Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 47 Kembali Pulang


__ADS_3

"Risma, tunggu aku ya," ujar Abdillah dari belakang punggung gadis berhijab itu. Risma menghentikan langkahnya kemudian berbalik. Ia menatap dokter muda itu dengan senyum malu-malunya.


"Insyaallah kak," jawab gadis itu kemudian berbalik dan ingin melanjutkan langkahnya. Akan tetapi tangannya tiba-tiba diraih oleh pria itu dengan cepat.


"Maukah kamu menerima ini dariku?" tanya Abdillah seraya memberikan satu kotak kecil berwarna pink pada gadis berhijab itu.


"Apa ini kak?" Risma mengangkat kotak kecil itu kemudian berusaha mengintip isinya yang tidak mungkin bisa ia lihat. Abdillah tersenyum kemudian menjawab," Bukalah nanti saat kamu sampai di rumahmu."


"Aku terlalu penasaran sama isinya pak dokter, hehehe," kekeh gadis itu. Abdillah langsung meraih kepala gadis itu dan mengelusnya lembut.


"Ekhem, bukan muhrim!" tegur Marwah dari arah mobil yang sudah siap berangkat itu. Abdillah langsung melepaskan tangannya kemudian menjauhkan dirinya.


"Maaf ya Ris. Aku sengaja hehehe." Pria itu tertawa kemudian melipat tangannya di depan dadanya.


"Aku pergi dulu ya kak," ujar Risma tersenyum. Abdillah menganggukkan kepalanya kemudian menaiki mobil yang akan membawanya pulang ke kampung bersama dengan ibu Saidah dan Marwah.


"Dadah Assalamualaikum kak!" Risma berteriak keras seraya melambaikan tangannya dari dalam kendaraan itu.


"Waalaikumussalam!" Abdillah membalas dengan melambaikan tangannya juga. Ia berharap bisa segera menyusul gadis itu ke kampungnya dan menjadikannya istri. Ia pun berbalik arah dan melanjutkan langkahnya ke dalam Rumah Sakit tempatnya bekerja.


Tarikan nafas panjangnya menandakan begitu beratnya ia berpisah dengan gadis itu. Ya, separuh hatinya sedang dibawa pergi oleh seorang gadis yang belum lama ia kenal. Dan sekarang ia akan menjalani hari-hari bekerja di rumah sakit ini dengan rasa rindu yang pastinya akan sangat menyiksanya.


"Wah, ada yang kehilangan nihh," tegur seorang pria muda yang merupakan rekan kerjanya sebagai dokter di Rumah Sakit itu.


"Nampak banget ya?" tanya Abdillah dengan wajah dibuat semakin tampak menderita.


"Ya jelaslah. Kamu sekarang lebih tua dari usiamu hahahaha," ujar pria itu dengan tawanya yang sangat menyebalkan.


"Udah ah, yuk masuk. Masih ada jadwal operasi lagi jam 4 sore. Aku mau tidur dulu. Bangunkan aku ya," ujarnya tak mau meladeni candaan rekan kerjanya itu.


Targetnya sekarang adalah bekerja dengan rajin dan profesional, dan selanjutnya ia akan meminta cuti untuk melamar gadis yang bernama Risma itu.


Ia yakin ia sudah sangat jatuh cinta pada gadis itu.


David hanya tersenyum kemudian mengikuti langkah Abdillah memasuki ruangan istirahatnya bersama dengan Abdillah.


🌻


"Duh yang lagi jatuh cinta, rasanya dunia ini milik berdua aja nih." Marwah tak berhenti menggoda sahabatnya yang nampak sangat bahagia saat ini.


"Marwah, jangan diganggu. Nanti kamu dianggap sebagai hama lagi terus ditampol pakai kotak hadiah berwarna pink itu," timpal Saidah ikut menggoda Risma. Marwah langsung tertawa terbahak-bahak dan semakin bersemangat menggoda sahabatnya.


"Hahahaha, asyik dong ditampol pakai kado spesial bikin aku mau lagi." Risma mencebikkan bibirnya berpura-pura kesal.


"Ih siapa juga yang mau nampol kamu pakai kado pemberian kak Abdi. Rugi tauk. Mending aku tampol pakai bibirku nih," balas Risma seraya meraih tubuh sahabatnya itu dan mencium pipinya.


