Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 54 Sarapan Ala Pengantin Baru


__ADS_3

Putra menaiki tangga lantai 2 rumah itu dengan sangat ringan bagai berlari. Tak cukup 1 menit ia sudah sampai di lantai dua rumah itu. Di lantai atas


ia bertemu dengan Putri Ayuningtyas, sang adik. Nampak sekali wajah gadis itu langsung sumringah melihat kakak kesayangannya bisa ia temui setelah beberapa lama.


"Abang kapan datang?" tanya Putri seraya meraih tangan pria muda itu dan membawanya ke keningnya.


"Semalam." Putra menjawab dengan sangat singkat.


"Lho, kok gak ketemu?" tanya Putri dengan wajah bingungnya. Seingatnya, ia ada di Rumah saja semalaman tapi kok tidak bertemu dengan sang kakak.


"Lho, aku yang mau tanya, emangnya kamu dari mana saja? Semua orang 'kan lagi ngumpul-ngumpul di rumahnya Bu Idah. Kamu tidak ikut acara syukuran itu Put?" Putra menatap adiknya dengan tatapan menyelidik. Putri tidak menjawab. Ia sangat tidak suka kalau ada yang menyebut nama keluarga miskin itu di rumahnya.


"Hey, kok tidak menjawab?" tanya Putra lagi.


"Gak penting banget ah bang. Aku malas ngomongin mereka. Gak level!" jawab Putri dengan wajah yang sangat tidak nyaman dipandang. Gadis itu pun meninggalkan kakaknya dan turun ke lantai satu rumah itu.


Putra hanya mengangkat bahunya bingung dengan tingkah sang adik. Ia tahu betul kalau adiknya itu tidak pernah ramah pada orang lain. Dengan kebidanannya itu ia jadi jarang berkumpul-kumpul dengan orang lain.


Pria itu pun berusaha untuk tidak peduli. Ia sudah sering memberinya nasehat tapi ternyata ia tidak mau mendengarkannya. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Untuk saat ini ia hanya ingin bertemu dengan sang istri tercinta yang sudah memenuhi hatinya. Berpisah dalam hitungan jam saja ia sudah sangat rindu ingin bertemu.


Perlahan ia membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar itu. Satu tas kecil ditangannya ia simpan di atas meja di depan televisi. Kemudahan matanya tertumbuk pada sosok perempuan yang sangat ia rindukan pagi itu.


Ia pun tersenyum senang saat melihat seorang perempuan cantik sedang memakai kemeja putihnya yang kedodoran. Rambut pendek sebahu yang tampak masih basah ia urai bebas. Perempuan cantik itu sedang merapikan tempat tidur dan sedang membelakanginya.


Dengan langkah cepat ia segera berlari ke arah istrinya itu dan memeluknya dari belakang. Marwah tersentak kaget tetapi kemudian sadar kalau yang memeluknya adalah suaminya saat pria itu berbisik dengan sangat lembut di kupingnya.


"Marwah sayang, selamat pagi," ucapnya dengan suara yang sangat rendah pas di kupingnya. Marwah merasakan geli sampai membuat bulu kuduknya meremang. Apalagi suaminya itu berani menjilati kupingnya.


"Mas geli ah," ujar perempuan cantik itu seraya bergerak tidak nyaman didalam pelukan suaminya.. Putra semakin suka dengan aksinya itu. Ia pun mulai bergerak kearah leher istrinya dan memberikan hisapan dan gigitan kecil disana.


"Marwah, kamu harum sekali sayang," bisik Putra dengan tangan mulai bergerilya ke dalam kemeja yang sedang dipakai oleh sang istri. Ia mengelus lembut perut istrinya itu sampai Marwah semakin menggelinjang karena geli dan nikmat secara bersamaan.

__ADS_1


"Hey, kamu dapat baju dari mana ini sayang?' tanya Putra seraya memutar posisi istrinya agar menghadapnya. Marwah tersenyum dengan malu. Ia tidak berani menatap suaminya itu.


"Maaf ya mas, aku mengambil bajumu tanpa seizin mu. Soalnya aku tadi mau salat dan tidak memakai pakaian apapun."


"Trus kamu sholat pakai mukena pakai apa sayang?"


"Aku pakai sarungmu mas. Aku bentuk seperti ninja ala mukena seperti waktu aku kecil dulu." jawab Marwah dengan wajah polosnya.


Putra langsung tertawa kemudian menggelitik perut istrinya itu. "Kamu kok lucu sekali sih? Emangnya mukena kayak ninja itu kayak bagaimana? Trus katanya pakai sarung lagi." Putra kembali tertawa kemudian menggelitik lagi perut istrinya.


"Mas jangan diglitik lagi seperti itu," ujar Marwah dengan manja. Putra semakin bersemangat menggoda perempuan itu.


"Mas, hahahaha mas, ini sudah pagi lho aku ingin membersihkan tempat tidurnya. Aku juga ingin turun dan membantu Mama di dapur. Aku kan ingin jadi istri dan menantu yang baik." Marwah menjawab dengan nafas ngos-ngosan. Putra tersenyum lalu berucap, "Gak usah ke dapur. Ada banyak pelayan kok di dapur. Kamu cukup jadi istri yang baik di atas tempat tidur ya," ujar pria itu seraya mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.


