
Marwah menggeliat pelan di bawah pelukan Putra sang suami. Ia membuka matanya perlahan dan menyadari kalau matahari sudah sangat tinggi dar tirai jendela yang sudah ia buka.
perempuan itu meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat capek dan lelah sehabis bergulat dengan suaminya selama berjam-jam pagi ini. Setelah berusaha cukup keras, perempuan itu akhirnya lolos dari pelukan suaminya.
Ia turun dari tempat tidur kemudian masuk ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya. Rasa segar ia rasakan setelah mandi akan tetapi perasaan lapar pun ikut menyertainya. Maklumlah waktu duhur sudah hampir masuk dan itu berarti sebentar lagi ia akan melewati dua waktu makan.
Ia pun keluar dari kamar mandi dan membangunkan suaminya. "Mas bangun. Aku lapar," ujar Marwah dengan suara pelan Tangannya ia gunakan untuk memukul-mukul lengan suaminya dengan pelan. Putra hanya menggeliat sebentar kemudian melanjutkan kembali tidurnya.
"Mas. Bangun!" panggil Marwah lagi. "Aku lapar sekali mas, ini juga sudah hampir sholat dzuhur loh. Badanku gemetar," ujar Marwah dengan wajah ditekuk. Perempuan itu sebenarnya ingin turun ke lantai satu rumah itu dimana dapur dan ruang makan berada. Akan tetapi ia sungguh malu kalau ia jalan dan mencari makanan sendiri padahal tak ikut membantu memasak.
Dan mungkin saja ia akan bertemu dengan Putri Ayuningtyas, musuh bebuyutannya yang belum ingin ia temui.
"Mas, bangun dong. Aku bisa pingsan ini," panggilnya lagi dengan tubuh yang benar-benar sangat gemetar. Akhirnya Putra pun bangun kemudian memandang istrinya yang sudah tampak sangat segar itu, "Marwah sayang, kenapa kamu selalu cantik sekali?" ujar pria itu dengan mata kembali tertutup.
"Astagfirullah mas. Bagaimana mungkin kamu mengatakan aku cantik padahal matamu saja tidak terbuka, hah?" gerutu Marwah dengan suara yang mulai kesal. Tidak ada lagi suara manja yang ia keluarkan dari bibirnya saat ini. Ia sudah berada pada tingkat emosi yang tinggi karena rasa lapar yang melanda perutnya.
Putra hanya tersenyum tetapi masih setia dengan mata masih dalam keadaan tertutup. "Marwah sayang, meskipun aku menutup mataku kamu tetap sangat cantik karena wajahmu, seluruh tubuhmu ada di dalam hatiku sayang," ujar Putra dengan suara khas bangun tidurnya.
"Mas aku lapar. Aku sedang tidak butuh pujian darimu. Ayo bangun!" Ia pun menarik tangan suaminya sampai terbangun. Sekali lagi Putra hanya tersenyum.
Pria itu sangat suka membuat istrinya kesal, "Mas kamu harus mandi hanya 2 menit okey? atau aku akan memakanmu!" geram Marwah tak sabar.
"Hahaha!" Putra tertawa terbahak-bahak kemudian berucap, "Itu yang aku inginkan sayang."
"Mas!" teriak Marwah dengan dua tanduk yang sudah sangat siap menyeruduk lawan. Akhirnya Putra pun lari ke kamar mandi dan mandi bukan cuma 2 menit tetapi ia hanya mandi dalam satu menit.
Setelah itu ia keluar dari kamar dan berpakaian.
__ADS_1
"Ayo turun sayang. Kita akan makan seluruh isi dapur di rumah ini. Aku juga sangat lapar," ujar Putra seraya menarik tangan istrinya menuju ke pintu kamar dan keluar dari kamar itu.
Mereka pun menuruni tangga dengan cepat seolah berlari saking laparnya. Dua orang pengantin baru itu menuju ke ruang makan kemudian membuka tudung saji yang ada di atas meja.
"Alhamdulillah, rupanya penghuni rumah ini masih punya perasaan pada kita sayang. Makanan ini masih banyak. Aku yakin kita bisa menghabiskannya," ujar Putra seraya menatap isi meja yang masih sangat penuh dengan makanan itu.
