Marwah Jingga

Marwah Jingga
Bab 40 Harus Bersabar Lagi


__ADS_3

"Assalamualaikum Bu!" Risma tiba-tiba saja muncul di depan pintu kamar perawatan itu dengan tersenyum lebar. Ditangannya ia membawa kresek pesanan dari Marwah.


"Waalaikumussalam warahmatullahi," jawab Saidah tersenyum. "Kamu datang sama siapa pagi-pagi begini?" tanyanya.


"Aku datang sendiri Bu. Marwah yang memintaku membawakan sesuatu untuknya. Dan ini juga, kue buatan ibuku untuk Ibu Idah. Ibu mohon maaf yang sebesar-besarnya karena belum bisa berkunjung kesini." Risma menghampiri ranjang Saidah kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di sampingnya.


"Kamu kok repot-repot sih sampai bawa kue begini banyak? Sampaikan terimakasih kami untuk ibumu ya," ujar perempuan tua itu dengan maksud berterimakasih pada orangtua Risma yang selalu mengirimi mereka makanan dari dulu sampai sekarang.


"Aku gak repot kok Bu. Aku memang mau kesini liatin ibu. Ah ngomong-ngomong Marwahnya kemana Bu?" Risma mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan kamar itu untuk mencari tahu dimana Marwah berada. Akan tetapi yang ia lihat adalah Putra Adam Wijaya yang sedang duduk bersandar di sofa sedang menutup matanya.


Mungkin pria itu sedang tidur, ucapnya dalam hati.


"Anak itu lagi ada di kamar mandi, baru mau mandi katanya. Kamu tunggu aja di sini," jawab Saidah.


"Ya ampun ibu. Marwah baru mandi di jam segini? Ngapain aja dari tadi? Padahal kata orang itu, kalau udah menikah pasti mandinya jadi rajin gitu. Ini lagi ya ampun." Risma tak berhenti ngedumel sendiri.


Putra yang mendengar keluhan sahabat Istrinya itu hanya bisa menarik nafas panjang. Ternyata ia tidak tidur tetapi ia sedang malas berbasa-basi. Moodnya sedikit hancur pagi ini sejak semalam.


Andaikan ia berhasil membobol gawang istrinya semalam, maka pastinya Marwah sudah sejak sebelum subuh pasti mandi, begitu pikirnya.


"Eh, Ibu bagaimana keadaan mu?"


"Alhamdulillah baik Is. Akan tetapi sebentar lagi saya harus ke Laboratorium untuk check up lagi sebelum operasi dilakukan."


"Oh gitu ya Bu?" ujar Risma dengan wajah berubah khawatir. Risma menarik nafas panjang dan berdoa semoga semuanya lancar dan mudah.


Tok


Tok


Tok


Pandangannya ia arahkan ke arah pintu karena bunyi ketukan yang ia dengar dari sana. Seorang perawat datang membawa sebuah kursi roda memasuki kamar perawatan itu.

__ADS_1


"Permisi, kami akan membawa pasien ke laboratorium sekarang. Apakah ada keluarga yang akan mendampingi?" ucap sang perawat.


"Ah, iya. Aku yang akan mendampingi ibu. Marwah masih di kamar mandi 'kan?" Risma dengan senang hati mengajukan dirinya.


"Ah iya mbak. Kita bantu Bu Saidah untuk duduk di sini ya," ujar sang perawat dengan sangat ramah. Risma tersenyum dan ikut membantu ibu Saidah untuk turun dari ranjang. Putra langsung bergegas ingin membantu juga tapi keduluan sama dua perempuan itu.


"Apakah saya juga harus ikut suster?" tanyanya meminta pendapat. Perawat itu tersenyum.


"Sudah ada keluarga yang ikut, tapi kalau bapak mau ikut mendampingi bisa juga kok. Saya bawa Bu Saidah sekarang ya Pak."


"Kamu disini aja sama Marwah nak Putra. Ada Risma yang akan bersama dengan ibu. Takutnya Marwah bingung lagi nyari kita." Saidah menjawab dengan senyum maklum.


