Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 43 Ada Banyak Hikmah


__ADS_3

Hari yang dinanti pun tiba. Jadwal operasi untuk Saidah akan dilaksanakan beberapa jam lagi. Akan tetapi beberapa dokter termasuk dokter Abdillah dan beberapa perawat sudah datang ke kamar perawatan perempuan paruh baya itu untuk memeriksa kesiapan pasien.


Abdillah sebagai dokter bedah yang akan menangani ibu Saidah memerintahkan pada perawat untuk memberikan sabun khusus pembersih va*gina untuk mengurangi risiko infeksi. Setelah itu meminta ibu Saidah untuk berpuasa selama 8 jam sebelum operasi.


"Jadi mulai jam 2 dini hari ibu sudah tidak boleh makan dan minum ya," ujarnya pada perempuan yang sedang diberikan potongan buah dari tangan Marwah itu.


"Iya dokter. Makanya saya sekarang makan yang banyak hehehe," jawab Saidah terkekeh.


"Makan buah bagus untuk kesehatan ibu. Silahkan makan yang ibu mau sekarang." Abdillah tersenyum. Kemudian memberikan kode pada perawat perempuan agar memberi tahu pada pasien setelah ia keluar nanti untuk meminta ibu Saidah membersihkan v"agina (douching) dan d*ubur (enema) pasien. Karena pasien tersebut sedang makan. Dan yang terakhir adalah perawat itu harus memberikan antibiotik melalui infus untuk mengurangi risiko infeksi sebelum operasi.


"Jadi untuk operasi besok. Ibu Saidah akan melalui prosedur yang namanya Histerektomi, yaitu prosedur operasi untuk mengangkat rahim."


"Tergantung pada jenis histerektomi, leher rahim, saluran telur, dan indung telur juga bisa diangkat. Histerektomi umumnya dilakukan jika gangguan di rahim, tuba falopi, dan sel indung telur tidak lagi bisa ditangani dengan tindakan lain."


"Radical hysterectomy with bilateral salpingo-oophorectomy, Prosedur ini bertujuan untuk mengangkat rahim, serviks, tuba falopi, indung telur, bagian atas ******, serta sejumlah jaringan dan kelenjar getah bening di sekitarnya. Histerektomi jenis ini dilakukan bila terdapat kanker di bagian yang akan diangkat."


Rahim berperan penting dalam siklus menstruasi dan kehamilan. Ada berbagai gangguan yang bisa terjadi pada rahim dan organ sekitarnya, misalnya miom, endometriosis, tumor, atau kanker. Tergantung pada tingkat keparahan penyakit serta kondisi pasien, dokter dapat menyarankan histerektomi sebagai penanganan.


Saidah, Marwah, dan Risma mendengarkan dengan baik pemaparan yang disampaikan oleh sang dokter. Mereka bertiga cukup ngeri juga dengan penyakit yang sedang diderita oleh Saidah.


"Jadi, Histerektomi biasanya dilakukan pada gangguan atau penyakit yang berbahaya pada rahim, tumor rahim yang berukuran besar, dan kanker rahim.


Perlu diketahui bahwa setelah rahim diangkat, siklus menstruasi akan terhenti dan kehamilan tidak akan terjadi. Wanita yang menjalani histerektomi juga bisa mengalami menopause dini bila indung telurnya ikut diangkat."


"Gak apa-apa dokter kalau saya menopause. Saya sudah memilki Marwah. Dan ya, saya berharap sekali ia memberikan saya banyak cucu untuk melanjutkan keturunan keluarga saya." Saidah menjawab setelah menghabiskan gigitan terakhir buah pear yang diberikan oleh putrinya.


"Tenang saja ibu, insyaallah kalau Allah menghendaki saya dan Marwah akan memberimu satu lusin cucu yang lucu." Putra langsung ikut menimpali seraya menyentuh bahu sang istri.


"Kamu setuju kan sayang?" tanyanya pada Marwah yang langsung menunduk karena malu. Suaminya paling cepat bereaksi kalau berhubungan dengan hal yang berbau reproduksi.

__ADS_1


Dasar mesum!


