
Pagi pun datang, beberapa perawat dan juga dokter datang untuk memeriksa kondisi tubuh Saidah, sang pasien. Abdillah tersenyum senang karena kondisi perempuan paruh baya itu sangat baik. Suhu tubuhnya juga normal begitu pun tekanan darahnya.
"Alhamdulillah, tindakan lanjutan ibu Saidah bisa kita lakukan hari ini karena kondisi ibu sudah sangat baik."
"Terimakasih banyak dokter," ujar Saidah dengan wajah cerahnya.
"Saya yakin perasaan ibu pasti sangat bahagia hingga mempengaruhi imunitas yang sangat baik hari ini," ujar Abdillah dengan senyum yang belum luntur dari wajahnya.
"Tentu saja dokter, saya sangat bahagia karena semua keinginan saya sudah dikabulkan oleh Tuhan. Saya bisa melihat Marwah menikah adalah sebuah kebahagiaan tersendiri."
"Ah ya, dan ibu mendapatkan menantu yang sangat baik dan penuh perhatian." Abdillah berucap seraya melirik Marwah dan Putra bergantian. Dalam hati ia berharap bisa mendapatkan keluarga kecil dan bahagia seperti ini.
"Kalau begitu saya permisi ibu. Bersiaplah, perawat akan datang untuk membawa ibu ke ruang laboratorium." Abdillah pamit dari ruangan itu setelah berbasa-basi sedikit dengan Putra dan juga istrinya.
"Ibu harus semangat. Lihat, kondisi ibu lebih karena rasa positif dari dalam hati ibu," ujar Marwah seraya melap tubuh kurus itu dengan kain basah. Setelah itu ia menaburkannya bedak ke seluruh tubuh perempuan itu. Putra tersenyum melihat keakraban ibu dan anak itu. Selama ini ia sendiri tidak pernah melihat adiknya begitu akrab dengan mamanya. Sekali lagi ia bersyukur memiliki Marwah menjadi istrinya.
"Katakan kalau caraku menyisir ibu terasa sakit ya," ujar Marwah seraya menyisir rambut sang ibu.
"Gak kok, cara nyisir kamu itu lembut dan selalu bisa bikin ibu nyaman nak." Saidah menjawab dengan perasaan bahagianya.
"Nah sekarang sudah cantik. Ibu seperti gadis 17 tahun iyyakan Mas?" Marwah menatap suaminya meminta pendapat. Putra hanya mengangkat kedua jempolnya kemudian tersenyum.
"Ah kamu bisa aja hibur ibu. Ini usia ibu sudah lewat setengah abad, jadi mana mungkinlah sama dengan gadis 17 tahun."
"Hahaha, pokoknya ibu cantik kok. Putri ibu saja yang bernama Marwah Jingga cantiknya luar biasa kayak gitu, Apalagi emaknya yang menjadi sumber alamnya." Putra ikut berpendapat dengan tangan merengkuh pinggang istrinya. Marwah tersentak kaget dibuatnya. Ia belum terbiasa jadi sering kaget dan kadang sangat geli.
"Mas," ujarnya pelan. Ia grogi dengan perlakuan seperti itu dari suaminya.
"Kenapa?" tanya Putra dengan wajah santainya. Ia menatap sang istri dengan penuh cinta. Dan sungguh ia ingin sekali menciumi istrinya itu saat ini juga.
"Malu sama ibu," jawab Marwah dengan semburat merah di pipinya.
"MasyaAllah, kamu belum mandi saja bisa secantik ini secantik ini sayang, apalagi kalau...," Putra tidak melanjutkan kata-katanya tetapi malah mengecup pipi istrinya sekilas.
__ADS_1
"Astaga mas, malu sama ibu. Ya Allah." Marwah merasakan pipinya semakin menghangat malu. Putra semakin bersemangat saja menggoda istrinya yang cantik itu.
"Ada apa Marwah? Kok bisik-bisik gitu sih?" tanya Saidah penasaran. Ia memandang dua orang pasangan pengantin baru itu bergantian.
"Eh gak kok ibu. Aku cuma mau ke Kamar mandi sebentar, mau mandi dulu baru ngantar ibu ke laboratorium." Marwah menjawab seraya berusaha keluar dari rengkuhan suaminya.
Gadis itu begitu malu dan khawatir kalau ibunya akan melihat mereka seperti itu. Apalagi tangan suaminya sudah bergerak ke bagian belakangnya. Meremas dua bongkahan daging yang sangat montok miliknya. Ia sungguh tak menyangka kalau suaminya akan sangat mesum seperti ini. Ia sangat gugup dengan debaran dada terasa sangat kencang. Pipinya menghangat karena perasaan malu dan bahagia.
