
"Maaf dokter. Kita mau kemana ya?" tanya Risma dengan wajah bingungnya. Apalagi tangannya masih dalam genggaman pria itu.
"Aku mau ngajak kamu makan berdua di luar, mau 'kan?" jawab Abdillah dengan senyum diwajahnya. Langkah mereka terhenti saat mereka sudah sampai di depan mobil sang dokter.
"Naiklah." titahnya setelah membuka pintu kendaraan roda empat itu. Risma tampak ragu. Ia belum juga beranjak dari tempatnya berdiri.
"Kenapa? Kamu takut pergi bersamaku Ris?" Abdillah menatap gadis itu dengan tatapan tanya. Risma tersenyum meringis. Seumur hidupnya ia belum pernah pergi berdua dengan laki-laki yang bukan keluarganya.
"Aku tidak pernah pergi kemanapun bersama dengan laki-laki tanpa izin dari ibu dan bapak. Aku takut dokter."
"Apa aku tampak menakutkan Ris? Kita 'kan sudah minta izin pada Bu Saidah. Marwah dan Pak Putra pun sudah tahu 'kan kalau kita hanya akan keluar sebentar." Abdillah memberikan alasan agar gadis itu mau mengikutinya.
"Aku tidak biasa pergi bersama orang lain dokter, maafkan aku ya," ujar gadis itu lagi seraya melipat tangannya di depan dadanya.
"Ya Allah. Kamu anggap aku orang lain?" tanya Abdilah dengan wajah tak nyaman. Risma hanya bisa menundukkan wajahnya. Ia benar-benar takut karena seringkali mendengar cerita orang kalau semua laki-laki sering merayu para gadis dan berakhir merusaknya.
"Maafkan saya dokter. Saya benar-benar tidak biasa. Dan juga ibu dan bapak pasti tahunya saya cuma menjaga ibu Saidah." Gadis itu tersenyum meringis. Ia benar-benar tak enak hati sekarang. Abdillah hanya bisa menarik nafas panjang. Ia pun membuka jas dokternya dan menyimpannya di dalam mobil.
"Baiklah, kalau begitu berikan nomor handphone ibu dan bapakmu." Abdillah mengalah. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi pada gadis cantik dihadapannya itu.
"Untuk apa dokter? Apakah anda ingin mengadukan saya pada mereka?"
"Iya. Berikan sekarang juga." Pria itu menengadahkan tangannya di depan wajah Risma dengan tak sabar.
"Tapi,.."
"Ayo berikan. Dan saya akan meminta kepada mereka secara langsung." Risma pun meraih handphonenya dan memberikan nomor bapaknya di kampung.
Abdillah dengan cepat menghubungi nomor yang diberikan oleh gadis itu. Malam ini ia akan meminta pada kedua orang tua gadis itu secara langsung.
"Assalamualaikum Bapak!" Ucapnya saat nomor yang ia hubungi sudah tersambung.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Ini siapa ya?" jawab suara dari seberang sambungan telepon itu. Abdillah tersenyum lalu menjawab.
"Saya Abdillah bapak. Saya sedang bersama dengan Risma putri bapak."
"Hah Risma? Bagaimana mungkin? Anak itu kan sedang berada di rumah sakit menemani Marwah dan ibunya." Terdengar jawaban dari ujung telepon itu dengan nada meninggi.
"Iya bapak. Kami berdua memang sedang menjaga pasien. Tapi karena Risma dan saya lagi lapar makanya saya mau minta izin pada bapak untuk membawanya keluar. Putrimu tidak ingin ikut kalau saya tidak minta izin." Abdillah menjawab dengan jelas.
"Tentu saja saya tidak akan mengizinkan. Putri saya tidak boleh pergi dengan laki-laki yang tidak kami kenal." Pria itu kembali menjawab dengan suara tegasnya.
__ADS_1
"Sekarang, saya ingin bicara dengan Risma. Saya takut kamu cuma menipu!"
"Baik bapak." Abdillah pun langsung merubah panggilan di handphone nya dengan panggilan video agar mereka bisa saling melihat.
"Halo, bapak saya Abdillah dan ini putri bapak," ujar pria itu seraya mengarahkan kamera pada dirinya dan pada Risma.
"Hey, Risma dan bukannya kamu itu eh dokter Abdillah?" nampak sekali wajah Pak Handoko terkejut melihat dokter muda dan tampan itu lewat kamera handphonenya. Untuk sesaat, Abdillah menunjukkan wajah bingungnya. Ia terus mengingat dimana ia pernah bertemu dengan pria paruh baya itu.
"Dokter, kamu lupa padaku ya? Kamu yang membedah kakiku waktu itu." Handoko tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang masih rapih diusianya yang sudah lebih dari setengah abad. Abdillah manggut-manggut. Meskipun ia belum ingat tapi ia harus bisa bekerjasama dengan baik agar pria itu tidak kecewa.
