
Putri Ayuningtyas menghentakkan kakinya kesal. Kunci mobilnya pun ia lempar ke sembarang arah. Ia menatap Airlangga yang juga sedang menatapnya.
"Kamu masih mau nungguin Marwah sampai sekarang? Emangnya siapa dia?!"
"Bukan seperti itu Put. Kita semua sudah sepakat untuk bersama-sama membagikan zakat ini ke kaum dhuafa'" Airlangga selaku ketua panitia Amil Zakat di kampung itu memberikan alasannya.
"Bersama-sama atau itu hanya modusmu saja. Kebaikan itu gak usah ditunda-tunda hanya karena Marwah. Lagipula Ibunya juga sakit. Jadi kita gak perlu nungguin dong."
"Iya nih Ngga. Kita berangkat saja sekarang. Semakin cepat zakatnya dibagi itu lebih baik lagi." Anggota yang lain ikut menimpali.
"Nah kan, aku bilang juga apa? Kamu suka rese' ah. Udah untung nih aku bawa mobil untuk bantu ngangkut." ujar Putri Ayuningtyas dengan wajah yang masih kesal. Sungguh ia ingin sekali melabrak pacarnya itu tapi ia masih berusaha menahan dirinya. Ia tidak mungkin bertengkar hebat lagi di depan semua anggota panitia remaja masjid itu.
Airlangga melihat kembali handphonenya. Ia sudah mendapatkan nomor handphone Marwah dan sudah berhubungan. Katanya gadis itu bersedia datang tapi kenyataannya malah tidak muncul sampai sekarang.
"Gimana nih Ngga. Kita lanjut gak?" Yang lain tampaknya sudah tidak sabar.
"Hem, baiklah. Kita berangkat. Ada dua mobil ya. Jadi kita akan membagi rutenya supaya kita hemat waktu." Pria muda itu akhirnya setuju untuk berangkat tanpa Marwah. Ia pun membagi anggota jadi dua.
"Wawan, Ade, dan Karim, ikut di mobil aku ya. Sedangkan yang cewek-cewek ikut sama Putri."
"Lho? Aku maunya sama kamu Ngga. Kamu kan yang tahu semua daerah di kampung ini. Gimana kalau Karim yang bawa mobil aku dan aku ikut sama kamu." ujar Putri berusaha mengubah aturan yang dibuat oleh pria itu.
"Duh gimana ya? Kan di tempat mu ada juga yang tahu semua lokasi yang akan kita datangi. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Airlangga menolak permintaan Putri.
"Tapi benar juga lho, kata Putri. Kalau mereka semua cewek yang ngangkat berasnya siapa? Masak cewek-cewek sih kan berat." Anny ikut menimpali mendukung pendapat Putri. Airlangga akhirnya mengalah. Ia sebenarnya sudah memikirkan hal itu tapi karena Putri tiba-tiba datang dan membawa mobilnya sendiri akhirnya rencananya berubah. Ia tidak ingin bersama gadis rese' itu meskipun ia adalah pacarnya yang sangat terpaksa.
"Baiklah, kita berangkat sekarang." Mereka pun akhir berangkat dengan pengaturan yang berubah. Hari itu mereka harus membagikan zakat sampai habis karena hari raya idul Fitri sisa dua hari lagi.
"Mampir di rumah ya, kita berbuka bersama," ujar Putri saat mereka semua sudah selesai melakukan tugas mereka sebagai panitia Amil Zakat yang ditunjuk oleh kelurahan.
__ADS_1
"Makasih banyak lho Put. Iya nih kita emang lagi butuh buka puasa yang enak-enak nih. Nah di rumahmu pasti banyak tuh." Karim menjawab dengan cepat. Ia adalah salah satu remaja Masjid yang suka ikut buka bersama.
"Insyaallah, ada banyak makanan di rumah. Mama juga udah siapkan parsel untuk kalian semua." ujar Putri lagi dengan senyum lebar diwajahnya.
"Alhamdulillah. Kita langsung singgah ya, meskipun waktu berbuka masih lama hehehe," ujar Ade menimpali. Ia paling suka main ke rumah Putri karena disana ia bisa nonton dan main game dengan bebas tanpa takut kehabisan kuota.
