu dari hal yang paling kecil sekalipun."


"Mas makasih banyak."


"Apa kamu tahu kalau kamu sudah mengucapkan terimakasih sampai puluhan kali Marwah?"


"Ah iyyakah Mas? Aku lupa menghitungnya hehehe," kekeh Marwah seraya menutup mulutnya.

__ADS_1


"Dan apakah kamu tahu kalau kamu juga sangat menggemaskan dengan gayamu seperti itu?"


"Eh?"


Marwah langsung tersenyum malu dengan kata-kata suaminya yang seperti itu. Ia langsung menundukkan wajahnya karena tak mampu membalas tatapan dari pria tampan yang baru saja menghalalkannya itu.


"Mas, jangan lihatin aku kayak gitu ih," ujar Marwah semakin malu dibuatnya.


"Eh kenapa? Aku kan suamimu. Aku bebas menatapmu begitupun dirimu bebas melakukan apa saja padaku."


"Mas ih, aku malu tahu gak!"


"Iyaa, iyaaa. Sekarang kamu temani ibu. Aku akan sholat magrib di masjid."


"Iya Mas. Makasih banyak."


"Kamu berterima kasih terus sedari tadi Marwah. Bisakah kamu berterima kasih dengan cara yang lain?"


"Mas, gimana caranya?" tanya Marwah dengan wajah bingungnya.


"Setelah dari Masjid aku akan tunjukkan bagaimana caranya berterimakasih dengan baik kepada suami sendiri."


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2