
"Pa, kenalkan. Ini adalah Ayahnya Marwah." Putra memperkenalkan seorang pria yang sedang bersamanya.
"Oh, assalamualaikum Pak. Saya Ismail, Papanya Putra." Ismail mengulurkan tangannya kepada pria paruh baya yang sedang bersama dengan putranya itu.
"Waalaikumussalam. Saya Hendra Setiawan ayahnya Marwah Jingga," ucap pria itu membalas perkenalan dari pria dihadapannya. Ismail menatap pria itu dengan wajah serius. Ia berusaha mengingat-ingat tentang pria itu tapi memorinya kesulitan memutar ingatan tentang pria dihadapannya.
"Apa kita pernah bertemu sebelum ini Pak Hendra?" tanya Ismail. Hendra tersenyum. Ia juga tidak ingat dimana dirinya dan pria itu pernah bertemu.
"Maaf pak, saya tidak ingat. Dan mungkin saja kita memang tidak pernah bertemu sebelum ini, jadi kita lupakan saja hahaha." Hendra menjawab seraya mengibaskan tangannya di udara.
"Ah iya Pak." Ismail tersenyum.
"Papa sama siapa kesini?" Putra segera mengalihkan pembicaraan dengan berkata pada Papanya.
"Saya sama Mama kamu. Dan dia sedang menjenguk Ibu Saidah di dalam. Masuklah bersama dengan pak Hendra." Ismail mempersilahkan dua orang itu untuk melihat kondisi Saidah saat ini.
"Iya Pa, terimakasih banyak. Mari pak Hendra kita masuk terlebih dahulu. Ibu Saidah pasti sudah lama menunggu anda." Putra pun segera membuka pintu IGD dan mempersilahkan calon ayah mertuanya itu untuk masuk.
"Assalamualaikum," ucap Putra ketika ia dan Hendra telah sampai di dalam kamar itu. Kamar perawatan bagi pasien yang sedang dalam kondisi darurat.
"Waalaikumussalam." Tiga orang itu menjawab dengan kompak lalu mengarahkan pandangan mereka ke arah sumber suara.
"Putra? Sama siapa kamu?" Sasmita bertanya dengan tatapan lurus pada wajah pria di samping putranya.
"Hendra? Ayahnya Marwah?" tanya perempuan itu lagi dengan wajah kaget. Belasan tahun mereka tidak pernah bertemu dan sekarang ia bertemu dengan pria itu lagi.
"Iya Ma. Ini Om Hendra. Mama pasti kenal ya?" Putra tersenyum seraya melangkahkan kakinya ke arah ranjang tempat Saidah dirawat. Akan tetapi Hendra masih berdiri di tempatnya memandang Sasmita dengan pandangan tak terbaca.
__ADS_1
"Mas Hendra?" Saidah memanggil nama pria itu barulah ia tersentak. Ia pun mengalihkan pandangannya dari wajah Sasmita ke wajah istrinya yang sudah lama ia tinggalkan. Hatinya sungguh miris melihat kondisi perempuan itu sekarang. Hanya kulit pembalut tulang, ungkapan itulah yang sangat cocok ia sematkan pada perempuan yang pernah ada dihatinya saat itu.
"Idah, bagaimana keadaanmu?" tanyanya dengan perasaan bersalah.
"Mas, aku baik. Maafkan aku ya mas karena selama bersamaku aku tidak menjadi istri yang baik dan taat." Saidah berucap dengan tangis yang mulai merebak dari kelopak matanya. Teringat ia bagaimana ia yang sibuk bekerja di sebuah pabrik rokok.
Setelah menikah, ia masih bekerja, begitupun suaminya. Keadaan ekonomi yang buruk memaksa mereka untuk banting tulang memenuhi kebutuhan hidup yang sangat mahal itu membuatnya jarang melayani hasrat suaminya karena kesibukannya. Setiap sore ia pulang dalam keadaan capek dan lelah.
Dan ketika ia mempunyai waktu, ia justru selalu kesakitan dan juga mengalami pendarahan setelah mereka melakukannya. Dan itu terjadi setelah Marwah lahir dari kandungannya.
Pertengkaran pun sering terjadi, apalagi suaminya itu terang-terangan mengatakan menyukai Sasmita sahabatnya, yang sudah mempunyai suami. Saidah tidak terima dan akhirnya mengusir suaminya itu dari rumahnya.
