
Airlangga akhirnya benar-benar pergi dari rumah Putri untuk menjumpai Marwah. Gadis itu baru saja meminta maaf tidak bisa ikut karena ibunya sedang tidak sehat. Dan ia ingin melihat kesana karena waktu berbuka juga masih lama.
Putri yang melihat mobil pria itu meninggalkan halaman rumahnya langsung saja memburu keluar tapi mobil itu tetap saja pergi. Ia pun masuk ke rumahnya dengan wajah kesal.
"Ih sebel, kok pergi sih?" gerutu gadis itu dengan kaki ia hentakkan ke lantai. Ia kesal karena Airlangga pergi tanpa pamit padanya.
"Ada apa Put? Jangan suka marah-marah dong kalau lagi puasa." Sasmita menegur putrinya yang kurang bisa bersabar. Ia gampang sekali marah untuk hal yang sangat remeh.
"Itu Angga kok pergi sih? Gak pamit juga, aku kan sebel Ma," jawab Putri masih dengan wajah kesalnya.
"Dia udah pamit sama Mama. Katanya ada hal penting yang harus dilakukannya tapi dia akan kembali kok."
"Oh gitu. Tapi kan harusnya pamitan sama aku Ma," ujar Putri kekeh dengan kekesalannya.
"Udah, dia baru pacar 'kan. Eh tahu gak sih kalau pacaran itu adalah perbuatan yang menghabiskan energi aja. Udah gitu malah gak bikin nyaman. Dikit-dikit marahan dan cemburu."
"Maksud Mama apa nih? Mama gak setuju aku sama Airlangga?" tatap Putri pada sang Mama. Sasmita tersenyum kemudian menjawab dengan sebuah pertanyaan lagi," Apa mama mengatakannya sayang?" Putri tidak menjawab.
"Mama cuma mau mengatakan kalau pacaran itu hanya menghabiskan energi. Dan lihat dirimu, sejak kamu pacaran dengan pria itu kamu tidak pernah nampak bahagia. Kamu selalu saja marah dan kesal. Untuk apa sayang?"
"Itu karena Marwah Ma. Ia selalu saja menggoda Airlangga. Ia selalu membuatku cemburu."
"Putri, jangan suka menyalahkan orang lain nak. Perbaiki dirimu. Dan tanyakan pada hatimu yang paling dalam. Apa kamu bahagia bersama dengan pria itu? Kalau tidak ya sudahi saja. Usiamu seharusnya diisi untuk hal yang bermanfaat. Gak perlu pacaran. Nanti akan datang pria yang pantas untukmu." jelas Sasmita panjang lebar. Baru kali ini ia mendapatkan kesempatan untuk bercakap dari hati ke hati dengan putrinya.
Dan sekarang ia benar-benar ingin putrinya itu sadar kalau apa yang ia lakukan dengan Pria itu sia-sia saja. Sebuah Hubungan yang dipaksakan tidak akan baik juga nantinya.
"Ah udah deh Ma. Sekarang aku mau lihat kemana Airlangga pergi sampai buru-buru seperti itu." Putri langsung meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja. Dan ia langsung keluar. Ia curiga kalau pria itu pergi menemui Marwah.
__ADS_1
"Putri, mau kemana sayang?!" Sasmita memburu gadis itu keluar tapi sang putri tidak mendengarkannya. Sasmita hanya bisa mengurut dadanya. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi melihat tingkah putrinya yang tidak mau mendengarnya.
Ia pun kembali masuk ke rumahnya untuk mempersiapkan parsel lebaran yang akan ia berikan untuk teman-teman Putri.
Sementara itu, Airlangga sudah tiba di depan rumah Marwah yang sederhana. Ia turun dengan tergesa-gesa karena sangat khawatir.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
"Eh Angga, silahkan masuk." Marwah dan Risma yang berada di rumah itu menyambut kedatangan pria itu.
"Bagaimana kabar Tante Idah. Kamu bilang lagi kurang sehat 'kan?" tanya pria itu dengan wajah tak sabar.
