Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 27 Belum Berniat


__ADS_3

"Terimakasih banyak nak. Kamu memang anak yang baik," ujar Hendra Setiawan dengan dada berdebar bahagia. Ia menatap putri satu-satunya itu dengan hati menghangat.


Hari ini benar-benar merupakan hari kemenangan yang spesial buat pria itu. Mendapatkan maaf dari putrinya adalah anugrah yang sangat luar biasa dalam hidupnya.


Marwah tersenyum seraya menyusut airmatanya. Ia lantas meraih tangan pria paruh baya itu kemudian meletakkannya di atas tangan ibunya. Ia pun berucap dengan hati yang masih terasa nyeri.


"Ayah belum meminta maaf dengan baik pada ibu. Padahal Ibu yang paling tersakiti di sini. Ia banyak menanggung penderitaan yang sangat banyak selama ayah meninggalkannya. Ibu menjadi single parent selama belasan tahun dengan kondisi tubuh yang sakit-sakitan, hikss." Suara Marwah bergetar menahan tangis yang kembali ingin merebak dan memaksa air matanya untuk keluar dari kelopak matanya.


"Apakah Ayah tahu kalau ibu sangat menderita selama ini? Ibu selalu ingin bertemu kembali dengan ayah, hiks. Setiap saat ibu selalu menyebutmu."


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung tersentil. Mereka tahu bahwa perkataan Marwah benar adanya.


Hendra langsung menatap wajah kurus yang nampak sudah sangat tua dari usianya itu. Ya, karena penyakit yang dideritanya, perempuan itu nampak sangat menderita dan juga lebih berumur.


"Idah, Saya ingin meminta maaf padamu. Seperti pada Marwah, saya ingin kamu menghukum atau memukulku, jika itu bisa membuatku merasakan sakit dan penderitaan yang kamu alami selama ini. Kumohon maafkan saya Idah." Ucapan permintaan maaf Pria itu langsung mendapatkan lelehan airmata dari seorang perempuan yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit itu.

__ADS_1


"Saya memaafkanmu mas. Saya hanya ingin berpesan padamu untuk menjaga putri kita satu-satunya."


"Tentu saja Idah. Kita berdua akan menjaga Marwah sampai datang seseorang yang akan mengambilnya menjadi tanggungjawabnya." Hendra tersenyum kemudian melirik seorang pria muda dan tampan yang mengaku pada dirinya kalau ia adalah calon menantunya.


Putra merasakan dadanya berdebar karena merasa tersindir. Ia langsung mengalihkan pandangannya kearah Sasmita sang Mama. Ya perempuan paruh baya itu seolah tidak berada di tempat padahal ia sejak tadi diam saja melihat dan menonton drama pertemuan keluarga itu.


"Bagaimana kalau hari ini Marwah dan Putra kita nikahkan saja secepatnya untuk menghindari fitnah atau godaan lainnya." H. Ismail segera memberi usul. Pria paruh baya itu sejak tadi mendengarkan saja apa yang terjadi didalam ruangan itu.


"Itu bagus sekali Papa. Aku sangat setuju." Putra langsung menjawab dengan wajah gembira. Ia juga ingin mendengarkan kata-kata seperti ini


"Saya? Apakah saya mempunyai hak untuk itu Pak Haji? Sedangkan saya adalah seorang ayah yang baru saja datang dalam kehidupan dalam keluarga ini." Tiba-tiba saja Hendra Setiawan merasa rendah diri. Ia jadi merasa malu jika ingin mengatur dan menentukan hidup Marwah padahal ia tidak pernah menafkahinya sedikitpun.


"Tentu saja Pak Hendra. Bagaimana Bu Idah betulkan apa yang saya katakan?" Saidah tersenyum dengan wajah lemah dan pucat nya.


"Itu betul sekali pak haji. Meskipun Mas Hendra lama meninggalkan kami tapi ia adalah ayah kandung dari Marwah."

__ADS_1


"Nah anda dengar 'kan Pak Hendra. Bapak adalah wali dari Marwah. Jadi anda berhak menjadi penentu dalam kehidupan Marwah." H. Ismail semakin senang, karena pernikahan yang sudah lama direncanakannya ini akan segera terjadi.


"Apakah tidak ada yang ingin meminta pendapatku?" tanya Marwah yang sejak tadi diam menyimak pembicaraan mereka tentang dirinya dan juga Putra.


Semua orang langsung menatap gadis cantik berhijab yang ada di samping ranjang sang ibu.


"Ah ya, aku yang akan bertanya pada mu Marwah. Maukah kamu menikah denganku?" Putra langsung mengambil alih pembicaraan dan langsung membuat semua orang tersenyum kecuali gadis itu.


"Maafkan saya Mas, tapi Aku belum mau menikah kalau ibu belum sembuh." Marwah menjawab seraya mengelus lembut pucuk kepala ibunya. Semua orang langsung terlongo mendengar jawaban yang tidak disangka-sangka dari gadis itu.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2