
"Maksudnya apa nih Kak?" tanya Putri dengan wajah tak mengerti. Sebenarnya bukan cuma gadis itu dan Airlangga yang sangat shock dengan apa yang baru saja terucap dari mulut Sasmita dan juga Putra. Saidah dan Marwah Jingga pun sama. Mereka berdua sangat kaget dan tidak percaya dengan kenyataan yang terjadi.
"Jangan katakan kalau Marwah..." Putri tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena kepalanya tak ingin ia paksa membayangkan yang tidak-tidak. Ia sungguh takut mendengar berita ini. Putra hanya tersenyum kemudian menghampiri Marwah yang nampak shock dan menatapnya dengan tajam.
"Aku menyukai Marwah sejak ia ikut kompetisi nasyid waktu itu. Dan ya aku ingin memperistri kannya. Aku kira itu sudah sangat jelas. Mama dan Papa setuju 'kan?"
"Tentu saja kami setuju. Karena itu yang sudah Mama dan Papa harapkan dari dulu." Sasmita langsung menjawab dengan cepat setelah memandang suaminya.
"Tapi 'kan kakak bukannya anu sama perjodohan ini?" Wajah Putri benar-benar sangat kecewa. Begitu pun dengan Airlangga. Pria itu yang rencananya ingin menyatakan perasaannya pada Marwah setelah memutuskan Putri kini berada dalam dilema. Hatinya sakit meskipun Marwah belum juga berucap sesuatu.
"Aku menolak lamaran Papa dan Mama karena tidak tahu kalau gadis itu adalah Marwah. Tapi kan sekarang sudah jelas sekali. Jadi sekarang aku ingin mendengar Marwah mengatakan sesuatu." Putra tersenyum dan memandang gadis pujaannya.
"Jangan tanya Marwah kak. Ia pasti tidak setuju! Ia harusnya tahu diri karena tidak layak menjadi keluarga kita!" timpal Putri dengan cepat. Ia tidak peduli kalau semua mata menatapnya dengan tajam sekarang. Yang penting keinginannya tercapai.
"Putri, ngomong apa kamu!" Sasmita langsung menarik tangan anak perempuannya itu dan membawanya pergi dari tempat itu.
Putra merasakan dadanya mendidih karena marah. Akan tetapi ia berusaha untuk tenang karena ibunya sudah menangani gadis itu. Sedangkan Saidah hanya bisa menitikkan airmatanya. Ia sangat sedih dengan keadaan yang menimpa anak perempuan satu-satunya.
Pria itu segera menghampiri tempat duduk Marwah dan berlutut dihadapan gadis cantik itu. Ia melamarnya di depan semua orang.
"Marwah, maukah kamu menerima aku menjadi suami mu?"
Marwah Jingga menarik nafas panjang kemudian menjawab," Putri benar sekali, ibu dan aku tidak layak berada di dalam keluarga kaya dan terhormat ini. Jadi sebaiknya kita tidak membahas tentang hal ini lagi Pak."
__ADS_1
"Kenapa Marwah? Perkataan Putri tidak perlu kamu dengarkan. Kita yang akan memjalani ini. Jadi tolong jangan bawa-bawa anak itu disini." Wajah Putra tampak mengeras. Ia merasa bahwa alasan Marwah terlalu dibuat-buat.
"Berikan aku waktu untuk berpikir Mas," jawab Marwah dengan perasaan campur aduk. Hari ini ia terlalu kaget dengan apa yang ia lihat di depan matanya.
"Marwah, tolong." Putra memohon. Ia menatap gadis itu dengan penuh perasaan. Untuk pertama kalinya ia memohon pada seorang gadis seperti ini dan itupun di depan banyak orang.
"Marwah, dengarkan kata hatimu nak. Jangan sampai kamu menolak orang baik," ujar Saidah menengahi. Ia berharap sekali putrinya bisa melembutkan hatinya dan menerima pria itu. Airlangga yang berada di tempat itu tanpa sadar merapalkan doa berharap Marwah tidak menerima pria itu atau ia tidak akan punya lagi kesempatan untuk mendekati dan bahkan memiliki gadis itu.
"Marwah, plis," ujar Putra lagi dengan posisi masih sama. Berlutut dihadapan gadis itu.
Marwah mengucapkan "bismillah" dalam hati kemudian menjawab dengan lantang, "Iya, aku bersedia."
