Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 37 Sebuah Rasa


__ADS_3

Lampu yang sangat terang di dalam ruangan itu membuat Putra semakin tidak bisa tidur. Ia pun bangun dan mematikan alat penerangan di dalam kamar perawatan itu sebagian. Dan sayangnya baru saja ia mematikan lampu, dua orang perawat masuk ke dalam kamar itu untuk mengecek kondisi kesehatan pasien, seperti suhu tubuh dan juga sebuah suntikan anti biotik.


"Maaf Pak, kami hidupkan lagi lampunya ya," ujar sang perawat seraya menghidupkan saklar lampu di ruangan itu. Keadaan kembali terang benderang.


"Ya tidak apa-apa suster." Putra pun duduk di atas sofa sembari menunggu para perawat itu selesai dengan tugasnya.


"Suhu tubuh ibu Saidah normal kok Pak. Kalau suhu tubuhnya begini terus maka operasi akan segera dilaksanakan," ujar perawat itu setelah selesai dengan tugasnya.


"Makasih suster. Masih ada pemeriksaan atau kunjungan seperti ini lagi gak malam ini?"


"Oh tidak Pak. Kami akan datang lagi pada jam 5 subuh."


"Oh gitu?"


"Iyya Pak."


"Apa aku bisa mengunci pintunya suster?" tanya Putra lagi dengan wajah serius.


"Sebenarnya gak boleh pak, supaya kami bisa sewaktu-waktu mengecek keadaan pasien. Tapi untuk bapak gak apa-apa deh." Salah satu perawat itu menjawab seraya melirik Marwah yang sudah tertidur dengan nyaman dibawah selimut tebalnya. Seketika perawat itu mulai berpikir macam-macam karena ia sudah mendengar cerita dari teman-temannya kalau pasangan penjaga pasien ini adalah sepasang pengantin baru. Maklumlah ia baru kena shift sore ini.


"Oh iya makasih banyak ya suster."


"Sama-sama Pak. Selamat menikmati malam pertamanya di tempat ini pak," ujar perawat itu dengan senyum diwajahnya.


"Sama-sama Pak." Perawat itu pun keluar dari ruangan itu dengan cepat. Mereka berdua ingin melanjutkan hasil terka-terka pikiran mereka pada pasangan pengantin baru itu.


"Ganteng banget sih pengantin baru itu Len," ujar Yanti setelah mereka berhasil sampai di dalam kamar mereka.

__ADS_1


"Istrinya juga cantik banget. Serasi banget. Mereka juga sangat sabar menunggu Bu Saidah padahal mereka itu pengantin baru yang paling enak kalau menginap di hotel malam ini."


"Dan aku curiga ia sedang ingin merencanakan sesuatu dengan istrinya malam ini sampai ingin mengunci pintunya hahaha."


"Udah ah jangan digibahin. Mereka kan halal jadi biarkan saja lah. Udah resmi juga," tegur Hana salah satu perawat yang sudah menikah dan lebih dihormati karena kedudukannya yang merupakan senior di antara para perawat itu. Mereka pun langsung terdiam dan tidak Ingin membahas dua pasangan pengantin baru itu lagi.


Sementara itu, di dalam kamar perawatan yang mereka baru tinggalkan. Putra mematikan sebagian lampu di dalam kamar itu. Hanya ada satu titik mata lampu yang menyala.


Pria itu kembali berbaring disamping istrinya. Lama ia berada pada posisi seperti itu dengan perasaan resah dan gelisah yang kembali menghampiri hatinya.


Ia hanya bisa membolak-balik tubuhnya dengan sangat gelisah malam itu. Ia sudah berkali-kali memanggil Marwah untuk bangun dan menemaninya mengobrol tetapi sepertinya istrinya itu sedang tidak ingin diganggu.


Marwah tetapi saja tidak bergerak dan tidak terpengaruh. Gadis itu benar-benar menikmati tidurnya.


Huffft


Pria itu menarik nafas panjang. Ia merasa ini adalah sebuah cobaan yang cukup besar baginya. Tidur di malam pertama dengan seorang istri yang belum bisa disentuh karena keadaan.