"Kita 'kan sudah semalam mas," kata Marwah dengan ada manja.


"Jadi sekarang waktunya untuk keluar kamar mas," lanjut Perempuan itu dengan suara yang sangat manja. Suaminya semakin bersemangat saja dibuatnya. Ia langsung mengangkat tubuh istrinya itu dan melemparnya ke kasur empuk.


"Aku masih mau Marwah. Jadi berikan yang aku minta sayang," ujar Putra sambil membuka pakaiannya.


"Aku nggak Akan capek sayang, soalnya enak sih aku sampai ingin mengulangnya kembali," ujar Putra dan langsung menindih tubuh istrinya. Ia meraih bibir merah muda itu dan mengulumnya sangat lembut, mengeksplor membelit lidah sang istri sampai Marwah kehabisan nafas dibuatnya.


"Ambil nafas sayang," bisik Putra dengan senyum diwajahnya. Perempuan itu belum sempat menarik nafas dan kemudian sudah diserang oleh sang suami sampai Marwah mendorong suaminya itu deh keras.


"Kenapa?" tanya Putra yang melihat pipi istrinya memerah.


"Aku belum siap mas. Dan aku juga takut sakit lagi." kata Marwah dengan sangat manja.


"Tidak akan sakit lagi. Aku janji sayang.Aku akan membuatnya lebih enak daripada kemarin mau kan ya?" bujuk Putra seraya mengarahkan tangannya ke seluruh tubuh istrinya. Mengelusnya sangat lembut kemudian berhenti pada dua benda empuk dan juga kenyal dan sangat pas di tangannya. Jarinya memilin pucuknya dengan sangat lembut hingga membuat Marwah mendesis keenakan.


"Suka gak?" tanya Pria itu dengan tatapan penuh hasratnya. Marwah hanya mengangguk dengan wajah malu.


"Ayo katakan kamu suka atau tidak sayang?" tanya Putra lagi.

__ADS_1


"Iya Mas Aku sangat suka," jawab Marwah disertai dessahan lembut.


"Ya Allah Marwah, kamu bisa membuatku gila sayang," kata Putra lagi. Pria itu pun langsung meraup pucuk pink itu dan membawanya ke mulutnya. Marwah kembali mendessis dan merintih-rintih nikmat dibuatnya. Menit berikutnya, Marwah hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Proses penyatuan itu kembali terjadi dengan lebih dahsyat dan lebih garang daripada semalam.


Marwah seolah-olah dibawa ke kayangan dengan segala macam kenikmatan yang ada didalamnya. Mereka berdua terus mendayung sampai senjata sang suami meledak dengan sangat nikmat di dalam tubuh Marwah.


"Terimakasih banyak Marwah, kamu sangat luar biasa sayang," ujar Putra dengan tubuh dibanjiri keringat. Mereka berdua seperti habis berolahraga yang menguras banyak tenaga dan juga emosi mereka.


Menit berikutnya hanya deru nafas memburu yang kedengaran di dalam kamar itu. Mereka sangat kelelahan sampai akhirnya tertidur kembali di bawah selimut tebalnya.


"Putra sama Marwah Kok belum turun sih padahal sarapan sudah siap," gerutu Sasmita seraya memandang ke arah tangga berharap pasangan pengantin baru itu bisa segera turun. Haji Ismail tersenyum kemudian berucap , "Nggak usah ditungguin kita makan saja. Maklumlah pengantin baru, mereka akan lupa makan karena mereka punya makanan sendir, hahaha." Haji Ismail tertawa sedangkan Sasmita dan Saidah pun hanya bisa saling berpandangan dengan wajah malu.


"Ah Iya pah Aku kok lupa ya kalau kita pernah merasakan pengantin baru juga. Iya deh kita makan sama-sama. Putri yang ikut duduk bersama mereka hanya mendengus kesal. Kemarahannya semakin menjadi-jadi sungguh dia tidak suka kalau Marwah merasakan kebahagiaan dan sudah menikah sedangkan dirinya, Airlangga pun sudah memutuskannya.


"Putri kok nggak negur Bu Ida sih sayang?" tegur Sasmita pada putrinya itu.


"Ayo dong!" titah Sasmita dengan tatapan tajam pada sang putri.


"Oh hai Bu Ida. Apa kabar," tegurnya dengan wajah yang ditekuk.


"Putri negur orang, jangan seperti itu sayang?"ujar Sasmita lagi dengan wajah tidak suka.


"Iya Ma. Assalamualaikum Bu Ida apa kabar?" ulangnya lagi dengan suara yang sudah sedikit lebih lembut. Haji Ismail dan Sasmita saling berpandangan. Mereka menarik nafas berat. Entah kenapa putrinya ini sangat tidak bisa menjadi anak yang sopan seperti Marwah.


"Ah sudahlah, kita makan saja. Kasihan makanannya sudah dingin nanti," ujar Haji Ismail


"Iya pa."


Mereka pun makan tanpa menunggu pasangan pengantin baru yang sedang terlelap tidur di atas kamar mereka.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2