"Ibu memang kurang sehat Ngga. Makasih banyak ya karena udah datang. Ibu sudah baikan kok. Tadi itu lagi drop aja jadi kami tidak ikut kalian." Marwah menjawab seraya mempersilahkan pria itu duduk.
"Lho? Kamu datang hanya untuk itu?" Dua perempuan itu nampak sangat heran. Airlangga hanya mengangguk. Ia tidak tahu dengan alasan apa ia harus tinggal berlama-lama di sana. Apalagi melihat Marwah dan Risma sedang sibuk membuat makanan untuk berbuka nanti.
"Iya Ngga. Maaf ya, terus terang aku tidak bisa kemana-mana selama ibu sakit. Aku harus stand by menjaga di sini," jawab Marwah tak enak hati. Pada dasarnya ia sudah mengatakan kalau ia tidak bisa ikut tapi pria itu memaksa dan beginilah akhirnya.
"Baiklah aku pergi. Assalamualaikum." Airlangga akhirnya pergi dari saja tetapi baru saja ia berdiri dari duduknya, Putri sudah berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang. Ia menatap tajam pria itu bergantian dengan Marwah.
"Ooh jadi kamu kesini Ngga? Sudah kuduga sih, kalian benar-benar menyebalkan ya, gak bisa menghormati sebuah hubungan!" Ketiga orang itu saling berpandangan. Mereka tidak mengerti dengan apa yang sedang dikatakan oleh gadis itu.
"Dan kamu Marwah Jingga sang pelakor. Dengarkan baik-baik. Papa dan Mama sudah melamar mu untuk kakak ku dan kamu menolak karena apa? Apa karena kamu tidak bisa jauh-jauh dari Airlangga?" Airlangga langsung menatap Marwah meminta penjelasan. Akan tetapi Marwah berpura-pura tidak peduli.
"Dan untungnya kakak ku juga tidak setuju karena ia sudah mempunyai seorang perempuan yang sangat ia cintai. Dan tentu saja aku dukung itu karena sesungguhnya aku tidak setuju kalau kita menjadi saudara ipar. Aku takut kalau kamu akan mengambil suamiku juga." lanjut Putri dengan bibir mencebik.
__ADS_1
"Putri! Ngomong apa kamu?!" Airlangga membentak dengan keras karena ia sangat tidak suka gadis itu memperlakukan Marwah dengan sangat jahat seperti itu.
"Kenapa? Kamu harusnya sadar kalau Marwah itu hanya ingin memanfaatkan mu saja Angga! Dia berpura-pura menolak kakakku padahal ia tak tahu saja kalau Kakakku adalah seorang pengusaha sukses dan banyak uang."
"Putri, ayo kita pulang!" Airlangga langsung menarik tangan gadis itu untuk keluar dari rumah Marwah. Ia sungguh sangat malu pada Marwah dan juga Risma dengan tingkah pacarnya itu. Mobil mereka pun kedengaran pergi dari Rumah itu.
"Mereka itu kenapa sih? Aneh banget," ujar Risma dengan wajah bingung. Ia menatap sahabatnya itu seraya mengangkat bahunya. Marwah tersenyum. Ia merasa sangat lega karena Kakak dari Putri itu ternyata juga menolak lamaran Papa dan Mamanya.
"Udah, gak usah dipikirkan. Dua orang itu emang pada aneh." jawab Marwah berusaha untuk tidak peduli. Ia belajar banyak hal akhir-akhir ini. Kalau ingin bahagia maka jangan pedulikan apa anggapan orang tentangmu.
"Kamu kok gak balas cewek sombong itu sih?" tanya Risma dengan wajah kesalnya.
"Gak usah. Ngapain? Bikin habis energi aja. Waktu berbuka pun masih lama. Kasihan puasa kita. Udah capek-capek gak dapat pahala."
"Iya juga ya. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Yang penting menu buka puasanya nikmat dan lezat."
"Yups, okey!"
Mereka berdua pun tertawa dan melanjutkan kegiatan mereka. Dan tak lama kemudian bedug tanda berbuka puasa pun berbunyi. Mereka bersyukur atas nikmat yang mereka rasakan hari ini.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1