Sungguh hatinya sangat sakit jika ia mengingat kejadian buruk itu, akan tetapi ia juga sering menyesali sendiri keadaannya yang membuat pria itu pergi meninggalkannya.
"Kamu tidak salah Idah. Saya yang salah karena tidak mengerti keadaanmu. Semoga kamu cepat sembuh."
"Marwah, apa ini kamu nak?" tanya pria itu seraya memandang wajah seorang gadis cantik berhijab di samping ranjang istrinya. Marwah hanya menganggukkan kepalanya. Entah kenapa ia tak memiliki perasaan apapun pada pria yang sangat egois itu.
"Marwah, apa kamu tidak ingin memeluk ayahmu ini?" tanya pria itu lagi dengan tangan terbuka ingin memberi pelukan pada sang putri. Akan tetapi gadis itu hanya meraih tangan sang ayah dan membawanya ke dahinya. Hanya sebuah salam biasa tanpa ekspresi.
Hendra Setiawan merasa sangat tidak nyaman berada di sana. Ia ingin mendampingi Saidah layaknya seorang suami pada istrinya. Akan tetapi ia merasa tidak punya hak lagi karena ia sendiri sudah menjatuhkan talak pada perempuan itu saat ia pergi dari rumah.
Dan sekarang, saat ia diacuhkan oleh Marwah, putri kandungnya sendiri, ia baru merasakan kalau ia selama ini telah sangat bersalah pada mereka berdua. Seharusnya ia tidak egois dan menjadi seorang suami yang baik dan juga setia.
Ia pun berniat untuk pergi dari tempat itu tapi Putra langsung meraih tangannya.
"Om mau kemana?" tanya pria muda itu padanya. Hendra tersenyum, "Saya tidak diharapkan disini nak Putra. Saya juga tidak punya hak apapun pada Marwah dan juga ibunya."
__ADS_1
"Duduklah bersama dengan Marwah om. Belasan tahun berpisah tanpa ada kabar sedikit pun itu sungguh sangat kejam bagi mereka berdua," ujar pria itu dan langsung membuat Hendra terhenyak. Ia merasa tersentil. Ternyata sekian tahun pergi dari keluarganya hatinya memang jauh dari kata peduli. Dan sekarang ia baru merasakan kalau ia telah sangat egois dan tidak bertanggung jawab.
"Ada baiknya Om, menggunakan waktu ini untuk mengambil hati Ibu Saidah dan juga putri om satu-satunya." Putra melanjutkan dengan tatapan lurus kedalam mata tua pria itu.
"Terkadang Tuhan masih memberikan kita kesempatan kedua untuk memperbaiki diri om. Dan saat itulah kita harus memanfaatkannya dengan sangat baik. Karena penyesalan memang selalu datang diakhir saat semua sudah berlalu."
Hendra Setiawan menundukkan wajahnya. Ia benar-benar merasa sangat malu sekarang. Seorang ayah seperti dirinya rasanya tak pantas untuk diberi maaf maupun tempat di dalam keluarga manapun di dunia ini.
Tanpa diduga, ia langsung berlutut di kaki Marwah dan memohon ampunan pada putrinya yang sudah ia sia-siakan.
"Saya adalah ayah dan juga suami yang buruk untukmu dan juga Ibumu. Penderitaan yang sudah saya torehkan untuk kalian pasti akan sulit untuk dilupakan. Ditambal pun bekasnya pasti akan tetap tampak."
"Marwah, jika mungkin masih ada kata maaf yang kamu punya. Maka maafkan saya nak. Saya tidak akan sanggup mengangkat wajah ini jika maaf kalian belum saya dapatkan."
Tanpa sadar pria paruh baya itu menitikkan airmatanya. Ia benar-benar merasa bersalah kini. Belasan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk merasakan kesedihan dan penderitaan.
"Kalau dengan memukulku hatimu akan lebih baik dan lapang maka pukul saya Marwah. Pukul saya untuk semua penderitaan ibumu nak."
Marwah tanpa sadar menitikkan air matanya. Ia tersentuh. Kedua tangannya pun meraih pria bayah itu dan memeluknya.
"Aku memaafkanmu ayah, hikss," ujar gadis berhijab itu dengan tangis sesenggukan.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