"Mas," ucap Marwah dengan sangat pelan bagaikan desisan. Setelah itu ia langsung melepaskan dirinya dan mencari handuk dan juga pakaian gantinya. Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi dengan cepat tanpa mau melihat suaminya.
Putra tersenyum dan berniat untuk mandi juga.
"Ibu, aku ingin ke sana juga. Bolehkan?" izin Putra dengan wajah santainya.
"Ya, silahkan. Kalian sudah halal. Marwah adalah milikmu. Datangi dia dimanapun engkau mau."
Saidah menjawab dengan senyum diwajahnya. Ia sangat maklum dengan dua orang pengantin baru itu. Mereka berdua seharusnya menikmati waktu berdua dengan sangat indah dan bukannya malah berada di rumah sakit seperti ini.
"Terimakasih ibu." Dengan langkah cepat dan tak sabar, Putra langsung menuju kamar mandi. Entah kenapa ia sangat ingin menyentuh istrinya yang sangat ia cintai itu.
Putra membuka pintu kamar mandi ruang perawatan itu dengan pelan. Untungnya Marwah tidak menguncinya sehingga ia bebas masuk kapan saja.
"Mas? Kamu disini?" tanya Marwah dengan wajah yang sangat kaget.
"Kamu sengaja memanggilku kemari Marwah. Dan sekarang kamu harus bertanggung jawab karena telah membuatku ada di dalam sini."
"Mas, kamu? Ibu akan bilang apa kalau tahu kamu masuk ke tempat ini? Aku malu mas?" Marwah semakin grogi dan khawatir. Ia pun memundurkan tubuhnya ke dinding seraya memegang handuknya.
Putra tersenyum, keadaan istrinya yang hanya mengenakan handuk saja langsung membuat pria itu semakin bersemangat menghampirinya.
"Sayang, ibu sudah mengizinkan aku kesini. Jadi tidak masalah 'kan?" ujar pria itu tersenyum. Ia terus melangkahkan kakinya ke arah istrinya padahal Marwah terus saja memundurkan tubuhnya ke dinding.
"Mas,"
__ADS_1
"Kenapa sayang? Jangan takut. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu sakit sayang," ujar Putra seraya merengkuh tubuh istrinya dengan tangannya yang besar.
"Mas, aaaaaww." Marwah berteriak tertahan karena begitu kaget dengan aksi suaminya yang langsung membuka handuknya.
"Jangan berteriak sayang, ibu nanti sangat khawatir. Aku cuma ingin melanjutkan yang semalam. Aku belum mencicipi yang ini," ujar Putra seraya menyentuh squisy lembut dan kencang milik Marwah yang sudah terekspos sempurna.
"Mass, ya ampun. Aku aaaaakh." Marwah sudah tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Ia hanya bisa mendesis nikmat seraya meremas rambut suaminya yang sedang menjelajahi pucuk squisinya.
"Marwah sayang, aku sangat menginginkanmu," bisik Putra dengan suara bergetar penuh hasrat yang semakin memuncak.
"Mas, ibu akan ke laboratorium. Kita harus keluar sekarang," ujar Marwah diantara perlakuan suaminya yang sangat memabukkan. Putra merasa lupa diri. Ia tidak ingin menghentikan aksinya. Tapi sepertinya Marwah yang sangat khawatir dengan keadaan ibunya di luar sana langsung berusaha melepaskan dirinya. Ia tak mau kalau perawat itu datang dan melihat Ibunya hanya sendiri.
"Mas, Maafkan aku, kita harus keluar sekarang juga. Ibu harus ke laboratorium." Marwah memohon dengan sangat. Ia tahu kalau ia akan mengecewakan lagi suaminya untuk yang kedua kalinya. Putra pun melepaskan bibirnya dari benda yang merupakan favoritnya.
"Mandilah, aku akan tunggu kamu di luar," ujarnya kemudian meninggalkan istrinya itu di dalam kamar mandi itu.
Ia tahu ia harus mendinginkan dirinya sekarang dari hasrat yang tidak kesampaian lagi.
Sabar
Sabar
Pria itu terus menstimulasi dirinya agar bisa bersabar dengan apa yang baru ia dapatkan setengah-setengah.
"Marwah sudah mandi nak?" tanya Saidah yang sedang melihatnya keluar dari kamar mandi dengan wajah kusut.
"Sementara akan mandi Bu," jawabnya dengan berusaha untuk tersenyum kemudian melangkahkan kakinya ke arah lemari pendingin untuk mencari minuman dingin.
Saidah hanya tersenyum. Ia tahu kalau menantunya itu sedang sangat frustasi sekarang. Ia berharap Putra bisa mengerti keadaannya saat ini.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