"Oh my God. Gini amat kelakuan orang jatuh cinta terus gak bisa anu hahaha, aku yang kena getahnya, ih jijay," ujar Marwah bergidik ngeri kemudian melap pipinya yang baru saja dicium oleh Risma berpura-pura jijik.


"Aku cium lagi nih," ujar Risma kemudian mencium kembali pipi Marwah sampai berkali-kali karena gemas.

__ADS_1


"Aduh Ibu anaknya Pak Handoko lagi sakit nih tolong!" Marwah berteriak heboh sambil menggelitik pinggang sahabatnya. Keduanya langsung tertawa cekikikan dan membuat suasana mobil yang dikendarai oleh Udin itu semakin ribut saja.


"Astagfirullah, kalian ini seperti anak kecil saja. Bisa diam gak?!" Saidah hanya bisa tersenyum tetapi berpura-pura menegur keduanya. Ia sedikit malu sama Udin yang sedang menyetir dan tampak terganggu dengan tingkah dua anak perawan itu.


"Maafkan mereka ya Din, mereka sedang jatuh cinta jadi gitulah keadaannya. Lawannya sedang tidak ada jadi mereka menghibur diri sendiri hihihi." Saidah jadi cekikikan sendiri dengan kata-katanya yang terasa lucu. Udin hanya tersenyum meringis dengan hati teriris sakit.


"Iya Bu gak apa-apa. Itung-itung gak bikin ngantuk, hehehe," jawabnya cengengesan. Matanya memandang lurus ke arah jalanan sepi dihadapannya tetapi hati dan pendengarannya selalu tertuju pada canda tawa dua perempuan cantik di jok belakang.


Ya, ia sudah lama menyukai Risma dan berharap ada Jodoh yang akan mempertemukan mereka berdua. Tapi sayangnya apa yang ia lihat dan dengar saat ini langsung membuat cintanya layu dan langsung mati.


Gadis itu sudah terlebih dahulu menyukai orang lain yang tentunya lebih tampan dan juga mapan dibanding dirinya yang hanya seorang sopir.


Ciiit


"Astagfirullah. Udin ada apa?!" Saidah langsung berteriak kaget karena tiba-tiba saja pria itu mengerem mendadak kendaraannya yang hampir menabrak pengendara motor dihadapannya. Dua perempuan muda di belakang sana ikut berteriak kaget.


"Ya Allah, Maafkan saya Bu. Saya kurang berkonsentrasi tadi. Maafkan saya," ujar pria itu dengan perasaan bersalahnya.


"Tidak apa Din. Lain kali kamu harus hati-hati. Kurangi kecepatan mobilnya dan jangan menghayal.


Ingat kecelakaan bisa terjadi karena kelalaian dari sopirnya." Saidah langsung memberikan nasehat yang cukup panjang dan lebar.


"Ini karena kalian yang dibelakang. Bercandanya sampai bikin Udin tidak konsentrasi nih!" Tenyata Marwah dan juga Risma ikut-ikutan mendapatkan ultimatum dari sang ibu.


Kedua gadis itu saling bertatapan kemudian menahan diri mereka untuk tidak tertawa.


"Ayo jalan Din. Ingat untuk berkonsentrasi dan jangan mengkhayal. Baca Bismillah!" Saidah kembali menunjukkan kalau ia yang lebih tua di dalam kendaraan mewah itu.


"Iya Bu. Bismillahirrahmanirrahim." Udin menjawab kemudian menghidupkan lagi mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanannya lagi.


Tak ada lagi yang bersuara selama dalam perjalanan. Semuanya diam dengan pikiran masing-masing.


Saidah bahkan tertidur dengan sangat nyenyak di samping sang sopir sedangkan dua orang gadis dibelakang sana sedang sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. Marwah tersenyum-senyum sendiri dengan pesan-pesan gombal dari suaminya sedangkan Risma sibuk memikirkan dokter Abdillah.


Ia sudah mengkhayalkan dirinya akan menjadi istri seorang dokter. Hum, begitu bahagia dan bangganya ia jika itu bisa terjadi.


Tak lama kemudian mobil itu pun berhenti di depan sebuah rumah mewah dan luas di kota X. Udin mematikan mesin mobilnya dan meminta semua orang untuk turun.


"Maaf Bu Idah, kita sudah sampai," ujar pria itu membangunkan perempuan yang baru keluar dari rumah sakit itu.


Saidah membuka matanya dan melihat kalau mereka benar-benar telah sampai di rumah sahabat sekaligus besannya.


