
Melihat para tetangga yang datang ke rumah mereka untuk menikmati hidangan yang disuguhkan, hatinya sungguh sangat senang. Saidah dan Marwah sudah lama ingin berbagi seperti yang dilakukan oleh keluarga H. Ismail. Akan tetapi mereka tidaklah mempunyai harta sebanyak itu. Mereka hanya punya harta untuk makan sehari-hari. Itupun dalam perhitungan yang sangat sederhana.
Marwah meraih tangan Sasmita dan juga H. Ismail dan menumpuknya di atas tangannya. Ia pun berucap dengan senyum mengembang penuh syukur. "Terimakasih banyak Ma, Pa, ibu dan saya sangat bersyukur karena kalian telah banyak membantu kami." H. Ismail tersenyum kemudian menjawab, "Bersyukurlah pada Allah nak. Karena Ia yang telah menggerakkan hati hambanya untuk melakukan kebaikan dengan berbagi."
"Sesungguhnya kami ini tidak ada apa-apanya jika Allah tidak memberikan rahmat dan karunianya kepada kita semua."
"Iya Ma, Alhamdulillah." Marwah menundukkan wajahnya dengan hati penuh rasa haru dan juga bahagia.
"Andaikan Putra juga ada di tempat ini Mama yakin dia juga sangat bahagia melihat kemeriahan di rumah ini. Suamimu itu juga paling suka berbagi seperti yang kita lakukan saat ini." Sasmita menimpali seraya membayangkan putra pertamanya itu ada di sana bersama dengan mereka.
"Iya Ma, aku juga berharap mas Putra bisa ada di tempat ini. Pasti akan lebih seru. Apalagi ia suka sekali bertemu dengan banyak orang." Marwah tersenyum dengan dada berdebar. Entah kenapa ia begitu rindu dengan suaminya itu.
"Ah ya, kalau semua urusan suamimu telah selesai, pasti ia akan pulang sayang. Apa kamu tahu? Kalau ia menelpon Mama ia selalu bilang kalau ia sudah sangat rindu padamu." Sasmita mengelus lembut kepala sang menantu sedangkan Marwah sendiri langsung tersenyum malu dengan apa yang dikatakan oleh mama mertuanya.
"Apa mas Putra benar-benar mengatakannya pada Mama?" tanya Marwah dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Sungguh ia sangat mendengar kalau suaminya sangat merindukannya.
"Tentu saja sayang, ia bahkan ingin membawamu ikut serta bersamanya saat ia pulang nanti."
"Ih mama. Mana bisa begitu, siapa yang akan menjaga ibu di rumah ini?" Marwah langsung merasa sangat khawatir jika itu terjadi. Ia tidak mungkin meniggalkan ibunya sendiri dalam keadaan yang sudah sangat tidak sempurna seperti itu.
"Kan ada Mama sayang, Ibumu bisa tinggal bersama dengan kami di rumah." Saidah yang sejak tadi menyimak pembicaraan itu langsung angkat bicara.
"Iya Marwah, ikutlah sekali-kali dengan suamimu nak. Itung-itung bulan madu. Kalian 'kan belum sempat merasakan enaknya pengantin baru."
"Ih ibu ngomong apa tuh. Mas Putra pasti mengerti kok kalau aku disini jaga ibu." Marwah tampak tak rela karena tidak bisa membayangkan akan jauh dari ibunya dan malah hidup bersama dengan suaminya.
"Eg, gak boleh ngomong gitu. Perempuan kalau sudah menikah haruslah ikut suami. Itu sudah kewajiban yang tidak boleh ditawar-tawar." Saidah langsung meraih putrinya itu untuk memberinya pengertian.
"Kalau gitu ibu harus ikut bersama dengan kami, bagaimana? Ma Pa? Bolehkan?" Marwah menatap kedua mertuanya dengan pandangan memohon. Sasmita dan H. Ismail saling berpandangan kemudian tersenyum.
"Suamimu yang punya hak untuk menjawabnya. Mama sih menyerahkan semuanya padanya."
"Ah iya Ma. Aku akan memohon pada mas Putra supaya mau meloloskan permohonanku ini," ujar Marwah tersenyum lebar.
"Kalau kamu yang minta, apapun pasti akan dilakukannya. Emang suamimu itu sudah cinta mati sama kamu Marwah," ujar Sasmita berpura-pura kesal. Semua orang langsung tertawa dibuatnya.
"Eh, kalau suamimu pulang, kita juga sudah harus merencanakan sebuah pesta pernikahan yang sangat meriah diantara kalian berdua. Kita akan mengundang semua orang di kota ini untuk datang mendoakan kalian dan tentu saja menikmati hidangan yang Mama siapkan, hehehe" kekeh Sasmita.
__ADS_1
"Mama jangan repot-repot. Uang untuk biaya ibu di rumah sakit saja sudah sangat banyak. Kalian jangan lagi mengeluarkan uang yang banyak untuk hal yang tidak perlu."
"Eh, apanya yang tidak perlu nak. Acara walimah pernikahan itu penting. Bukan untuk pamer tapi untuk mengumumkan pada semua orang kalau kalian sudah menikah dan sudah sah bersama-sama. Jadi tidak ada fitnah yang mungkin diarahkan pada kalian berdua." H. Ismail ikut menimpali pendapat istrinya. Ia ingin semua orang tahu kalau Putra Adam Wijaya sudah menikah dan tidak menerima lagi lamaran dari beberapa keluarga lain yang sudah lama ingin berbesan dengannya.