Marwah mengambilkan piring untuk suaminya dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang disukai oleh Putra. Meskipun mereka sangat lapar tetapi dua orang pengantin baru itu tidak lupa membaca doa sebelum makan.
Dua orang pengantin baru itu makan dengan sangat khusyuk dan menunjukkan kalau mereka benar-benar sangat lapar. Tak ada lagi yang berbicara di antara keduanya hingga ruangan makan itu jadi sangat sepi.
Yang terdengar hanya bunyi gesekan sendok dan garpu yang beradu di atas piring. Setelah merasa sudah cukup kenyang dan menghabiskan banyak makanan di atas meja. Putra menatap wajah istrinya kemudian mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. "Alhamdulillahilladzi at'amana wa zakona waj'alna minal muslimin."
Putra membaca doa selesai makan dengan penuh syukur dan diaminkan sang istri. Dua orang itu saling melempar senyum di wajah mereka. Tubuh mereka juga sudah sangat segar dan kuat lagi. Mereka saling menatap dengan penuh cinta dan melupakan lingkungan sekitar.
Sasmita dan Saidah datang dan mengejutkan keduanya yang masih saling bertatapan.
"Ekhem, sudah saling tatap-tatapannya?" ujar Sasmita menggoda mereka. Marwah langsung merasakan pipinya menghangat malu. Ia menundukkan wajahnya karena kedapatan saling bertatapan dengan suaminya.
"Astagfirullah. Kalian berdua hebat sekali. Pantas makanannya langsung ludes seperti ini. Kalian benar-benar kelaparan, Hahaha. Darimana saja hah?" Sasmita dan Saidah kembali tertawa untuk membalas candaan anak laki-laki mereka.
"Itu karena kami habis berolahraga yang cukup menguras tenaga dan juga emosi Ma.Jadi kami sangat kelaparan." Putra tidak mau kalah untuk membalas candaan Mamanya.
Sedangkan Marwah langsung berdiri dari duduknya untuk mengangkat piring-piring kotor dan juga membersihkan meja makan.
Ia mulai mengangkat piring-piring kotor ke dalam dapur untuk dicucinya. Ia semakin malu saja berada di situ jika mama dan suaminya saling bercanda tentang apa yang sudah mereka lakukan di dalam kamar.
"Marwah" panggil Sasmita, sang mama mertua.
__ADS_1
"Iya Ma." jawab Marwah seraya menghentikan langkahnya ke arah dapur.
"Nggak usah dibersihkan sayang. Ada banyak pelayan di sini yang akan melakukan itu semua."
"Nggak enak ma, aku nggak bantuin masak juga dan sekarang aku makan banyak karena kelaparan bersama Mas Putra. Masak aku tidak bekerja sih,?"
"Ya emang gitu kalau pengantin baru makannya memang harus banyak supaya kuat dan sehat. Dan gak usah kerja, mama yakin kamu masih sangat lelah. Jadi setelah ini kamu minum susu ya supaya kamu nggak loyo." Sasmita memberikan sarannya dengan senyum samar diwajahnya.
"Iya ma." Marwah tak punya jawaban lain selain mengiyakan semua perkataan mama mertuanya.
"Suamimu itu sangat mengkhawatirkan sayang jadi kamu harus punya pertahanan yang kuat," ujar Sasmita tanpa ada filter sama sekali. Marwah hanya bisa menutup wajahnya karena malu.
"Oh ya ampun ma. Jangan membuatku seperti seorang penjahat. Lihat lah istriku sampai malu." Putra menimpali perkataan sang mama dengan candaan.
"Marwah, anggap ini candaan saja ya sayang. Yang sebenarnya adalah kamu harus kuat dan sehat untuk memberikan kami cucu yang sehat dan lucu." Putra tersenyum kemudian berjalan ke arah istrinya.
"Insyaallah Marwah kuat kok ma. Ia pasti bisa memberikan aku keturunan, Iyyakan sayang"' tanya Putra pada sang istri.
"Iya mas, berapapun yang kamu inginkan."
"Alhamdulillah, Marwahku memang terbaik." ujar Putra kemudian berpamitan. Ia ingin segera sholat duhur kemudian berjalan-jalan keliling kota ini bersama dengan sang istri.
"Apa hebatnya si Marwah itu sampai semua orang menyayanginya!" gerutu Putri saat melihat mereka semua sangat memanjakan kakak iparnya itu
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik , komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