Wajah berbentuk oval dengan kulit putihnya tanpa noda atau flek pengganggu pada permukaannya. Alis tebal hampir bertaut dan juga bulu mata lentik semakin menambah kecantikan dari wajah perempuan itu.


Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh wajah yang sangat cantik itu. Seharian ini ia sudah membayangkan akan melakukan apa pada istrinya ini akan tetapi inilah yang ia dapatkan ia ditinggal untuk tidur.


Jari-jarinya terus mengelus pipi halus istrinya. Sampai ke daerah bibir, jari-jari itu berhenti disana. Sesuatu dari dalam dirinya mulai bergerak perlahan. Dadanya berdebar sangat kencang. Putra merasakan jantungnya pun bekerja lebih cepat dari biasanya.


Tanpa sadar, tubuhnya bergerak mendekat pada perempuan cantik itu. Wajahnya kini semakin tak berjarak dengan wajah sang istri.


"Marwah, sayang," bisiknya pelan dengan suaranya yang sangat berat dan serak. Perempuan yang dipanggil itu hanya melenguh pelan kemudian melanjutkan kembali tidurnya.

__ADS_1


Putra semakin tersiksa. Ia tidak bisa lagi menahan dirinya. Bibirnya bergerak menyentuh kening perempuan cantik yang sudah sangat halal ia sentuh itu dari arah manapun.


Marwah sekali lagi melenguh pelan karena merasa sangat tak nyaman, apalagi bibir suaminya sudah bergerak ke kelopak matanya satu-satu, kemudian berpindah ke pipi dan akhirnya berhenti lama di bibirnya.


Perempuan itu langsung membuka matanya dengan lebar. Ia sangat kaget dengan apa yang terjadi.


"Aaaaaakh," teriaknya tertahan karena bibir suaminya sudah berhasil membungkamnya dengan bibirnya sendiri.


Tangan Marwah bergerak mendorong tubuh seseorang yang sedang menyentuhnya itu tapi ia tidak berhasil. Rupanya tubuh suaminya sangatlah kuat dan tidak membiarkannya bergerak maupun berteriak.


"Ini aku sayang, suamimu. Jangan ribut atau ibu akan bangun," bisik Putra Adam Wijaya didepan bibir istrinya. Marwah pun akhirnya diam dan tidak lagi berusaha memberontak. Putra tersenyum kemudian menatap wajah sang istri dengan tatapan penuh hasrat cinta.


"Aku mencintaimu Marwah. Dan aku ingin sekali meminta hak aku sekarang sayangku," bisik pria itu lagi dengan suara bergetar menahan hasrat yang seakan ingin mencari lawan yang setimpal.


Marwah tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia hanya tersenyum dengan dada berdebar sangat kencang. Sungguh, ia merasa saat ini ia seperti sedang berada di dimensi lain yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Berada sangat dekat dengan seorang pria yang telah menyentuhnya dengan penuh perasaan membuat dirinya merasa bergetar hebat dan juga menginginkan lebih.


"Marwah sayang," bisik suaminya lagi pas ditelinganya hingga gelenyar aneh semakin berkejaran dari dalam pembuluh darahnya. Pria tampan itu kembali menyentuhkan bibirnya keatas bibir Istrinya yang sudah ia sentuh tadi. Dengan sangat lembut, pria itu mengulum dan mengeksplorasi mulut istrinya semakin dalam.


"Marwah, balas aku sayang," bisik Putra dengan suara beratnya. Ia ingin apa yang ia lakukan dibalas oleh istrinya. Marwah belum bereaksi. Ia masih sangat malu dan tentunya tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Sungguh ia tidak tahu mau melakukan apa karena Ini adalah ciuman pertama buatnya.


"Marwah, sayangku," bisik Putra dengan sangat lembut dan penuh hasrat. Gadis itu tersenyum dan menggerakkan tangannya dengan malu-malu untuk menyentuh wajah tampan suaminya.


🌻🌻🌻


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2