"Ah iya bapak. Bagaimana kabar anda?"
"Alhamdulillah, sangat baik."
"Jadi? Bisakah saya membawa putri mu untuk makan malam di luar?" tanya Abdillah lagi tanpa melupakan misinya yang sebenarnya.
"Ah ya, tentu saja tapi ingat untuk membawanya cepat pulang. Saya tahu siapa dirimu dokter."
"Baiklah bapak. Terima kasih banyak. Kalau begitu saya tutup teleponnya ya, Assalamualaikum."
"Eh, saya belum bicara pada Risma..."
Handako memandang layar handphonenya dengan mata melotot. Ia ingin marah karena belum juga ia selesai bicara, sambungan telepon itu sudah tertutup.
"Untungnya saya kenal dengan pria itu kalau tidak? Saya yang akan menjemput Risma di Rumah Sakit sekarang juga." ujarnya seraya menyimpan kembali handphonenya di atas meja dihadapannya.
"Siapa pak? Seru sekali." Istrinya yang sejak tadi memperhatikan percakapannya dengan lawan bicaranya di telpon langsung datang menghampiri.
"Ngobrol sama siapa pak?"
"Sama calon menantu Bu."
"Hah yang benar? Apa Risma sudah punya calon suami Pak?"
"Iya, itu tadi calon suaminya menelpon saya." Istrinya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya bingung. Ia tidak tahu harus berkata apa. Suaminya memang sudah lama menginginkan agar Risma menikah saja. Dan sekarang ia tidak tahu darimana pria itu mendapatkan calon untuk putrinya itu.
🌻
Hari pun berganti. Pagi-pagi sekali semua anggota keluarga dan kerabat ikut datang memberi doa, berharap semoga operasi ibu Saidah berjalan dengan lancar.
Sasmita dan Marwah tak berhenti menangis ketika melihat tubuh ringkih itu didorong ke dalam ruang operasi oleh beberapa perawat.
__ADS_1
"Mama, sayang, kita berdoa semoga Ibu bisa sehat kembali setelah operasi ini." Putra datang memberikan penghiburan pada dua orang perempuan yang sangat ia cintai itu.
"Iya mas. Aku cuma takut aja. karena operasi ini adalah termasuk operasi besar. Kata dokter Abdillah, namanya adalah Histerektomi abdominal."
Histerektomi abdominal dilakukan dengan terlebih dahulu membuat sayatan di perut. Sayatan tersebut bisa dibuat vertikal atau horizontal, dengan panjang sekitar 15–20 cm. Selanjutnya, dokter akan mengangkat rahim melalui sayatan yang telah dibuat. Setelah rahim diangkat, sayatan pada perut akan dijahit.
Lamanya prosedur operasi tergantung pada jenis histerektomi yang dilakukan dan ukuran rahim yang akan diangkat. Jika dokter juga mengangkat tuba falopi dan indung telur, waktu yang dibutuhkan akan lebih lama. Namun, prosedur ini umumnya berlangsung selama 1–3 jam.
Setelah histerektomi, dokter akan menempelkan perban di area sayatan kemudian memasang tabung di perut pasien yang menjalani histerektomi abdominal, untuk menguras darah dari area bawah sayatan agar tidak menumpuk di dalam rahim
Memasukkan kain kasa ke va*gina pasien yang menjalani histerektomi vaginal, untuk mengurangi risiko perdarahan.
"Kita harus bertawakal sayang. Insyaallah ibu akan baik-baik saja."
"Iya mas. aku berharap Allah mendengarkan doa dan harapan kita."
"Aamiin ya Allah." Putra meraih tangan istrinya itu agar mau duduk dengan tenang. Nampak sekali kalau wajahnya sangat pucat karena tegang dan takut secara bersamaan.
"Minum yang dingin dulu sayang," ujar Putra seraya memberikan satu botol air mineral dingin pada istrinya.
"Iya Mas, makasih banyak."
"Kita harus bersabar sampai sekitar 3 atau 4 jam sampai operasinya selesai." Sasmita ikut menimpali sambil mendudukkan dirinya di samping Marwah.
"Iya Ma. Kalau Mama lelah, bisa ke kamar perawatan dulu sambil beristirahat." ujar Putra.
"Iya bisa juga. Mama juga kurang enak badan ini." Sasmita menjawab kemudian berdiri kembali.
"Biar aku aja di sini. Marwah bawa mama ke kamar ibu. Risma, kamu juga."
"Ah iya kak."
Para perempuan itu akhirnya meninggalkan tempat itu untuk beristirahat. Sedangkan yang tinggal di depan ruang operasi adalah para pria termasuk adalah mantan suami Saidah, yakni Hendra Setiawan.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍
__ADS_1