
"Copet!" Marwah berteriak keras saat tas tangannya tiba-tiba saja direbut dengan paksa oleh seseorang yang tidak dikenalnya.
"Copet! Copet!' Tolong!" Gadis itu terus berteriak meminta tolong seraya mengejar pria bertopi dan menggunakan masker diwajahnya itu. Akan tetapi sepertinya tidak ada yang menolongnya. Akhirnya ia berpikir untuk mengejar pencopet itu sendiri.
Ia pun menitipkan tas belanjaannya pada seorang ibu di depan toko yang ia masuki tadi.
"Nitip ya Bu, aku mau ngejar pencopet itu dulu," ujar gadis itu kemudian berlari mengejar pencopet itu. Ibu itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda ia bersedia menjadi tempat penitipan barang.
Marwah terus berlari di tengah keramaian orang-orang yang datang berbelanja di tempat itu. Ia yakin sekali kalau pria pencopet itu berlari ke arah barat tempat itu yang ternyata mengarah ke sebuah Cafetaria.
"Copetnya mungkin kelaparan. Jadi mau makan dulu," ujarnya dengan nafas ngos-ngosan. Gadis itu cukup lelah juga berlari sampai sejauh ini. Jadi ia menyadarkan punggungnya di dinding salah satu toko di tempat itu dengan mata awas memandang berkeliling.
Tiba-tiba saja ia melihat sekelebatan bayangan yang penampakannya sangat mirip dengan pencopet yang tadi. Ia pun menajamkan penglihatannya pada tempat di hadapannya. Dadanya berdebar kencang saat ia melihat pencopet tadi membuka masker dan topinya.
Pria itu berjalan ke arah samping Cafetaria yang ternyata menyisakan ruang kosong. Ia pun mengendap-ngendap dan mengikutinya sampai ke arah samping kafetaria itu. Ia sudah ingin menangkap pria itu tetapi langkahnya tertahan karena begitu karena dengan apa yang lihat di depan matanya. Bahwa orang yang ditemui pencopet itu adalah Putri adik iparnya sendiri.
"Oh ya Allah. Itu berarti ini semua adalah perbuatan Putri ?" ujarnya dengan perasaan yang masih sangat tidak percaya.
"Ya Allah Untuk apa Putri melakukan ini semua?" tanyanya lagi. "Apa karena gara-gara kartu yang tadi?" ucapnya dengan tarikan nafas berat nya.
Ia terus mengawasi apa yang dilakukan oleh dua orang itu di sudut Cafetaria.
Lama ia memperhatikan apa yang mereka lakukan di tempat itu. Sang pencopet mengeluarkan isi tas tangan yang sempat dicurinya tadi kemudian mereka nampak mengobrol dengan sangat seru.
Tak lama kemudian mereka kelihatan berdebat dan akhirnya Marwah mendengar sebuah teriakan dan ternyata itu adalah teriakan Putri. Marwah lari ke sana ingin tahu apa yang terjadi. Dan tiba-tiba saja Putri jatuh dengan perut dan tangan penuh dengan darah.
"Oh ya Allah. Putri, apa yang terjadi?" tanya gadis itu dengan wajah panik sekaligus takut.
"Marwah tolong aku. Pria itu mengambil semua uangku. Ia menipuku. Tolong kejar dia. Ia membawa semua uangku dan uangmu." Gadis itu berucap dengan suara bergetar menahan sakit dan juga khawatir dengan uangnya yang telah dibawa pergi oleh pria pencopet itu.
Untuk beberapa detik Marwah sangat bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Ia tidak tahu harus melakukan yang mana terlebih dahulu. Apakah mengejar pria itu atau menolong Putri yang sepertinya sangat membutuhkan pertolongan. tubuh gadis itu penuh dengan darah. Dan ternyata pria itu telah menikam perutnya dengan menggunakan pisau.
__ADS_1
Akhirnya Marwah, memutuskan untuk berteriak meminta tolong. Ia pun berteriak meminta tolong kembali.
"Tolong! Tolong! Tolong kami!" Beberapa orang pun datang mengerumuni mereka, termasuk salah satunya adalah Putra Adam Wijaya, suaminya yang baru keluar dari Cafetaria itu.
"Marwah? Putri? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya dengan wajah bingung dan juga kaget.
"Mas tolong bawa Putri ke rumah sakit. lihat pencopet itu telah telah menikam perutnya." jawab sang istri seraya memperlihatkan bekas darah ditangannya yang sempat membantu adik iparnya itu.
"Astagfirullah Innailaihi," ujar Putra dengan tatapan meringis. Seluruh tubuh adiknya itu sudah berlumuran darah. Putra pun langsung mengangkat tubuh adiknya itu dan berlari keluar ke arah mobilnya sedangkan Marwah berusaha mencari bantuan agar pria pencopet itu bisa ditemukan.
"Gimana dengan pencopetnya mas?"
"Gak usah dipikirin. Uang itu bisa dicari. Ayo cepat naik." titah Putra seraya me membukakan pintu mobil untuk istrinya marwa pun naik dan duduk di samping Putri yang sudah tidak sadarkan diri.