"Ibu, Alhamdulillah kita sudah sampai." ujar Marwah seraya membuka pintu mobil itu untuk sang ibu. Ia membantunya turun dan memapahnya masuk ke beranda depan rumah mertuanya.


"Assalamualaikum," ucapnya saat sampai di depan pintu rumah mewah itu. Pintunya yang tertutup membuatnya harus mengetuk dengan lama.


"Langsung masuk aja Bu. Gak pernah dikunci kok," ujar Udin sambil meletakkan barang-barang yang ia bawa dari rumah sakit.


"Kok nggak bisa terbuka ya Kang Udin," kata Marwah dengan tangan memutar-mutar handle pintu.

__ADS_1


"Maaf Mbak sini, saya yang coba," kata Udin dan ternyata rumah itu memang terkunci.


"Kok bisa terkunci ya padahal pak haji sama ibu tahu kalau kita akan pulang ke sin," kata Udin dengan wajah khawatir.


"Kalau begitu tak apa Kang Udin kita duduk aja di sini sambil menunggu Mama pulang siapa tahu kan mereka sedang mengunjungi suatu tempat." Marwah berucap seraya menyiapkan kursi untuk ibunya duduk.


"Ah iya mbak mungkin saja sih," kata Udin sambil mengambil lagi barang-barang yang masih ada di dalam mobil. Risma pun ikut membantunya. Setelah semua barang turun dan disimpan di depan teras rumah itu mereka pun duduk bersama sambil menunggu kedatangan sang tuan rumah. Karena sampai beberapa lama mereka duduk di sana dan tidak ada seorang pun yang membukakan pintu akhirnya Marwah meminta kepada Kang Udin untuk membawanya pergi ke rumahnya saja.


"Kita pergi ke rumah saya saja ya kang Ibu sudah lelah mungkin perlu istirahat."


"Tapi kan rumahnya pasti banyak debunya Mbak karena udah lama gak ditempati," kata Udin tak enak hati.


"Ya nggak apa-apa, Ibu bisa menunggu kok sambil n


saya dan Risma yang akan membersihkan rumahnya, nggak enak juga kan kalau kita duduk di sini terus mama sama papa nggak ada."


"Baiklah kalau begitu," Udin juga setuju. Akhirnya mereka pun kembali naik ke mobil dan mengambil barang bawaan mereka sendiri sedangkan barang-barang yang memang berasal dari rumah itu mereka tinggalkan di teras.


Saidah tersenyum melihat rumahnya walaupun sederhana dan sangat sempit tetapi itu adalah rumahnya sendiri. Ia yakin bisa nyaman berada di rumah itu.


Risma dan Marwah turun dari mobil dan langsung membuka pintu rumah itu. Mereka berdua membersihkan rumah itu dengan cepat agar ibu Saidah bisa beristirahat dengan nyaman. "Alhamdulillah kita bisa pulang ke rumah ya Bu."


"Iya nak. Alhamdulillah, Ibu sangat senang. Semoga ibu sudah tidak kambuh lagi penyakitnya dan tidak merepotkanmu."


"Ah Ibu jangan berkata seperti itu saya adalah putrimu dan akan senang jika engkau merepotkan aku." Saidah tersenyum dengan hati yang mengharu biru Ia pun masuk ke kamarnya yang sudah dibersihkan dan beristirahat.


Sedangkan Marwah dan Risma ikut beristirahat di beranda depan sambil meminum es jeruk yang diberikan oleh Kang Udin. Setelah cukup beristirahatnya Risma pamit.


"Aku pulang ya Marwah, Ibu dan Ayah pasti sudah lama menungguku."


"Terima kasih ya Is, kamu sudah banyak membantuku."


"Jangan berkata seperti itu. Aku kan sahabatmu. Kalau aku tidak membantu mu maka begitu memalukan nya diriku ini sebagai sahabat."


"Iya deh, aku tidak akan mempermalukanmu hehehe," ujar Marwah terkekeh.


"Baiklah aku akan pulang diantara oleh Kang Udin ya." ujar Risma seraya membuka pintu mobil Udin dan duduk disana dengan wajah cerianya.


"Hati-hati ya kang, jaga teman saya ini kembalikan ia ke rumahnya dengan utuh."


"Baik mbak Marwah." Udin tersenyum, ia sangat senang karena mempunyai waktu bersama dengan Risma saat ini.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2