"Alhamdulillah," ujar H. Ismail dengan cepat. Ia menarik nafas lega karena urusan yang cukup mengganjal pikirannya selama ini sudah menemukan jalan keluarnya.
"Terima kasih banyak Marwah. Terimakasih banyak Tante Idah. Insyaallah atas izin Allah,.aku akan membahagiakan putrimu," ujar Putra seraya meraih tangan Saidah dan menciumnya. Airlangga mengerang kesal kemudian langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Ada apa denganmu? Apa Mama pernah mengajarkan hal seperti ini padamu hah?!" Putri tidak menjawab. Ia hanya meremas ujung gaunnya dengan wajah ditekuk.
"Kamu bukan anak kecil lagi Putri. Harusnya kamu bisa menjaga kehormatan keluarga. Kamu bisa berlaku sopan pada orang lain. Tapi ini eh Ya ampun. Kamu memalukan!" Perempuan itu rasanya ingin memberikan hukuman fisik pada putri keduanya itu tapi ia masih memiliki rasa iba.
"Harusnya kamu itu sadar dan berterima kasih. Kalau Marwah menikah dengan Kakakmu maka itu artinya tidak ada lagi yang akan menggangu hubunganmu dengan Airlangga yang sangat kamu sayangi itu."
"Tapi aku tidak suka pada Marwah. Aku benci sama dia. Dan dia tidak boleh bersama dengan kakak." Putri menatap sang ibu dengan wajah mengeras. Ia benar-benar benci pada gadis itu sampai ke tulang-tulangnya.
__ADS_1
"Astagfirullah. Ada apa denganmu? Bukankah selama ini yang kami berikan padamu halal nak? Kenapa hatimu begitu keras dan tidak mau menerima kebaikan?" Sasmita meraih bahu putrinya itu dengan wajah sedih.
"Marwah anak yang baik. Ia anak dari sahabat Mama. Dan itu berarti ia sama dengan saudaramu sendiri. Demi Mama dan kakakmu yang sangat mencintainya hilangkan rasa benci mu padanya nak. Insyaallah hatimu akan tenang dan kamu akan bahagia."
"Tidak Mama. Marwah tidak akan pernah menjadi kelurga kita karena aku tidak suka. Sudah terlalu banyak yang ia dapatkan selama ini melebihi diriku. Semua yang baik selalu saja ia dapatkan dengan mudah sedangkan aku?"
"Ya Allah, Mama tidak menyangka kalau hati dan pikiranmu seperti ini nak. Marwah anak yang baik makanya ia banyak mendapatkan kebaikan juga. Begitulah hidup, selalu ada timbal baliknya. Kebaikan dibalas dengan kebaikan." Sasmita mengurut dadanya karena merasa sesak dengan apa yang dikatakan oleh anak perempuannya itu.
"Sekarang dengarkan Mama. Kamu tidak boleh keluar kamar ini sampai kamu mau memikirkan dan menyadari kesalahan mu, mengerti?!" ancam Sasmita dengan tatapan tajam pada sang Putri. Sungguh ia sudah lelah. Semua keinginan anak perempuannya itu selalu ia turuti dan sekarang ia bisa melihat hasilnya, anak itu jadi pembangkang terkadang kurang ajar.
"Mama! Aku tidak mau. Pokoknya aku ingin menghalangi Marwah untuk bahagia. Ia tak layak untuk kakakku."
Sasmita tidak mau lagi mendengar Apapun dari putri keduanya itu. Ia pun langsung keluar dari kamar itu dan menguncinya. Setelah itu ia pergi kembali ke ruang tamu dimana semua orang berkumpul.
"Waduh maaf ya udah membuat hari ini jadi berantakan padahal harusnya kita senang-senang," ujarnya setelah sampai di ruang tamu dan bergabung dengan semua orang. Matanya memandang Marwah dan Putra yang sedang duduk berdekatan dengan pakaian couple.
"Apa saya ketinggalan berita baik!" tanyanya lagi dengan wajah cerahnya. Perasaan marahnya kini sudah menguap dan digantikan oleh perasaan yang sangat senang sekali.
"Mama, Marwah sudah tersedia menjadi menantu Mama dan Papa. Jadi kumohon acara pernikahan kami bisa segera dilaksanakan."
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