Putra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sesampainya di IGD ia langsung mengangkat adiknya itu agar cepat ditangani oleh dokter.
"Luka tusukannya dalam sekali ya pak. Darahnya juga banyak yang keluar. Jadi tolong cek kesiapan darah pasien untuk transfusi darah di bank darah.
"Putri adik saya dokter. Kalau persediaan darah tidak ada ambil darah saya saja dokter." Setelah mereka berdua cek golongan darah ternyata darah mereka tidak sejenis.
"Pasti papa dan mama memiliki golongan darah yang sama dengan Putri," ujarnya menghibur diri. Akan tetapi saat kedua orang itu datang, golongan darah mereka pun ternyata berbeda.
Semua orang saling berpandangan. Ada banyak pertanyaan di benak Putra, kenapa golongan darah adiknya tidak ada yang sama dengan semua orang yang ada didalam anggota keluarganya.
"Ma, katakan ada apa ini?" pinta Putra meminta penjelasan. Sasmita terdiam Lama. Sebenarnya ia ingin menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Dan hanya ia dan suaminya yang tahu masalah ini.
"Akan mama beritahu setelah adikmu lolos dari masa kritisnya nak," ujar Sasmita setelah meminta pendapat dari suaminya.
"Aku bisa mendonorkan darahku ma," ujar Marwah mengajukkan dirinya sebagai pendonor karena ternyata golongan darah mereka sama. Darahnya pun diambil untuk Putri. Sedangkan Putra dan semua anggota keluarga yang lain mengucapkan terimakasih pada Marwah yang mau membantu padahal selama ini Putri selalu membuat masalah dengannya.
Semuanya orang bersyukur karena operasi berjalan dengan lancar. Nyawa Putri bisa diselamatkan. Di depan ranjang perawatan gadis itu, Putra menatap mamanya meminta penjelasan.
__ADS_1
"Apakah Putri adik saya ma?" tanya Putra. Sasmita menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia sungguh tidak ingin melukai hati Putri tapi apa boleh buat, ia harus mengatakannya.
"Jawab pertanyaan aku ma?" tanya Putra lagi.
"Iya sayang, Putri itu adikmu tetapi bukan adik kandung. Kami mengadopsinya dari panti asuhan karena Mama sangat ingin mempunyai anak perempuan. Dan karena mama hanya bisa mempunyai satu orang anak yaitu kamu. Makanya mama dan papa mengambilnya sebagai pancingan nak."
"Jadi?" Putra tidak melanjutkan kata-katanya semua pertanyaannya selama ini akhirnya terjawab sudah. Pantas saja mereka berdua sama sekali tidak punya kemiripan dari segi fisik maupun sikap.
"Jadi aku bukan anak kandung mama sama papa?" Semua orang tersentak kaget karena ternyata Putri sudah sadar dan mendengarkan pembicaraan mereka semua.
"Kamu tetap anak kami sayang. Tak ada yang berbeda setelah kamu tahu maupun tidak. Kasih sayang kami tetap murni padamu," ujar Sasmita seraya mengelus lembut kepala Putri yang sedang menangis.
Tiba-tiba saja Gadis itu merasa sangat malu sekarang. Ia malu karena telah menyombongkan status dan kekayaan Haji Ismail pada semua orang, padahal ternyata ia bukanlah anak kandung di Rumah itu. Sungguh ia sangat malu sekarang. Ingin rasanya ia bersembunyi di bawah lubang yang sangat kecil dan gelap agar tidak ada yang melihatnya.
"Jangan menangis sayang. Sejak kecil kamu bersama dengan kami. Popok mu mama yang menggantinya jadi tidak ada yang berbeda. Kita tetap satu keluarga seperti dulu."
"Maafkan aku ma, pa, Aku adalah anak durhaka yang tidak tahu terimakasih. Maafkan aku hikss," ujar Putri seraya melipat Kedua telapak tangannya di depan dadanya.
"Heh, kami memaafkan mu sebelum kamu meminta maaf nak. Asalkan kamu mau merubah sikapmu nak."
"Iya ma, Insyaallah aku ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan untuk kakak ipar, aku sungguh banyak bersalah padamu. Tolong maafkan aku kak Marwah."
Marwah tersenyum kemudian meraih tangan gadis itu. "Kita semua tidak ada yang sempurna Put. Aku juga minta maaf padamu."
"Terimakasih banyak kak Marwah. Pantas saja semua orang menyayangi mu. Itu karena kamu memang sangat baik. Dan tentang lomba nasyid waktu itu, aku minta maaf karena mengantikan mu sebagai pemenang dan juga permen karet itu, semua itu adalah ulahku."
"Hah?" Putra melotot tak percaya dengan apa yang ia dengar. Sedangkan Marwah hanya bisa tersenyum. Ia tahu bahwa gara-gara itu semua ia jadi berjodoh dengan seorang pria bernama Putra Adam Wijaya. Dan ia sangat mensyukurinya.
🌻🌻🌻
TAMAT
__ADS_1
Terimakasih banyak atas dukungannya selama ini ya para readers tersayang. Sampai jumpa di karya berikutnya. Bye 😍
Yang Belum mampir dikarya Mendadak Halal dan karya lainnya, othor tunggu ya😘