
"Apa rencanamu selanjutnya nak?" tanya Saidah setelah menemani putrinya bersantap sahur. Pagi itu kesehatannya sudah lebih baik jadi ia berniat untuk berpuasa.
"Rencana kayak apa Bu? Semua rencanaku ambyar. Hadiahnya cuma cukup untuk pengobatan ibu sebelum operasi. Dan ya, gaun Risma juga harus aku ganti, susah untuk kembali seperti semula."
"Kenapa dengan gaunnya Risma. Rusak atau sobek?" Saidah menatap putrinya itu dengan tatapan khawatir.
"Ada yang nakal Bu. Ditempeli permen karet gitu," jawab Marwah dengan wajahnya yang bersungut-sungut kesal.
"Innalilahi. Ya udah kamu sabar aja. Setelah toko buka. Kamu segera belikan Risma gaun yang sama. Anak itu sudah cukup baik sama kamu nak."
"Iya Bu. Insyaallah." Marwah pun berdiri dari balai-balai tempat mereka makan untuk membawa piring-piring kotor ke tempat nyuci piring.
"Eh, kamu dengar gak apa yang ibu bicarakan semalam?" tanya perempuan paruh baya itu setelah berhasil mengingat kalau ia kedatangan tamu sewaktu putrinya pergi mengikuti lomba.
"Yang mana Bu?"
"Oh iya. Itu artinya kamu benar-benar sudah tertidur."
"Ah yang mana Bu? Aku jadi penasaran." Marwah pun kembali duduk di hadapan ibunya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakannya.
"Paman Mail yang tinggal di perempatan jalan menuju ke rumah ini semalam. Ia datang bersama dengan istrinya. Katanya baru dengar kalau ibu habis dari Rumah Sakit."
"Oh, yang punya rumah besar itu?"
"Iya. Kamu kenal mereka bukan?"
__ADS_1
"Ya kenal lah Bu. Kan orang terkenal. Orang kaya itu gampang dikenal hehehe. Beliau kan juga orangtua teman aku Bu. Meskipun aku belum pernah bertemu dengan orangnya sih."
"Oh orangtuanya teman? Teman yang mana?" Saidah semakin ingin tahu sebelum menyampaikan maksud kedatangan orang penting di kampungnya itu pada putrinya.
"Putri Ayuningtyas Bu. Teman sewaktu SMA."
"Oh, gitu? Baguslah kalau begitu."
"Lho, emangnya kenapa Bu?"
"Paman Mail itu ingin melamar kamu untuk putranya nak."
"Hah? melamar? Memangnya beliau punya putra Bu?" Mata Marwah langsung membulat tak percaya dengan pendengarannya.
"Heh, kok kaget gitu sih pertanyaannya? Ya iyalah punya putra makanya tuh beliau ingin kamu jadi menantunya."
"Ada dong. Ini anak sulungnya. Dulu ibu pernah bertemu dengannya sewaktu masih kecil. Tapi sekarang kan katanya udah gak tinggal di sini."
"Oh gitu ya Bu. Tapi aku belum mau menikah Bu. Apalagi dengan orang yang tidak aku kena sebelumnya. Dan semoga saja aku bisa belajar sampai universitas dulu."
"Ya gak apa-apa kalau kamu belum mau. Nanti ibu sampaikan pada mereka kalau mereka datang lagi." Saidah menarik nafas panjang. Ia merasa cita-cita putrinya terlalu tinggi padahal kemampuan mereka sangatlah tidak memungkinkan untuk itu.
"Iya Bu. Lagipula usia kami juga belum cukup deh untuk menikah. Jadi ibu jangan pikirkan itu ya," ujar Marwah dengan senyum diwajahnya.
Gadis itu sebenarnya tidak ingin menjalin hubungan dengan yang namanya Putri Ayuningtyas yang sejak dulu tidak pernah baik padanya sejak sekolah di SMP sampai SMA.
__ADS_1
Kalau bisa, ia tidak ingin bertemu lagi dengan gadis jahat itu untuk menghindarkan hatinya dari hal-hal yang buruk. Sungguh, ia adalah gadis yang tidak ingin mencari masalah dengan orang lain. Menurutnya menghindari hal buruk adalah pilihan yang terbaik.
Saidah hanya bisa tersenyum meskipun ia ingin sekali putrinya itu menerima lamaran Paman Mail. Setidaknya kalau ia harus pergi menghadap ilahi, ia bisa pergi dengan tenang karena putrinya itu sudah ada yang jaga.
Allohu Akbar
Allohu Akbar
Allohu Akbar
Allohu Akbar
Sayup-sayup terdengar bunyi azan subuh dari arah Musholah. Mereka berdua tidak lagi membahas tentang lamaran itu. Mereka khusuk mendengarkan azan sampai selesai.
"Aku ke Mushola ya Bu," pamit Marwah kepada sang ibu.
"Iya nak. Minta pada Allah agar kamu diberikan ketetapan hati."
"Insyaallah ibu. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