"Semuanya bisa mampir sekarang. Kamu juga kan Ngga," jawab Putri seraya menatap wajah kekasihnya itu. Airlangga hanya tersenyum kemudian mengangguk. Ia sebenarnya tidak ingin berbuka di rumah Putri karena ia ingin mengajak Marwah untuk berbuka di alun-alun.
"Nah gitu dong. Ketua harus kompak dengan para anggotanya. Ayo semuanya mampir. Aku sudah siapkan film yang bagus sebelum buka puasa tiba." Putri berucap dengan hati senang. Ia pun segera turun dari mobilnya. Dan meminta semua teman-temannya untuk turun dan. mampir. Semua pun ikut turun dan langsung menuju home teater milik rumah itu.
"Itu tadi Airlangga 'kan?" tanya Sasmita pada putrinya.
"Iya Ma, kenapa?"
"Tidak apa-apa sayang. Mama cuma mau tahu Kamu masih pacaran sama anak itu?"
"Duh kok masalah ini ribet gini sih?" ujar Sasmita dengan perasaan tak nyaman. Ia tahu kalau pria itu sepertinya sudah mulai berkhianat dari putrinya. Dan Marwah berada diantara kisah percintaan putrinya itu.
"Oh, ya Allah. Semoga saja engkau berikan kami jalan keluar, Aamiin." Doanya dengan penuh pengharapan. Perempuan itu pun segera melangkahkan kakinya ke dapur untuk meminta pada asisten rumah tangga agar menambah persiapan buka puasa di dirumah itu. Mereka kedatangan tamu yang tidak ia tahu sebelumnya. Putra Adam Wijaya sang putra pertama juga akan tiba hari ini juga.
Akan tetapi langkahnya tertahan karena seseorang memanggilnya. Ia pun menoleh dan melihat Airlangga berdiri di sana dengan tersenyum.
"Maaf Tante, aku mau pamit dulu. Ada sedikit keperluan di rumah teman." pamit pria muda itu dengan wajah yang nampak panik.
"Marwah?" tebak Sasmita dengan tatapan menyelidik. Airlangga langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia pun mengangguk.
"Tapi aku akan kembali kok Tante. Kami tetap akan berbuka di sini."
"Apa hubunganmu dengan Marwah? Bukankah kamu pacaran dengan Putri?" Airlangga tidak bisa menjawab. Ia tahu kalau ia sudah salah. Hatinya untuk Marwah tapi ia malah menjalin hubungan dengan gadis lain.
__ADS_1
"Belajarlah untuk jadi cowok gentleman nak. Jangan mau mengambil semuanya. Itu tidak baik." ujar Sasmita dengan tatapan tajam ke dalam mata pria muda itu.
"Ini bukan karena Putri anak Tante, tapi jika sejak awal hubungan mu tidak sehat maka belajarlah untuk melepaskan."
"Mohon maafkan aku Tante, tapi Aku sudah berusaha untuk melepaskan Putri tapi maaf sekali lagi, ia tidak mau putus sedangkan aku dan Marwah, Tante bisa lihat sendiri kan hubungan kami."
Sasmita merasakan dadanya sesak. Tidak ada yang ia suka dari kata-kata pria muda itu tapi ia tetap berusaha untuk tersenyum.
"Putri memang sedikit egois jika memaksakan kehendaknya padamu. Tapi kamu itu pria, jangan mau dijajah. Kalau hubungan kalian sudah tidak sehat. Putuskan saja. Insyaallah seiring berjalannya waktu ia akan mendapatkan penggantimu."
"Jadi apa aku bisa Tante?"
"Tentu saja. Tapi Marwah pun tidak akan bisa kamu dapatkan."
"Maksudnya?" Airlangga tampak bingung.
"Pikirkan saja sendiri!" Sasmita langsung pergi dari hadapan pria muda itu dengan senyum miringnya.
Kamu, kecil-kecil begitu sudah berani mendua Memangnya akan kubiarkan Marwah akan kamu jadikan korban?
Jangan mimpi!
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍.
__ADS_1