Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 9 Perdebatan Di Pagi Hari


__ADS_3

"Maafkan saya dek Irma. Marwah adalah satu-satunya hartaku di dunia ini. Hanya ia yang menemaniku selama ini. Jadi permintaan mu itu tidak dapat saya kabulkan" ujar Saidah dengan tegas.


Beberapa tahun yang lalu keluarga suaminya pernah datang dan berniat mengambil putri satu-satunya itu darinya. Dan sekarang mereka datang lagi meskipun itu dalam wujud orang lain.


"Kak Ida. Marwah pasti mempunyai cita-cita yang tinggi. Dan dengan kemiskinan kalian ini cita-citanya itu hanya akan jadi impian semata. Ia tak akan terwujud dan tergapai. Jadi kumohon kak Ida berikan Marwah pada kami." Perempuan itu berusaha membujuk Saidah, sang kakak ipar. Ia bahkan meraih tangan kurus Ibu dari Marwah itu dan menggenggamnya kemudian melanjutkan ucapannya, "Apalagi kudengar Kak Ida juga sakit-sakitan, jadi apa salahnya kakak memberikan putri dari abangku ini untuk kami asuh. Nyawa kak Ida tidak akan lama lagi sedangkan kebahagiaan Marwah haruslah segera diraihnya." Perempuan itu memandang Saidah dan Marwah bergantian.


"Tante Irma, maafkan saya kalau menyela pembicaraan Tante dan juga ibu saya. Andai pun ibuku mau menyerahkan ku pada kalian. Saya tetap tidak mau. Di dunia ini hanya saya milik ibu begitupun diri saya sendiri. Kami sudah lama hidup berdua tanpa seorang ayah maupun keluarga lainnya. Jadi saya mohon, Tante jangan lagi mengatakan hal yang bisa membuat kami sakit hati." Marwah Jingga tersenyum seraya memeluk ibunya. Gadis itu tidak akan pernah mau pergi meninggalkan perempuan itu apapun dan siapapun alasannya.


"Meskipun ayahmu yang memintanya?" Irma menatap gadis itu intens.


"Tentu saja Tante. Kami bahkan sudah menganggap ayah sudah tiada di dunia ini."


"Heh, jaga bicaramu Marwah. Ayahmu masih hidup dan ia yang memintaku untuk datang menjemputmu disini."

__ADS_1


"Oh ya?" Marwah tampak sedikit terkejut. Ia pikir ayahnya memang sudah tiada karena tak pernah sekalipun datang pada ibunya ataupun pada dirinya sejak ia berusia 10 tahun.


"Laki-laki yang meninggalkan istri dan juga anaknya tanpa kabar apa masih bisa dikatakan masih hidup Tante? Ayah sudah tiada dan tidak ada di dalam hidup kami!" tegas Marwah dengan suara berapi-api.


"Heh, kamu ternyata pintar bicara juga ya? Kamu belajar dari ibumu ya cara menjawab orang yang lebih tua seperti itu. Kamu pikir kamu bisa sebesar ini jika tidak ada campur tangan Ayahmu hah?! Dasar kurang ajar!"


"Dek Irma. Sebaiknya kamu pergi saja dari rumah kami. Saya takut puasa kita jadi batal jika kita hanya berdebat seperti ini. Dan ya, maafkan putriku jika ia jadi tidak menghormatimu."


"Akan ada waktunya kamu akan butuh ayahmu Marwah. Jadi jangan terlalu sombong!" lanjut perempuan itu kemudian pergi dari hadapan mereka dan tak mau menoleh lagi.


Marwah hanya menarik nafas panjang. Ia tidak menyangka kalau pagi-pagi begini ia akan mendapatkan tamu yang lumayan menguras emosinya. Dalan hati ia berharap, agar puasanya tidak terganggu karena telah tidak sabar menghadapi perempuan itu. Ia pun mengelus punggung ibunya yang sejak tadi diam saja.


"Ibu jangan memikirkan kata-kata Tante Irma tadi ya, insyaallah ibu akan sembuh dan panjang umur. Dan saya tidak akan meninggalkan ibu apapun alasannya."

__ADS_1


"Iya nak. Semoga saja ibu masih panjang umur dan melihat kamu menikah agar ada yang melindungi mu dari keluarga ayahmu."


"Ibu, insyaallah kamu sehat. Sebentar lagi kartu BPJS itu bisa digunakan. Jadi semua penyakit ibu akan sembuh."


"Aamiin ya Allah." Saidah mengaminkan perkataan putrinya. Ia juga berharap sembuh meskipun ia tidak yakin. Karena sebenarnya ia bukan hanya mengidap miom tapi juga ada sel kanker di dalam tubuhnya.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2