"Iya mas, yang penting ibu dan kamu senang dan bahagia deh." Marwah menjawab dengan senyum diwajahnya. Semua orang ikut tersenyum. Sedangkan Abdillah langsung tertawa, "Hahaha, semoga aku juga bisa segera mendapatkan pasangan dan calon ibu untuk anak-anakku kelak," ucapnya seraya memandang Risma yang ternyata juga sedang memandangnya.


Dada mereka berdua tak ayal langsung berdebar tak karuan. Mereka saling melemparkan senyum samar.


"Aamiin," ucap semua orang mengaminkan keinginan sang dokter.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi ya Bu. Istirahat yang cukup. Dan untuk semuanya mohon doanya agar operasi besok berjalan dengan lancar."


"Aamiin Allohumma aamiin." Sekali lagi semua orang mengaminkan perkataan sang dokter.


"Dan ya, sebelum saya keluar. Bisa kah saya meminjam nona Risma untuk beberapa saat? Ia akan kembali sebelum waktu besuk pasien tutup."


"Eh?" Risma langsung dibuat kaget. Ia tidak tahu apa maksud dokter itu mengajaknya keluar.


"Terimakasih banyak Pak Putra. Anda sangat pengertian." Abdillah tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya pada Risma yang sepertinya masih tampak ragu.


"Is, ayolah. Pak dokternya mungkin lagi pengen ngajak kamu jalan di depan aja kok." Marwah ikut memberi dukungan pada sang sahabat.


"Hum, baiklah. Aku ikut dokter dulu ya Bu," ujarnya meminta izin pada Saidah.


"Iya, ingat untuk cepat kembali ya," ujar Saidah tersenyum.


"Terimakasih banyak semuanya, saya berjanji akan membawa Risma kembali dengan utuh, insyaallah." Abdillah berucap kemudian berjalan ke arah pintu dan membukakannya untuk gadis itu.


Tiga orang yang masih berada di dalam kamar perawatan itu saling berpandangan kemudian saling melempar senyum.


"Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kejadian ini bu. Apa yang ibu alami bukanlah semata-mata musibah. Karena dengan kejadian ini, aku dan Marwah berjodoh sedangkan dokter itu sepertinya sedang mencari jodohnya juga, hehehe," ujar Putra terkekeh seraya meraih pinggang istrinya.

__ADS_1


"Ah ya, kamu betul sekali nak. Terkadang apa yang kita anggap buruk sebenarnya menyimpan banyak pembelajaran untuk kita semua," balas Saidah dengan senyum diwajahnya.


"Ibu habiskan susunya ya," ujar Marwah seraya meraih gelas susu dari atas nakas samping ranjang sang ibu.


"Iya, sini ibu habiskan. Mumpung masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk makan dan minum," balas perempuan paruh baya itu seraya meraih gelas susu yang diberikan oleh sang putri.


"Bismillahirrahmanirrahim. Semoga minuman dan makanan ini menjadi berkah dalam tubuhku, Aamin ya Allah." Saidah pun meminum susu itu sampai habis.


"Ibu bisa istirahat sekarang," ujar Marwah seraya menepuk-nepuk bantal untuk ibunya.


"Saya hanya ingin membaca Alquran nak. Berikan Mushafnya sayang," ujar perempuan itu dengan wajah gembiranya. Marwah dan Putra saling melempar senyum. Mereka bahagia karena ibu mereka tidak nampak tegang dan takut sama sekali.


"Ibu, bolehkan kami ke kantin dulu. Kami ingin makan." Putra meminta izin pada sang ibu sebelum perempuan itu memulai membaca mushafnya.


"Iya, silahkan kalian jalan-jalan saja. Pasti kalian bosan dengan suasana seperti ini."


"Ya Allah ibu, jangan berkata seperti itu. Kami tidak pernah merasa bosan menjaga ibu disini." Marwah langsung memeluk ibunya dengan menangis. Sungguh, ia tidak pernah merasa bosan merawat sang ibu.


"Marwah, saya tidak marah sayang. Maksud saya, kamu dan suamimu perlu melihat suasana di luar sana. Biarkan saya di sini. Perasaan ibu baik-baik saja kok. Lagipula kalau saya merasa tidak nyaman, saya akan memencet tombol ini kan?"


"Iya Bu. Baiklah, kami pergi dulu. Kami tidak akan lama kok. Cuma makan aja," ujar Putra seraya meraih tangan istrinya agar segera pergi dari sana. Ia sudah sangat lapar sekarang.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2