"Ah iya ibu. Nanti kalau Marwah selesai kami akan menyusul ibu di laboratorium." Putra setuju dan melepas mereka keluar dari pintu. Ia pun masuk kembali ke kamar dan menunggu isterinya sembari bermain game lewat handphonenya.


Ceklek.


Marwah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah sangat segar. Rambutnya yang basah masih ia gosok dengan sebuah handuk kecil. Ia berjalan ke arah ranjang Ibunya dan sangat kaget karena perempuan itu tidak ada di sana.


Marwah segera berlari menghampirinya karena ingin tahu dimana ibunya saat ini.


"Mas, ibu dimana? Kok gak ada?" tanya gadis itu dengan wajah panik. Putra berpura-pura serius dan tidak mendengarkan pertanyaan sang istri. Ia terus saja menggunakan kelincahan jari-jarinya untuk menembak lawan dalam game.


"Mass, ibu dimana?" tanya Marwah dengan wajah khawatirnya. Ia meraih tangan suaminya itu agar mau mendengar dan menjawab pertanyaannya.


"Ibu sudah ke Laboratorium di antar oleh Risma dan perawat. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Putra akhirnya menyimpan handphonenya dan menjawab pertanyaan istrinya.


"Oh Risma? Jadi ia sudah datang mas? Alhamdulillah kalau begitu, tapi kita juga perlu menemani ibu lho. Ayo kita bersiap kesana mas." Wajah Marwah langsung berubah cerah dengan rasa khawatir yang sudah mulai berkurang.


"Tapi aku lagi tidak ingin kesana sayangku, bolehkan kita disini saja?" ucap Putra dengan tatapan lurus pada wajah sang istri.


"Mas, ibu..." Marwah tidak melanjutkan kata-katanya karena suaminya sudah menarik tubuhnya dan jatuh ke pangkuan pria itu.


"Ibu kenapa Hem?" tanya Putra seraya mengelus lembut pipi sang istri.

__ADS_1


"Kita ingin tahu bagaimana keadaan ibu mas. Dan aku ingin ada disana saat tes itu selesai."


"Marwah, tidakkah kamu tahu sayang kalau aku sangat menginginkanmu? Aku ingin sekali kita mendapatkan pahala sayang." ujarnya lagi kemudian menyentuhkan dirinya pada tubuh istrinya.


"Mas, aku..."


"Aku menginginkanmu Marwah, sayangku," bisik pria itu dengan hasrat yang kembali datang menghentak. Marwah tidak kuasa menolak. Ia menerima dan membalas apa saja yang dilakukan suaminya, sampai Putra akhirnya menghentikan apa yang sedang dimulainya.


"Maafkan aku Marwah sayangku, aku seharusnya tidak meminta terburu-buru seperti ini. Tempat ini tidak bagus untuk sebuah hal baru dan sangat diberkahi. Kita akan melakukannya di tempat yang indah, nyaman, dan juga privat sayang." ucap pria itu seraya menyentuh kembali bibir istrinya yang nampak sangat basah karena dirinya.


"Mas, tapi kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya gadis itu dengan wajah tak nyaman. Ia tahu kalau ia sudah banyak berdosa karena belum juga memenuhi kewajibannya sebagai istri yang baik.


"Tidak apa-apa sayang. Aku ngerti kok. Justru aku yang merasa sangat egois sayang karena telah memaksakan kehendak ku padamu. Maafkan aku ya," bisik pria itu kemudian meraih bibir Istrinya lagi dan mengulumnya dengan sangat lembut.


"Kita akan temani ibu di Laboratorium bersama dengan Risma, jadi bersiaplah sayangku." Pria itu pun menurunkan tubuh istrinya dari pangkuannya.


Marwah tersenyum kemudian berinisiatif mencium pipi suaminya.


"Aku akan pakai hijab dulu mas."


"Hum ya," jawab Putra tersenyum seraya menarik nafas panjang untuk meredakan kembali hasratnya yang sangat ingin memberontak.


Ternyata begitu susah menahan sesuatu yang sudah pernah kita cicipi sedikit.


Mereka berdua pun pergi dari kamar itu menuju ke laboratorium yang berada di lantai 1 rumah Sakit itu.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2