"Iyaa ma. Aku akan ikut apa saja yang menurut kalian baik."
"Nah gitu dong. Kan bagus kalau kita kompak." perempuan itu tersenyum. Ia sangat senang karena Marwah sang menantu mau mendengarkan dan mengikuti apa saja keinginannya.
Pembicaraan mereka terhenti karena tamu yang datang sudah banyak yang berpamitan. Tamu yang tadinya sangat banyak sampai memenuhi halaman di depan rumah Idah kini sudah mulai berkurang.
Tadinya jumlah tamu yang hampir menyerupai sebuah pesta itu sangatlah banyak. Mereka adalah dari keluarga dekat dan jauh. Semua datang untuk makan dengan puas karena keluarga haji ismail menyiapkan begitu banyak hidangan.
Setelah acara selesai pun mereka semua diberikan souvenir untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Yang perempuan diberikan jilbab atau hijab sedangkan untuk laki-laki di berikan hadiah berupa sarung dan kopiah.
Marwah dan Saidah benar-benar merasa seperti kejatuhan durian runtuh. Sang ibu merasakan bahwa penyakitnya ini membawa banyak hikmah dalam keluarga kecilnya. Putrinya menikah dengan anak dari sahabatnya yang ternyata adalah orang yang sangat kaya raya. Selain itu mereka juga baik hati dan suka berbagi.
"Kang, ternyata capek juga ya melayani para tamu yang jumlahnya sangat banyak ini," ujar Risma seraya memijit kaki nya karena kelelahan melayani para tamu.
"Ini sih belum seberapa Is. Pak haji kalau mengundang orang itu bisa sampai seharian kita melayani para tamunya. Untungnya ini dibatasi hanya dua jam saja."
"Lain kali kalau bikin acara kayak gini lagi harus ada pansus catering supaya kita gak terlalu lelah kayak gini."
"Iya, pak haji kalau acara besar seperti nanti nikahannya mas Putra ya pasti menggunakan jasa catering. Dan kamu bisa duduk santai dengan aku, hehehe," kekeh pria muda itu dengan memperlihatkan giginya yang rapih.
"Eh?" Risma menatap pria itu dengan wajah meringis.
"Kenapa? Kamu gak suka sama aku Is?" tanya Udin dengan tatapan serius ke dalam mata gadis itu. Risma tersentak kaget. Ia langsung menarik pandangan matanya.
Terus terang, Udin adalah pria baik, sopan, dan juga tampan. Tapi sayangnya hatinya sudah dimiliki oleh dokter Abdillah. Dan ia tentu harus menunggu pria itu untuk datang melamarnya.
"Aku suka kok, tapi kamu kan sudah aku anggap sebagai kakak, teman, dan juga sopir yang paling oke punya. Aku tidak pernah mabuk kalau kamu yang bawa mobilnya hehehehe," kekeh Risma bercanda.
"Hem, cuma itu?" tanya Udin dengan hati teriris sakit. Ia kembali memandang wajah gadis cantik dihadapannya itu dengan perasaan campur aduk.
"Iya kang. Lagipula aku udah ada yang lamar. Jadi maaf ya, akang pasti akan dapat gadis yang lebih baik, lebih cantik, dan lebih pengertian daripada aku."
"Ah iya gak apa-apa. Santai saja. Kita akan tetap jadi teman dan saudara," ujar Udin dengan senyum terpaksa diwajahnya.
__ADS_1
"Makasih ya kang."
"Ah Iya. sama-sama Is. Eh, ngomong-ngomong kamu belum makan ya?"
"Iya kang. Aku belum makan dan sekarang aku sudah sangat lapar," ujar gadis itu seraya mengelus lembut perutnya yang sedari tadi bernyanyi.
"Aku ambilkan ya, mau makan apa?" tanya Udin seraya berdiri dari duduknya.
"Gak ngerepotin nihh? Akang pasti lelah 'kan?"
"Gak Kok. Aku kan kakakmu. Untuk adik, kakak ini pasti siap melakukan apa saja."
"Kalau gitu Aku ingin sup daging. Trus pakai sambel pedas level 7."
"Hah? Emangnya ada sambel level 7?" tanya Udin dengan senyum diwajahnya. Entah kenapa ia sekarang merasa bisa lebih dekat dengan Risma sebagai kakak.
"Ya ada dong, level 10 pun ada, tapi aku mau sup daging yang sangat panas ya kang."
"Iya, kamu tenang saja. Semua yang kamu mau pasti aku siapkan." Mereka berdua pun sibuk dengan urusan makanan dan juga canda tawanya.
Marwah yang melihat tingkah mereka berdua tiba-tiba saja merasa was-was.
Apa mungkin ada yang tidak beres dengan mereka berdua?
Trus bagaimana dengan dokter Abdillah?
"Ah, jangan berburuk sangka dulu," ujar seseorang dari arah belakangnya. Sebuah suara yang sangat ia kenal. Ia pun berbalik dan menatap sosok itu dengan mata berkaca-kaca.
"Mas Putra?"
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1